Aku bergegas membuka pintu depan, Vya sudah tampil cantik dengan rambut panjang yang terikat rapi. Ia juga tampak membawa satu plastik hitam.
“Anak gadis baru bangu… ga shalat shubuh?” Tanya Vya dengan anak mata yang menatap penuh selidik.
“Kesiangan Non, Ibu semalam pipis di kasur. Aku tidur di karpet.” Ucap ku pada Vya.
Kami masuk ke dalam, Vya membuka plastik yang ternyata berisi nasi uduk buatan ibunya. Ia sengaja sarapan di rumah ku. Aku pun membujuk ibu untuk mandi namun tampaknya ibu tak ingin mandi. Aku pun hanya menyisir rambut pendek ibu lalu mencuci tangan serta muka ibu dengan handuk. Seperti biasa melihat ibu makan begitu lahap, ibu tak perduli ada atau tidak lauk atau menunya. Beliau akan makan begitu lahap.
“Masih belum ada kabar dari ayah mu?” Tanya Vya yang selesai menghabiskan satu gelas air putih usai ia makan bersama.
Aku hanya menggeleng cepat lalu segera bergegas merapikan alat-alat yang akan aku bawa pindah.
“Mandi Gi, biar aku yang beresin semua. Keburu siang.” Ucap Vya yang melihat aku mengambil kardus. Ia bahkan mendorong tubuh ku dengan pinggulnya.
“Tanggung Vy, ntar aja sekalian dirumah baru.” Ucap ku sembari mengelem kardus yang akan ku gunakan untuk mengepak barang.
“Buruan mandi, siapa tahu di jalan ketemu pangeran.” Ucap Vya.
“Ya elah Vya, kalau ada pangeran jelas dia nyari putri atau minimal orang yang punya masa de-“ Ucapan ku di sela Vya.
“Eit… itu namanya putus asa, kalau kata neng Sheila Hasina kita tuh harus menjadikan diri kita high value. Maka nanti jodoh kita nih juga sepadan ni ma kita.” Ucap Vya seraya memasukan peralatan yang ada di dapur.
“Mikirin jodoh, mikir besok masih makan apa ga aja udah pusing..” Keluh ku.
“Itu namanya kita mengingkari kebesaran Allah Ndis, Ndak boleh begitu. Rahmat Allah itu selalu ada buat kita.” Kembali sahabat ku itu memberikan sirahman rohani.
“Sudah seperti ustadzah saja kamu Vya.” Ucap ku pelan, aku menarik satu handuk dan berlalu meninggalkan Vya, aku ternyata tak tahan dengan aroma tubuh ku sendiri. Saat selesai mandi aku mengenakan satu baju yang sudah robek di bagian ketiaknya.
“Ih, jahit dulu apa ganti Ndis…” Ucap Vya melotot.
“Apa si Vy.” Ucap ku kesal saat akan menyisir rambut, sisir ku juga direbut oleh Vya. Aku membelalakkan mata karena sisir ku di buang oleh Vya ke wadah sampah.
Vya sudah memberikan satu baju kaos lain kepada ku, “Apa si Vy…” protes ku.
“Ganti, itu baju sobek sisir udah rusak gitu bisa jadi penghalang rezeki.” Ucap Vya.
“Ah mitos, tahayul…” Ucap ku cuek.
“YE… yan bilang bukan aku Ndis, ulama. Ada kitabnya ini di bahas aku lupa namanya tapi isi nya ya itu yang begini ni masih di eman-eman. Ini nih juga di buang cangkir ma piring udah gompel gini ni.” Ucap nya.
Aku hanya mampu melongo tak percaya cangkir yang tak ada gagangnya lagi juga wajan yang kupingnya tinggal satu di buang oleh Vya ke karung wadah sampah.
“Woi… lah aku mau masak gimana,” Protes ku.
Vya setengah terkekeh. Ia mengatakan nanti bakal ia ganti. Aku tak percaya apa yang sahabat ku katakan tapi ia memang semenjak tamat SMA ini banyak berubah. Ia bahkan tak pernah lagi mengenakan jeans ketat. Bajunya juga banyak yang berlengan panjang sekarang. Saat selesai mengepak barang, aku menelpon sopir yang sudah ku pesan untuk mengangkut baran dan kami ke tempat baru ku. Tak jauh dari tempat kerja juga kampus yang menjadi incaran ku.Yang paling aku suka dari rumah itu ia berada tak terlalu berdampingan dengan para tetangga maka jika malam ibu ku tertawa atau bernyanyi tak akan mengganggu orang-orang.
