Bab 17 Berbuah manis

Pada suatu hari yang cerah, Aku sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugasku di kantor yayasan yang bernama Mentari Senja. Aku telah mengabdikan diriku untuk membantu yayasan tersebut sejak beberapa bulan yang lalu. Aku adalah seorang begitu semangat dan ingin berdedikasi untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, seperti saat ini. Aku menjalani hari-hari libur ku dengan membantu ibu Agustina di yayasan ini. Pagi ini kamu harus mengajak beberapa pasien yang memang sudah sedikit lebih baik untuk berkumpul di lapangan, sudah menjadi rutinitas pagi di setiap hari jumat untuk olaharaga atau senam bersama, kebetulan pagi ini aku libur karena Uni Desi sedang mudik. Semua cabang toko emas dan warung makan tutup beberapa hari, orang tua Uni Desi meninggal dunia. Vya tampak hadir bersama Arya, entah kenapa kami bertiga semakin dekat melalui komunitas peduli ODGJ ini. Aku berdiri di sebelah ibu, sebuah irama dari lagu yang biasa kami sebut senam hentak-hentak. Tampak Bu Agustin memegang microphone di depan, ia berdiri di depan podium, sebelum memulai senam ibu Agustina tampak menarik perhatian para pasien dengan sebuah pemanasan.

“Mana semangatnya? Tepuk semangat..!” Ucap Bu Agustin.

Seketika beberapa orang langsung bertepuk tangan dan berirama, mengikuti ibu Agustina.

“Se-ma-ngat.” Lalu ada yang tertawa, ada yang meloncat. Sungguh suasana yang menyenangkan sekali disaat pagi hari karena mereka akan tampak tertawa. Apalagi saat kami mulai senam, aku melihat ibu begitu menikmati aktifitas ini, saat suara dari dari speaker tersebut menggema.

“Di hentak-hentak kaki yang kanan, di hentak hentak kaki yang kiri… “ suara beberapa dari para pasien yang terihat mengikuti gerakan ibu Agustina. Aku sesekali menoleh ke arah ibu. Tampak sekali ibu ada perubahan baru tiga bulan disini.

“Dikepak-kepak jari tangan, tangan di angkat lalu diputar….” Suara ibu mengikuti asal suara dari loudspeaker.

Aku begitu semangat bahkan saat tangan ku rentangkan dan ku kepakan layaknya burung lalu berputar, Vya yang mungkin melihat aku berlinang air mata, ia menyambut tangan ku, kami berputar bersama dan tertawa mengikuti irama lagu hentak-hentak itu. Peluh bahkan membasahi kaos hitam ku, karena aku begitu semangat untuk senam bersama. Ada semangat baru semenjak aku berada di rumah panti rehabilitas ini. Pak Lukman tampak baru hadir di tempat kami yang sedang memberikan minum dan buah kepada para pasien.

Saat sedang asyik mengerjakan tugasku, Aku tiba-tiba mendengar suara notifikasi masuk di ponselku. Aku mengambil ponselku dan melihat pesan masuk yang menarik perhatianku. Pesan tersebut berasal dari salah satu organisasi yang ada di Kecamatan, sebuah organisasi perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan.

Dengan hati yang berdebar, Aku membuka pesan tersebut dan membaca dengan seksama. Pesan tersebut adalah pemberitahuan resmi dari organisasi ku, yang menginformasikan bahwa Aku telah dipilih sebagai salah satu penerima beasiswa yang mereka tawarkan. Aku merasa terkejut dan bahagia sekaligus. Aku tidak pernah mengira bahwa usahaku dalam membantu komunitas dan organisasi akan mendapatkan penghargaan seperti ini.

Aku menoleh ke arah Bu Agustin, ia tersenyum hangat. Aku hampiri perempuan paruh baya yang memiliki tanda lahir tepat di dahi kanannya.

“Bu, terimakasih. Alhamdulilah hasil tes yang kemarin ibu perintahkan berbuah manis.” Ucap ku pada Bu Agustina.

Ya bulan lalu, bu Agustina meminta aku untuk mewakili organisasi ku juga sekaligus dari yayasannya untuk ikut seleksi beasiswa, harus melalui tes tertulis. Dan tepat sebulan setelah itu, aku menerima pemberitahuan bahwa aku lulus jalur beasiswa. Aku begitu bahagia, karena saat itu Bu Agustina yang memberikan semangat pada ku ketika aku sudah tak berniat untuk meneruskan pendidikan ku.

“Itu sudah rezeki kamu Ndis, semua mungkin karena kamu ikhlas merawat ibu mu.” Ucap Bu Agustin menyambut baik kabar dari ku. Vya juga memeluk ku karena bahagia mendengar kabar bahwa aku lulus.

