Gunjingan Tetangga

Kusembunyikan HP dari ibuku, dan segera kuseka air mata.

"Kamu nangis, Win?"

"Enggak kok Bu, cuma kelilipan aja."

"Yang bener?"

Aku mengangguk sambil berusaha tersenyum, terbayang lagi satu wajan rendang dibuang ke tempat sampah. Menyakitkan sekali.

Cuma gara-gara kumakan sepotong saja, mereka bilang jijik. Malah takut kuguna-guna segala, memangnya aku manusia primitif yang masih pakai cara-cara syirik?

Naudzubillah.

Lagipula apa untungnya bagiku meluluhkan hati mertua dan ipar-iparku denhmgan sihir? Tak akan berikan keuntungan apapun untukku.

"Ada apa, Bu?" tanyaku, mengalihkan perhatian ibu.

"Enggak.. Kamu mau lama nginepnya? Mau sahur pertama sama Ibu?"

Kuanggukkan kepalaku dengan cepat,

"Iya Bu, enggak apa-apa kan aku agak lama di sini?"

"Ya enggak apa-apa lah, Ibu malah seneng ada temennya. Tapi, apa suamimu enggak bakalan marah?"

"Enggak. Ibu enggak usah khawatir, dan kalo bisa.. Enggak usah bahas soal kang Iwan dulu ya?"

Ibu mengerutkan dahi, lalu bergerak masuk ke dalam kamar.

"Kamu lagi berantem ya? Iya kan?"

"Aku belum bisa cerita, Bu. Tapi.. Nanti kalo aku udah tenang dan suasananya udah bagus, aku cerita sama Ibu."

Perempuan berkulit cokelat itu menatapku sesaat, seperti mau mengatakan seauatu namun tak jadi. Dia lalu keluar kamar,

"Ya sudah, istirahat aja dulu. Ibu mau mandi.."

"Iya Bu." sahutku seraya menghela napas lega.

Paling tidak ibu tak akan bertanya-tanya lagi soal kang Iwan, itu membuatku merasa sedikit tenang.

Tring!

Ponselku berbunyi, ada pesan masuk.

Rupanya dari teh Siti, istrinya kang Dian. Dia mengirim foto, saat kubuka ternyata isinya foto panciku.

[Win, kata emih dia minta sisa duit panci.]

Aku termenunh, sisa uang panci apa maksudnya?

[Maksudnya, Teh?]

Tak berselang lama, kakak iparku itu membalas lagi,

[Ya sisa duit panci, belum lunas kan? Bayarin ke emih. Gitu.]

Kugelengkan kepala, apa-apaan pula ini?!

[Ya tinggal bayar ke ceu Rodiah, Teh. Kenapa jadi minta ke aku? Kan pancinya juga diambil sama Emih. Masa uangnya malah minta lagi sama aku?] balasku geram.

Chat balasanku sudah dibaca, tapi tak kunjung dibalas oleh teh Siti.

Lagian aneh-aneh saja, kenapa emih tak langsung menghubungiku? Kenapa harus lewat menantunya yang lain?

[Buat ganti duitnya Iwan yang kamu pake diem-diem buat beli panci itu, kata Emih.]

Tubuhku lunglai membacanya, betul-betul medit!

Aku tak boleh pakai uang suamiku? Aku harus mengganti uang nafkah yang diberikan suamiku? Yang jumlahnya tak seberapa itu?!

Aku tak membalas pesan teh Siti, biarkan saja aku pura-pura tak peduli. Walau hatiku sakit dan tak enak dengan penghinaan keluarga mantan suamiku, tapi aku juga tak punya uang untuk membayar hutang itu.

"Ah biar saja.. Lagian mau bayar pake apa aku?!" gerutuku kesal, sambil membalikkan ponsel menghadap ke bawah. Tak mau membaca pesan-pesan lain yang datang dari teh Siti, atau mungkin dari teh Rina dan emih sendiri.

Keesokan paginya, ibu membangunkanku.

"Nanti jam tujuhan Ibu mau ke rumah hajjah Euis, kalo kami mau nyusul, nyusul aja tapi masak dulu ya? Takutnya nanti pulang dari acara enggak ada makanan di rumah."

Ibu memberikan selembar uang dua puluh ribu, "Beli tahu, sama sayur buat oseng-oseng. Bumbu-bumbu mah lengkep, enggak usah beli."

Kuanggukkan kepala, dan bersiap-siap untuk shalat subuh. Hari ini aku tak perlu buru-buru memasak dan menyiapkan kopi, atau menyetrika seragam kerja kang Iwan lagi.

Santai, kehidupanku kembali seperti semula saat masih gadis.

