Pada suatu hari yang cerah, Aku sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugasku di kantor yayasan yang bernama Mentari Senja. Aku telah mengabdikan diriku untuk membantu yayasan tersebut sejak beberapa bulan yang lalu. Aku adalah seorang begitu semangat dan ingin berdedikasi untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, seperti saat ini. Aku menjalani hari-hari libur ku dengan membantu ibu Agustina di yayasan ini. Pagi ini kamu harus mengajak beberapa pasien yang memang sudah sedikit lebih baik untuk berkumpul di lapangan, sudah menjadi rutinitas pagi di setiap hari jumat untuk olaharaga atau senam bersama, kebetulan pagi ini aku libur karena Uni Desi sedang mudik. Semua cabang toko emas dan warung makan tutup beberapa hari, orang tua Uni Desi meninggal dunia. Vya tampak hadir bersama Arya, entah kenapa kami bertiga semakin dekat melalui komunitas peduli ODGJ ini. Aku berdiri di sebelah ibu, sebuah irama dari lagu yang biasa kami sebut senam hentak-hentak. Tampak Bu Agustin memegang microphone di depan, ia berdiri di depan podium, sebelum memulai senam ibu Agustina tampak menarik perhatian para pasien dengan sebuah pemanasan.
“Mana semangatnya? Tepuk semangat..!” Ucap Bu Agustin.
Seketika beberapa orang langsung bertepuk tangan dan berirama, mengikuti ibu Agustina.
“Se-ma-ngat.” Lalu ada yang tertawa, ada yang meloncat. Sungguh suasana yang menyenangkan sekali disaat pagi hari karena mereka akan tampak tertawa. Apalagi saat kami mulai senam, aku melihat ibu begitu menikmati aktifitas ini, saat suara dari dari speaker tersebut menggema.
“Di hentak-hentak kaki yang kanan, di hentak hentak kaki yang kiri… “ suara beberapa dari para pasien yang terihat mengikuti gerakan ibu Agustina. Aku sesekali menoleh ke arah ibu. Tampak sekali ibu ada perubahan baru tiga bulan disini.
“Dikepak-kepak jari tangan, tangan di angkat lalu diputar….” Suara ibu mengikuti asal suara dari loudspeaker.
Aku begitu semangat bahkan saat tangan ku rentangkan dan ku kepakan layaknya burung lalu berputar, Vya yang mungkin melihat aku berlinang air mata, ia menyambut tangan ku, kami berputar bersama dan tertawa mengikuti irama lagu hentak-hentak itu. Peluh bahkan membasahi kaos hitam ku, karena aku begitu semangat untuk senam bersama. Ada semangat baru semenjak aku berada di rumah panti rehabilitas ini. Pak Lukman tampak baru hadir di tempat kami yang sedang memberikan minum dan buah kepada para pasien.
Saat sedang asyik mengerjakan tugasku, Aku tiba-tiba mendengar suara notifikasi masuk di ponselku. Aku mengambil ponselku dan melihat pesan masuk yang menarik perhatianku. Pesan tersebut berasal dari salah satu organisasi yang ada di Kecamatan, sebuah organisasi perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan.
Dengan hati yang berdebar, Aku membuka pesan tersebut dan membaca dengan seksama. Pesan tersebut adalah pemberitahuan resmi dari organisasi ku, yang menginformasikan bahwa Aku telah dipilih sebagai salah satu penerima beasiswa yang mereka tawarkan. Aku merasa terkejut dan bahagia sekaligus. Aku tidak pernah mengira bahwa usahaku dalam membantu komunitas dan organisasi akan mendapatkan penghargaan seperti ini.
Aku menoleh ke arah Bu Agustin, ia tersenyum hangat. Aku hampiri perempuan paruh baya yang memiliki tanda lahir tepat di dahi kanannya.
“Bu, terimakasih. Alhamdulilah hasil tes yang kemarin ibu perintahkan berbuah manis.” Ucap ku pada Bu Agustina.
Ya bulan lalu, bu Agustina meminta aku untuk mewakili organisasi ku juga sekaligus dari yayasannya untuk ikut seleksi beasiswa, harus melalui tes tertulis. Dan tepat sebulan setelah itu, aku menerima pemberitahuan bahwa aku lulus jalur beasiswa. Aku begitu bahagia, karena saat itu Bu Agustina yang memberikan semangat pada ku ketika aku sudah tak berniat untuk meneruskan pendidikan ku.
“Itu sudah rezeki kamu Ndis, semua mungkin karena kamu ikhlas merawat ibu mu.” Ucap Bu Agustin menyambut baik kabar dari ku. Vya juga memeluk ku karena bahagia mendengar kabar bahwa aku lulus.
