Status WA Ipar dan Mertua

"Siapa pak dewan, Bu?" tanyaku sekali.lagi.

Muka ibu benar-benar sudah tak karuan warnanya, dia terlihat berusaha mengalihkan pembicaraan, namun semakin dia salah tingkah aku jadi semakin penasaran.

"Bukan siapa-siapa, Win. Itu mah bu Tini aja yang asal ngomong."

"Masa sih, Bu?"

"Iya. Udah cepetan sana makan.. Suamimu enggak ikut, Win?"

Aku tak segera menjawab, malah menunduk menatap lantai semen di bawah kakiku.

"Kamu ada masalah?"

Kugelengkan kepalaku dengan cepat, lalu tersenyum sambil menatap wajah ibu.

"Terus kenapa bawa gembolan begitu?"

"Ya itu bajuku. Aku kan mau nginep, Bu."

Aku masih berusaha menyembunyikan kehancuran rumah tanggaku. Tak tahu sampai kapan, tapi kurasa selama yang aku bisa.

Semoga saja ibu tak akan shock saat suatu hari nanti kukatakan bahwa aku sudah ditalak. Sebab saat aku menikah dengan kang Iwan, kedua orangtuaku yakin betul jika lelaki itu tak akan menyakiti anaknya. Apalagi sampai diusir macam begini.

"Permisi, Assalamualaikum!"

Terdengar suara dari luar, suara seorang lelaki yang sudah cukup berumur. Aku mendongak melihat siapa yang datang, dan aku melihat ibuku langsung salting sendiri.

Dia memperbaiki kerudung yang dia kenakan, lalu terlihat kebingungan sendiri.

"Permisi? Assalamualaikum?"

"Waalaikumsalam, sebentar." Sahutku, sambil menoleh ke arah ibu.

"Tamunya, Bu."

"I-iya.. Iya."

Ibu bergegas berdiri dan menghampiri tamu yang datang, terdengar mereka berdua mengobrol sebentar di depan.

Aku mengintip dari ruang depan, nampak keduanya duduk agak berjauhan di bangku panjang.

"Enggak apa-apa kok, Pak. Alhamdulillah udah baikan, terima kasih perhatiannya."

"Kok Bapak sih? Kita kan teman dari kecil, masa manggil Bapak?"

"Ta-tapi kan.."

"Karena aku anggota dewan? Enggak lah, aku tetap temanmu, Nen. Panggil nama aja.."

Ibuku langsung menggoyangkan tangannya dengan panik,

"Ja-jangan! Aduh gimana jadinya kalo aku manggil nama, enggak sopan!"

"Ya sudah atuh panggil Kang Sofyan aja, gimana?"

Ibuku tak menjawab, dia menunduk dalam-dalam, dan bisa kutebak mukanya kembali merah padam.

Kuhela napas, sepertinya ini lelaki yang disebut sebagai pak dewan. Apa hubungannya dengan ibuku, ya?

Kutinggalkan ibu dan tamunya, berjalan ke belakang untuk membuat segelas teh hangat.

Namun belum juga kusuguhkan tehnya, ibu sudah masuk ke dalam rumah.

"Lho, tamunya?"

"Udah pulang barusan."

"Itu yang namanya pak dewan, Bu?"

"Iya." sahut ibu pendek, dia berjalan melewatiku dan pergi ke dapur untuk minum.

Baki yang berisi secangkir teh kubawa lagi ke belakang dan kuletakkan di atas meja, dekat piring berisi lauk.pauk dari hajjah Euis.

"Dia siapa, Bu?"

"Ya anggota dewan, Win."

"Terus ngapain ke mari?"

"Enggak tau. Udah lah.. Ibu mau tidur dulu ya? Masih pusing."

Ibu benar-benar mengelak untuk membicarakan pak dewan lebih lanjut, dan aku juga tak bisa memaksa. Biar saja, mungkin pejabat biasa yang sedang cari suara.

Biasanya mereka akan bersikap sangat baik pada masyarakat mendekati pemilu, biar banyak yang pilih.

Kuseret buntelan baju yang kubawa dari rumah, masuk ke kamarku yang lama sebelum aku menikah dengan kang Iwan.

"Ah enggak nyangka, ternyata aku tidur di sini lagi." Gumamku, sambil merebahkan diri di atas kasur kapuk yang seprainya nampak baru diganti.

