Perlahan aku mencoba membuka kedua mata ku, pedih dan perih di bagian kepala saat aku membuka mata. Tangan yang ku gerakkan karena ingin memegang bagian kepala yang terasa sakit, ikut terasa sakit seperti ada jarum yang menusuk. Aku melihat cahaya yang berasal dari lampu. Ku dengar suara lantunan orang sedang mengaji. Suara seorang perempuan, aku berharap itu adalah Ibu. Tapi itu bukan suara ibu, itu juga bukan suara Vya. Sedikit memaksa aku menggerakkan kepala ke arah sumber suara perempuan yang sedang mengaji. Kulihat ia cepat menyudahi aktifitas nya saat anak matanya melihat ku.
"“Shadaqallahul adzim suaranya mengakhiri kegiatan nya membaca sebuah kitab suci yang cukup kecil. Ia letakkan mushaf tersebut diatas meja. Ia mendekati aku. Wajahnya cantik, ia lebih mirip seperti orang china dari kulit dan bibir namun mata bundar nya menjelaskan bahwa dirinya adalah orang Indonesia . Dari wajahnya bisa disimpulkan jika ia keturunan china dan Jawa. Terlebih logatnya ketika menyapa ku, khas sekali orang Jawa dengan logat Solo.
"Alhamdulillah mbak sudah sadar, mbak nya butuh apa?" Tanya perempuan yang mengenakan jilbab orange tersebut kepada ku. Ia meraih satu botol air mineral dan ia masukan satu sedotan lalu ia arahkan ke mulut ku. Aku menyedot air itu, rasanya kerongkongan ku mulai terasa lebih baik. Perempuan itu tak lepas memberikan senyum ke arah ku.
'Siapa perempuan ini....' ucap ku dalam hati. Aku tak mengenal nya. Seketika pikiran ku kembali mengingat peristiwa terakhir yang aku alami sebelum aku tak sadarkan diri.
"Ibu... Ibu...Ibu saya dimana?" Tanya ku, aku khawatir dengan kondisi ibu. Perempuan itu pun mengerutkan dahinya. Ia sedikit melirik ke arah pintu yang terbuka. Tampak seorang lelaki muncul dari balik pintu. Ia tampak membawa beberapa bungkusan. Ia datang bersama sosok perempuan paruh baya.
"Assalamu'alaikum." Ucap dua orang asing yang baru saja masuk. Ku lihat perempuan berjilbab lebar tadi segera mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu.
"Waalaikumsalam, Mak kenapa ikut?" Tanya perempuan itu. Ternyata perempuan yang mengenakan baju putih dengan jilbab hijau itu adalah ibu dari perempuan itu. Lelaki yang bersama ibu itu pasti suaminya.
"Kamu bilang kamu harus urus ambil ijazah, biar Mak yang ganti jaga. Kamu biar diantar Halim. Mak juga bosan berhari-hari di rumah. Sana cepat pergi, di luar mendung." Ucap perempuan paruh baya itu. Belum lepas pertanyaan di otak ku, siapa perempuan muda itu dan kini sudah muncul dua orang lelaki. Aku berpindah melihat ke arah tangan kiri ku. Terdapat infus yang menempel, kini aku baru paham. Bahwa aku berada di suatu ruangan rawat inap. Alih-alih aku memikirkan kondisi ku, aku justru semakin gundah. Pikiran ku bercabang, apakah aku kemarin telah di nodai? Bagiamana dengan Ibu? Lalu bagaimana pula nanti aku harus membayar biaya perawatan ku, uang untuk kontrol ibu sudah pasti ku pakai untuk biaya perawatan ku. Dan untuk daftar kuliah aku pasti tidak bisa lagi tahun ini.
"Sebentar Mak, mbak nya sudah sadar. Aku panggil dulu dokter, jadi biar bisa memastikan kondisi mbaknya." Ucap.
"Alhamdulillah... " Ucap perempuan paruh baya itu seraya mendekat ke arah ku. Ku lihat lelaki yang bertubuh tega yang datang bersama perempuan paruh baya itu. Ia dengan sigap menarik kursi untuk perempuan tua itu duduk di sisi ku. Ia mengusap tangan ku dan memberikan senyum. Wajahnya terlihat masih kencang walau dari tangannya kulihat sudah cukup keriput.
