"Ayo duduk, Winda. Barusan sudah adzan, jadi kita batalin dulu puasanya. Habis itu shalat berjamaah dan baru makan. Enggak apa-apa kan?"
Pak Sofyan seolah ingin menengahi aku dan anak kandungnya, sebab cara bicara Yulia sangat ketus. Ditambah lagi mimik mukanya seperti jijik sekali melihatku.
"Baik Pak." sahutku, sambil duduk di kursi yang tersisa.
Total ada sepuluh orang yang mengelilingi meja makan, semuanya menghadapi semangkuk kecil kolak manis dan segelas air putih.
"Siapa yang mau pimpin doa?" tanya pak Sofyan, lalu anak lelaki yang duduk di sebelah Hendri mengangkat tangan.
"Aku Kek!"
Pak Sofyan tersenyum bangga, dan mengizinkan cucunya untuk memimpin doa. Kami berdoa dengan khidmat, mensyukuri puasa hari kedua kami dengan senang hati.
Kolak di hadapanku sepertinya enak, ada ubi jalar dan singkong pulen, serta candil dan kolang kaling. Setelah minum air sedikit, aku mencicipi kuah kolak.
"Duh.. Kok tiba-tiba mual begini?" batinku heran saat menyeruput sesendok kuah.
Enak, manis, tapi membuatku mual tak tertahankan.
Kututup mulutku, menahan isi perut yang nampaknya akan keluar.
"Kenapa Win?" tanya ibu khawatir, kugelengkan kepala.
"Kayak mau muntah, emangnya kamu lagi hamil? Apa makanannya enggak cocok seleramu?"
Yulia menatapku dengan tajam, ucapannya menyilet hatiku. Bisa-bisanya dia sejudes itu, aku salah apa?
"Ma-maaf."
Aku buru-buru berdiri dan pergi ke kamar mandi, sempat kudengar ibu meminta maaf dan mengatakan bahwa aku sedang hamil muda.
"Ohh lagi hamil muda, sama aku juga." sahut Yulia tak acuh.
Di dalam kamar mandi, aku berusaha muntah. Namun hasrat muntah itu benar-benar hilang dan akhirnya aku cuma bengong di depan wastafel.
"Ya Allah, kumohon mudahkan urusanku." batinku sembari berdoa dan menutup mata.
Aku sengaja tak kembali ke meja makan, juga tak ikut shalat berjamaah dengan alasan masih mual, mau shalat sendiri saja.
Bahkan ketika semua keluarga makan bersama, aku menunggu di kamar.
"Kasian ibu sendirian, apa Yulia juga nyindir dan judes-judesin ibu, ya?"
Kutatap langit-langit kamar yang indah, rumah ini megah dan luar biasa bagus.
Tetapi dirinya dan ibu yang orang miskin, tiba-tiba dibawa ke mari, tentu menjadi hama mengganggu bagi anak-anak pak Sofyan.
Tok! Tok! Tok!
Kubuka pintu, ternyata ART membawa baki berisi makanan.
"Makan Neng, katanya belum makan apa-apa dari tadi."
"Oh iya, terima kasih."
"Mau Bibik kerokin? Takutnya masuk angin.."
"E-enggak Bik, terima kasih. Cuma mual sedikit, maklum lagi hamil muda."
Perempuan tengah baya itu mengangguk maklum, dia memberikan selamat dan semangat atas kehamilanku, kemudian pergi.
Baki yang diantarkan berisi piring nasi dan lauk pauknya, juga ada sepiring buah melon dan semangka potong, sebutir jeruk sunkist. Juga dua gelas air minum, satunya air putih, dan satunya lagi jus jeruk segar.
"Masyaallah, makannya aja mewah begini. Siapa yang ngasih ya? Ah palingan ibu."
Kucicipi makanannya sedikit, dan ternyata perutku aman. Sehingga aku bisa makan dengan lahap sampai semua makanannya habis tak bersisa.
"Waduh, makanku banyak banget.. Efek hamil dan puasa kali ya?"
Aku jadi tertawa sendiri, kubawa piring dan gelas kotor ke wastafel dan kucuci di sana. Di dalam kamar ini ada kamar mandi lengkap dengan wastafel, jadi tak perlu keluar.
Ketika aku berniat mengembalikan piring ke dapur, Yulia melintas di depan kamarku dan mengenakan mukena. Dia melirik piring dan gelas yang sudah bersih di tanganku.
"Kamu nyuci piringnya sendiri?"
"I-iya.. Soalnya.."
"Lain kali enggak usah, apalagi nyucinya di kamar mana bersih. Taruh aja di dapur, kan ada yang nyuciin."
