"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi." Suara dari operator seluler yang berasal dari nomor ponsel Ayah. Aku mencoba menghubungi ayah. Entah kenapa hanya Bunda yang bisa ku hubungi nomor ponselnya. Namun untuk perkara seperti ini sudah pasti tidak akan diterima panggilan ku.
Kembali ku simpan ponsel milik ku yang layarnya sudah banyak sekali goresan. Aku kembali menyusuri area sekitar rumah sakit. Sudah satu hari aku mencari ibu tapi hasilnya nihil. Aku tak mungkin melapor ke polisi karena belum 24 jam ibu hilang. Kaki yang terasa sakit pada bagian tumit dan jantung betis membuat aku duduk di depan sebuah toko yang sudah tutup. Aku selonjoran sejenak untuk menghilangkan rasa pegal pada kedua kaki ku. Namun kedua netra ku masih mengitari area sekitar pasar ini. Aku berharap menemukan ibu.
"Ibu dimana ya Allah... Lindungi ibu..." Gumam ku seraya dua tangan ku memijat ujung paha.
Ponsel ku berdering, berharap panggilan dari ayah namun ternyata panggilan dari Vya.
"Halo Vy," Ucap ku getir.
"Ketemu beluk Ndis?" Tanya Vya diseberang.
"Belum Vy, aku sudah sampai area pasar sekarang. Belum ada tanda-tanda. Aku bingung, mau lapor ke polisi jelas belum bisa diterima karena belum 24 jam." Ucap ku pelan dengan air mata sudah menetes dari sudut mata ku.
Vya pun mengakhiri panggilan nya, satu-satunya orang yang peduli pada ku adalah Vya. Ayah bahkan tak tahu dimana saat ini, pesan ku akan dibaca ketika tengah malam biasanya. Rasa haus berasal dari kerongkongan ku membuat aku menoleh ke arah penjual es dogan. Namun pikiran ku tertuju pada Ibu. Aku pun berdiri dan mendekat ke arah pedagang yang berada di trotoar, aku membeli satu botol air mineral. Dan aku pun tak menyerah untuk mencari ibu. Aku akan tetap berusaha menemukan ibu. Aku kembali bertanya kepada setiap orang yang aku temui.
“Bang, lihat ibu-ibu dengan baju putih dan rambut segini?” tanya ku pada abang penjual makanan dan minuman tersebut.
“Banyak kalau ibu-ibu pakai baju putih dari tadi lewat neng,” jawab si abang seraya menyerahkan uang lima ribu, kembalian dari air mineral yang aku beli.
“Ini Bang, ibu ini.” Ucap ku seraya menyodorkan ponsel ku, dimana aku berpotret dengan ibu tadi saat selesai aku mengganti pakaian ibu.
Abang tersebut mengamati foto tersebut, lalu ia menatap wajah ku.
“Wah ini ibu yang tadi ngambil isi dagangan saya mbak, ini siapa nya mbak?” Tanya abang tersebut.
Aku reflek memegang tangan lelaki tersebut.
“Dimana bang ibu itu sekarang? Dia, ibu saya bang…!” Jawab ku antusias.
Namun abang itu justru minta bayar ganti rugi dengan minuman yang di bawa ibu lari tadi. Aku pun membayar sebanyak tiga puluh ribu lalu aku pergi menuju arah yang di tunjuk oleh abang pedagang tersebut. Ada secercah harapan untuk menemukan ibu karena aku menemukan satu gelang yang biasa ku kenakan di tangan ibu, gelang dari karet yang bertuliskan nama ku dan nomor telepon ku.
“Ibu..” Gumam ku, aku kembali mencari di area pasar, ku susuri sudut demi sudut, blok demi blok dengan harapan bertemu ibu. Hampir 8 tahun merawat ibu, sedari kelas 3 Sd aku merawat ibu. Walau tak ada komunikasi diantara kami, tetapi setidaknya aku masih bisa memandang wajah yang perempuan yang telah melahirkan aku, mencium punggung tangannya setiap hari. Aku tak pernah berpikiran untuk berpisah dengan ibu, Vya yang beberapa saat lalu pernah menyaran kan untuk menitipkan ibu di rumah sakit jiwa, aku sempat setuju. NAmun saat tahu biaya perbulan nya berkisar hampir 4 juta, aku tak sanggup. Sehingga aku masih merawat ibu sendiri di sela-sela aktifitas ku, menggapai mimpi dan masa depan yang lebih baik.
Satu hari sudah aku berjalan mengelilingi pasar dan area sekitar rumah sakit, namun masih belum membuahkan hasil. Ibu masih tak tahu dimana, perut ku terasa perih tepat jam 11 malam. Aku bahkan lupa makan satu hari ini, pikiran ku hanya tertuju pada ibu. Rasa lapar baru datang menghampiri, bahkan dengan terpaksa aku menyuapkan satu sendok nasi yang ku beli di warung makan, lambung ku justru terasa perih karena mungkin terlalu lama kosong.
“Hiks… hiks… bu… ibu dimana… sudah makan belum.” Ucap ku getir, aku meminum air hangat-hangat kuku agar lambung ku tak kembali terasa perih. Pikiran ku tertuju pada ibu, dimana, sudah makan apa belum. Cuaca hujan cukup deras membuat aku semakin khawatir aku bahkan menangis sesenggukan di warung makan yang terdapat beberapa pengunjung. Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya duduk di sisi ku. Ia menyodorkan selembar tisu.
