Sinar mentari begitu menyilaukan mata, aku bahkan mengernyit dahi ketika baru turun dari angkot. Vya menemani aku menunju satu panti rehabilitas untuk orang yang mengalami gangguan jiwa. Sebuah bangunan yang terlihat tertutup sebagian bangunan sebagai pagar yang terbuat dari seng.
Vya merangkul tangan ku. Ia seoalah paham apa yahg ada di benak ku ketika melihat bangunan ini.
"Tak perlu khawatir. Ini tak seperti yang kamu pikirkan Ndis, bangunan ini di bangun alakadarnya. Namun pemilik dan pendiri juga pengurus nya begitu telaten merawat mereka yang ada disini." Ucap Vya seraya menarik tangan ku.
Dengan sediki rasa lega aku pun mengikuti langkah kaki sahabat ku. Ia tampak tak asing dengan beberapa orang yang menyapa dirinya. Mungkin ia mengenal beberapa orang ini.
"Neng Vya, sama siapa?" Tanya satu lelaki yang mengenakan sarung namun dengan gaya unyil, dimana sarung tersebut ia sampirkan di pundaknya.
"Eh Pak Bagong. Ini pak sama anaknya Bu Lisa." Kenal Vya pada lelaki yang menyapa ku dengan senyumnya. Ia mengulurkan tangannya. Serta giginya yang terlihat agak sedikit menyembul ke depan membuat mimik wajahnya terlihat lucu.
Aku pun menerima uluran tangannya.
"Tangan mu seputih kapas Dik, andai aku adalah raja di istana ini maka kamu lah yang akan menjadi ratunya di istana ini. Salam kenal dari pangeran cinta tanpa modal, Bagong bahagia selamanya." Ucap lelaki itu yang hampir saja mencium tangan ku. Aku cepat menarik nya. Aku pun reflek segera bersembunyi di balik tubuh Vya.
"Ndis....jangan takut, pak Bagong ini pasien yang nyaris sembuh. Ia disini banyak membantu Kang Lukman untuk merawat beberapa pasien." Ucap Vya.
Seketika aku pun merasa lega. Namun aku justru aneh mendengar penjelasan Vya, kenapa pasien justru bisa merawat pasien. Namun dari pembicaraan, sorot matanya lelaki ini bisa diajak komunikasi.
"Kita tinggal dulu ya pak. Gendhis rindu sama ibunya." Ucap Vya seraya menarik tangan ku. Aku pun membuntuti nya hingga berhenti di satu pintu terali. Terlihat tulisan di depan pintu tersebut.
{Khusus wanita}
Aku pun hanya mengamati suasana di dalam ruangan yang kini kami masuki. Tampak seperti aula, dan terdapat beberapa tikar juga pakaian yang di jemur. Vya menarik ku ke arah satu ruangan. Aku mendengar suara ibu bernyanyi, itu suara ibu.
"Kalau dulu... Kita tak pernah bertemu... Tak kan pernah ku rasakan...." Suara merdu dari ibu yang menyenandungkan lagu yang hita di tahun 80an.
Aku mendekat ke ruangan yang terdapat ada 4 orang perempuan paruh baya, mereka sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Ada yang menghitung garis di dinding, ada yang membelai boneka. Sedang ibu seperti biasa, beliau akan memandang mentari melalui celah-celah terali yang dijadikan sebagai ruang ventilasi.
"Ibu.... Bu...Ini Gendhis Bu...." Ucap ku seraya menjulurkan tangan. Ibu berada cukup jauh dari tempat ku berdiri. Ibu tak menoleh ke arah ku. Tiba-tiba satu perempuan berjilbab lebar datang dan mendekati ibu. Ia membimbing tangan ibu. Ia tuntun ibu untuk keluar ruangan dan kini ibu berada disisi ku. Rambut ibu sekarang sedikit lebih pendek. Aku memeluk ibu begitu erat. Tak mampu aku menahan tangis ku di pelukan ibu. Aku rindu ibu, walau kondisinya seperti saat ini itu tak membuat aku kehilangan cinta ku padanya, aku hanya ingin bersama ibu.
"Hiks....Hiks.... Bu.. Maafkan Gendhis." Ucap ku dalam pelukannya. Tak ada respon atau belain lembut dari ibu . Satu usapan diberikan oleh Vya pada punggung ku. Ia juga tampak menitikkan air mata karena terharu.
Beberapa menit aku duduk di satu tempat duduk yang terbuat dari semen yang menyatu dengan dinding kamar yang biasa di tempati ibu bersama 2 orang lainnya. Aku pun berkenalan dengan Bu Agus, ia adalah istri dari pemilik panti ini.
"Ada satu yang harus ibu sampaikan. Karena kemarin kabarnya Vya tidak kuat menyampaikan nya pada nak Gendhis." Ucap ibu itu pada ku dengan mimik wajah serius. Ia tampak melepaskan kacamata nya dan menatap ku lekat.
