Bab 7 Tak Kasat Mata

Aku bergegas membuka pintu depan, Vya sudah tampil cantik dengan rambut panjang yang terikat rapi. Ia juga tampak membawa satu plastik hitam.

“Anak gadis baru bangu… ga shalat shubuh?” Tanya Vya dengan anak mata yang menatap penuh selidik.

“Kesiangan Non, Ibu semalam pipis di kasur. Aku tidur di karpet.” Ucap ku pada Vya.

Kami masuk ke dalam, Vya membuka plastik yang ternyata berisi nasi uduk buatan ibunya. Ia sengaja sarapan di rumah ku. Aku pun membujuk ibu untuk mandi namun tampaknya ibu tak ingin mandi. Aku pun hanya menyisir rambut pendek ibu lalu mencuci tangan serta muka ibu dengan handuk. Seperti biasa melihat ibu makan begitu lahap, ibu tak perduli ada atau tidak lauk atau menunya. Beliau akan makan begitu lahap.

“Masih belum ada kabar dari ayah mu?” Tanya Vya yang selesai menghabiskan satu gelas air putih usai ia makan bersama.

Aku hanya menggeleng cepat lalu segera bergegas merapikan alat-alat yang akan aku bawa pindah.

“Mandi Gi, biar aku yang beresin semua. Keburu siang.” Ucap Vya yang melihat aku mengambil kardus. Ia bahkan mendorong tubuh ku dengan pinggulnya.

“Tanggung Vy, ntar aja sekalian dirumah baru.” Ucap ku sembari mengelem kardus yang akan ku gunakan untuk mengepak barang.

“Buruan mandi, siapa tahu di jalan ketemu pangeran.” Ucap Vya.

“Ya elah Vya, kalau ada pangeran jelas dia nyari putri atau minimal orang yang punya masa de-“ Ucapan ku di sela Vya.

“Eit… itu namanya putus asa, kalau kata neng Sheila Hasina kita tuh harus menjadikan diri kita high value. Maka nanti jodoh kita nih juga sepadan ni ma kita.” Ucap Vya seraya memasukan peralatan yang ada di dapur.

“Mikirin jodoh, mikir besok masih makan apa ga aja udah pusing..” Keluh ku.

“Itu namanya kita mengingkari kebesaran Allah Ndis, Ndak boleh begitu. Rahmat Allah itu selalu ada buat kita.” Kembali sahabat ku itu memberikan sirahman rohani.

“Sudah seperti ustadzah saja kamu Vya.” Ucap ku pelan, aku menarik satu handuk dan berlalu meninggalkan Vya, aku ternyata tak tahan dengan aroma tubuh ku sendiri. Saat selesai mandi aku mengenakan satu baju yang sudah robek di bagian ketiaknya.

“Ih, jahit dulu apa ganti Ndis…” Ucap Vya melotot.

“Apa si Vy.” Ucap ku kesal saat akan menyisir rambut, sisir ku juga direbut oleh Vya. Aku membelalakkan mata karena sisir ku di buang oleh Vya ke wadah sampah.

Vya sudah memberikan satu baju kaos lain kepada ku, “Apa si Vy…” protes ku.

“Ganti, itu baju sobek sisir udah rusak gitu bisa jadi penghalang rezeki.” Ucap Vya.

“Ah mitos, tahayul…” Ucap ku cuek.

“YE… yan bilang bukan aku Ndis, ulama. Ada kitabnya ini di bahas aku lupa namanya tapi isi nya ya itu yang begini ni masih di eman-eman. Ini nih juga di buang cangkir ma piring udah gompel gini ni.” Ucap nya.

Aku hanya mampu melongo tak percaya cangkir yang tak ada gagangnya lagi juga wajan yang kupingnya tinggal satu di buang oleh Vya ke karung wadah sampah.

“Woi… lah aku mau masak gimana,” Protes ku.

Vya setengah terkekeh. Ia mengatakan nanti bakal ia ganti. Aku tak percaya apa yang sahabat ku katakan tapi ia memang semenjak tamat SMA ini banyak berubah. Ia bahkan tak pernah lagi mengenakan jeans ketat. Bajunya juga banyak yang berlengan panjang sekarang. Saat selesai mengepak barang, aku menelpon sopir yang sudah ku pesan untuk mengangkut baran dan kami ke tempat baru ku. Tak jauh dari tempat kerja juga kampus yang menjadi incaran ku.Yang paling aku suka dari rumah itu ia berada tak terlalu berdampingan dengan para tetangga maka jika malam ibu ku tertawa atau bernyanyi tak akan mengganggu orang-orang.

