Ceu Emah menjengit, ekspresinya jelas kesal karena dibentak ibuku di tengah jalan. Kasihan juga, tapi ini semua juga karena dia yang mulai lebih dulu.
"Tolong ya Ceu, lain kali kalo enggak tau apa-apa jangan terlalu banyak ngomong. Didenger orang, jatuhnya malah jadi gosip murahan nanti!" pungkas ibu, sambil memberi isyarat padaku untuk pergi.
Ceu Emah mendengus,
"Dih sombong banget, baru juga dideketin udah berasa ikutan kaya kali! Amit-amit ih, semoga aja nanti pas ditinggalin enggak nangis-nangis. Bikin malu aja!"
Tukang gosip itu pergi meninggalkan kami, dia pergi ke arah yang berlawanan dengan arah kami pulang.
"Bu, apa enggak apa-apa kayak barusan?"
"Biarin aja. Ceu Emah memang begitu, kalo enggak dijeplakin di depan mukanya suka makin menjadi."
"Gimana kalo dia nanti malah ngehasut tetangga, jadi pada benci sama Ibu?"
Ibu malah tersenyum, "Biarin aja. Nanti juga lama-lama pada sadar sendiri kalo yang ceu Emah omongin itu enggak bener."
Aku tak bicara lagi, kuraih kantong kresek besar dari tangan ibu, jadi membawa tiga kresek.
"Ehh kenapa? Kamu lagi hamil jangan bawa yang berat-berat."
"Kasian Ibu.."
"Ibu masih kuat. Udah sini!"
Niatku mau membantu, malah ibuku yang membawa belanjaan paling berat. Beliau berjalan cepat ke arah rumah, sesekali menyapa tetangga yang berpapasan dengan kami.
Kami belanja daging ayam, ati ampela dan berbagai sayuran. Syukurlah kami punya sebuah kulkas kecil yang masih berfungsi, walaupun usianya sudah hampir seusia diriku.
Ayah membelinya second, sehingga terjangkau oleh ekonomi kami. Waktu itu ibu jualan es lilin, lumayan laris.
Semua bahan makanan yang akan dimasak besok sudah masuk, sekarang tinggal rebahan saja sambil memikirkan nasib.
"Bu, emangnya bener Ibu sama pak Sofyan mau nikah?" tanyaku to the point, aku tak mau ibu mengelak lagi.
Dia harus menjawab sekarang juga,
"Jujur aja Bu, aku harus tau." desakku.
Ibu menatapku dengan bimbang, mungkin bingung harus mulai dari mana.
Tapi belum juga beliau bicara, ponselku berdering.
"Hape kamu bunyi, liat dulu siapa yang nelepon." kata ibu.
Kulihat ponsel dan ternyata ceu Rodiah, "Aduh.. ada apa ceu Rodiah nelepon ya?"
Bikin hatiku jadi tak karuan saja, jangan-jangan ada masalah.
[Halo Ceu, tumben nelepon.]
[Neng Winda, katanya udah enggak di rumah lagi?]
[Ah iya Ceu, aku pulang ke rumah ibu.]
[Terus nanti cicilan panci gimana, dong? Kan masih 15 kali lagi..]
Kutarik napas, lalu kuembuskan perlahan,
[Tagih aja ke kang Iwan Ceu, atau ke emihnya aja. Soalnya pancinya juga dibawa sama emih.] kataku jujur.
Sekarang pancinya milik emih, beserta sisa cicilannya yang tersisa.
[Emangnya enggak apa-apa?]
[Ya enggak apa, Ceu. Kan emang belum lunas.]
[Kalo dia enggak mau nyicilin gimana?]
[Pasti dicicil kok, Ceu. Tenang aja.]
Aku berusaha meyakinkan ceu Rodiah untuk yakin menagih pada kang Iwan, bukan urusanku lagi soal cicilan ini.
Hatiku kesal lagi mengingat panci impianku kini di tangan emih, mati-matian berhemat di tengah pelitnya suamiku demi panci.
Tak tahunya malah diambil. Menyebalkan.
Tak terasa sudah tiba sahur pertama, aku dan ibu sahur dengan menu sederhana saja, gulai telur dan perkedel, minumnya teh manis hangat.
"Bismillah ya sayang, kita belajar puasa." bisikku sambil mengusap perutku yang masih rata.
Menjelang siang, aku dan ibu mulai persiapan memasak. Rencananya kami akan menjual ayam goreng ketumbar, aneka oseng-oseng dan takjil candil pelangi.
"Sedikit aja dulu, Win. Kita enggak tau sebanyak apa orang yang datang ke bazaar." kata ibu, dan aku setuju.