"Kenalkan, saya Sekar. Dan yang tadi itu anak saya. Ziyah namanya. Kemarin saat kami sedang berjalan-jalan di sekitar tempat kontrakan nya, kami ke sasar. Allah mempertemukan kita kemarin. Ini anak saya Halim. Dia yang menemukan kamu kemarin. Kamu sudah dua hari tidak sadar. Kami bingung untuk menghubungi keluarga kamu, hanya ada satu tanda pengenal mu ya itu gelang mu yang bernama Gendhis. Betul?" Ucap Ibu yang bernama Sekar itu padaku. Ia melingkarkan sebuah gelang karet yang biasa aku pakai. Gelang itu dibelikan oleh Vya.
Aku hanya mengangguk kecil, bibir ku masih sulit sekali untuk berbicara, mungkin karena ada bagian luka robek di tepi bibir. Aku bahkan merasakan perih yang cukup membuat aku kesakitan saat tadi menyedot air minum yang diberikan perempuan bernama Ziyah.
"Mak, Ziyah pergi dulu ya. Nanti kalau selesai Ziyah langsung kemari. Dokter sebentar lagi kemari. Bapak juga sore ini pulang dari Pekalongan." Ucap Ziyah dan cepat mencium punggung tangan Ibu Sekar. Ah ada perasaan iri setiap melihat orang-orang disekitar ku bisa begitu dekat dengan ibunya, bisa berkomunikasi dengan hangat dan baik seperti sekarang ini.
"Hati-hati, dan Halim jangan terlalu ngebut. Ini bukan di kampung." Ucap Ibu Sekar mengingatkan anaknya.
"Nggih Mak E." Ucap lelaki itu seraya tersenyum.
Lelaki bernama Halim dan perempuan bernama Ziyah itu pun bergegas meninggalkan ruangan ini. Beberapa menit setelah kepergian dua kakak beradik itu. Dokter datang bersama seorang perawat. Ia memeriksa kondisi ku. Hanya satu pertanyaan yang dengan susah payah akhirnya bisa meluncur dari kedua bibir ku.
"Dok, kapan saya bisa pulang?" Tanya ku dengan sedikit pelan karena sakit sekali bagian sudut bibir ku untuk sekedar membuka mulut untuk berbicara.
"Mungkin masih beberapa hari lagi ya Mbak, kita lihat kondisi luka di bagian kepala dulu." Ucap dokter tersebut. Ia tampak menyuntikan sesuatu di bagian infus ku. Entah apa itu, rasanya sakit sekali. Aku bahkan reflek meremas tangan Bu Sekar yang meraih tangan ku.
"Istirahat yang cukup dan semoga lekas sembuh." Ucap dokter tersebut setelah menanyakan kepadaku apakah ada keluhan. Aku hanya sedikit menggeleng walau sakit rasa nya. Aku hanya merasakan sakit bagian kepala dan bibir juga cemas akan masalah ibu dimana dan bersama siapa.
"Bu.... Bo-leh pin-jam h-p?" Tanya ku saat ibu itu baru meletakkan nya di atas meja. Ia mengangguk, ia sodorkan satu ponsel dan aku mendial nomor Ayah, satu kali, dua kali, hingga tiga kali. Aku tak berhasil menghubungi Ayah. Kini aku mencoba menghubungi nomor Bunda. Dan sama saja, suara deringan dari ponsel menandakan bahwa panggilan terhubung tapi tak diangkat. Aku menghela napas karena kesal, lalu aku memasukan nomor Vya.
"Halo, Assalamualaikum." Jawab gadis yang telah beberapa bulan ini menutup auratnya.
"Waalaikumsalam. Vya, ini aku." Ucap ku sedikit keras. Aa....Sssstt..." sakit sekali sudut bibir ku. Ku tekan tombol loud speaker.
"Masyaallah Gendhis.... Kamu dimana Ndis.... Ya Allah, Ndis ka-" Ucapan Vya cepat ku potong. Aku harus meminta dirinya bertanya pada Arya. Karena terakhir kali aku mengirimkan share lock posisi ibu ku.
"Vy, aku dirumah sakit. Tolong hubungi Arya. Tanyakan ibu ku dimana." Ucap ku.
"Ibu mu sudah aman Ndis, sekarang kamu dimana? Aku, Arya dan kedua orang tua ku khawatir mencari kamu." Ucap Vya.
