Bab 12 Mencari Ibu

"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi." Suara dari operator seluler yang berasal dari nomor ponsel Ayah. Aku mencoba menghubungi ayah. Entah kenapa hanya Bunda yang bisa ku hubungi nomor ponselnya. Namun untuk perkara seperti ini sudah pasti tidak akan diterima panggilan ku.

Kembali ku simpan ponsel milik ku yang layarnya sudah banyak sekali goresan. Aku kembali menyusuri area sekitar rumah sakit. Sudah satu hari aku mencari ibu tapi hasilnya nihil. Aku tak mungkin melapor ke polisi karena belum 24 jam ibu hilang. Kaki yang terasa sakit pada bagian tumit dan jantung betis membuat aku duduk di depan sebuah toko yang sudah tutup. Aku selonjoran sejenak untuk menghilangkan rasa pegal pada kedua kaki ku. Namun kedua netra ku masih mengitari area sekitar pasar ini. Aku berharap menemukan ibu.

"Ibu dimana ya Allah... Lindungi ibu..." Gumam ku seraya dua tangan ku memijat ujung paha.

Ponsel ku berdering, berharap panggilan dari ayah namun ternyata panggilan dari Vya.

"Halo Vy," Ucap ku getir.

"Ketemu beluk Ndis?" Tanya Vya diseberang.

"Belum Vy, aku sudah sampai area pasar sekarang. Belum ada tanda-tanda. Aku bingung, mau lapor ke polisi jelas belum bisa diterima karena belum 24 jam." Ucap ku pelan dengan air mata sudah menetes dari sudut mata ku.

Vya pun mengakhiri panggilan nya, satu-satunya orang yang peduli pada ku adalah Vya. Ayah bahkan tak tahu dimana saat ini, pesan ku akan dibaca ketika tengah malam biasanya. Rasa haus berasal dari kerongkongan ku membuat aku menoleh ke arah penjual es dogan. Namun pikiran ku tertuju pada Ibu. Aku pun berdiri dan mendekat ke arah pedagang yang berada di trotoar, aku membeli satu botol air mineral. Dan aku pun tak menyerah untuk mencari ibu. Aku akan tetap berusaha menemukan ibu. Aku kembali bertanya kepada setiap orang yang aku temui.

“Bang, lihat ibu-ibu dengan baju putih dan rambut segini?” tanya ku pada abang penjual makanan dan minuman tersebut.

“Banyak kalau ibu-ibu pakai baju putih dari tadi lewat neng,” jawab si abang seraya menyerahkan uang lima ribu, kembalian dari air mineral yang aku beli.

“Ini Bang, ibu ini.” Ucap ku seraya menyodorkan ponsel ku, dimana aku berpotret dengan ibu tadi saat selesai aku mengganti pakaian ibu.

Abang tersebut mengamati foto tersebut, lalu ia menatap wajah ku.

“Wah ini ibu yang tadi ngambil isi dagangan saya mbak, ini siapa nya mbak?” Tanya abang tersebut.

Aku reflek memegang tangan lelaki tersebut.

“Dimana bang ibu itu sekarang? Dia, ibu saya bang…!” Jawab ku antusias.

Namun abang itu justru minta bayar ganti rugi dengan minuman yang di bawa ibu lari tadi. Aku pun membayar sebanyak tiga puluh ribu lalu aku pergi menuju arah yang di tunjuk oleh abang pedagang tersebut. Ada secercah harapan untuk menemukan ibu karena aku menemukan satu gelang yang biasa ku kenakan di tangan ibu, gelang dari karet yang bertuliskan nama ku dan nomor telepon ku.

“Ibu..” Gumam ku, aku kembali mencari di area pasar, ku susuri sudut demi sudut, blok demi blok dengan harapan bertemu ibu. Hampir 8 tahun merawat ibu, sedari kelas 3 Sd aku merawat ibu. Walau tak ada komunikasi diantara kami, tetapi setidaknya aku masih bisa memandang wajah yang perempuan yang telah melahirkan aku, mencium punggung tangannya setiap hari. Aku tak pernah berpikiran untuk berpisah dengan ibu, Vya yang beberapa saat lalu pernah menyaran kan untuk menitipkan ibu di rumah sakit jiwa, aku sempat setuju. NAmun saat tahu biaya perbulan nya berkisar hampir 4 juta, aku tak sanggup. Sehingga aku masih merawat ibu sendiri di sela-sela aktifitas ku, menggapai mimpi dan masa depan yang lebih baik.

Satu hari sudah aku berjalan mengelilingi pasar dan area sekitar rumah sakit, namun masih belum membuahkan hasil. Ibu masih tak tahu dimana, perut ku terasa perih tepat jam 11 malam. Aku bahkan lupa makan satu hari ini, pikiran ku hanya tertuju pada ibu. Rasa lapar baru datang menghampiri, bahkan dengan terpaksa aku menyuapkan satu sendok nasi yang ku beli di warung makan, lambung ku justru terasa perih karena mungkin terlalu lama kosong.

“Hiks… hiks… bu… ibu dimana… sudah makan belum.” Ucap ku getir, aku meminum air hangat-hangat kuku agar lambung ku tak kembali terasa perih. Pikiran ku tertuju pada ibu, dimana, sudah makan apa belum. Cuaca hujan cukup deras membuat aku semakin khawatir aku bahkan menangis sesenggukan di warung makan yang terdapat beberapa pengunjung. Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya duduk di sisi ku. Ia menyodorkan selembar tisu.