Semalam pak Sofyan mengirimkan foto lapak untuk ibu ke ponselku, ibu yang memberikan nomorku pada lelaki itu.
Lokasi lapak ibu strategis, sehingga besar kemungkinan banyak pembeli yang datang.
Saat adzan ashar, semua makanan sudah siap tersedia. Dibungkus dengan plastik, dan siap angkut ke lapangan dekat kantor kecamatan.
Lalu masalah pun muncul,
"Bawanya pake apa ini, Bu?" tanyaku sambil menggaruk kepala.
Ibu juga sama bingungnya denganku, kami tak memikirkan hal itu. Jika diangkut berdua jalan kaki juga tak mungkin, karena lokasinya cukup jauh.
Tiin!
Tiin!
Terdengar klakson dari luar,
"Bu, itu siapa?" tanyaku, karena ada orang tak dikenal memakai helm di depan rumah.
Ibu keluar menemui orang tersebut,
"Bu Neni, saya disuruh pak Sofyan bawa makanan buat dijual di bazaar. Nanti pak Sofyan ke mari buat jemput Ibu sama neng Winda."
Aku tercengang, ibu langsung menyerahkan kotak-kotak berisi aneka lauk pauk yang akan kami jual di bazaar. Lelaki berhelm itu menata kotak-kotak plastik dengan hati-hati dan telaten, setelah semuanya rapi lalu dia pamit pergi.
"Ibu udah tau pak Sofyan mau jemput Ibu?"
Ibuku menggeleng, tapi aku tak yakin ibu sama sekali tak tahu soal itu. Buktinya ibu tak kaget mendengar informasi tadi.
Tak berselang lama, mobil pak Sofyan pun datang. Lelaki berpenampilan sederhana tapi necis itu mengajak kami naik.
Ibu duduk di depan sementara aku di belakang saja. Sepanjang perjalanan ke tempat bazaar, pak Sofyan mengajakku mengobrol tapi aku menyahuti dengan pendek-pendek saja.
"Udah di sini aja, Kang. Enggak enak takut keliatan sama yang lain."
Ibu meminta turun di belokan sebelum lapangan kecamatan, dan pak Sofyan menuruti kemauan ibu.
"Nanti pulangnya Akang anterin, sebelum isya tutup aja ya mau abis ataupun enggak." katanya.
Aku melengos mendengar percakapan mereka. Geli sekali mendengar ibuku didekati lelaki lain selain ayahku sendiri.
Di luar dugaan, bazaar ramadhan hari pertama ini rupanya ramai peminat. Bahkan semua lapak sudah penuh oleh macam-macam jualan. Pengunjung bazaar juga banyak, apalagi ada odong-odong dan aneka permainan anak juga.
"Rame ya, Bu? Semoga jualan kita habis semua." kataku penuh harap, ibu mengangguk sumringah.
Barusan ada yang membeli lauk-lauk yang kami jual, bahkan baru sekitar 45 menitan saja jualan kami sudah tinggal setengahnya saja.
"Besok kita masak yang sama juga, Bu? Apa mau ganti menu?"
"Ayam ketumbarnya laku, besok bikin lagi.. Nanti Ibu pikirin mau masak apa lagi."
Kuanggukkan kepala, sambil menebak-nebak berapa keuntungan kami sore ini. Rasa lapar dan haus karena puasa hari pertama sudah tak kurasakan karena sangat semangat.
"Eh Winda, jualan di sini?" sapa seseorang, ternyata Hasan. Dia menenteng kantong plastik.
"Iya, ayo atuh dibeli ayam ketumbarnya buat buka." jawabku sambil promosi.
"Waduhh aku udah keburu beli nih di sana, tapi boleh deh pengen nyobain ayam ketumbarnya. Dua yaa.."
Segera kubungkus pesanan Hasan dan memberikannya sambil menyebutkan harga,
"8 ribu? Kok murah banget, apa enggak salah?" protes Hasan.
Aku cuma tertawa, "Iya, satunya bonus. Promosi."
"Lahh mana boleh begitu? Kan jualan!"
"Hehe, enggak apa-apa. Promosi.. biar besok beli lagi."
Hasan tetap memaksa memberikan selembar 20 ribu, bahkan tak boleh kuberi kembalian, dan aku juga tetap memaksa ingin memberi harga spesial karena dia temanku.
Kami masih berdebat soal itu saat kutangkap bayangan kang Iwan dengan sudut mataku,
"Kang Iwan.. Sama siapa itu? Cantik.." gumamku tanpa sadar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments