Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia

Sinar mentari begitu menyilaukan mata, aku bahkan mengernyit dahi ketika baru turun dari angkot. Vya menemani aku menunju satu panti rehabilitas untuk orang yang mengalami gangguan jiwa. Sebuah bangunan yang terlihat tertutup sebagian bangunan sebagai pagar yang terbuat dari seng.

Vya merangkul tangan ku. Ia seoalah paham apa yahg ada di benak ku ketika melihat bangunan ini.

"Tak perlu khawatir. Ini tak seperti yang kamu pikirkan Ndis, bangunan ini di bangun alakadarnya. Namun pemilik dan pendiri juga pengurus nya begitu telaten merawat mereka yang ada disini." Ucap Vya seraya menarik tangan ku.

Dengan sediki rasa lega aku pun mengikuti langkah kaki sahabat ku. Ia tampak tak asing dengan beberapa orang yang menyapa dirinya. Mungkin ia mengenal beberapa orang ini.

"Neng Vya, sama siapa?" Tanya satu lelaki yang mengenakan sarung namun dengan gaya unyil, dimana sarung tersebut ia sampirkan di pundaknya.

"Eh Pak Bagong. Ini pak sama anaknya Bu Lisa." Kenal Vya pada lelaki yang menyapa ku dengan senyumnya. Ia mengulurkan tangannya. Serta giginya yang terlihat agak sedikit menyembul ke depan membuat mimik wajahnya terlihat lucu.

Aku pun menerima uluran tangannya.

"Tangan mu seputih kapas Dik, andai aku adalah raja di istana ini maka kamu lah yang akan menjadi ratunya di istana ini. Salam kenal dari pangeran cinta tanpa modal, Bagong bahagia selamanya." Ucap lelaki itu yang hampir saja mencium tangan ku. Aku cepat menarik nya. Aku pun reflek segera bersembunyi di balik tubuh Vya.

"Ndis....jangan takut, pak Bagong ini pasien yang nyaris sembuh. Ia disini banyak membantu Kang Lukman untuk merawat beberapa pasien." Ucap Vya.

Seketika aku pun merasa lega. Namun aku justru aneh mendengar penjelasan Vya, kenapa pasien justru bisa merawat pasien. Namun dari pembicaraan, sorot matanya lelaki ini bisa diajak komunikasi.

"Kita tinggal dulu ya pak. Gendhis rindu sama ibunya." Ucap Vya seraya menarik tangan ku. Aku pun membuntuti nya hingga berhenti di satu pintu terali. Terlihat tulisan di depan pintu tersebut.

{Khusus wanita}

Aku pun hanya mengamati suasana di dalam ruangan yang kini kami masuki. Tampak seperti aula, dan terdapat beberapa tikar juga pakaian yang di jemur. Vya menarik ku ke arah satu ruangan. Aku mendengar suara ibu bernyanyi, itu suara ibu.

"Kalau dulu... Kita tak pernah bertemu... Tak kan pernah ku rasakan...." Suara merdu dari ibu yang menyenandungkan lagu yang hita di tahun 80an.

Aku mendekat ke ruangan yang terdapat ada 4 orang perempuan paruh baya, mereka sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Ada yang menghitung garis di dinding, ada yang membelai boneka. Sedang ibu seperti biasa, beliau akan memandang mentari melalui celah-celah terali yang dijadikan sebagai ruang ventilasi.

"Ibu.... Bu...Ini Gendhis Bu...." Ucap ku seraya menjulurkan tangan. Ibu berada cukup jauh dari tempat ku berdiri. Ibu tak menoleh ke arah ku. Tiba-tiba satu perempuan berjilbab lebar datang dan mendekati ibu. Ia membimbing tangan ibu. Ia tuntun ibu untuk keluar ruangan dan kini ibu berada disisi ku. Rambut ibu sekarang sedikit lebih pendek. Aku memeluk ibu begitu erat. Tak mampu aku menahan tangis ku di pelukan ibu. Aku rindu ibu, walau kondisinya seperti saat ini itu tak membuat aku kehilangan cinta ku padanya, aku hanya ingin bersama ibu.

"Hiks....Hiks.... Bu.. Maafkan Gendhis." Ucap ku dalam pelukannya. Tak ada respon atau belain lembut dari ibu . Satu usapan diberikan oleh Vya pada punggung ku. Ia juga tampak menitikkan air mata karena terharu.

Beberapa menit aku duduk di satu tempat duduk yang terbuat dari semen yang menyatu dengan dinding kamar yang biasa di tempati ibu bersama 2 orang lainnya. Aku pun berkenalan dengan Bu Agus, ia adalah istri dari pemilik panti ini.

"Ada satu yang harus ibu sampaikan. Karena kemarin kabarnya Vya tidak kuat menyampaikan nya pada nak Gendhis." Ucap ibu itu pada ku dengan mimik wajah serius. Ia tampak melepaskan kacamata nya dan menatap ku lekat.