Tiba di rumah itu aku melihat penghuni rumah sudah menanti. Ia berbasa basi. Namun matanya melihat ibu dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Ibu kamu sakit apa?” Tanyanya.

Satu pertanyaan yang selalu sulit ku jawab saat orang bertanya pada ku perihal penyakit ibu. Aku pun menjawab dengan suara pelan.

“Ibu sedikit stress karena dulu pasca melahirkan adik ku, nyawa adik ku tak tertolong.” Jelas ku. Pemilik kontrakan hanya menjawab kata ‘o’. Selepas kepergian pemilik rumah. Vya dan aku pun menikmati mie instant, begitu pun dengan ibu. Vya tak sama sekali takut berada di dekat ibu mungkin karena sering bertemu dengan ibu. Saat selesai makan, Vya pun pamit. Entah kenapa aku kembali melihat Arya yang menjemput, aku curiga sepertinya sahabat ku itu mempunyai hubungan khusus dengan Arya. Tapi aku tak berani bertanya lebih dalam. Sama halnya dengan aku yang tak ingin orang tahu apa yang terjadi dengan ku, begitu juga aku memperlakukan Vya, aku tak kepo urusannya jika ia ak lebih dulu membuka cerita.

Malam hari saat aku baru saja memberikan ibu minum obat, aku menghitung uang yang tersisa, sudah jadwalnya ibu kontrol. Obatnya hanya tersisa beberapa butir.

“Minuman miras… miras.. tak ada guna nya.. “ Suara ibu mulai bersenandung, seraya mengukir di dinding dengan jari telunjuknya. Namun aku seketika merasa bulu kuduk ku berdiri. Aku merasa ada orang yang mengawasi. Aku menoleh ke arah pintu kamar mandi. Tak ada orang, aku mengusap lengan ku dan bergegas masuk ke kamar. Aku menunggu ibu lelah bernyanyi. Biasanya setengah jam setelah meminum obatnya ibu akan terlelap. Saat ibu sudah merebahkan tubuhnya di kasur, aku baru akan mengistirahatkan tubuh ku. Besok pagi aku sudah harus kembali bekerja. Namun saat aku baru akan memejamkan mata. Tiba-tiba ada suara dari arah kamar mandi, suara air yang di ciduk seperti orang sedang mandi. Aku merasa penasaran juga takut. Tak mungkin ada orang di dalam kamar mandi. Dengan sedikit keberanian, aku pun berjalan membawa satu kayu ke arah dapur.

Rumah ini hanya punya tiga ruangan. Ruangan dapur, ruang tamu dan kamar. Kamar mandi juga langsung terhubung di dapur. Saat tiba di dapur aku mendengar gemercik air, dengan bulu kuduk berdiri juga ku telan saliva ku dengan kasar, pada hitungan ke tiga aku mendorong pintu kamar mandi. Tak ada siapapun didalam bahkan lantainya kering taka da bekas air. Aku seketika berlari dan masuk ke dalam kamar. Aku mengunci rapat pintu, aku memeluk ibu erat sekali seraya gemetar karena takut.

‘pantas murah, rumahnya ada hantu.’ Gerutu ku. Minim ilmu agama aku justru memutar satu mp3 yang berisi orang membaca Yasin, berharap setan atau hantu atau apalah makhluk yang tadi berada di kamar mandi untuk pergi. Esok harinya aku langsung menelpon Vya.

“Vya,.. pantas murah sewanya. Rumah ini berhantu.” Ucap ku seraya berbisik padahal aku hanya seorang diri, ibu masih terlelap tidur. Mata ku cekung, semalam aku tak tidur karena ketakutan. Sahabat ku itu justru tertawa mendengar suara ku yang penuh ketakutan.

“Ndis… Ndis… katanya sudah mulai shalat masa’ takut sama demit. Nanti malam aku nginep disana. Kita usir demit nya.

Aku semakin melongo mendengar ucapan Vya. Bagaimana teman ku itu bisa berkata dengan entengnya.

Terpopuler

Comments

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

berungnya gendhis punya teman kayak vya.
lanjut

2024-01-31

2

Kustri

Kustri

vya beneran sahabat sejati, disaat susah sll ada👍👍👍

2023-12-11

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

baiknya yah si Vya, selalu memberi semangat dan motivasi ke Gendhis🥰

2023-10-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!