Tiba di rumah itu aku melihat penghuni rumah sudah menanti. Ia berbasa basi. Namun matanya melihat ibu dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Ibu kamu sakit apa?” Tanyanya.
Satu pertanyaan yang selalu sulit ku jawab saat orang bertanya pada ku perihal penyakit ibu. Aku pun menjawab dengan suara pelan.
“Ibu sedikit stress karena dulu pasca melahirkan adik ku, nyawa adik ku tak tertolong.” Jelas ku. Pemilik kontrakan hanya menjawab kata ‘o’. Selepas kepergian pemilik rumah. Vya dan aku pun menikmati mie instant, begitu pun dengan ibu. Vya tak sama sekali takut berada di dekat ibu mungkin karena sering bertemu dengan ibu. Saat selesai makan, Vya pun pamit. Entah kenapa aku kembali melihat Arya yang menjemput, aku curiga sepertinya sahabat ku itu mempunyai hubungan khusus dengan Arya. Tapi aku tak berani bertanya lebih dalam. Sama halnya dengan aku yang tak ingin orang tahu apa yang terjadi dengan ku, begitu juga aku memperlakukan Vya, aku tak kepo urusannya jika ia ak lebih dulu membuka cerita.
Malam hari saat aku baru saja memberikan ibu minum obat, aku menghitung uang yang tersisa, sudah jadwalnya ibu kontrol. Obatnya hanya tersisa beberapa butir.
“Minuman miras… miras.. tak ada guna nya.. “ Suara ibu mulai bersenandung, seraya mengukir di dinding dengan jari telunjuknya. Namun aku seketika merasa bulu kuduk ku berdiri. Aku merasa ada orang yang mengawasi. Aku menoleh ke arah pintu kamar mandi. Tak ada orang, aku mengusap lengan ku dan bergegas masuk ke kamar. Aku menunggu ibu lelah bernyanyi. Biasanya setengah jam setelah meminum obatnya ibu akan terlelap. Saat ibu sudah merebahkan tubuhnya di kasur, aku baru akan mengistirahatkan tubuh ku. Besok pagi aku sudah harus kembali bekerja. Namun saat aku baru akan memejamkan mata. Tiba-tiba ada suara dari arah kamar mandi, suara air yang di ciduk seperti orang sedang mandi. Aku merasa penasaran juga takut. Tak mungkin ada orang di dalam kamar mandi. Dengan sedikit keberanian, aku pun berjalan membawa satu kayu ke arah dapur.
Rumah ini hanya punya tiga ruangan. Ruangan dapur, ruang tamu dan kamar. Kamar mandi juga langsung terhubung di dapur. Saat tiba di dapur aku mendengar gemercik air, dengan bulu kuduk berdiri juga ku telan saliva ku dengan kasar, pada hitungan ke tiga aku mendorong pintu kamar mandi. Tak ada siapapun didalam bahkan lantainya kering taka da bekas air. Aku seketika berlari dan masuk ke dalam kamar. Aku mengunci rapat pintu, aku memeluk ibu erat sekali seraya gemetar karena takut.
‘pantas murah, rumahnya ada hantu.’ Gerutu ku. Minim ilmu agama aku justru memutar satu mp3 yang berisi orang membaca Yasin, berharap setan atau hantu atau apalah makhluk yang tadi berada di kamar mandi untuk pergi. Esok harinya aku langsung menelpon Vya.
“Vya,.. pantas murah sewanya. Rumah ini berhantu.” Ucap ku seraya berbisik padahal aku hanya seorang diri, ibu masih terlelap tidur. Mata ku cekung, semalam aku tak tidur karena ketakutan. Sahabat ku itu justru tertawa mendengar suara ku yang penuh ketakutan.
“Ndis… Ndis… katanya sudah mulai shalat masa’ takut sama demit. Nanti malam aku nginep disana. Kita usir demit nya.
Aku semakin melongo mendengar ucapan Vya. Bagaimana teman ku itu bisa berkata dengan entengnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
berungnya gendhis punya teman kayak vya.
lanjut
2024-01-31
2
Kustri
vya beneran sahabat sejati, disaat susah sll ada👍👍👍
2023-12-11
1
Sugiharti Rusli
baiknya yah si Vya, selalu memberi semangat dan motivasi ke Gendhis🥰
2023-10-30
1