Peluh mengalir cukup deras, baju kaos yang ku pakai bahkan cukup terasa menempel pada kulit di bagian punggung karena basah. Hari ini adalah hari Senin, maka rumah makan Uni Desi yang berada di pasar Ikan ini sudah pasti ramai. Aku walau hanya duduk sebagai kasir juga cukup kewalahan karena harus mengamati meja yang masih belum diantar pesanan nya. Hampir satu bulan aku menggantikan posisi suami Uni Desi. Karena beliau membuka toko emas di tempat yang tak jauh dari rumah makan ini, maka aku diberikan amanah untuk menjadi kasir. Bagiku tak terlalu sulit, hanya bermodal kalkulator dan sebuah buku. Uni Desi tampaknya cukup puas dengan cara kerja ku. Karena terbiasa mencatat setiap uang keluar dan masuk dalam kehidupan ku. Tak sulit untuk menerapkan di rumah makan Uni Desi. Aku pun melirik ke jam bundar yang terletak tepat di atas pintu masuk. Aku menantikan suami Uni Desi yang akan menggantikan aku. Siang ini adalah jadwal aku harus kerumah sakit. Aku harus kembali menebus obat untuk ibu.
Tampak seorang lelaki berperut buncit berjalan dengan gelang rantai peraknya. Ia pun tampak kesulitan berjalan karena tubuh gempalnya.
"Jadi kamu pergi siang ini Dis?" Tanya Uda Roni.
"Jadi Da, soalnya dia obat Ibu hanya cukup sampai besok." Jawab ku singkat.
Aku berdiri dan mempersilahkan Uda Roni untuk duduk. Aku pun menunjukkan buku pemasukan hari ini pada Uda Roni. Ia tampak manggut-manggut, lalu ia pun meminta ku untuk mengambil segelas air hangat.
"Ambilkan air hangat dulu Dis... sudah itu langsung lah kau pergi. Jangan lupa besok kau siapkan laporan untuk gaji karyawan. Uni Desi besok tidak bisa kesini." Ucap Uda Roni.
Aku mengangguk kecil dan bergegas menuju ke arah dapur. Satu cangkir besar air putih hangat-hangat kuku ku berikan pada Uda Roni. Aku pun berpamitan, Aku bergegas memberikan kabar pad Vya yang dirumah ku.
{Aku OTW rumah sakit ya Vy. Mau titip apa?}
Cepat ku masukan ponsel ku ke dalam tas, aku menaiki sepeda motor inventaris dari Uni Desi. Aku betul-betul berterimakasih karena memiliki bos seperti Uni Desi. Entah kenapa Uni Desi begitu baik pada ku. Padahal aku bisa melihat beliau begitu galak bahkan kalau sudah marah semua isi kebun binatang kadang keluar Tetapi itu tak pernah ia tujukan pada ku. Uda Roni pun begitu, ketika di rumah makan selalu aku yang diminta mengambilkan sekedar air putih atau makan nya.
Dalam kecepatan rata-rata aku pun tiba di sebuah rumah sakit tempat ibu biasa mendapatkan obat. Saat sudah mendaftarkan jadwal kunjungan, ternyata kulihat dokter nya baru. Saat masuk ke dalam ruangan nya, dokter tersebut tampak menatap ku penuh senyum. Aku sedikit mengangguk.
"Mbak yang mau kontrol?" Ucap dokter tampan tersebut seraya menautkan kedua alisnya.
"Maaf dok, biasanya sama dokter Fransiska saya bisa ambil resep buat ibu saya tanpa harus bawa ibu saya kemari." Jawab ku sopan.
Dokter yang sepertinya masih muda tersebut membuka kacamata nya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi hidrolik yang menjadi tempatnya.