Bagaikan tanaman gersang karena tak pernah di sirami, hati ku terasa bahagia mendengar ibu baik-baik saja. Aku justru menangis haru walau belum bisa bertemu ibu. Kabar dari Vya cukup membuat aku tenang dan bahagia.
"Biar ibu yang berbicara Nak." Ucap Bu Sekar pada ku. Aku pun mengangguk. Tampak ia berbicara pada Vya melalui sambungan telepon. Ternyata aku sudah dua hari di rawat di rumah sakit. Aku tidak sadarkan diri karena pukulan di bagian kepala. Lelaki yang hampir menodai ku tak bisa di tangkap karena saat Bu Sekar dan anak lelakinya bernama Halim menyelamatkan aku mereka lebih fokus pada aku yang terluka hingga tak sempat mengejar lelaki itu. Ponsel ku pun tak ada, tanda pengenal juga tak ada. Maka mereka pun selama dua hari bergantian menjaga ku di tempat ini. Aku sesenggukan menangis mendengar cerita dari Bu Sekar.
"Sungguh Allah begitu menyayangi Nak Gendhis. Karena disaat nak Gendhis butuh pertolongan, Allah justru membuat kami harus tersesat karena google Map. Bayangkan google map itu berkali-kali mengatakan 'anda sudah sampai'. Padahal kami berada di tengah hutan dan dekat area sawah. Dan saat itu putra saya Halim mendengar jeritan nak Gendhis yang meminta tolong." Cerita Bu Sekar.
Ternyata ia sedang berada daerah ini karena menghadiri acar wisuda putrinya yang bernama Ziyah. Ia berasal dari Sumatera.
"Maafkan saya jadi merepotkan." Ucap ku malu. Aku paling tidak ingin merepotkan orang-orang karena mungkin dari kecil terbiasa semua sendiri sehingga khawatir sekali atau berat sekali ketika butuh pertolongan orang lain.
"Tidak merepotkan, justru pertemuan kita membuat putri saya belajar banyak selama dua malam ini." Ucap Bu Sekar. Aku bingung dengan maksud kalimat nya. Hampir tiga jam Ibu Sekar menemani ku sampai Vya dan kedua orang tuanya tiba, dan dua anak ibu Sekar juga telah kembali dari kampus.
Vya berhamburan memeluk tubuh ku erat. Ia membelai pipi ku. Terlebih lagi ia dan ibu nya juga menangis di hadapan ku karena mendengar kisah dari Bu Sekar bagaimana ia menemukan aku hingga berakhir aku berada di rumah sakit. Aku tak ikut mengobrol, saat kedua orang tua Vya bertukar komunikasi tentang pondok pesantren juga Bu Sekar menceritakan daerah asalnya. Aku hanya melamun tentang nasib ku, hati ku bersyukur pada Allah. Karena sungguh Allah masih mencintai aku. Satu-satunya harta yang ada pada diriku adalah mahkota ku, karena tak ada yang bisa dibanggakan dari diri ku dengan kondisi ku saat ini. Apalagi kondisi ibu ku yang masih mengalami gangguan jiwa. Ternyata Ibu dititipkan Vya dan Arya ke satu panti rehabilitas orang dengan gangguan jiwa. Biaya perbulan nya tak terlalu sebesar biaya di rumah sakit jiwa. Aku sudah tak sabar ingin bertemu ibu. Aku rindu ibu, aku ingin menangis dalam pelukannya.
'Gendhis kangen ibu,bu....' batin ku ditengah-tengah suara keluarga Bu Sekar dan keluarga Vya bertukar cerita. Air mata ini selalu mengalir jika teringat ibu, apalagi terpendam rasa rindu untuk ibu.
(Eit jangan jodohin Halim ma Gendhis ya... Nanti kita fokus ke Gendhis jadi wanita kuat dulu, nih awalnya ketemu ma Sekar dulu nih yang sabar nya pol. Pokoknya ini jodohnya Gendhis Dekeng nya pusat deh... Yakin akan indah pada waktunya.Otw Gendhis menjemput kebahagiaan ya 💚💚)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
FiaNasa
Alhamdulillah gendis selamat dr penjahat itu
2024-02-09
2
sitimusthoharoh
alhamdulilah akhire mb sekar punya ank y thor.itu si halom beneran anake mb sekar m mas guntur kn thor??????
manut kk debu ae lah jodohe gendhis
lanjut
2024-02-01
1
Kustri
Ndis...dicariin uni desy tuh😁
2023-12-12
1