Bab 20 Bertemu Kak Gaffi

Keesokan harinya dengan membawa berkas aku duduk di ruang pendaftaran universitas, merenungkan pilihan jurusan yang akan aku ambil. Di hadapanku, terdapat satu jurusan yang menjadi pilihan ku yaitu Fakultas Psikologi, namun aku sedikit tertarik jurusan dakwah. Aku memutar otak, mencoba memutuskan jalur yang tepat untuk masa depanku. Namun, dalam keheningan itu, ada satu sosok yang membuat hatiku berdebar-debar. Lelaki yang kemarin sempat mampir kedalam ingatan ku,Kak Gaffi. Cinta terpendamku sejak SMA.

Ketika aku sedang memperhatikan brosur jurusan ilmu Psikologi, pandanganku tiba-tiba tertuju pada seseorang yang mendekatiku dari kejauhan. Aku mengenali sosok itu dengan segera. Itu adalah Kak Gaffi, ternyata ia pemilik kafe yang berada tepat di sebelah kampus ini, sebuah bangunan yang diapit oleh toko fotokopi. Kafe itu adalah tempat di mana kami terlibat dalam berbagai obrolan semasa SMA dulu, saat akan ada lomba biasanya guru kami membawa kami ke tempat itu untuk belajar dengan alasan wifi nya gratis.

Kak Gaffi berjalan dengan langkah mantap menuju ke arahku. Hatiku berdebar semakin kencang saat dia semakin mendekat. Aku merasa canggung, karena aku sendiri terlebih lagi sangat suli untuk ku berkomunikasi dengan orang yang tak terlalu dekat dengan ku.

"Gendhis, benarkah itu kamu?" tanya Gaffi dengan senyuman lembut di wajahnya.

Aku tersenyum malu, "Ya, Kak Gaffi. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kakak di sini. Apa kabarnya?" tanya ku pada Kak Gaffi, ada rasa bahagia yang menyeruak ke bilik hati ku, Kak Gaffi masih mengingat aku.

Kak Gaffi tersenyum hangat, "Aku baik-baik saja. Aku baru saja membuka kafe di sebelah kampus ini. Kamu sedang mendaftar di sini?"

Tanyanya yang melirik sebuah brosur yang ada di tangan ku.

Aku mengangguk, "Iya, Kak. Aku sedang mencoba mendaftar ke universitas ini. Tapi aku masih bingung dengan pilihan jurusan yang tepat."

Kak Gaffi mengangguk seraya meletakkan tangan di pundakku dengan penuh kehangatan. "Gendhis, aku ingat betul masa-masa SMA kita. Kamu adalah sosok yang cerdas dan penuh potensi. Aku yakin kamu akan sukses dalam apapun yang kamu pilih." Ucap kak Gaffi.

Aku  merasa tidak nyaman dan tidak senang ketika Kak Gaffi tiba-tiba memegang pundakku. Perasaan risih melanda ku karena sekarang aku telah memutuskan untuk berhijab. Bagi ku, tindakan tersebut terasa tidak pantas dan melanggar batasan pribadi yang telah dia tetapkan. Meskipun aku memahami bahwa kak Gaffi mungkin tidak bermaksud buruk, namun aku ingin mengungkapkan ketidaknyamanan aku dan meminta kak Gaffi untuk menghormati keputusan ku untuk berhijab dengan memberikan ruang pribadi yang lebih besar.

“Maaf kak,” ucap ku sedikit bergerak sehingga bahu ku menjauh dari kak Gaffi.

Kak Gaffi melepaskan tangannya dari pundakku dan menatapku dengan penuh perhatian. "Gendhis, saat kita bersekolah bersama dulu, aku selalu terpesona dengan kepribadianmu yang kuat. Aku juga merasa ada hal yang istimewa di antara kita. Apapun pilihanmu, aku akan selalu mendukungmu. Namun melihat dirimu lebih baik ambil yang psikologi.” Ucap kak Gaffi memberikan alternatif pilihan. Saat aku ia melihat bahwa aku menconteng dua fakultas yang ku tulis diujung nya 'pilih yang mana'.

