Aku membenarkan posisi ibu tidur. Ku cari pulpen dan selembar kertas. Sesekali ku tatap wajah ibu. Tangan ku bergetar menulis satu kalimat yang aku pun tak mampu mengucapkan nya.
"Maafkan Gendhis Bu... " Tulis ku.
Aku meraih tali tambang yang berasal dari dapur. Lalu ku lempar ke arah balok yang ada di langit-langit. Dengan berlinang air mata aku mengikat tali tambang tersebut dengan bentuk lingkaran. Aku menarik kursi makan yang tampak sudah cukup lapuk. Ragu-ragu ku naiki kursi itu. Namun pikiran ku sudah tak ada lagi harapan. Berhari-hari berjuang sendiri, berhari-hari berharap ada keajaiban atau peri penolong, namun semua hanya mimpi. Aku harus selalu melihat ibu yang kondisinya masih sama. Kini aku hanya tinggal berdua dengan ibu. Bahkan aku sering terkena pukulan saat ibu mengamuk. Aku lelah, aku tak kuat lagi merawat ibu. Aku ingin mati saja. Biarlah Ibu menjadi tanggungjawab ayah atau siapa saja yang berkenan merawat ibu.
Aku sudah memegang tali tambang dengan tangan ku. Ku lafadzkan basmalah.
"Bismillah... maafkan aku Bu.. ampuni aku ya Al-"
"Gendhis! Jangan Ndis! Jangan Ndis... jangan lakukan itu Ndis!" Suara teriakan dari gadis yang mengenal ku luar dalam siapa lagi jika bukan sahabat karib ku, Vya.
Aku menoleh ke arah jendela. Tampak Vya berlinang air mata. Tangannya berusaha merogoh satu kunci di balik pintu. Aku memejamkan mata dan menggenggam erat tali tambang yang telah terikat sempurna di atas beton penghubung cor-coran dinding.
"Hiks... Hiks... aku lelah Vy... aku lelah.... " Ucap ku lirih.
Dengan cepat ku kalung kan tali tambang tersebut. Terasa sakit di leher, kursi yang tadi menjadi pijakan kaki ku, kini sudah terjatuh. Sakit sekali rasanya di bagian leher. Mata ku terbuka lebar, hidung ku berusaha menarik udara sebanyak-banyaknya. Tangan ku reflek memegang tali tambang karena terasa sangat sakit di bagian leher, Tiba-tiba aku merasakan oksigen dengan mudah masuk kedalam rongga dada. Kaki ku di sanggah oleh Vya yang telah berhasil masuk ke dalam rumah. Ia memeluk kaki ku erat. Dipeluk nya betis ku dengan sedikit di dorong ke atas. Aku menitikkan air mata. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang cukup ku kenal, Arya. Seorang tetangga yang sering memberikan makan saat aku dan ibu dulu di hukum tidur di teras belakang rumah.
Seketika tali yang tadi menjerat leher ku dibuka oleh Arya. Aku pun duduk lemas, terkulai di lantai. Vya menangis sesenggukan seraya memeluk tubuhku.
"Ndis... jangan lakukan dosa besar Ndis... jangan lakukan itu... kamu tidak kasihan ibu mu... siapa yang akan rawat ibu mu jika kamu seperti itu... Mana Gendhis yang kuat, mana Gendhis yang dulu..," ucap Vya diiringi isak tangis.
"Hiks.... Hiks... aku tidak sanggup lagi Vy... aku lelah." Ucap ku lirih. Pipi ku telah basah karena air mata. Ternyata untuk menjumpai satu kematian lewat jalan b n u h diri tak semudah yang aku bayangkan. Sakit sekali rasanya di leher.
"Ada aku Ndhis.... Kamu bisa cerita sama aku, jangan pendam semua duka mu sendiri. Aku akan selalu ada untuk kamu... " Ucap Vya masih sesenggukan menangis.
Ia membimbing ku untuk duduk di kursi. Ku lihat Arya mengambil secangkir air putih, ia serahkan kepada Vya.
"Minum dulu... " Ucap Vya seraya menyodorkan satu gelas air putih.
Ku teguk perlahan air putih tersebut. Aku menarik napas dalam. Bibir ku tertutup rapat. Arya tampak keluar rumah, ia berpamitan sbelumnya.
"Aku tunggu di luar ya Vy, nanti sekalian order aku lagi saja." Ucap Arya yang mengenakan jaket ojek online. Lelaki bertubuh jangkung itu pun keluar dari rumah. Vya memegang pundak ku.
"Kamu tahu Vya, b unuh diri bukan solusi. Kamu pikir dengan mmat, semua masalah selesai? Tidak! Kamu akan menyesal. Susah di dunia kamu bisa berlari meminta tolong. Tetapi jika sudah mati, menangis, meraung, menyesal sudah tiada guna. Kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita kerjakan di dunia ini, pertama kali masalah shalat kita.... satu urusan itu saja mungkin cukup lama kita harus bertanggungjawab... " Ucap Vya dengan mata kembali berkaca-kaca.
"Kenapa aku menderita dari kecil, tak ada bahagia untuk ku Vy... aku lelah Vy... " Tangis ku kembali pecah. Aku kembali memeluk tubuh Vya. Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa sesak di dada ku perlahan mulai berkurang seiring meredanya tangis ku.
"Menangislah Ndis... menangis lah. Jika lelah beristirahat, bercerita, mengadu pada Allah bukan berlari... Percaya lah Allah tidak akan meninggalkan kita. Kita yang kadang suka lupa sama Allah. Kita terlalu merasa kuat, Allah sedang manggil-manggil kamu Ndis.... " Kini kami kembali sama-sama menangis.
"Sini Ndis... Gendhis... kembali ingat aku... jangan jauh-jauh... Kamu selama ini berlari jauh dari Allah Ndis... kamu ndak pernah libatkan Allah dalam setiap usaha mu... Percayalah saat ini Allah ingin kamu menangis dengan menyerahkan semua pada Nya, Ndis.... " Ucap Vya seraya mengguncang bahu ku.
Ia lalu membuka satu tas kecil di sisi kananya. Ia buka ponselnya dan sebuah mp3 ia mainkan. Terdengar suara perempuan yang entah kenapa aku merasa begitu tersayat dan merasa semakin bersedih karena setiap kalimat yang diucapkan perempuan itu. Suara berat dan sedikit serak-serak basah. Tapi suara perempuan tersebut mampu menembus sanubari ku hingga tangis ku kembali pecah.
"Jangan berlari ketika diuji, jangan menjauh ketika di uji. Nikmati... rasakan ujian itu sebagai wujud cintanya Allah pada mu... Cinta Allah, karena Allah ingin kamu mendekat kepada Nya. Allah ingin kamu menangis untuk memohon keridhoan Nya. Saat kamu diuji jangan pernah lupa bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi diatas muka bumi ini tanpa seizin Allah, termasuk ujian yang saat ini kamu hadapi. Minta pada Allah mintalah pada Allah bukan pada makhluknya.... " Suara perempuan itu terdengar begitu menyayat hati ku.
Hati yang gersang akan arti perjuangan hidup. Hati ini selalu sibuk mengejar kebahagiaan, ingin sukses, ingin ibu sehat, ingin balas dendam pada ibu tiri ku. Hari ini, mata hati ku dibuka oleh suara perempuan yang terdengar menangis saat ia menyampaikan apa yang aku rasakan bahwa aku merasa tertampar, aku selama ini selalu berlari dari masalah. Saat sore tiba aku ingin cepat malam datang, berharap pagi hari ibu sehat dan ada keajaiban. Saat pagi aku berharap sore. Sekalipun diri ini tak pernah sujud dan menyembah pemberi nyawa, aku baru sadar bahwa aku terlalu angkuh. Aku merasa bermodalkan kepandaian ku, aku bisa sukses, bisa membuat takdir ku berubah. Tapi ternyata, aku meninggalkan Allah. Aku menjauh dari Allah,
"Hiks... Hiks... Ya Allah.... ampuni aku... ampuni aku... Vy... bantu aku untuk tidak lari dari ujian ini. Jika Allah sayang pada ku, ajari aku menyayangi Allah... " Ucap ku sesenggukan dengan rasa di dada yang begitu sesak.
"Kita akan sama-sama belajar mencintai Allah... Kita akan sama-sama mencari ridho Allah di muka bumi ini Ndis... berjanjilah jangan pernah lagi untuk pergi dari masalah.... Kita hadapi, biarin Ayah kamu ga peduli kamu. Asal Allah ga ninggalin kamu dan ibu kamu." Ucap Vya dengan senyum dibalik air mata yang dari tadi juga ikut mengalir. Kini kami saling mengangguk mantap secara bersamaan.
Sungguh salah satu rezeki yang aku sangat syukuri adalah memiliki sahabat sebaik dan setulus Vya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
asiah puteri mulyana
Ya Allah episode mengandung bawaaang/Sob//Sob//Sob/
2024-03-15
1
sitimusthoharoh
vya teman sejati yg jarang kita temukan
lanjut
2024-01-31
2
Sugiharti Rusli
beruntung sekali kamu punya Vya sebagai sahabat terbaik
2023-10-30
2