Dalam pesan tersebut, menjelaskan alasan mengapa Aku dipilih sebagai penerima beasiswa selain karena nilai tes terulis. Mereka mengakui bahwa Aku adalah sosok yang luar biasa dalam komunitasku. Aku telah menunjukkan komitmen yang luar biasa dalam membantu yayasan ODGJ dan berbagai kegiatan sosial lainku. Aku dianggap telah bekerja keras dan dengan penuh semangat untuk memperbaiki kondisi orang-orang yang membutuhkan. Padahal aku selalu hadir di setiap malam untuk urusan organisasi karena pagi sampai sore aku harus bekerja, aku bahkan nyaris tak punya waktu untuk diri ku bersantai, yang ku pikir bagaiamana waktu ku tak terbuang hanya untuk melamun dan meratapi nasib. Maka jika ada waktu libur itu hanya untuk ibu dan yayasan ODGJ.

Selain itu, Aku juga memiliki rekam jejak yang gemilang dalam prestasi akademikku. Aku adalah salah satu siswa terbaik di sekolahku sedari SD hingga SMA dan berhasil meraih prestasi yang luar biasa untuk urusan nilai raport atau ranking walau aku sulit sekali ikut organisasi kala masih sekolah.

“Bapak dan ibu yakin bahwa dengan dapatnya kamu beasiswa, kamu bisa untuk terus berprestasi dan memberikan kontribusi yang lebih besar pada masyarakat. Kami berharap kamu adalah sosok yang pantas mendapatkan dukungan dan penghargaan atas kerja keras mu.” Ucap Pak Lukman pada ku.

Mendengar hal itu, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan kebanggaanku. Air mata bahagia mengalir di pipiku saat aku merasakan bahwa semua kerja keras dan dedikasiku selama ini telah membuahkan hasil. Ah aku ingat bulan kemarin saat bunda menelepon jika dia tidak akan mengirim uang lagi karena adik-adik kembar ku akan masuk SMP. Saaat itu aku betul-betul merasa seperti terbuang karena tak pernah diberikan hak yang sama sebagai anak ayah. Namun aku merasa sangat bersyukur atas kesempatan ini dan berjanji untuk tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadaku.

Senyum manis tampaknya terukir hampir satu hari penuh, Arya dan Vya mungkin mengamati hal itu, saat sore hari aku baru ingin menemui ibu untuk pamit. Tapi sebuah ledekan dari Arya membuat ku berhenti tepat di sisi sebuah galon yang biasa untuk para pasien mengambil minum.

“Wah hari ini ada yang begitu bahagia ya Vy, sampai kopi ku pagi sampai sore terasa manis melihat senyum sahabat mu.” Ucap Arya seraya mengangkut cangkir plastik yang kotor ke arah tempat cuci piring. Seketika mimik wajah Vya terlihat berubah, ada perasaan tak enak pada Vya, aku tahu jika sahabat ku itu menyukai Arya namun ia sering mengatakan jika seorang perempuan harus bisa menjaga imagenya, ia tak mungkin menjalin hubungan pacaran, cukup memendam saja biar takdir yang berkata. Namun mimik wajahnya tak bisa membohongi aku bahwa saat ini ia merasa tak nyaman akan candaan Arya barusan. Aku cepat mengalihkan obrolan.

“Vy, bisa temani aku sore ini temani aku untuk membuat permohonan beasiswa, besok pagi sudah harus di kirim. Aku ga punya laptop.” Ucap ku yang di jawab anggukan dari Vya. Sebuah kedipan mata membuat ku merasa lega, sahabat ku itu tampaknya ia tak seperti yang aku sangka.

Ada satu yang masih menjadi kegundahan ku, biaya beasiswa nya memang tergolong murah. Hanya 10 juta sampai wisuda namun kemana aku mencari uang 5 juta untuk di awal beasiswa tersebut. Sedangkan untuk sisanya bisa di cicil sampai aku lulus kuliah. Memang beasiswa namun tetap harus ada biaya, akan tetapi bagi ku biaya untuk mendapatkan gelar sarjana di zaman sekarang itu sangat murah terlebih dengan kondisi yang sekarang sering mendapatkan kiriman hanya setengah juta sebulan kadang tak genap setengah juta.

‘apa telepon ayah ya, kalau pesan pasti bunda yang balas.’ Batin ku seraya berjalan ke arah kamar ibu, untuk berpamitan.

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

jangan sampai persahabatan mereka rusak karena seorang lelaki yah😒😒

2023-10-30

5

Maz Andy'ne Yulixah

Maz Andy'ne Yulixah

Wes gak usah telfon ayahmu ndis,pasti banyak alasan kalau diminta uang opo gak di angkat sekalian,buktikan nak kamu iso tanpa ayahmu😌😌

2023-07-30

0

𝐀⃝🥀ℝ𝔸 ¢нαιяα

𝐀⃝🥀ℝ𝔸 ¢нαιяα

ayo ndhis km pasti bisa walaupun tanpa bntuan ayahmu, semangatt

2023-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!