Dalam pesan tersebut, menjelaskan alasan mengapa Aku dipilih sebagai penerima beasiswa selain karena nilai tes terulis. Mereka mengakui bahwa Aku adalah sosok yang luar biasa dalam komunitasku. Aku telah menunjukkan komitmen yang luar biasa dalam membantu yayasan ODGJ dan berbagai kegiatan sosial lainku. Aku dianggap telah bekerja keras dan dengan penuh semangat untuk memperbaiki kondisi orang-orang yang membutuhkan. Padahal aku selalu hadir di setiap malam untuk urusan organisasi karena pagi sampai sore aku harus bekerja, aku bahkan nyaris tak punya waktu untuk diri ku bersantai, yang ku pikir bagaiamana waktu ku tak terbuang hanya untuk melamun dan meratapi nasib. Maka jika ada waktu libur itu hanya untuk ibu dan yayasan ODGJ.
Selain itu, Aku juga memiliki rekam jejak yang gemilang dalam prestasi akademikku. Aku adalah salah satu siswa terbaik di sekolahku sedari SD hingga SMA dan berhasil meraih prestasi yang luar biasa untuk urusan nilai raport atau ranking walau aku sulit sekali ikut organisasi kala masih sekolah.
“Bapak dan ibu yakin bahwa dengan dapatnya kamu beasiswa, kamu bisa untuk terus berprestasi dan memberikan kontribusi yang lebih besar pada masyarakat. Kami berharap kamu adalah sosok yang pantas mendapatkan dukungan dan penghargaan atas kerja keras mu.” Ucap Pak Lukman pada ku.
Mendengar hal itu, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan kebanggaanku. Air mata bahagia mengalir di pipiku saat aku merasakan bahwa semua kerja keras dan dedikasiku selama ini telah membuahkan hasil. Ah aku ingat bulan kemarin saat bunda menelepon jika dia tidak akan mengirim uang lagi karena adik-adik kembar ku akan masuk SMP. Saaat itu aku betul-betul merasa seperti terbuang karena tak pernah diberikan hak yang sama sebagai anak ayah. Namun aku merasa sangat bersyukur atas kesempatan ini dan berjanji untuk tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadaku.
Senyum manis tampaknya terukir hampir satu hari penuh, Arya dan Vya mungkin mengamati hal itu, saat sore hari aku baru ingin menemui ibu untuk pamit. Tapi sebuah ledekan dari Arya membuat ku berhenti tepat di sisi sebuah galon yang biasa untuk para pasien mengambil minum.
“Wah hari ini ada yang begitu bahagia ya Vy, sampai kopi ku pagi sampai sore terasa manis melihat senyum sahabat mu.” Ucap Arya seraya mengangkut cangkir plastik yang kotor ke arah tempat cuci piring. Seketika mimik wajah Vya terlihat berubah, ada perasaan tak enak pada Vya, aku tahu jika sahabat ku itu menyukai Arya namun ia sering mengatakan jika seorang perempuan harus bisa menjaga imagenya, ia tak mungkin menjalin hubungan pacaran, cukup memendam saja biar takdir yang berkata. Namun mimik wajahnya tak bisa membohongi aku bahwa saat ini ia merasa tak nyaman akan candaan Arya barusan. Aku cepat mengalihkan obrolan.
“Vy, bisa temani aku sore ini temani aku untuk membuat permohonan beasiswa, besok pagi sudah harus di kirim. Aku ga punya laptop.” Ucap ku yang di jawab anggukan dari Vya. Sebuah kedipan mata membuat ku merasa lega, sahabat ku itu tampaknya ia tak seperti yang aku sangka.
Ada satu yang masih menjadi kegundahan ku, biaya beasiswa nya memang tergolong murah. Hanya 10 juta sampai wisuda namun kemana aku mencari uang 5 juta untuk di awal beasiswa tersebut. Sedangkan untuk sisanya bisa di cicil sampai aku lulus kuliah. Memang beasiswa namun tetap harus ada biaya, akan tetapi bagi ku biaya untuk mendapatkan gelar sarjana di zaman sekarang itu sangat murah terlebih dengan kondisi yang sekarang sering mendapatkan kiriman hanya setengah juta sebulan kadang tak genap setengah juta.
‘apa telepon ayah ya, kalau pesan pasti bunda yang balas.’ Batin ku seraya berjalan ke arah kamar ibu, untuk berpamitan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
jangan sampai persahabatan mereka rusak karena seorang lelaki yah😒😒
2023-10-30
5
Maz Andy'ne Yulixah
Wes gak usah telfon ayahmu ndis,pasti banyak alasan kalau diminta uang opo gak di angkat sekalian,buktikan nak kamu iso tanpa ayahmu😌😌
2023-07-30
0
𝐀⃝🥀ℝ𝔸 ¢нαιяα
ayo ndhis km pasti bisa walaupun tanpa bntuan ayahmu, semangatt
2023-07-30
0