Mbak Reni dan Yiyin tak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan Uni Desi, ternyata saat makan siang tadi kedua pekerja yang telah cukup lama bekerja tersebut bekerjasama, mereka mengambil keuntungan dari belanja dapur. Ada beberapa barang yang mereka kurangi saat berbelanja. Uni Desi sebenarnya sudah mengamati mereka. Hingga tanpa sengaja saat ada ulah usil dari orang tak di kenal yang membuang kotoran didepan rumah makan Uni Desi, perempuan asli kelahiran Padang tersebut memasang CCTV tersenbunyi di beberapa titik.
“Masih mau kalian tetap mengatakan jika pelaku dari berkurangnya bahan-bahan pokok di dapur adalah Gendhis?” Tanya Uni Desi.
Aku langsung mengangkat wajah dan menatap Uni Desi tak percaya, lalu setengah menoleh ke arah Mbak Reni. Aku tak habis pikir kenapa dua orang ini sepertinya tak suka sekali dengan diri ku. Aku padahal tak pernah berniat mencari muka dihadapan Uni Desi, aku hanya melakukan semua yang terbaik dan apapun yang membuat aku tetap bisa bekerja di rumah makan ini tanpa harus menjatuhkan siapapun. Tiba-tiba Uni Desi membuka ponselnya lalu ia letakkan di atas meja. Aku dan Mbak Reni dan Mbak Yiyin bisa melihat beberapa video disana. Bahkan sebuah part terlihat aku sedang pulang mengendarai sepeda dengan sedikit kesusahan karena menahan rasa sakit pada tumit ku.
“Mana katanya tadi Gendhis bawa pulang isi perut ayam, bawa minyak?” Tanya Uni Desi lagi. Aku menunduk bukan karena merasa bersalah, tetapi ada rasa takut dan hati ku berdebar-debar. Aku tak mampu mendengar suara orang marah. Sedangkan dua orang perempuan disisi ku masih diam tak ada suara sepatah katapun.
“Sekarang coba lihat video ini.” Ucap Uni Desi seraya menunjukkan satu video pada mereka, aku sedikit melirik video tersebut dan melirik ke arah Mbak Reni.
Tampak Mbak Yiyin yang akan pulang menunggu seseorang. Lalu muncul Mbak Reni keluar dengan sebuah kantong plastik hitam besar. Tampak mereka berbicara dengan berbisik. Lalu Mbak Yiyin akan pergi namun di halangi oleh mobil Uni Desi yang berada di depan gerbang.
“Kalau dulu tidak ada yang buang kotoran di depan, saya tidak kepikiran buat pasang cctv, tapi ide Gendhis untuk melihat pelakunya jika kembali dengan menggunakan CCTV justru menunjukkan pencuri di sini, keterlaluan kalian. Sudah ku beri makan, di beri hati malah mau jantung!” Teriak Uni Desi dengan memukul meja. Aku bahkan bergidik mendengar suara keras dari meja yang di pukul oleh Uni Desi.
“A-ampun, ampun Ni. Jangan pecat saya Ni, anak saya baru mau masuk SMA.” Pinta mbak Yiyin dan Mbak Reni langsung berlutut di depan meja.
“Maafkan kami Ni, ampun Uni… jangan pecat kami Uni.” Tangis mbak Reni terdengar menyedihkan. Uni Desi tampak menyeramkan, alis hitamnya menambah kesan judes pemilik rumah makan ini, kutek di tangan nya pun tampak sedikit mengelupas karena benturan di meja.
“Pulanglah, besok saya akan berikan keputusan.” Ucap Uni Desi yang sekarang berjalan dan mengambil satu botol air mineral. Ia tampak meminum air tersebut, dua orang perempuan yang berlinang air mata keluar dari ruangan Uni Desi, aku masih tak berani menatap Uni Desi. Aku khawatir ada juga masalah dari diriku dan menimbulkan rasa marah pada bos ku.
“Duduk Gen.” Titah Uni Desi.
Aku sedikit mengangguk dan duduk di kursi yang ada di hadapan Uni Desi. Aku pun merasa sulit sekali untuk menghirupkan O2 karena khawatir di marah atau dibentak seperti dua orang sebelumnya.
“Kenapa kamu tidak pernah melawan perlakuan Reni yang selalu tidak adil pada kamu? Bahkan beberapa hari nasi yang jatah kamu itu hanya berisikan kuah rendang, kamu juga tak protes?” Tanya Uni Desi, aku sedikit tertegun. Namun walau lama bekerja di rumah makan dan tak belajar, hal itu tak membuat kecerdasan ku menurun. Uni Desi jelas melihat semuanya melalui CCTV yang entah dipasang dimana. Aku pun memberanikan diri mengangkat wajah dan memandang sebentar wajah Uni Desi.