Entahlah harus sedih atau senang, aku ditalak gara-gara hal yang sepele. Tapi kupertahankan juga buat apa? Antara aku dan kang Iwan bahkan mungkin tak ada rasa cinta sama sekali.

Ibu berangkat ke acara hajjah Euis, aku belum tahu acara apa yang dilaksanakan orang terkaya di kampungku ini.

Aku juga tak berniat pergi menyusul ibu, lebih baik di rumah saja bersantai, leha-leha.

"Eh iya, tadi ibu bilang buat belanja.. Mendingan belanja dulu lah."

Aku meraih jilbabku, lalu berjalan ke luar menuju ke arah warung sayur yang tak jauh dari rumah. Hanya terhalang tiga rumah dari rumahku, dan di sana juga menjual berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Saat aku sampai, warung terbilang sepi. Mungkin karena sudah lewat jam tujuh, jadi jam sibuk ibu-ibu belanja sudah selesai.

"Eh Winda, kapan dateng?" sapa bi Yuli, pemilik warung.

"Kemarin Bi, sehat?"

"Sehat. Kok kayaknya kamu kurusan, Win? Sakit ya?"

"Enggak kok, Bi. Yaa biasalah diet." jawabku bercanda.

Tak mungkin aku jujur kalau aku tak bisa makan dengan leluasa di rumah kang Iwan, karena dia pelit dan medit.

"Suaminya enggak ikut?" sekarang ceu Emah yang bertanya, lirikannya membuatku tak enak hati.

Perempuan ini memang terkenal sebagai tukang gosip.

"Enggak Ceu, di rumah aja."

"Ohh, kirain lagi ribut. Soalnya kemarin pulang bawa gembolan kaen gede. Hehe."

Aku cuma tersenyum masam, darimana perempuan ini tahu kemarin aku bawa buntelan kain? Dia tak ada di luar rumah dan melihatku datang.

"Mau lama di sini?"

"Lumayan Ceu."

"Tapi ati-ati Win, jangan kelamaan di rumah ibumu. Takutnya suami ada yang ngembat lho, atau dia nyari yang bisa bikinin kopi gara-gara kelamaan di sini." cerocosnya, menasehati aku.

Kuanggukkan kepala,

"Iya Ceu."

Kualihkan perhatianku pada tumpukan sayuran di depan mata, kangkung, bayam, selada dan macam-macam sayuran hijau lainnya nampak sangat menggiurkan.

"Nanti tau-tau dicerai, kan jadi enggak lucu kalo di rumah dua dua janda. Nyampe duet ibu anak sama-sama janda."

DEG.

Kulirik ceu Emah yang tertawa-tawa sendiri, menertawakan leluconnya yang sama sekali tak lucu. Apa-apaan perempuan itu, menyebalkan.

Buru-buru kuraih sebungkus tahu putih, labu siam dan tempe. Aku mau cepat pulang saja.

"Eh iya, Win. Katanya ibumu mau dilamar sama pak dewan. Itu beneran?"

jantungku terasa melorot mendengarnya, kuhadapkan tubuhku ke arah ceu Emah, para pembeli lain di warung pun mengarahkan pandangannya padaku dengan penasaran.

"Dilamar pak dewan?" tanyaku bingung.

Teringat lagi lelaki yang kemarin datang ke rumah, lelaki yang dipanggil pak dewan.

Dia mau melamar ibuku? Omong kosong macam apa ini?!

"Di sini udah santer banget, ibumu kan janda ya.. nah pak dewan juga duda, kepincut lah. Kapan jadinya mereka mau nikah, Win?"

Tubuhku terasa gerah, aku bahkan tak tahu menahu soal ini. Kenapa tiba-tiba saja aku diberondong pertanyaan tentang hal yang sama sekali tak aku tahu?!

"Ibumu itu pake amalan apa sih, Win? Cantik enggak seberapa tapi kok bisa dapet pejabat. Hihi. Jadi pengen juga.. Lumayan nih udah lama ngejanda, pengen nikah juga."

Ceu Emah cekikikan, yang lain cuma mesam mesem saja termasuk bi Yuli.

Aku sendiri sudah tak tahan lagi mendengarnya,

"Bi, udah.. Jadi berapa? Aku buru-buru lagi masak nasi di rumah." kataku berbohong sambil menyodorkan sayuran yang kupilih.

Bi Yuli segera menghitung belanjaanku dan memasukkannya ke dalam kantong kresek. Setelah membayar, aku buru-buru pamitan.

"Win! Jangan lupa tanyain ibumu yaa? Belajar amalan di mana? Atau pake pelet apa gitu.. hihi."

Kututup telingaku, tak kuhiraukan ucapan miring dari ceu Emah. Aku harus mengkonfirmasi hal ini pada ibuku!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!