"Nak Gendhis, apapun yang akan ibu sampaikan maka jangan melihat pada hal negatifnya. Tetapi pada hal yang positif. Berusaha untuk berpikir positif karena seperti yang saya lihat pada ibu nak Gendhis, mungkin selama ini beliau lebih mengedepankan rasa negatifnya sehingga tak kuat menahan emosi atau beban hidupnya." Ucap Bu Agu yang memiliki nama lengkap Agustina.

"Ada perihal apa Bu?" Tanya ku tak sabar.

Mimik wajah pemilik panti ini terlihat begitu serius. Wajah Vya yang terlihat sedikit menunduk membuat aku semakin khawatir akan berita yang akan disampaikan.

Bu Agus mendekati posisi ku. Kini ia duduk di sisi ku.

"Saat kemarin ibu nak Gendhis ditemukan, beliau dalam kondisi yang menyedihkan. Maaf, sepertinya ibu nak Gendhis mengalami tindakan kejahatan s e k s u a l. Saya harus menyampaikan hal ini, khawatir kedepan ibu nak Gendhis mengalami hamil dan nak Gendhis justru berpikir bahwa hal buruk itu terjadi disini. Ibu yang menemukan ibunya nak Gendhis juga menjadi saksinya." Ucap Bu Agus.

Tubuh ku lemah dan semakin tak bergairah untuk menjalani hidup. Entah apa yang membuat aku begitu sulit dalam menjalani hidup. Baru saja ingin menjadi hamba yang lebih baik dan taat, namun cobaan ada saja yang datang. Pikiran buruk dalam otak ku sudah menari-nari dan sibuk menghantui perasaan ku agar merasa putus asa. Genggaman tangan dari Vya membuat aku menoleh ke arah gadis yang sekarang selalu mengenakan kacamata bundar karena sudah silinder 5.

"Ndis, ingat pesan Kak Ziyah tadi pagi?" Ucapnya seraya menyunggingkan senyum.

Aku kembali mengingat kalimat penyemangat dari Kak Ziyah, putri sulung Bu Sekar.

"Ndis, Untuk menjalani kehidupan dengan taat pada Allah itu ga semudah yang kita bayangkan. Kadang semakin taat kita ujian juga akan bertambah terasa semakin berat. Nah disini kadang banyak yang menyerah dan pasrah tanpa mau berikhtiar. Disini justru saat atau momen kita untuk naik tingkat menuju tingkatan mulia di mata Allah bukan manusia."

Kali ini, baru beberapa jam aku berpisah dari keluarga penuh kehangatan itu. Aku sudah menemui apa yang diucapkan Kak Ziyah. Aku memejamkan mata dan sekuat hati untuk tidak menangis, sekuat hati menolak pikiran buruk dan banyak prasangka akan hal yang belum terjadi. Bagaimana jika ibu hamil? sendiri saja sudah repot, sendiri saja sudah begini, kenapa takdir ku begini.

Aku cepat membuka mata dan mengatakan pada Bu Agustina jika aku akan. Memanfaatkan waktu libur ke panti membantu ibu Agustina dan suaminya. Aku tak akan. Melanjutkan kuliah. Aku lelah mengejar sesuatu yang aku inginkan. Ingin sukses. Kini aku ingin jual mahal pada dunia ini. Seperti kata Bu Sekar kemarin malam jika kita ingin hidup bahagia. Lupakan semua tentang keindahan dunia. Fokus saja pada kewajiban kita. Maka kita akan ibarat perawan cantik, Sholehah, cerdas yang akan membuat lelaki mengejar-ngejar kita. Begitulah dunia. Ia akan mengejar kita kala kita tak silau akan keindahannya. Itu betul-betul terjadi, aku pasrah untuk merawat ibu. Namun Allah justru memberikan apa yang aku sudah lupakan karena ingin fokus memperbaiki diri dan merawat ibu.

Tepat di 3 bulan aku menyibukkan diri di panti dan tetap bekerja di rumah makan Uni Desi. Uang untuk daftar kuliah ku berikan untuk perawatan ibu dan tabungan jika sewaktu-waktu ada hal tak terduga terjadi pada ku. Sesuatu yang tak disangka kini datang menghampiri aku. Sebuah tawaran yang begitu tak disangka-sangka.

"Kamu akan ikut jalur beasiswa kader. Hanya bayar 10 juta sampai S1. Itu bisa di cicil sebanyak 4 kali." Ucap ketua yayasan tempat ibu ku dirawat

(Maaf ya readers. Berapa hari di karantina karena ikut diklat. Alhamdulillah bisa nulis lagi.)

Terpopuler

Comments

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

lanjut lanjut

2024-02-01

2

Maswa Hasna

Maswa Hasna

nama nya bagong kaya gk ada nama lain aja

2023-11-29

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

semoga Gendhis pelan" menemukan kebahagiannya,,,aamiin💖💖🤲🤲🤲

2023-10-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!