Lagi-lagi ketus dan tanpa ekspresi, aku langsung menunduk dan minta maaf. Sudah berapa kali aku membuat kesalahan di sini.
Ah susah sekali beradaptasi dengan kehidupan orang kaya.
"Teh Winda! Mau ikut taraweh keliling sama bapak? Ibu juga ikut lho!"
Tiba-tiba saja Rensi sudah menggelayut manja di tubuhku, dia juga pakai mukena.
"O-oh.. Taraweh keliling?"
"Iya, sekarang jadwal mesjid yang deket itu.. yang di depan jalan itu."
Aku ingat mesjid yang Rensi sebutkan, tadi kami melewatinya saat datang ke mari.
"Baiklah aku ikut." jawabku sambil mengangguk, semangat mau taraweh ke mesjid.
Kukenakan mukena, motif bunga-bunga dari kain katun dan sudah agak pudar warnanya karena ini mukena yang kubeli sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, saat masih perawan.
Terawat dengan baik, hanya pudar di warna saja.
"Ya ampun teh Winda, mukenanya kenapa jelek banget?! Malu ih.. Ganti yang lain mukenanya!" teriak Rensi dari ruangan depan. Keluarga yang lain yang sudah siap berangkat sontak menoleh ke arahku.
Aku salah tingkah, jelek katanya. Memang warnanya sudah pudar tapi mukenaku masih sangat layak pakai.
Ibu menatapku dengan sedih, beliau mengenakan mukena bagus. Mukena yang termasuk dalam mas kawinnya tadi.
"Ini, pakai punyaku." Yulia menyodorkan mukena baru, bahannya licin dan berwarna biru navy.
Bagus dan terlihat mahal,
"Sudah, ayo berangkat." katanya sambil menggandeng tangan si kembar Maqil Miqdad, anaknya Hendri.
Jadi memang yang baru punya anak adalah Hendri, Yulia sendiri baru hamil seperti yang tadi dia katakan saat berbuka.
"Ayo, Win.." ajak ibu.
Kuabaikan ajakannya, kubiarkan ibuku berjalan terdepan sementara aku paling belakang di rombongan ini, bahkan nyaris tertinggal.
Rasanya sedih sekali, kurasa aku tak akan cocok berada di tengah keluarga ini. Sampai kapan pun tak akan bisa.
Setelah shalat taraweh, pak Sofyan mengumumkan pernikahannya dengan ibu di mesjid itu. Serta membagikan paket sembako yang entah kapan dia siapkan.
Sepanjang pengumuman itu aku cuma duduk menunduk, berusaha tersembunyi supaya tak ada yang memperhatikanku. Rasanya tak percaya diri.
Keesokan harinya,
"Bu, hari ini aku mau jualan lagi di bazaar." kataku, dan ibu nampak bingung,
"Tapi gimana Win, belum belanja.. Masaknya gimana?"
"Emangnya di sini enggak boleh? Aku udah nanya bik Ijah katanya dapur kotor boleh dipake siapapun."
Bik Ijah adalah ART paruh baya yang semalam mengantarkan makanan ke kamarku.
"Ya terserah kamu aja, Win. Nanti Ibu bantuin masaknya, sama nanti dianterin supir ke lapangan bazaar ya.. Sekarang belanja juga sama supir aja."
"Enggak perlu Bu, ada ojek kok di depan."
"Tapi bapak yang bilang sendiri, kalo mau apa-apa, dianter ke mana-mana sama supir."
"Itu kan buat Ibu, aku ya beda lagi."
"Win.. Jangan begitu."
"Jangan begitu apanya, Bu? Aku cuma enggak mau keliatan aji mumpung. Toh pake ojek pun bisa, kenapa tiba-tiba harus kebagusan pake supir segala? Emang aku siapa?"
Nadaku mulai sengit, karena aku merasa tak berhak menikmati semua fasilitas itu. Apalagi semua anggota keluarga pak Sofyan jelas-jelas tak menganggapku.
Hanya Rensi yang hangat, namun cara bicaranya ceplas ceplos sekali. Aku jadi ragu dia itu benar-benar polos atau sedang sarkas padaku.
"Apalagi semua orang kayaknya memandang rendah aku, Bu." keluhku. Ibu menghela napas dan mengusap lenganku,
"Hh.. Kamu belum terbiasa aja, Win. Mereka baik-baik kok sebenernya. Sabar aja ya?"
Aku tak menimpali ucapan ibu, biarkan saja. Menikah lagi demi aku apanya? Yang menikmati kehidupan ini malah ibu sendirian. Aku sama sekali tak merasa nyaman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments