Pertanyaan Tetangga

"Ibu!!"

Kuburu tubuh ibu, dan para lelaki yang menggotong ibu heran.

"Loh Win, kamu di sini?"

"Iya Pak.. Ini ibu kenapa?"

"Pingsan paa bantu-bantu di rumah bu hajah Euis."

Tubuhku gemetar melihat kondisi ibu yang tak berdaya, lemas pucat pasi.

Karena tak bisa membuka pintu, ibu dibaringkan di atas bangku panjang. Tubuhnya kecil, jadi muat di atas bangku tersebut.

Kuraba saku-saku di pakaiannya, kunci rumah kutemukan dan Cicih membantuku membuka pintu sementara aku masih berusaha membangunkan ibu.

"Ayo bawa ke dalam aja, Win. Pintunya udah kebuka nih!" kata Cicih, mencolek bahuku.

Bapak-bapak yang menggotong ibu, kembali menggotongnya ke dalam rumah. Dibaringkan di tengah ruangan, di atas tikar jadul yang masih terawat dengan baik. Hanya tepiannya saja yang sudah rapuh, tapi bagian tengahnya masih bagus.

"Bu, Ibu? Kenapa pingsan Bu? Ibu.. Bangun, ini Winda!"

Cicih menyodorkan minyak kayu putih yang entah darimana dia dapatkan, tutupnya kubuka dan kudekatkan ke hidung ibu.

Berharap aromanya bisa tercium, lalu ibu pun bisa sadar.

"Awalnya gimana Pak RT?" tanya Cicih, menanyakan kronologi.

"Emang dari awal bu Neni ini udah pucet, lemes gitu.. Udah disuruh pulang, tapi katanya nanggung. Eh, akhirnya pingsan."

Hatiku sedih sekali mendengarnya, ibu pasti sedang tak enak badan. Tapi kesepian di rumah sendiri, jadi memilih pergi untuk ikut bantu-bantu ke tetangga.

Sejak bapakku meninggal, otomatis ibu tak ada teman ngobrol lagi di rumah. Aku tahu ibuku sering merasa kesepian, dan aku merasa berdosa karena jadi anak satu-satunya, tapi malah tak pernah datang menjenguk.

"Win.. Kamu dateng sendiri?" tanya pak Juju, teman ngopi bapak.

"Iya Pak, sendirian."Jawabku pelan.

"Kenapa bawa gembolan begini?" Dia menepuk buntelan kain yang berisi pakaianku.

"Ah itu.."

Belum sempat aku menjawab, kudengar ibu mengerang. Alhamdulillah ibu sudah siuman!

"Bi Neni! Bi? Bibi udah bangun? Alhamdulillah, Win! Ibumu sadar!"

Cicih mengguncang lenganku, dia nampak sumringah. Aku sendiri merasa sangat lega melihat ibu sudah kembali sadar.

Perempuan setengah baya itu mengerutkan kening saat melihatku,

"Winda? Kamu kok di sini?"

"Iya Bu, aku mau jenguk Ibu.." sahutku, berbohong.

Raut wajah ibu nampak senang dengan jawabanku, dan dia berusaha bangun. Lalu berterima kasih pada orang-orang yang sudah menolongnya.

"Maaf ya, Bapak-Bapak, saya jadi ngerepotin.."

"Enggak apa-apa Bu Neni, namanya tetangga. Wajar kalo saling membantu."

"Betul kata Pak RT, Bu. Sesama tetangga memang wajib saling menolong."

"Iya Pak Juju, Pak RT, Pak Edi.. Terima kasih, sebentar biar saya ambilkan air minum ya?"

Ibu berusaha untuk berdiri, namun pak RT melarangnya,

"Jangan Bu, enggak usah. Kami mau langsung balik lagi ke hajjah Euis, nanggung panggungnya dikit lagi kelar. Mari Bu, Win, Cicih!"

Lelaki bertubuh tegap dengan kumis tipis itu lalu memberi isyarat pada kedua temannya untuk pergi, kemudian tak berselang lama datang dua orang perempuan membawa rantangan.

"Ceu Neni, gimana udah enakan?" ternyata bu Lilis dan bu Tini.

Mereka berdua mengantarkan rantang berisi nasi dan lauk pauk dari hajjah Euis.

"Alhamdulillah, udah enakan. Maaf ya malah jadi ngerepotin.."

"Iya enggak apa-apa, namanya orang sakit."

