Jualan hari ini habis semua, ludes tak bersisa. Jam lima pembeli datang dan melenguh kecewa saat tahu jualanku sudah habis.
"Besok bawa agak banyak dong Teh, biar semua kebagian."
"Insyaallah ya Teh, semoga ada rezeki semua nanti aku tambahin jualannya." jawabku, disertai doa yang kuaamiinkan dalam hati.
"Best seller nih si ayam ketumbar, emang enak.banget sih. Bumbunya pas, kriuknya dapet, dagingnya lembut. Mantap!"
Hasan mengacungkan jempol, dia membantuku mengangkut box jualan, padahal sudah kularang.
"Kamu enggak pulang, Hasan?"
"Pulang kok, habis ini." jawabnya, dia tetap mengangkut semua box kosong ke parkiran.
"Kamu mau nganterin aku?"
"Ya iya lah. Aku yang bawa ke mari, masa enggak kuantar pulang?"
"Yaa enggak mesti. Kan aku jadi enggak enak.. Kayak lagi ngerjain kamu aja."
"Halah. Anggap aja aku lagi kerja sampingan, sebelum berlayar lagi."
"Ngojek PP maksudnya?"
"Iya."
"Yaudah, berarti mau yaa kubayar ongkos bensinnya? Biar enak, profesional jadinya."
Hasan menatapku, lalu mengangguk. Aku tak paham orang ini maunya apa, padahal akrab pun tak terlalu tapi sekarang sebaik ini padaku.
"Hasan, kamu ngapain di sini?"
Kami berdua menoleh ke arah suara, rupanya bu Syarifah.
"Mamah, iya Mah. Ini habis beli lauk buat buka. Mamah sama siapa ke mari?"
Hasan menghampiri perempuan berkulit putih itu, yang tak lain adalah ibunya sendiri.
Perempuan yang mengenakan kaca mata dengan frame runcing itu melirikku,
"Bu, apa kabar?" tanyaku basa basi, merasa terjebak dalam situasi yang kurang menguntungkan ini.
"Sama si ade, kamu katanya mau ke kota. Kenapa malah ke sini jadinya?"
"Ohh iya.. Enggak jadi, males capek." sahut Hasan, cengengesan.
"Kamu itu, tadi aja Mamah minta dianterin enggak mau alesannya mau pergi. Tapi malah di sini, mau ke mana lagi itu?"
Bu Syarifah melirik motornya yang sudah dipenuhi box jualanku,
"Ngg anu, aku lagi ngojek Mah."
Jawaban Hasan karuan saja membuat ibunya kaget, pelaut sedang liburan kenapa malah ngojek?
Aku jadi serba salah, harus bersikap seperti apa. bu Syarifah ini terkenal sebagai salah satu sosialita kecamatan, suaminya pensiunan kepala BUMN, dia sendiri masih menjabat sebagai kepala sekolah SMP.
Anak pertamanya pelaut dan anak keduanya kuliah kedokteran.
"Kamu ngapain ngojek?!" dari nada suaranya jelas dia tak suka.
Dia juga melirikku lagi, membuatku makin salah tingkah. Memang aku sadari aku yang salah, kenapa juga mau-maunya mengiyakan ajakan Hasan.
Harusnya aku berpikir lebih panjang, apa efek yang akan kudapatkan.
"Kamu tuh, bukannya istirahat di rumah. Malah keluyuran, ngelakuin hal yang enggak berguna kayak begini!" omelnya dengan nada yang cukup tinggi.
Aku menundukkan wajah, menatap kakiku yang berdebu.
Bu Syarifah tak senang dengan kenyataan yang dilihatnya.
Aku terlalu gegabah, bukan hanya sebatas omongan miring tetangga, tapi orangtua Hasan pasti akan mengira aku ini perempuan tak tahu diri yang mengincar anaknya.
"Ya sudah, kalo udah langsung pulang jangan ke mana-mana. Buka di rumah!"
Bu Syarifah akhirnya pergi, bersama anak keduanya. Muka perempuan itu nampak masam, jelas tak suka anaknya 'dikerjai' olehku.
"Ayo, Win."
"Tapi Hasan, tadi mamahmu kayaknya enggak suka kamu begini."
"Ckk biarin aja, muka mamahku kan memang begitu." Elak Hasan dengan cueknya.
Keesokan harinya, aku membeli lebih banyak ayam dan bersiap-siap lebih awal. Harapanku semua ayam ini akan kembali laris terjual seperti kemarin.
"Wah ayamnya sejarang lebih banyak dari kemaren, Neng." kata bik Ijah, sudah siap membantuku lagi.
"Iya Bik, Alhamdulillah orang-orang pada suka."
"Hebat, memang enak sih ayamnya. Bibik kemarin kan bukanya sama itu.."
"Beneran enak bik?"
Bik Ijah menganggukkan kepalanya, memang kemarin aku memberikan sepotong ayam dan oseng-oseng untuk dicicipi saat buka.
Kami berdua mulai memasak, bik Ijah membantu cukup banyak namun dia juga harus memasak untuk orang rumah, jadi kularang dia terus membantuku.
"Aduh, gasnya habis Neng." kata bik Ijah, saat mendapati kompor gas tiba-tiba mati.
"Ohh ya udah Bik, beli aja."
"Neng bisa pesannya ke Alpamart? Neng Rensi suka pesen gasnya lewat HP ke Alpa."
Aku mengangguk, aku punya aplikasinya dan pernah memesankan barang belanjaan emih lewah aplikasi itu.
Segera kupesan isi ulang gas, Alhamdulillah masih ada sisa uangnya, jadi bisa kupakai beli gas.
Tak lama, pesanan datang dan pegawainya yang membawa ke dalam, lalu dipasang.
"Ini uangnya A." kataku sambil memberikan uang, tetapi dia menolak.
"Udah sama ibu yang di depan." katanya sambil mengangguk hormat dan pamit pulang.
Siapa yang sudah membayar gas? Aku ke depan, rupanya Yulia. Dia duduk di teras dengan santai, memang belum waktunya dia buka praktek, makanya santai.
"Yulia, ini uang gas."
Dia menoleh,
"Kenapa?"
"Uang gas.. Kan aku yang ngabisin gasnya, jadi aku yang seharusnya beli gas."
Dia melirik uang di tanganku, lalu kembali asyik dengan HPnya.
"Simpen aja. Gas kan emang udah termasuk belanja bulanan biasa di sini."
"Tapi, aku masak banyak dan bakalan tiap hari. Nanti pengeluaran makin banyak, aku enggak enak."
Kusodorkan uang, namun dia tetap menolak.
"Ayolah, aku beneran lho mau bayar gasnya. Aku kan numpang masak di sini."
Yulia nampak kesal karena aku memaksa, dia berdiri dan menatapku.
"Kubilang enggak usah, ya enggak usah! Maksa banget sih!" omelnya sambil melangkah pergi.
Kuhela napas, serba salah sekali jadinya.
Padahal aku sudah niat baik, aku menjaga supaya tak dianggap boros dan aji mumpung.
"Ya sudah. Biar nanti kubayarnya pake bank aja.. Aku harus punya rekening sendiri." gumamku.
Baru saja aku mau pergi ke dalam untuk melanjutkan memasak, mobil pak Sofyan berhenti di depan. Ibuku keluar dengan wajah sumringah.
"Bentar buar Akang ambilkan belanjaannya." kata lelaki itu sambil membuka pintu belakang mobil.
Beberapa kantong belanjaan dikeluarkan, macam-macam merknya dan penuh-penuh. Mungkin lebih dari sepuluh kantong.
"Win, panggilin bik Ijah buat bantuin ibumu bawa ini." kata pak Sofyan, aku menurut.
Tak lama bik Ijah datang dan membantu ibu mengangkut semua belanjaannya ke dalam kamar.
"Winda, ayo masuk! Ibu mau liatin tadi belanja apa aja!" kata ibuku, wajahnya sangat ceria. Senyumannya juga lebar.
"Akang pergi lagi ya, Nen?"
"Iya Kang. Hati-hati, nanti makan di rumah.. Biar Neni bikinin pencok kacang."
"Siap istriku sayang!"
lalu ibuku mencium tangan pak Sofyan, dan lelaki itu mengecup kening ibuku dengan lembut.
Mesra dan romantis, aku tak ingat ibuku dulu sebegini mesranya dengan ayah.
"Ayo Win. Sini.. Banyak yang mau Ibu liatin, tadi Ibu diajak ke mall sama bapak. Baru pertama kali Ibu ke sana, dingin!"
Ibu menarik tanganku, dan masuk ke dalam kamar. Dibongkarnya semua belanjaan yang tadi dia beli, ada baju, kerudung, tas, bahkan aneka skincare dan kosmetik.
Entah kenapa darahku malah mendidih melihatnya,
"Bu, seneng ya jadi orang kaya mendadak?" cetusku dengan suara gemetar menahan emosi.
Aku benci melihat ibuku yang seperti ini, seperti bocah saja!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments