"Assalamualaikum, Nen, Neni?"
Sekarang orang itu memanggil ibuku, dan persis seperti apa yang aku kira, dia pasti pak dewan.
Mau apa dia ke mari?
Aku buru-buru ke luar kamar, dan ibu ternyata sudah mendahuluiku ke depan rumah untuk menemui tamu. Kudengarkan pembicaraan mereka di ruang depan,
"Ada apa, Pak?"
"Bapak lagi, mau sampai kapan manggil Bapak? Kang Sofyan aja kan bisa?" protes lelaki berwajah teduh itu.
Ibuku sampai memerah mukanya,
"Enggak enak Pak, eh Kang. Takutnya tetangga pada ngomongin."
Aku mendecakkan lidah, tetangga memang sudah membicarakan ibu. Gara-gara pak dewan ini!
"Ya biarkan saja, kan memang benar Akang punya niatan baik sama kamu. Lagipula kita berdua sama-sama sendiri, apanya yang salah?"
Hatiku terasa panas mendengarnya, ternyata benar omongan tetangga. Pejabat ini menaksir ibuku.
Kok bisa?
Bagaimana mungkin seorang perempuan kampung yang tak pernah keluar rumah dan bergaul dengan kalangan atas, tiba-tiba ditaksir pejabat?
"Entahlah Kang, sebenernya aku enggak tau harus ngomong apa. Aku belum bilang ke anakku dan anak-anaknya Akang pun pasti enggak akan setuju."
"Itu urusanku. Kamu enggak usah khawatir soal itu." sahut pak dewan tegas.
Keduanya lantas terdiam, namun pak Sofyan mengeluarkan selembar pamflet,
"Daftar lah, ada bazaar ramadan di kecamatan. Pasti rame banget yang pada dateng, kamu kan pinter masak, coba jualan di sana."
"Jualan?"
"Iya. Kan dari dulu kamu suka bilang, pengen banget coba jualan makanan. Nah ada kesempatannya, cobain."
Aku tak tahu ibu punya cita-cita ingin jual makanan. Dari mana lelaki itu tahu? Apa hubungannya dengan ibu benar-benar sudah sedekat itu sampai mereka curhat impian masing-masing?
"Berapa biayanya?"
"Enggak usah kamu mah, kan ini Akang yang ngadain."
"Tapi.."
"Tapi apa? Coba aja jualan dulu.. Nanti Akang yang modalin buat bahan-bahannya."
"Jangan Kang, enggak enak. Aku ada kok uang buat modal masak."
"Enggak apa-apa, kan ceritanya bagi hasil. Kerjasama aja kita."
Aku meninggalkan mereka berdua, pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Hatiku berkecamuk tak karuan.
Belum selesai urusanku sendiri, ditambah lagi ibuku malah pacaran dengan lelaki kaya yang levelnya terlalu jauh dari keluarga kami.
Lalu tiba-tiba aku merasa sedih, teringat mendiang ayah. Padahal dulu kukira ibu tak akan tertarik untuk menikah lagi, karena hubungannya dengan ayah benar-benar harmonis dan penuh cinta.
Saat ayah meninggal, ibu sampai sakit sekitar semingguan, saking terpukul dengan kepergiannya.
"Ahh sudahlah, lagipula apa yang bisa kulakukan sekarang? Ibu bahkan enggak nanyain apa aku setuju atau enggak."
Aku melaksanakan shalat Ashar, lalu duduk diam lama di atas sajadah. Terbayang banyak hal yang muncul secara tiba-tiba, tentang kehamilanku yang tak disangka, ibu yang mau menikah lagi, gunjingan tetangga.
"Aku juga nganggur, gimana ini?" batinku sedih.
Kutengadahkan wajah, menatap langit-langit kamar yang kusam. Berharap bisa menemukan inspirasi di sana.
"Win, Winda? Kamu udah bangun?" ibu memanggilku.
"Udah Bu, baru solat."
Perempuan bertubuh kecil itu masuk ke kamar, membawa selembar pamflet.
"Itu apa, Bu?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Bazaar ramadan di kecamatan, Ibu mau ikut jualan di sana."
"Bazaar? Emang ada modalnya kalo Ibu ikut jualan? Belum daftarnya, belum beli bahan-bahannya.."
Ibu tersenyum, dan merogoh dompet dalam saku daster panjang yang ia kenakan.
"Tuh, Ibu punya. Kan selama ini Ibu nyimpen uang.. Tiap ada yang nyuruh-nyuruh, terus ngasih duit.. ibu tabung."
Aku mengangguk, percaya ibuku memang hemat dan telaten urusan uang.