"Iya, makanya nanti mah kalo sakit enggak usah ke mana-mana, di rumah aja Ceu! Kan orang-orang jadi pada riweuh. Mana lagi sibuk semua."

"Hush Ceu Tini, jangan begitu. Emangnya siapa yang mau pingsan? Iya kan, Ceu Neni?"

Ibuku cuma bisa tersenyum samar sambil menunduk, sementara bu Lilis menyikut temannya dengan cukup keras.

Bu Tini ini memang lidahnya tajam, suka ngobrol ceplas ceplos tanpa memandang perasaan orang. Sudah begitu, saat kalimatnya dibalikkan maka dia akan baper sendiri dan marah.

"Lho Win, kamu kabur dari rumah apa gimana? Kok bawa buntelan begini?"

DEG.

Aku kaget sekali tiba-tiba ditodong pertanyaan macam itu, dan jelas aku tak bisa mengatakan apapun yang sebenarnya.

"Ah.. Itu, enggak kok Bu. Tadi buru-buru aja.." sekali lagi aku berbohong.

Bu Tini tersenyum sinis, ekspresinya menyebalkan,

"Ohh buru-buru, kirain kabur. Kalo enggak, diusir suaminya hehehe."

"Ceu Tini!"

"Ehh enggak ya Win? Tau sendiri lah Ibu mah kan suka banyol. Becanda aja.. Jangan diambil hati!"

Perempuan julid tukang ghibah itu malah ngeles, pura-pura bercanda. Padahal jelas jika kalimat yang dia katakan itu untuk mempermalukan aku.

Bu Lilis nampak tak enak hati, buru-buru dia mendorong rantang mendekat ke arahku,

"Ya udah Win, pindahin rantangnya. Mau sekalian dibawa balik lagi."

"Oh.. I-iya Bu, sebentar aku pindahkan dulu."

Tergesa-gesa kuangkat rantang ke dapur, lalu memindahkan satu per satu isiannya ke dalam piring.

Ketika aku ada di dalam dapur, rasanya hatiku sedih tak karuan. Dapur ibuku masih sama, tungku kayu dan kompor gas subsidi pemerintah yang jarang sekali dipakai.

Piring-piring seng dan gelas seng, ada juga perabotan plastik murah. Semuanya barang lama, tapi masih terawat dengan baik. Ibuku memang apik orangnya.

"Ini Bu rantangnya, terima kasih buat bu hajjah Euis. Banyak banget rantangannya.. Nanti kalo ibu udah baikan, biar aku yang ke sana bantu-bantu." kataku panjang lebar.

Bu Lilis menerima rantang kosong yang kusodorkan, kemudian buru-buru berpamitan karena bu Tini nampaknya sudah siap menyemburkan racunnya lagi.

"Eh Ceu Neni, salam katanya dari pa dewan!"

Tiba-tiba saja dia mengatakan hal itu, muka ibu langsung berubah merah padam dan bu Lilis kembali menyikut pinggang bu Tini.

"Mari semuanya.. Permisi!" pamitnya sambil menyeret lengan bu Tini, perempuan itu malah cengengesan puas.

Sepeninggal mereka, tinggal lah aku, ibu dan Cicih dalam diam.

"Cih, mau makan dulu?"

"Enggak lah Win, suamiku mau datang nih.. Aku harus siap-siap di rumah. Kamu lama kan di sini?"

Kuanggukkan kepala, ingin rasanya kukatakan bahwa aku sebenarnya akan kembali tinggal di sini. Tapi nanti saja lah, kalau semua sudah jelas.

"Ya udah kalo gitu, besok aku main ke sini.. Atau kamu yang main ke rumahku juga bisa. Aku pulang ya! Bi Neni, yang sehat ya?"

"Iya Cih, makasih ya!"

Cicih menyalami ibuku, lalu pergi ke luar meninggalkan aku dan ibu berduaan saja.

Ibu nampak senang dengan kedatanganku,

"Ibu kangen banget, kapan kamu terakhir main ke sini?"

Aku cuma bisa nyengir kuda, tak ingat kapan terakhir aku datang. Lebaran pun ibu yang datang ke tempatku, pakai ongkos sendiri pula.

"Kok kamu bawa gembolan begitu? Kenapa enggak pake tas?"

Kugaruk kepalaku yang tak gatal,

"Buru-buru.."

"..eh iya Bu, tadi bu Tini ngomong soal pa dewan. Itu siapa?" aku mengalihkan pembicaraan dan seketika muka ibuku berubah warna.

Jadi merah semerah udang rebus!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!