"Maaf Nona saya tidak bisa memberikan resep sembarangan. Saya harus cek kondisi pasien. Maka pasien harus di bawa kemari." Ucap dokter tersebut dengan wajah ramah. Aku yakin sekali wajahnya dibuat se manis mungkin karena terpaksa. Karena aku bisa merasakan ia merasa tak suka saat aku mengatakan jika dulu tak harus bawa ibu kerumah sakit. Cukup bawa salinan resep lama dan dokter akan beri resep yang baru dan bisa ku tebus di apotek yang berada di rumah sakit ini. Obat yang dikonsumsi ibu tak bisa dibeli bebas, harus menggunakan resep dokter.
"Tapi dok, tidak mudah membawa ibu keluar apalagi di tempat keramaian." Ucap ku khawatir. Karena dulu pernah ibu ku bawa ke mari dan mengambil makanan anak kecil dan karena orang tuanya marah, ibu yang di bentak pun cepat menjambak perempuan tersebut. Sehingga sejak kejadian tersebut aku pun akhirnya cukup khawatir membawa ibu keluar. Aku hanya akan menemani ibu sekedar duduk di teras atau melihat ke arah luar rumah saat Ibu baik-baik saja.
"Maaf Mbak, saya bilang tidak bisa. Atau mbak bisa melalui puskesmas, disana ada pelayanan untuk ODGJ." Ucap dokter itu enteng.
Seketika hati ku perih, entah kenapa setiap mendengar kata ODGJ. Ada rasa sakit yang menyiksa relung hati ku. Aku meremas ujung rok ku karena kalimat terakhir dari dokter tersebut.
"Baik, permisi." Ucap ku singkat. Aku berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.
"Bisa nya dia mengatakan begitu enteng, apakah dia tidak tahu perjuangan ku sekedar untuk membawa ibu ke puskesmas saja, aku harus menahan banyak rasa. Belum lagi kalau ibu tiba-tiba berlari. Masa iya aku borgol ibu sekedar untuk menebus obat. Nanti orang-orang dengan cepatnya bilang aku tidak manusiawi, tidak punya perasaan. Ah.... serba salah. Aku coba sharing sama Vya dulu bagiamana baiknya." Ucap ku.
Aku mengendarai sepeda motor, cukup lama untuk tiba di rumah karena aku merasa tak fokus. Ada banyak pikiran yang berkecamuk di dalam otak ku. Namun di sela-sela itu hati ku tetap berusaha untuk terus bershalawat. Aku bukan ingin kaya membaca shalawat, bukan pula untuk dipermudah semua urusan. Tapi aku hanya merasa hidup ku terlalu rumit, susah. Namun ada ketenangan saat aku membaca shalawat walau mungkin kadang bibir ini lelah. Maka hati masih aku paksakan untuk melakukannya.
Vya mendengar suara sepeda motor ku, ia sudah berdiri di ambang pintu rumah inventaris dari Uni Desi. Tak terlalu besar dan mewah tapi cukup nyaman dan aman untuk aku dan Ibu.
"Itu muka kenapa? Habis di goda Adi?" Tanya Vya yang bisa selalu menebak forum muka ku.
"Bukan, sama dokter baru yang gantiin dokter Fransiska. Dia minta ibu di bawa kesana. Aku ga dikasih resepnya." Ucap ku kesal seraya menyambar satu botol air mineral yang berada di atas meja.
Aku mengelap bibir yang basah karena air yang ku minum.
"Menurut kamu apa harus dibawa kesana atau ke puskesmas ya Vy? Tadi dokternya nyaranin ke puskesmas bisa juga. Ada pelayanan untuk penyakit ibu. Tapi aku bingung bawa ibunya. Kamu tahu sendiri. Kalau harus sewa mobil. Apa pakai uang untuk daftar kuliah besok ya?" Tanya ku pada Vya.
"Kalau menurut aku, coba aja kita bawa. Kan masih bulan depan daftarnya. Pakai aja dulu uangnya. InsyaAllah akan ada rezeki gantinya kalau kita buat orang tua." Ucap Vya seraya mengepalkan tangannya ke arah depan dada.
Aku menyunggingkan senyum ku. Ia pun menepuk ujung paha ku.
