Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya

Aku membenarkan posisi ibu tidur. Ku cari pulpen dan selembar kertas. Sesekali ku tatap wajah ibu. Tangan ku bergetar menulis satu kalimat yang aku pun tak mampu mengucapkan nya.

"Maafkan Gendhis Bu... " Tulis ku.

Aku meraih tali tambang yang berasal dari dapur. Lalu ku lempar ke arah balok yang ada di langit-langit. Dengan berlinang air mata aku mengikat tali tambang tersebut dengan bentuk lingkaran. Aku menarik kursi makan yang tampak sudah cukup lapuk. Ragu-ragu ku naiki kursi itu. Namun pikiran ku sudah tak ada lagi harapan. Berhari-hari berjuang sendiri, berhari-hari berharap ada keajaiban atau peri penolong, namun semua hanya mimpi. Aku harus selalu melihat ibu yang kondisinya masih sama. Kini aku hanya tinggal berdua dengan ibu. Bahkan aku sering terkena pukulan saat ibu mengamuk. Aku lelah, aku tak kuat lagi merawat ibu. Aku ingin mati saja. Biarlah Ibu menjadi tanggungjawab ayah atau siapa saja yang berkenan merawat ibu.

Aku sudah memegang tali tambang dengan tangan ku. Ku lafadzkan basmalah.

"Bismillah... maafkan aku Bu.. ampuni aku ya Al-"

"Gendhis! Jangan Ndis! Jangan Ndis... jangan lakukan itu Ndis!" Suara teriakan dari gadis yang mengenal ku luar dalam siapa lagi jika bukan sahabat karib ku, Vya.

Aku menoleh ke arah jendela. Tampak Vya berlinang air mata. Tangannya berusaha merogoh satu kunci di balik pintu. Aku memejamkan mata dan menggenggam erat tali tambang yang telah terikat sempurna di atas beton penghubung cor-coran dinding.

"Hiks... Hiks... aku lelah Vy... aku lelah.... " Ucap ku lirih.

Dengan cepat ku kalung kan tali tambang tersebut. Terasa sakit di leher, kursi yang tadi menjadi pijakan kaki ku, kini sudah terjatuh. Sakit sekali rasanya di bagian leher. Mata ku terbuka lebar, hidung ku berusaha menarik udara sebanyak-banyaknya. Tangan ku reflek memegang tali tambang karena terasa sangat sakit di bagian leher, Tiba-tiba aku merasakan oksigen dengan mudah masuk kedalam rongga dada. Kaki ku di sanggah oleh Vya yang telah berhasil masuk ke dalam rumah. Ia memeluk kaki ku erat. Dipeluk nya betis ku dengan sedikit di dorong ke atas. Aku menitikkan air mata. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang cukup ku kenal, Arya. Seorang tetangga yang sering memberikan makan saat aku dan ibu dulu di hukum tidur di teras belakang rumah.

Seketika tali yang tadi menjerat leher ku dibuka oleh Arya. Aku pun duduk lemas, terkulai di lantai. Vya menangis sesenggukan seraya memeluk tubuhku.

"Ndis... jangan lakukan dosa besar Ndis... jangan lakukan itu... kamu tidak kasihan ibu mu... siapa yang akan rawat ibu mu jika kamu seperti itu... Mana Gendhis yang kuat, mana Gendhis yang dulu..," ucap Vya diiringi isak tangis.

"Hiks.... Hiks... aku tidak sanggup lagi Vy... aku lelah." Ucap ku lirih. Pipi ku telah basah karena air mata. Ternyata untuk menjumpai satu kematian lewat jalan b n u h diri tak semudah yang aku bayangkan. Sakit sekali rasanya di leher.

"Ada aku Ndhis.... Kamu bisa cerita sama aku, jangan pendam semua duka mu sendiri. Aku akan selalu ada untuk kamu... " Ucap Vya masih sesenggukan menangis.

Ia membimbing ku untuk duduk di kursi. Ku lihat Arya mengambil secangkir air putih, ia serahkan kepada Vya.

"Minum dulu... " Ucap Vya seraya menyodorkan satu gelas air putih.

Ku teguk perlahan air putih tersebut. Aku menarik napas dalam. Bibir ku tertutup rapat. Arya tampak keluar rumah, ia berpamitan sbelumnya.

"Aku tunggu di luar ya Vy, nanti sekalian order aku lagi saja." Ucap Arya yang mengenakan jaket ojek online. Lelaki bertubuh jangkung itu pun keluar dari rumah. Vya memegang pundak ku.

"Kamu tahu Vya, b unuh diri bukan solusi. Kamu pikir dengan mmat, semua masalah selesai? Tidak! Kamu akan menyesal. Susah di dunia kamu bisa berlari meminta tolong. Tetapi jika sudah mati, menangis, meraung, menyesal sudah tiada guna. Kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita kerjakan di dunia ini, pertama kali masalah shalat kita.... satu urusan itu saja mungkin cukup lama kita harus bertanggungjawab... " Ucap Vya dengan mata kembali berkaca-kaca.

"Kenapa aku menderita dari kecil, tak ada bahagia untuk ku Vy... aku lelah Vy... " Tangis ku kembali pecah. Aku kembali memeluk tubuh Vya. Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa sesak di dada ku perlahan mulai berkurang seiring meredanya tangis ku.

"Menangislah Ndis... menangis lah. Jika lelah beristirahat, bercerita, mengadu pada Allah bukan berlari... Percaya lah Allah tidak akan meninggalkan kita. Kita yang kadang suka lupa sama Allah. Kita terlalu merasa kuat, Allah sedang manggil-manggil kamu Ndis.... " Kini kami kembali sama-sama menangis.

"Sini Ndis... Gendhis... kembali ingat aku... jangan jauh-jauh... Kamu selama ini berlari jauh dari Allah Ndis... kamu ndak pernah libatkan Allah dalam setiap usaha mu... Percayalah saat ini Allah ingin kamu menangis dengan menyerahkan semua pada Nya, Ndis.... " Ucap Vya seraya mengguncang bahu ku.

Ia lalu membuka satu tas kecil di sisi kananya. Ia buka ponselnya dan sebuah mp3 ia mainkan. Terdengar suara perempuan yang entah kenapa aku merasa begitu tersayat dan merasa semakin bersedih karena setiap kalimat yang diucapkan perempuan itu. Suara berat dan sedikit serak-serak basah. Tapi suara perempuan tersebut mampu menembus sanubari ku hingga tangis ku kembali pecah.

"Jangan berlari ketika diuji, jangan menjauh ketika di uji. Nikmati... rasakan ujian itu sebagai wujud cintanya Allah pada mu... Cinta Allah, karena Allah ingin kamu mendekat kepada Nya. Allah ingin kamu menangis untuk memohon keridhoan Nya. Saat kamu diuji jangan pernah lupa bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi diatas muka bumi ini tanpa seizin Allah, termasuk ujian yang saat ini kamu hadapi. Minta pada Allah mintalah pada Allah bukan pada makhluknya.... " Suara perempuan itu terdengar begitu menyayat hati ku.

Hati yang gersang akan arti perjuangan hidup. Hati ini selalu sibuk mengejar kebahagiaan, ingin sukses, ingin ibu sehat, ingin balas dendam pada ibu tiri ku. Hari ini, mata hati ku dibuka oleh suara perempuan yang terdengar menangis saat ia menyampaikan apa yang aku rasakan bahwa aku merasa tertampar, aku selama ini selalu berlari dari masalah. Saat sore tiba aku ingin cepat malam datang, berharap pagi hari ibu sehat dan ada keajaiban. Saat pagi aku berharap sore. Sekalipun diri ini tak pernah sujud dan menyembah pemberi nyawa, aku baru sadar bahwa aku terlalu angkuh. Aku merasa bermodalkan kepandaian ku, aku bisa sukses, bisa membuat takdir ku berubah. Tapi ternyata, aku meninggalkan Allah. Aku menjauh dari Allah,

"Hiks... Hiks... Ya Allah.... ampuni aku... ampuni aku... Vy... bantu aku untuk tidak lari dari ujian ini. Jika Allah sayang pada ku, ajari aku menyayangi Allah... " Ucap ku sesenggukan dengan rasa di dada yang begitu sesak.

"Kita akan sama-sama belajar mencintai Allah... Kita akan sama-sama mencari ridho Allah di muka bumi ini Ndis... berjanjilah jangan pernah lagi untuk pergi dari masalah.... Kita hadapi, biarin Ayah kamu ga peduli kamu. Asal Allah ga ninggalin kamu dan ibu kamu." Ucap Vya dengan senyum dibalik air mata yang dari tadi juga ikut mengalir. Kini kami saling mengangguk mantap secara bersamaan.

Sungguh salah satu rezeki yang aku sangat syukuri adalah memiliki sahabat sebaik dan setulus Vya.

Terpopuler

Comments

asiah puteri mulyana

asiah puteri mulyana

Ya Allah episode mengandung bawaaang/Sob//Sob//Sob/

2024-03-15

1

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

vya teman sejati yg jarang kita temukan
lanjut

2024-01-31

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

beruntung sekali kamu punya Vya sebagai sahabat terbaik

2023-10-30

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!