“Lagi ada masalah ya mbak?” Tanya nya, tampak ia mengisi sendok di wadah sendok yang terdapat di meja ku.
Aku menerima tisu tersebut, ku hapus air mata yang membasahi pipi ku.
“Saya lagi cari ibu saya, ibu saya hilang satu hari ini…” Ucap ku masih menatap hujan.
“Lah kok bisa hilang?” Tanya nya seraya melipat serbet kotak-kotak di tangannya.
“Ibu saya sedang depresi, tadi berencana kerumah sakit, tapi hilang ketika saya antri… sampai sekarang belum ketemu. Saya khawatir sama ibu saya, beliau pasti belum makan.” Jawab ku akan kegundahan hati ini.
“Bisa lihat fotonya? Atau mbaknya bisa tinggalin foto dan nomor telepon. Nanti kalau pas saya lihat, saya akan kabari mbak.” Ucap perempuan itu.
Aku mengeluarkan ponsel ku, aku pun mengirim foto ibu pada pemilik warung makan tersebut. Aku masih menunggu hujan reda, saat hujan reda aku mencari ojek online. Aku sengaja tidak membawa sepeda motor ketika mencari ibu, agar lebih mudah menyusuri pasar. Namun saat sebuah motor matic berhenti di depan ku, aku kaget karena lelaki itu adalah Arya.
“Arya…” Gumam ku.
“Gendhis?” Tanya Arya tak percaya, aku paham akan tatapan nya, ia pasti bingung apa yang aku lakukan di pasar ini padahal waktu sudah hampir tengah malam. Ia bahkan menatap area sekeliling ku. Aku baru sadar bahwa di area ini banyak perempuan yang berpakai cukup seksi. Sial, Arya pasti berpikiran jika aku sedang menjajahkan diri. Tapi pakaian ku kan tidak seperti mereka yang sedang mepromosikan diri mereka.
“Jangan bilang kamu mikir aku sedang mencari uang.” Ucap ku to the point, namun lelaki itu tak mengucapkan sesuatu. Ia menyodorkan satu helm kepada ku.
“Kamu ternyata bisa baca pikiran orang ya,” Ucapnya seraya mengangkat sudut bibirnya. Aku pun sedikit terpaksa tersenyum, wajahku terasa begitu lengket karena hampir satu hari penuh aku hanya berjalan dan berlari untuk mencari ibu. Aku pun naik sepeda motor Arya, ia pun bertanya perihal apa aku bisa berada di pasar tersebut tepat tengah malam.
“Aku lagi cari ibu,tadi siang ibu hilang saat aku antri di rumah sakit.” Jelas ku.
“Besok aku ga ada kuliah, aku bantu cari.” Ucapnya. Aku melihat wajah yang memiliki hidung mancung melalui kaca spion, kami saling tatap sesaat. Aku hanya mengangguk. Karena aku tak mungkin meminta bantuan Vya, ia sedang menunggu rumah nya yang sedang ditinggal kedua orang tuanya. Saat tiba di rumah, Arya tak mau menerima uang dari ku.
“Simpan saja, anggap saja hadiah dari teman. Aku mau pulang juga sudah ini, tadi kalau bukan kamu yang order, aku tak akan ambil order.” Ucap Arya.
“Terima kasih.” UCap ku seraya menyerahkan satu helm ke arah Arya.
“BEsok mau cari dari mana dan jam berapa?” Tanya lelaki yang sebenarnya banyak di gandrungi di tempat tinggal lama ku, karena ketampanan dan kecerdasannya.
“Mungkin jam 7. Dari tempat tadi saja, karena kata penjual minuman tadi, ibu ada disana tadi siang.” UCap ku.
Arya pun meraih helm yang ku serahkan dan menggantungnya di bagian depan sepeda motor matic miliknya.
“Baik, besok aku jemput saja ya?” Ucapnya.
Hanya anggukan kecil yang ku berikan. Lelaki itu pun menghilang di ujung gang, aku masuk kerumah dan duduk tepat di depan pintu kamar,aku berharap malam ini ibu tak kehujanan, ibu bertemu orang baik dan sudah makan. Aku tak membayangkan jika ibu merasa lapar.
“Permudahkan untuk bertemu ibu ya Allah….” Ucap ku seraya berjalan ke arah tempat tidur, aku tak memikirkan untuk mandi atau shalat. Tubuh ku lelah, aku bahkan tidur dengan tubuh dan wajah yang terasa lengket. Aku tidur di kasur ibu, aroma khas ibu membuat aku menangis dalam keadaan terpejam.
“Jika setiap cobaan ini membuat Engkau ridho, saya akan tetap bersabar melewatinya…..” Ucap ku yang memejamkan mata dan telinga masih mendengar jarum jam yang terus berputar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
semoga ibu cepet ketemu y dhis
lanjut
2024-01-31
1
Kustri
ya Allah ndiiiis.... 👍👍👍
2023-12-12
1
Sugiharti Rusli
harus diuji kesabaran kamu yah Ndis
2023-10-30
1