"Tapi maaf aku ga bisa nemenin Ndis, ibu sore ini mau antar adik ku yang mau mondok." Ucap Vya.
"Iya ga apa-apa. Makasih ya, maaf ngerepotin terus." Ucap ku. Vya pun hanya mencolek pipi ku seraya berdiri.
"Simpan terimakasih ku untuk besok. Buktiin kalau kamu adalah wanita kuat yang bisa sukses walau keadaan mengatakan mustahil." Ucapnya.
Ia pun pergi meninggalkan kediaman ku. Aku bergegas melihat kondisi ibu. Ku tatap wajah cantiknya, lalu ku kecup tangannya.
"Bu, ikut Gendhis ya. Kita akan periksa. Ibu tapi jangan marah-marah ya nanti." Ucap ku tanpa terasa air mata sudah membanjiri kedua pipi ku.
Ku kenakan sebuah baju panjang dan celana kulot pada ibu. Saat selesai aku pun memesan grab. Saat mobil tersebut telah ada di depan rumah. Aku mengajak ibu naik.
"Ayo Bu... " Tampak ibu mengusap-usap dinding pintu mobil tersebut.
Selama perjalanan menuju rumah sakit aku harus berkali-kali menahan tangan ibu yang sibuk ingin menggapai apa yang ada di dalam mobil. Sang sopir bahkan melirik aku berkali-kali karena ibu terus bernyanyi dengan suara cukup kencang. Wajah ku mungkin sudah merah, mungkin karena malu. Tapi tidak aku tidak akan malu karena ibu ku ODGJ. Aku lahir dari rahimnya. Aku pernah di kandung selama 9 bulan. Jika dulu ibu tidak sayang pada ku tentu kini aku tak sempurna. Mungkin juga aku tak secerdas sekarang. Karena dulu nenek sering bilang jika selama hamil, ibu selalu rajin minum susu, makan sayur, brokoli, dan apa saja yang membuat janin sehat sekalipun ibu tak menyukainya.
Sungguh sebuah kesabaran dan kedewasaan tumbuh saat kita terus diberikan cobaan. Aku kembali harus mengelola rasa takut, stress dan khawatir saat di rumah saki. Aku harus antri. Maka ku minta ibu duduk di kursi tunggu, ku lihat ibu sesekali masih terlihat duduk. Aku pun menyodorkan kartu berobat ibu. Dan saat aku menunggu nomor antrian. Kedua netra ku terbelalak. Ibu tak ada di tempat nya.
"Ibu!" Suara ku berteriak kaget. Pandangan ku mengitari ruang lobby rumah sakit tersebut. Aku tak menemukan sosok ibu. Aku berlari ke arau tempat ibu duduk.
"Maaf pak lihat ibu yang pakai kaos putih yang rambutnya sebahu?" Tanya ku pada pad satpam.
"Kayaknya tadi ke arah luar." Ucapnya.
Tubuh ku lemas, pikiran ku kacau. Aku berlari ke arah pintu luar. Aku mencari ibu di setiap penjuru halaman rumah sakit.
"Hiks... Hikss... Bu.... ibu." Ucap ku seraya berlari mencari keberadaan ibu.
'Ibu dimana Bu..... ' hati ku menangis seraya memanggil ibu.
(Maafkan author karena banyaknya deadline dari tempat kerja, keluarga juga butuh, kebetulan di pondok lagi ada hajat jadi ga bisa update beberapa hari ini. Mohon maaf ya 🙏🙏🙏🙏)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
asiah puteri mulyana
Masya Allah semangat trus k author hebaat krya2nya inspiring bgt pokonya lope 2
2024-04-20
1
sitimusthoharoh
ujian akan srlalu ad untuk menambah kadar keimanan hambanya.semoga kamu selalu sabar menghadapi semua ujian yg ALLAH berikan y ndis.
lanjut
2024-01-31
1
Sugiharti Rusli
ujian lain datang lagi yah Ndis, cepat sekali yah menghilangnya,,,
2023-10-30
2