"Nak Gendhis, apapun yang akan ibu sampaikan maka jangan melihat pada hal negatifnya. Tetapi pada hal yang positif. Berusaha untuk berpikir positif karena seperti yang saya lihat pada ibu nak Gendhis, mungkin selama ini beliau lebih mengedepankan rasa negatifnya sehingga tak kuat menahan emosi atau beban hidupnya." Ucap Bu Agu yang memiliki nama lengkap Agustina.
"Ada perihal apa Bu?" Tanya ku tak sabar.
Mimik wajah pemilik panti ini terlihat begitu serius. Wajah Vya yang terlihat sedikit menunduk membuat aku semakin khawatir akan berita yang akan disampaikan.
Bu Agus mendekati posisi ku. Kini ia duduk di sisi ku.
"Saat kemarin ibu nak Gendhis ditemukan, beliau dalam kondisi yang menyedihkan. Maaf, sepertinya ibu nak Gendhis mengalami tindakan kejahatan s e k s u a l. Saya harus menyampaikan hal ini, khawatir kedepan ibu nak Gendhis mengalami hamil dan nak Gendhis justru berpikir bahwa hal buruk itu terjadi disini. Ibu yang menemukan ibunya nak Gendhis juga menjadi saksinya." Ucap Bu Agus.
Tubuh ku lemah dan semakin tak bergairah untuk menjalani hidup. Entah apa yang membuat aku begitu sulit dalam menjalani hidup. Baru saja ingin menjadi hamba yang lebih baik dan taat, namun cobaan ada saja yang datang. Pikiran buruk dalam otak ku sudah menari-nari dan sibuk menghantui perasaan ku agar merasa putus asa. Genggaman tangan dari Vya membuat aku menoleh ke arah gadis yang sekarang selalu mengenakan kacamata bundar karena sudah silinder 5.
"Ndis, ingat pesan Kak Ziyah tadi pagi?" Ucapnya seraya menyunggingkan senyum.
Aku kembali mengingat kalimat penyemangat dari Kak Ziyah, putri sulung Bu Sekar.
"Ndis, Untuk menjalani kehidupan dengan taat pada Allah itu ga semudah yang kita bayangkan. Kadang semakin taat kita ujian juga akan bertambah terasa semakin berat. Nah disini kadang banyak yang menyerah dan pasrah tanpa mau berikhtiar. Disini justru saat atau momen kita untuk naik tingkat menuju tingkatan mulia di mata Allah bukan manusia."
Kali ini, baru beberapa jam aku berpisah dari keluarga penuh kehangatan itu. Aku sudah menemui apa yang diucapkan Kak Ziyah. Aku memejamkan mata dan sekuat hati untuk tidak menangis, sekuat hati menolak pikiran buruk dan banyak prasangka akan hal yang belum terjadi. Bagaimana jika ibu hamil? sendiri saja sudah repot, sendiri saja sudah begini, kenapa takdir ku begini.
Aku cepat membuka mata dan mengatakan pada Bu Agustina jika aku akan. Memanfaatkan waktu libur ke panti membantu ibu Agustina dan suaminya. Aku tak akan. Melanjutkan kuliah. Aku lelah mengejar sesuatu yang aku inginkan. Ingin sukses. Kini aku ingin jual mahal pada dunia ini. Seperti kata Bu Sekar kemarin malam jika kita ingin hidup bahagia. Lupakan semua tentang keindahan dunia. Fokus saja pada kewajiban kita. Maka kita akan ibarat perawan cantik, Sholehah, cerdas yang akan membuat lelaki mengejar-ngejar kita. Begitulah dunia. Ia akan mengejar kita kala kita tak silau akan keindahannya. Itu betul-betul terjadi, aku pasrah untuk merawat ibu. Namun Allah justru memberikan apa yang aku sudah lupakan karena ingin fokus memperbaiki diri dan merawat ibu.
Tepat di 3 bulan aku menyibukkan diri di panti dan tetap bekerja di rumah makan Uni Desi. Uang untuk daftar kuliah ku berikan untuk perawatan ibu dan tabungan jika sewaktu-waktu ada hal tak terduga terjadi pada ku. Sesuatu yang tak disangka kini datang menghampiri aku. Sebuah tawaran yang begitu tak disangka-sangka.
"Kamu akan ikut jalur beasiswa kader. Hanya bayar 10 juta sampai S1. Itu bisa di cicil sebanyak 4 kali." Ucap ketua yayasan tempat ibu ku dirawat
(Maaf ya readers. Berapa hari di karantina karena ikut diklat. Alhamdulillah bisa nulis lagi.)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
lanjut lanjut
2024-02-01
2
Maswa Hasna
nama nya bagong kaya gk ada nama lain aja
2023-11-29
2
Sugiharti Rusli
semoga Gendhis pelan" menemukan kebahagiannya,,,aamiin💖💖🤲🤲🤲
2023-10-30
1