Aku dan kak Gaffi melanjutkan obrolan kami, namun kami tidak duduk berdekatan. Meskipun kami sedang berbicara, tetapi jarak antara kami terasa cukup jauh. Aku  merasa perlu menjaga jarak agar tidak ada kesalahpahaman atau interpretasi yang salah. Aku hanya ingin memastikan bahwa hubungan kami tetap dalam batas-batas pertemanan dan tidak ada kesalahpahaman mengenai perasaan romantis di antara kami. Meski begitu, kami masih bisa berbincang dengan nyaman dan saling mendengarkan tanpa merasa canggung. Kedua belah pihak berusaha menjaga kenyamanan dan menghormati privasi masing-masing dalam percakapan kami.

Kak Gaffi bercerita tentang perjalanan hidupnya setelah lulus SMA, tentang kafe yang dia bangun dengan susah payah. Aku terpesona dengan dedikasinya dan semangatnya yang tak pernah padam. Aku juga menceritakan tentang perjuanganku dalam menentukan jurusan yang tepat, kebingunganku dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Setiap kali kami berbicara, aku merasa semakin dekat dengan Gaffi. Ada kecocokan dan kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Setiap kali kami berbagi tawa atau saling memberikan dukungan, hatiku berbunga-bunga. Namun, di balik semua kebahagiaan itu, ada rasa takut dan keraguan yang menghantuiku.

Aku terus memikirkan tentang kerudungku yang menutupi kepala. Aku tahu bahwa Kak Gaffi adalah orang yang penuh pengertian dan menghargai keputusanku, tetapi aku juga merasa terhalang oleh aturan yang aku pegang erat.

Saat aku menoleh ke arah pintu pendaftaran yang kembali di buka, aku baru akan berdiri kak Gaffi melontarkan satu pertanyaan pada ku.

“Ndhis, apakah kamu tahu kenapa para ulama suka minum teh?” tanyanya pada ku

“Tidak tahu, Kak. Ada apa?” tanya ku seraya mengernyitkan dahi.

“Karena mereka ingin menjadi ‘Ulama teh-pilih’ Hehehe, kamu tegang sekali, aku dari SMa jarang melihat mu tersenyum Ndis. Kalau begini kan lebih manis.” Ucap Kak Gaffi yang ternyata selama ini mengamati aku.

"Gendhis, remember, success is not final, failure is not fatal, it's the courage to continue that counts." Ucapnya seraya mengepalkan tangannya ke arah depan saat aku berpamitan untuk lanjut mendaftar. Aku melemparkan sedikit senyum dan meninggalkan lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih tersebut, wajah tampannya mirip artis yang bernama Aliando kalau kata teman-teman satu kelas aku dulu. Hati rasanya begitu hangat saat mengingat kalimat terakhir yang diucapkan kak Gaffi yang berarti 'Gendhis, ingatlah, kesuksesan bukanlah akhir, kegagalan bukanlah kehancuran, yang penting adalah keberanian untuk terus melangkah'. Ya, selama ini keberanian adalah modal ku mencapai titik dimana saaat ini aku berada.

Dengan hati yang penuh harap, aku melanjutkan proses pendaftaran ke universitas, berharap bahwa pilihan jurusan yang aku ambil akan membawa aku pada masa depan yang cerah, baik dalam bidang akademik maupun dalam cinta yang terpendam selama ini.

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

semangat Gendhis tuk meraih cita" yang sempat tertunda😊😊

2023-10-30

2

Ufim Sufim

Ufim Sufim

semoga kedepannya kebahagiaan, kesuksesan selalu datang kepadamu Gendhis 🤲🥰💪

2023-07-30

0

melia

melia

🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2023-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!