Aku yang berharap solusi dari sahabat ku sebagai satu-satunya tempat berbagi, namun ia justru menganggap ini lelucon, sedikit kesal aku pun menceritakan apa yang aku alami satu malam suntuk hingga aku nyaris tak bisa tidur.
“Awas ya kalau kamu ketakutan, semalaman aku sudah menyetel mp3 Yassin tapi itu setan masih berisik di dapur, entah apa yang dia lakukan suara di dapur seprti orang masak dan makan. Aku sampai menahan rasa ingin buang air kecil hingga pagi hari.” Keluh ku. Vya malah kembali tertawa, aku tak habis pikir kenapa aku masih juga susah. Berharap tenang di rumah baru agar ibu tak mengganggu orang, sekarang justru aku harus di ganggu makhluk tak kasat mata.
‘mau pindah, uang sudah ga ada. Kemarin ibu Yuni bilang ga bisa diambil kalau sudah bayar sewa.” Ucap ku dalam hati. Setidaknya aku harus bertahan satu bulan di rumah yang baru satu malam ini saja sudah membuat aku ketakutan dan tak bisa tidur. Aku bahkan keluar rumah untuk membelis sarapan. Tukang jual nasi uduk di dekat rumah baru ku justru bertanya dengan mimik wajah sangat penasaran.
“Semalam nyenyak tidurnya Dik?” Tanya ibu yang bertubuh gemuk itu pada ku.
Aku memaksa sudut bibir ku dan mengangguk.
“Alhamdulilah nyenyak bu, disini adem juga ga berisik. Motor jarang lewat di sini ternyata.” Aku terpaksa berbohong. Mungkin semua orang sudah tahu termasuk pemilik kontrakan ini jika rumah ini ada penghuni tak kasat mata yang aku pikir hantu. Apalagi namanya jika bukan hantu pikir ku yang minim agama ini. Ada suara tak ada rupa. Mau pergi uang sudah tak cukup, tak pergi aku ketakutan karean suaranya begitu nyata, imajinasi ku bahkan membayangkan film suzana yang begitu terkenal di Indonesia sebagai film horor.
Ternyata semua sudah ada yang mengatur, termasuk aku yang pindah kerumah yang berpenghuni namun tak kasat mata. Malam harinya Vya betul menginap. Ku pikir apa yang akan ia lakukan, ia justru mengajak aku membaca al Quran. Hampir sepanjang malam, saat ia berhenti untuk minum aku justru bertanya.
“Kamu dengar ga si Vy suara berisik di kamar mandi dan dapur dari tadi?” tanya ku penasaran.
“Kuat dia apa kita, kita ga akan pergi dari sini. Lah wong kamu bayar disini, Kita ini di dunia ini diminta menyembah Allah, beribadah bukan menganggu orang.” Ucap Vya.
Aku semakin tak mengerti apa yang Vya katakan, seolah ia sedang menyindir setan dirumah ini. Aku pun akhirnya kembali duduk di atas sajadah. Sampai mata ku lelah, aku tertidur diatas sajadah. Vya membangunkan aku saat adzan shubuh sudah berkumandang. Saat selesai shalat shubuh, Vya pun menepuk pundak ku.
“Tidak ada namanya hantu Ndis, yang ada setan dan dia berupa jin, kalau kata Kyai Abdurahman Wahid ada tiga jenis jin, yang pertama di bacakan ayat kursi pasti kabur, yang kedua di lempar kursi pasti kabur yang ketiga kalau di kasih kursi rebutan…hehehe..” Ucap Vya tertawa memegang perutnya. Karena satu frekuensi aku juga tertawa, maksud yang ketiga adal joke dimana musim calon seperti sekarang memang semua orang berebut kursi.
“Kamu ini Vy… yakin Vy setan nya pergi kalau kita baca Quran dan shalat?” Tanya ku lagi karena aku sudah membayangkan harus hidup di rumah yang malamnya di ganggu setan, siangnya bertemu manusia yang di dalam hatinya juga ada setan, hampir selalu ada hasud, iri dengki pada ku juga aku sendiri kadang berjuang keras siang malam melawan setan dalam diriku yang terus meminta aku meninggalkan ibu ku seorang diri. Namun rasa sayang ku mengalahkan bisikan setan tersebut.
“Ndis, pokoknya shalat… shalat… sama baca quran di paksakan di sempatkan. Setan itu paling takut sama orang patuh dan taat pada Allah. Buktinya mereka akan sibuk menggodak kita yang mencoba untuk taat ibadah. Kamu ngerasakan susahnya mau shalat, malas, lelah dan nanti saja nanti saja… itu setan yang menggoda mu itu yang lebih bahaya daripada setan yang semalam berisik di dapur mu.” Ucap Vya dengan mimik wajah serius. Ia sore tadi tampak kerumah ku menggunakan kerudung yang menjuntai hingga dadanya.
Aku bertanya perihal apa dia menggunakan jilbab. Ia sudah mantap untuk menutup auratnya. Ia selama ini ternyata sering mengikuti satu kajian secara online dimana saat ini yang sedang ia gemari adalah seorang ustadzah yang tak terlihat wajahnya di medsos manapun namun suaranya menggetarkan jiwa termasuk aku yang saat ini mulai melupakan ketidakbahagiaan ku semenjak mendengar suara serak-serak basah Ustadzah Halimah Alaydrus. Entah kenapa suaranya berhasil membuat aku bersabar dengan rasa lelah,putus asa dalam diri ku.
“Ye… dia ngelamun. Kita buktiin ni Ndis, dia apa kamu yang bertahan di sini… “ Semangat Vya pada ku.
Aku pun bisa tersenyum, dari semalam aku merasa takut dan khawatir, aku juga berpikir toh selama ini belum ada orang mati dimakan hantu atau orang mati karena di ganggu jin atau hantu. Aku pun berpikir sama dengan apa yang Vya jelaskan, aku akan bertahan di rumah ini. Dimana lagi aku akan mencari rumah dengan murah juga nyaman dan aman buat ibu. Kamar di sini sudah di terali, lokasi dari rumah makan ke rumah juga dekat. Tetangga juga pasti tak akan mendengar jika ibu sedang bebrnyanyi atau berteriak tengah malam.
‘Bismilah… Lawan setan dalam hati setiap manusia aja tiap hari kamu bisa sabar dan bertahan, masa lawan yang kasat mata kamu takut.. Ayo Gendhis, kita bawa Allah buat ngedepin setiap cobaan ini. Allah ga bakal ninggalin kamu Dek.. Allah justru manggil-manggil kamu Dek….’ Batin ku yang tanpa sadar bibir ku tersungging karena ingat dan terngiang suara Ustadzah Halimah Alaydrus yang terus saja terngian-ngiang di telinga ku. Sosok Hubabah yang kemarin sempat membuat aku sadar dari keinginan ku untuk bunuh diri. Hanya mendengar suara beliau yang memberikan semangat pada orang-orang seperti aku yang merasa dunia meninggalkan aku, tak ada yang peduli. Justru Allah sayang dan peduli pada diriku.
Dalam hati kecil ku bahkan aku ingin duduk di majelis beliau, walau mungkin sulit karena aku tak punya waktu lagi untuk hadir ke pengajian seperti itu. Semenjak hari itu aku rajin shalat lima waktu, rasa yang berawal untuk melawan penghuni kasat mata di rumah ku, dan tanpa aku sadari aku justru menjadi menikmati setiap waktu shalat dan membaca Al Quran. Sungguh indah cara Allah memanggil ku, Ia berikan aku kerikil-kerikil kehidupan untuk aku kembali berserah diri. Kini semua terasa ringan dan nyaman walau semakin hari semakin banyak cobaan yang aku hadapi. Tanpa aku sadari shalat yang sering ku kerjakan karena ingin bertahan agar setan penghuni rumah ku minggat kini justru membuat aku merasakan jika shalat menjadi satu kebutuhan bagi ku bukan lagi kewajiban. Karena ada ketenangan saat aku selesai shalat, ada ketenangan saat aku selesai menangis karena mengadu pada Allah isi hati ku, rasa lelah ku. Dan setiap perlakuan tidak menyenangkan dari makluknya di dunia ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
yg paling syulit y menghadapi setan dalam diri kita sendiri.semoga kita semua bisa melawan rasa2 malas dalam diri kita dan lebih cinta akan ibadah2 yg selama iki kita anggap kewajiban padahal itu kebutuhan.
lanjut
2024-01-31
3
Sugiharti Rusli
terkadang beribadah itu memang harus dipaksakan awalnya, kalo kita ikhlas menjalaninya In Syaa Allah lama" hati tergerak dengan sendirinya😊😊
2023-10-30
2
ηαzℓα♡
rebutan kursi setan apa ya?😂
2023-08-05
2