Iseng, kubuka ponsel dan tak ada pesan apapun. Jangankan kang Iwan yang kirim chat minta maaf dan minta rujuk, bahkan chat marah-marah juga tak ada.

"Emangnya apa yang kuharepin, sih? rujuk sama orang pelit?"

Aku berusaha menghibur diri, tak usah sedih karena rumah tanggaku yang berakhir hanya karena cicilan panci.

Selama dua tahun pernikahan, aku tak dapat nafkah layak. Padahal suamiku bekerja dengan gaji yang lumayan.

Buktinya HP dia bagus sekali, HP mahal. Bajunya bermerk, sering touring jalan-jalan, dan emih serta anak kakak-kakaknya juga diberi uang bulanan.

Sementara aku? Cuma dapat 35 ribu sehari.

Beli baju saat lebaran saja, itu pun emih yang belikan di pasar. Bukannya aku yang pilih sesuai selera, jadilah modelnya pasti selalu kampungan dan norak.

"Wah.. Tumben emih bikin status banyak." gumamku saat mengecek pembaruan status.

Mertuaku tak biasanya membuat status banyak-banyak, karena penasaran akhirnya kubuka satu per satu.

[Nasib anak bungsuku memang sial, kasihan sekali. Tapi tenang doa Emih selalu menyertaimu.] Caption itu untuk foto suamiku yang dia unggah di status.

"Pasti lagi nyindir aku nih.." batinku.

[Masa depan kamu masih panjang, perempuan yang lebih cantik dan solehah banyak.]

Hatiku panas membacanya, mertuaku ini memang benar-benar ingin membuatku emosi. Seolah ingin menegaskan bahwa dia memang tak pernah suka padaku.

Padahal dari dulu aku selalu berusaha jadi menantu yang sesuai kemauan dia, tetapi apapun yang kulakukan, pengorbanan apapun yang kulakukan sama sekali tak bermakna.

"Ah sudahlah.."

Aku tak lagi melihat status mertuaku, rasanya kesal karena aku tak bisa membela diri. Kalaupun aku membela diri, emih tak akan mendengarkan aku.

Sekali benci, tetap benci.

Teh Rina juga membuat status, dan aku punya firasat jika dia juga pasti akan menyindir diriku.

[Yang sabar ya adikku.. Banyak perawan cantik-cantik ngantri nunggu duda kasep kayak kamu mah!] katanya, dengan emot senyum dan hati merah.

Hatiku terluka, nampaknya mereka bahagia sekali dengan perpisahan ini.

Padahal jika mereka tak suka denganku sejak dulu, kenapa tetap menikahkan aku dengan kang Iwan?

Status berpindah ke status berikutnya dengan otomatis, status teh Rina yang ini terlihat agak aneh seperti sedang menyahuti status orang lain.

[Menantu begitu mah emang cocoknya ditendang aja, Mih! Ganti sama yang baru, tenang adikku nanti teteh carikan yang solehah dan penurut.]

Aku punya firasat jika teh Rina sedang menyahuti status emih, dan benar saja. Status emih memang masih membahas aku.

[Udah kabur, bekas masak bekas makan berantakan begini kayak nyonya besar aja! Mantu enggak guna, kasian anakku hidup sama perempuan begitu!]

Emih memotret bekas masakku, cangkang kentang yang masih berantakan, wajan bekas memasak yang masih menumpuk di tempat cuci piring dan bahkan sebiji piring bekas aku makan juga difoto.

Tak habis sampai di situ, emih juga mengunggah video saat dirinya membuang rendang yang kumasak ke dalam tong sampah. Captionnya,

[Jijik, bekas ludah mantu kurang ajar. Mendingan dibuang takut kena guna-guna.]

Tak kuasa kubendung rasa sakitku, akhirnya aku menangis juga.

Tetesan air mata sudah seperti anak sungai di kedua belah pipiku.

Sebanyak satu wajan penuh rendang, yang kumasak sepenuh hati, kubuat seenak mungkin, malah dibuang dengan alasan yang tak masuk akal.

kumakan jangan, malah dibuang dengan sombongnya.

"Winda, kenapa kamu nangis begitu?"

Tiba-tiba saja ibu muncul di ambang pintu, keningnya mengerut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!