“Saya takut tidak bisa bekerja disini lagi Ni, saya sadar, saya ini siapa. Bisa kerja, dapat makan siang dan sore juga boleh pulang saat siang hari adalah suatu anugerah buat saya, mau diapain saya nerima.” Jawab ku sungguh-sungguh.
Jari jemari Uni Desi mengetuk-ngetuk meja. Ia tampak memikirkan sesuatu.
“Mulai besok kamu tidak usah kerja,” Ucap Uni Desi.
“Hiks…hiks… ampun Ni, saya mohon jangan berhentikan saya.” Ucap ku sesenggukan. Aku merasa tak bersalah tetapi heran kenapa juga ikut diberhentikan.
Uni Desi merubah posisi duduknya lalu ia tertawa terpingkal-pingkal dan menarik selembar tisu lalu mengelap ujung matanya. Entah apa yang ia tertawakan, orang beruang memang suka-suka mereka. Mereka mau tertawa atau memecat orang tanpa salah itu hak mereka toh memang mereka yang berkuasa. Aku semakin merasa dunia ini sungguh tak adil, namun aku masih bersabar.
“Gendhis… Ndis… kamu ini, bener kata suami saya kamu itu kelewat lugu. Kalau ketemu orang yang jahat hati dan busuk hatinya, kamu akan dimanfaatin karena kepolosan kamu…Yang bilang pecat kamu siapa?” Ucap Uni Desi setelah puas tertawa.
Uni Desi menarik laci meja kerjanya, lalu ia menyerahkan satu kunci kepada ku.
“Pakai sepeda motor ini, mulai sekarang kamu yang akan Uni tugaskan di rumah makan pasar ikan. Uni lagi cari orang buat jadi kasir dan jaga disana. Uni cari orang jujur susah. Suami Uni rencana mau buka toko emas, jadi harus cari orang yang bisa di percaya.” Ucap Uni Desi.
Aku justru menangis mendengar perintah Uni Desi.
“Lah, kok malah nangis… Kau ini menangis kenapa?” Tanya Uni Desi yang sudah berkerut dahinya karena melihat air mata ku yang justru kian deras.
Bagaimana aku tidak bertambah sedih, jika Uni Desi meminta ku bekerja di Pasar Ikan, tentu waktu makan siang, aku tak bisa pulang dan memberik ibu makan juga minum obat. Belum lagi rencana ku kuliah jumat dan sabtu tentu juga gagal karena jauh.
“Saya kalau di pasar ikan tidak bisa pulang kalau makan siang Ni….” Ucap ku seraya mengelap air mata yang membanjiri pipi dengan punggung tangan ku.
“Gendhis…Gendhis… Saya itu belum selesai ngomong. Kamu dan ibu kamu bisa tingga di satu rumah saya yang ada di belakang pasar ikan itu. Tapi ya itu kamu tahu sendiri cukup sepi tempatnya. Dan yang paling penting kamu ga usah pusing, kamu cukup tinggal disana dan kerja dengan baik. Masalah kamu jumat dan sabtu, nanti biar saya atau suami yang tunggu hari itu. Saya Cuma minta satu, jaga kepercayaan saya.” Ucap Uni Desi.
Aku melongo tak percaya, rasanya selama ini aku jungkir balik ingin mencari kemudahan menjalani hidup susah banget, tapi hari ini belum cukup 40 hari aku menerapkan apa yang Vya sarankan yaitu jangan tinggalkan Al Waqiah setiap hari. Genap di hari ke 25 aku justru diberikan banyak kemudahan, aku tinggal di rumah yang tak lagi ada demitnya, gaji juga naik, serta urusan ku untuk kuliah juga dipermudah.
‘beneran kalau melibatkan Allah, semua jadi sat set… terima kasih Ya Allah. Aku jadi bertambah semangat untuk memperbaiki diri… Aku harus beri kabar Vya kabar baik ini.’ Batin ku bersorak riang gembira karena sudah membayangkan apa yang akan aku dapatkan di tempat baru walau memiliki tanggungjawab cukup besar oleh Uni Desi, aku tak akan menyia-nyiakan semua kesempatan yang Allah berikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
karissa 🧘🧘😑ditama
mantap thor,,dri eps pertama smpe sini berderai trus air mata ondeh mandee uniii😭😭😂😂,,bulan puasa baca karya mu ini thor dpt jga ilmu ny masyaallah
2024-04-05
1
sitimusthoharoh
alhamdulilah sedikit demi sedikit gendhis mulai merasakan buah kesabarane yg pastine sekarang selalu melibatkan ALLAH dalam segala urusane
lanjut
2024-01-31
2
Mira Fitriani
Alhamdulillah.....🥺
2024-01-15
1