“Lagi ada masalah ya mbak?” Tanya nya, tampak ia mengisi sendok di wadah sendok yang terdapat di meja ku.

Aku menerima tisu tersebut, ku hapus air mata yang membasahi pipi ku.

“Saya lagi cari ibu saya, ibu saya hilang satu hari ini…” Ucap ku masih menatap hujan.

“Lah kok bisa hilang?” Tanya nya seraya melipat serbet kotak-kotak di tangannya.

“Ibu saya sedang depresi, tadi berencana kerumah sakit, tapi hilang ketika saya antri… sampai sekarang belum ketemu. Saya khawatir sama ibu saya, beliau pasti belum makan.” Jawab ku akan kegundahan hati ini.

“Bisa lihat fotonya? Atau mbaknya bisa tinggalin foto dan nomor telepon. Nanti kalau pas saya lihat, saya akan kabari mbak.” Ucap perempuan itu.

Aku mengeluarkan ponsel ku, aku pun mengirim foto ibu pada pemilik warung makan tersebut. Aku masih menunggu hujan reda, saat hujan reda aku mencari ojek online. Aku sengaja tidak membawa sepeda motor ketika mencari ibu, agar lebih mudah menyusuri pasar. Namun saat sebuah motor matic berhenti di depan ku, aku kaget karena lelaki itu adalah Arya.

“Arya…” Gumam ku.

“Gendhis?” Tanya Arya tak percaya, aku paham akan tatapan nya, ia pasti bingung apa yang aku lakukan di pasar ini padahal waktu sudah hampir tengah malam. Ia bahkan menatap area sekeliling ku. Aku baru sadar bahwa di area ini banyak perempuan yang berpakai cukup seksi. Sial, Arya pasti berpikiran jika aku sedang menjajahkan diri. Tapi pakaian ku kan tidak seperti mereka yang sedang mepromosikan diri mereka.

“Jangan bilang kamu mikir aku sedang mencari uang.” Ucap ku to the point, namun lelaki itu tak mengucapkan sesuatu. Ia menyodorkan satu helm kepada ku.

“Kamu ternyata bisa baca pikiran orang ya,” Ucapnya seraya mengangkat sudut bibirnya. Aku pun sedikit terpaksa tersenyum, wajahku terasa begitu lengket karena hampir satu hari penuh aku hanya berjalan dan berlari untuk mencari ibu. Aku pun naik sepeda motor Arya, ia pun bertanya perihal apa aku bisa berada di pasar tersebut tepat tengah malam.

“Aku lagi cari ibu,tadi siang ibu hilang saat aku antri di rumah sakit.” Jelas ku.

“Besok aku ga ada kuliah, aku bantu cari.” Ucapnya. Aku melihat wajah yang memiliki hidung mancung melalui kaca spion, kami saling tatap sesaat. Aku hanya mengangguk. Karena aku tak mungkin meminta bantuan Vya, ia sedang menunggu rumah nya yang sedang ditinggal kedua orang tuanya. Saat tiba di rumah, Arya tak mau menerima uang dari ku.

“Simpan saja, anggap saja hadiah dari teman. Aku mau pulang juga sudah ini, tadi kalau bukan kamu yang order, aku tak akan ambil order.” Ucap Arya.

“Terima kasih.” UCap ku seraya menyerahkan satu helm ke arah Arya.

“BEsok mau cari dari mana dan jam berapa?” Tanya lelaki yang sebenarnya banyak di gandrungi di tempat tinggal lama ku, karena ketampanan dan kecerdasannya.

“Mungkin jam 7. Dari tempat tadi saja, karena kata penjual minuman tadi, ibu ada disana tadi siang.” UCap ku.

Arya pun meraih helm yang ku serahkan dan menggantungnya di bagian depan sepeda motor matic miliknya.

“Baik, besok aku jemput saja ya?” Ucapnya.

Hanya anggukan kecil yang ku berikan. Lelaki itu pun menghilang di ujung gang, aku masuk kerumah dan duduk tepat di depan pintu kamar,aku berharap malam ini ibu tak kehujanan, ibu bertemu orang baik dan sudah makan. Aku tak membayangkan jika ibu merasa lapar.

“Permudahkan untuk bertemu ibu ya Allah….” Ucap ku seraya berjalan ke arah tempat tidur, aku tak memikirkan untuk mandi atau shalat. Tubuh ku lelah, aku bahkan tidur dengan tubuh dan wajah yang terasa lengket. Aku tidur di kasur ibu, aroma khas ibu membuat aku menangis dalam keadaan terpejam.

“Jika setiap cobaan ini membuat Engkau ridho, saya akan tetap bersabar melewatinya…..” Ucap ku yang memejamkan mata dan telinga masih mendengar jarum jam yang terus berputar.

Terpopuler

Comments

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

semoga ibu cepet ketemu y dhis
lanjut

2024-01-31

1

Kustri

Kustri

ya Allah ndiiiis.... 👍👍👍

2023-12-12

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

harus diuji kesabaran kamu yah Ndis

2023-10-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!