Tapi aku mendenhmgar ucapan pak Sofyan tadi, bahwa dia akan memberi modal. Apa ada uang pak Sofyan juga di sana?
"Bu, pak Sofyan itu siapa?"
Wajah ibu memerah kaget mendengarnya, lalu terlihat salah tingkah sendiri.
"Ibu bisa kenal dari mana sama pak dewan?" sambungku, semoga kali ini ibu mau bicara.
"Ngg anu, dia itu temen SD dan SMP Ibu. Jadi memang udah kenal dari lama."
"Sekampung?"
"Iya, dulu. Temen deket, cuma beda nasib aja."
"Terus sekarang?"
Ibu menoleh, "Sekarang apanya?"
"Hubungan Ibu sama pak Sofyan.."
Kutatap ibu dengan tatapan menyelidik, berharap ibu akan menceritakan semuanya dengan lebih mendetail. Aku butuh penjelasan, tapi ibu tetap tak bicara.
"Ngg Win, gimana kata Iwan soal kehamilanmu?"
Aku mendengus kecewa, "Enggak ada respon apapun, Bu. Biarin aja."
"Ya Allah, jahat banget. Tapi enggak apa, Win.. Biar kita urus sama-sama ya? Ibu seneng banget kamu hamil. Kita jadi ada temennya nanti."
Walaupun masih kesal karena ibu tak kunjung jujur, namun aku sedikit terobati dengan ibu yang mendambakan kehadiran bayi dalam kandunganku ini.
"Bazaar nanti, Ibu mau jualan apa?"
"Lauk kayaknya, Win. Kamu bisa bantuin Ibu? Tapi lagi hamil muda, takut kecapean."
"Enggak apa, Bu. Aku juga butuh kegiatan kok, aku bakalan bantu sebisa dan sekuatku."
Akhirnya aku pun mendukung rencana ibu jualan di bazaar ramadhan. Hari ini juga kami belanja aneka bahan dari pasar, sebab besok sore sudah mulai bazaarnya.
"Wahh belanja banyak nih, Ceu. Persiapan puasa ya?"
Ceu Emah, kebetulan berpapasan saat aku dan ibu turun dari angkot.
"Mau jualan, Ceu. Di bazaar kecamatan itu.."
"Ohh, begitu. Yang ngadainnya pak dewan kan? Duh enaknyaa yang punya pacar pejabat, sat set sat set!"
Aku tak enak hati mendengarnya, ingat lagi ucapan ceu Emah di tukang sayur tadi tentang ibuku yang main pelet.
Mustahil ibu juga tak tahu gunjingan tetangga, tapi ibu nampaknya santai-santai saja.
"Biasa aja Ceu, ini modal sendiri kok." sahut ibuku, sambil tersenyum.
Senyuman itu dibalas seringai sinis ceu Emah,
"Ati-ati Ceu, ah. Pejabat mah istrinya di mana-mana, jangan sampai nanti kena batunya sendiri. Ditinggalin begitu aja!"
"Udah dikasih harapan, eh ditinggalin, ditelantarin.. Kasian aja aku mah sama ceu Neni." cerocos ceu Emah.
Ibu masih saja tersenyum, "Ah memangnya aku sama pak dewan mau ngapain, Ceu? Orang cuma silaturahim."
"Silaturahim, tapi sering banget namu dan kasih-kasih barang ini itu. Ngaku deh, Euceu pasti sering dikasih duit kan? Pejabat banyak duitnya."
"Enggak kok, Ceu. Siapa bilang aku sering dikasih duit? Ini aja belanja pakai uangku sendiri kok."
"Bohong Ceu, ah. Janda, kerja serabutan, masa iya punya duit?!"
"Ibuku hemat, Ceu. Wajar duitnya kekumpul, enggak ada tanggungan lain juga." aku tak tahan untuk tidak ikut bicara.
Ceu Emah malah melirikku sinis juga,
"Kamu seneng juga kan, Win ibumu mau nikah sama orang kaya? Biar kecipratan kaya juga."
"Ceu, udah lah. Aku permisi ya.." ibuku mencoba menghindar, namun ceu Emah masih saja menjejeri langkah kami.
"Kamu apa ga kasian sama mendiang ayahmu, Win? Ibumu malah mau nikah lagi.. Emangnya ibumu gak cinta sama ayah kamu?"
"Ceu Emah! Tolong berhenti ikut campur urusan keluargaku! Aku diem aja bukan karena enggak kesel enggak kesinggung ya, aku cuma enggak mau ribut!" hardik ibu, akhirnya dia melawan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments