Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi

Mbak Reni dan Yiyin tak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan Uni Desi, ternyata saat makan siang tadi kedua pekerja yang telah cukup lama bekerja tersebut bekerjasama, mereka mengambil keuntungan dari belanja dapur. Ada beberapa barang yang mereka kurangi saat berbelanja. Uni Desi sebenarnya sudah mengamati mereka. Hingga tanpa sengaja saat ada ulah usil dari orang tak di kenal yang membuang kotoran didepan rumah makan Uni Desi, perempuan asli kelahiran Padang tersebut memasang CCTV tersenbunyi di beberapa titik.

“Masih mau kalian tetap mengatakan jika pelaku dari berkurangnya bahan-bahan pokok di dapur adalah Gendhis?” Tanya Uni Desi.

Aku langsung mengangkat wajah dan menatap Uni Desi tak percaya, lalu setengah menoleh ke arah Mbak Reni. Aku tak habis pikir kenapa dua orang ini sepertinya tak suka sekali dengan diri ku. Aku padahal tak pernah berniat mencari muka dihadapan Uni Desi, aku hanya melakukan semua yang terbaik dan apapun yang membuat aku tetap bisa bekerja di rumah makan ini tanpa harus menjatuhkan siapapun. Tiba-tiba Uni Desi membuka ponselnya lalu ia letakkan di atas meja. Aku dan Mbak Reni dan Mbak Yiyin bisa melihat beberapa video disana. Bahkan sebuah part terlihat aku sedang pulang mengendarai sepeda dengan sedikit kesusahan karena menahan rasa sakit pada tumit ku.

“Mana katanya tadi Gendhis bawa pulang isi perut ayam, bawa minyak?” Tanya Uni Desi lagi. Aku menunduk bukan karena merasa bersalah, tetapi ada rasa takut dan hati ku berdebar-debar. Aku tak mampu mendengar suara orang marah. Sedangkan dua orang perempuan disisi ku masih diam tak ada suara sepatah katapun.

“Sekarang coba lihat video ini.” Ucap Uni Desi seraya menunjukkan satu video pada mereka, aku sedikit melirik video tersebut dan melirik ke arah Mbak Reni.

Tampak Mbak Yiyin yang akan pulang menunggu seseorang. Lalu muncul Mbak Reni keluar dengan sebuah kantong plastik hitam besar. Tampak mereka berbicara dengan berbisik. Lalu Mbak Yiyin akan pergi namun di halangi oleh mobil Uni Desi yang berada di depan gerbang.

“Kalau dulu tidak ada yang buang kotoran di depan, saya tidak kepikiran buat pasang cctv, tapi ide Gendhis untuk melihat pelakunya jika kembali dengan menggunakan CCTV justru menunjukkan pencuri di sini, keterlaluan kalian. Sudah ku beri makan, di beri hati malah mau jantung!” Teriak Uni Desi dengan memukul meja. Aku bahkan bergidik mendengar suara keras dari meja yang di pukul oleh Uni Desi.

“A-ampun, ampun Ni. Jangan pecat saya Ni, anak saya baru mau masuk SMA.” Pinta mbak Yiyin dan Mbak Reni langsung berlutut di depan meja.

“Maafkan kami Ni, ampun Uni… jangan pecat kami Uni.” Tangis mbak Reni terdengar menyedihkan. Uni Desi tampak menyeramkan, alis hitamnya menambah kesan judes pemilik rumah makan ini, kutek di tangan nya pun tampak sedikit mengelupas karena benturan di meja.

“Pulanglah, besok saya akan berikan keputusan.” Ucap Uni Desi yang sekarang berjalan dan mengambil satu botol air mineral. Ia tampak meminum air tersebut, dua orang perempuan yang berlinang air mata keluar dari ruangan Uni Desi, aku masih tak berani menatap Uni Desi. Aku khawatir ada juga masalah dari diriku dan menimbulkan rasa marah pada bos ku.

“Duduk Gen.” Titah Uni Desi.

Aku sedikit mengangguk dan duduk di kursi yang ada di hadapan Uni Desi. Aku pun merasa sulit sekali untuk menghirupkan O2 karena khawatir di marah atau dibentak seperti dua orang sebelumnya.

“Kenapa kamu tidak pernah melawan perlakuan Reni yang selalu tidak adil pada kamu? Bahkan beberapa hari nasi yang jatah kamu itu hanya berisikan kuah rendang, kamu juga tak protes?” Tanya Uni Desi, aku sedikit tertegun. Namun walau lama bekerja di rumah makan dan tak belajar, hal itu tak membuat kecerdasan ku menurun. Uni Desi jelas melihat semuanya melalui CCTV yang entah dipasang dimana. Aku pun memberanikan diri mengangkat wajah dan memandang sebentar wajah Uni Desi.

“Saya takut tidak bisa bekerja disini lagi Ni, saya sadar, saya ini siapa. Bisa kerja, dapat makan siang dan sore juga boleh pulang saat siang hari adalah suatu anugerah buat saya, mau diapain saya nerima.” Jawab ku sungguh-sungguh.

Jari jemari Uni Desi mengetuk-ngetuk meja. Ia tampak memikirkan sesuatu.

“Mulai besok kamu tidak usah kerja,” Ucap Uni Desi.

“Hiks…hiks… ampun Ni, saya mohon jangan berhentikan saya.” Ucap ku sesenggukan. Aku merasa tak bersalah tetapi heran kenapa juga ikut diberhentikan.

Uni Desi merubah posisi duduknya lalu ia tertawa terpingkal-pingkal dan menarik selembar tisu lalu mengelap ujung matanya. Entah apa yang ia tertawakan, orang beruang memang suka-suka mereka. Mereka mau tertawa atau memecat orang tanpa salah itu hak mereka toh memang mereka yang berkuasa. Aku semakin merasa dunia ini sungguh tak adil, namun aku masih bersabar.

“Gendhis… Ndis… kamu ini, bener kata suami saya kamu itu kelewat lugu. Kalau ketemu orang yang jahat hati dan busuk hatinya, kamu akan dimanfaatin karena kepolosan kamu…Yang bilang pecat kamu siapa?” Ucap Uni Desi setelah puas tertawa.

Uni Desi menarik laci meja kerjanya, lalu ia menyerahkan satu kunci kepada ku.

“Pakai sepeda motor ini, mulai sekarang kamu yang akan Uni tugaskan di rumah makan pasar ikan. Uni lagi cari orang buat jadi kasir dan jaga disana. Uni cari orang jujur susah. Suami Uni rencana mau buka toko emas, jadi harus cari orang yang bisa di percaya.” Ucap Uni Desi.

Aku justru menangis mendengar perintah Uni Desi.

“Lah, kok malah nangis… Kau ini menangis kenapa?” Tanya Uni Desi yang sudah berkerut dahinya karena melihat air mata ku yang justru kian deras.

Bagaimana aku tidak bertambah sedih, jika Uni Desi meminta ku bekerja di Pasar Ikan, tentu waktu makan siang, aku tak bisa pulang dan memberik ibu makan juga minum obat. Belum lagi rencana ku kuliah jumat dan sabtu tentu juga gagal karena jauh.

“Saya kalau di pasar ikan tidak bisa pulang kalau makan siang Ni….” Ucap ku seraya mengelap air mata yang membanjiri pipi dengan punggung tangan ku.

“Gendhis…Gendhis… Saya itu belum selesai ngomong. Kamu dan ibu kamu bisa tingga di satu rumah saya yang ada di belakang pasar ikan itu. Tapi ya itu kamu tahu sendiri cukup sepi tempatnya. Dan yang paling penting kamu ga usah pusing, kamu cukup tinggal disana dan kerja dengan baik. Masalah kamu jumat dan sabtu, nanti biar saya atau suami yang tunggu hari itu. Saya Cuma minta satu, jaga kepercayaan saya.” Ucap Uni Desi.

Aku melongo tak percaya, rasanya selama ini aku jungkir balik ingin mencari kemudahan menjalani hidup susah banget, tapi hari ini belum cukup 40 hari aku menerapkan apa yang Vya sarankan yaitu jangan tinggalkan Al Waqiah setiap hari. Genap di hari ke 25 aku justru diberikan banyak kemudahan, aku tinggal di rumah yang tak lagi ada demitnya, gaji juga naik, serta urusan ku untuk kuliah juga dipermudah.

‘beneran kalau melibatkan Allah, semua jadi sat set… terima kasih Ya Allah. Aku jadi bertambah semangat untuk memperbaiki diri… Aku harus beri kabar Vya kabar baik ini.’ Batin ku bersorak riang gembira karena sudah membayangkan apa yang akan aku dapatkan di tempat baru walau memiliki tanggungjawab cukup besar oleh Uni Desi, aku tak akan menyia-nyiakan semua kesempatan yang Allah berikan.

Terpopuler

Comments

karissa 🧘🧘😑ditama

karissa 🧘🧘😑ditama

mantap thor,,dri eps pertama smpe sini berderai trus air mata ondeh mandee uniii😭😭😂😂,,bulan puasa baca karya mu ini thor dpt jga ilmu ny masyaallah

2024-04-05

1

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

alhamdulilah sedikit demi sedikit gendhis mulai merasakan buah kesabarane yg pastine sekarang selalu melibatkan ALLAH dalam segala urusane
lanjut

2024-01-31

2

Mira Fitriani

Mira Fitriani

Alhamdulillah.....🥺

2024-01-15

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!