Mbak Reni adalah seorang kepala pelayan di bagian dapur. Ia biasanya mengatur apa yang harus aku kerjakan lebih dulu setiap harinya. Siang ini perempuan paruh baya itu berkacak pinggang, entah kenapa ia tampak marah. Ia sebenarnya yang paling enak selama aku bekerja. Tetapi siang ini ada tatapan tak suka pada ku.
“Kamu sudah pintar cari muka ya Ndis!” Ucap Mbak Reni dengan ujung hidung yang terangkat, keringat di hidungnya bisa bergerak jatuh karena sedikit gerakan dari hidung mancungnya.
“Maaf Mbak, ibu tadi harus aku mandikan karena BAB.” Ucap ku pelan. Aku tak berani menatap wajah dan juga mata mbak Reni. Aku tumbuh menjadi orang yang memiliki mental lemah. Sedikit mendengar teriakan saja atau tatapan tak suka dari orang lain, telapak tangan ku langsung basah dan sedikit gemetar. Aku sudah takut duluan saat di perlakukan seperti saat ini.
“Maaf… Maaf… Kamu jangan coba-coba cari muka. Uni Desi itu terkenal pelitnya, pakai jampi-jampi apa kamu sampai Uni Desi bisa begitu loyal ke kamu? Mau geser posisi saya kamu ya?” Tuduh Mbak Reni yang berdiri di sisi ku. Suara bisikan di telinga ku mampu membuat bulu kuduk ku berdiri. Entah kenapa aku selalu takut saat diperlakukan orang seperti ini, tak ada keberanian untuk menatap atau menoleh Mbak Reni. Aku hanya mampu menatap lantai di bawah ku dengan penuh rasa takut. Mungkin ini imbas dari kecil aku sering di bentak, di hina dan diperlakukan kasar oleh Bunda.
“Awas kamu berani macam-macam! Cepat bersihkan ayan dibelakang. Sekalian potong dan rebus.” Titah Mbak Reni saat Uni Desi melongo dari arah pintu yang terbuka separuh.
“Ada apa Ren?” Tanya Uni Desi curiga.
“Tidak ada apa-apa Ni. Ini Gendhis selalu terlambat kalau makan siang, katanya ketiduran tadi.” Fitnah Mbak Reni. Aku hanya menunduk tak berani membela, aku terbiasa diam tanpa membela. Karena selama ini aku selalu merasakan sia-sia ketika membela diri di hadapan ayah. Maka kini dalam situasi sama pun aku tak ingin membela diri, biarkan sesuka hati orang lain untuk memperlakukan aku. Aku hanya ingin bekerja sehingga bisa menabung untuk daftar kuliah dan dapat makan karena kiriman dari ayah sekarang hanya cukup bayar kontrol ibu dan sewa rumah.
Aku bergegas ke arah bagian luar dapur, sudah terdapat dua bak ayam potong. Aku mengeluarkan isi perutnya lalu memotong ayam tersebut, setelah selesai ku cuci. Aku membersihkan ati dan empela juga usus. Aku kepang usus yang telah bersih dengan hati juga empela. Lalu aku menunggua ayam yang ku rebus matang. Setelah itu ku serahkan ke bagian Mbak Reni. Ia melihat hasil kerja ku. Lalu mendengus setelah membolak balik hasil kerja ku tak ada yang salah. Setelah selesai aku kembali sibuk berkutat mengupas bawang, bumbu-bumbu dan sayur yang akan diolah nanti malam dan besok. Setelah semua tugas selesai waktu pulang telah tiba. Aku pun menerima bungkusan dari Yiyin. Aku tak langsung pulang karena janjian dengan Vya untuk melihat rumah yang katanya murah.
“Katanya Cuma 400 ribu satu bulan nya Ndis.” Ucap Vya yang memperlihatkan satu foto rumah.
Tampak gambar rumah yang tampak kuno.
“Kok serem ya Vy,” Komentar ku.
“Tapi murah Ndis, cocok buat kamu. Lokasi strategis. Satu lagi nih kabarnya, aku akan ambil kuliah di kampus Bina Insan. Jadi siang hari aku libur di hari jumat sampai minggu. Kalau kamu jadi kuliah di STMIK aku akan menunggu ibu mu di hari jumat dan sabtu.” Ucap Vya.
Aku menghentikan mengayuh sepeda, satu kaki ku turun untuk menghentikan laju sepeda ku.
“Orang tua mu tidak keberatan?” Tanya ku penasaran.
“Tidak, ibu justru mendukung. Ayah juga bilang yang penting aku tetap kuliah. Andai orang tua ku dan aku kaya maka kami akan membantu mu lebih Ndis, jika aku saja semangat seperti ini, kamu juga harus lebih semangat.” Ucap Vya seraya mengepalkan tangan kanannya.
“Kamu orang lain rasa saudara Vya.” Ucap ku lirih.
“Sudah simpan air matanya, keburu hujan. Ibu mu juga belum makan sore kan.” Ingat Vya.
Kami mengayuh sepeda ke arah rumah yang di maksud Vya. Tiba dirumah tersebut ternyata tak seseram di foto. Kami bertemu pemiliknya yang sudah menunggu, ada satu kamar dan listri juga pam sudah masuk ke dalam angsuran sebulan. Aku merasakan jika ini termasuk rumah kost paling murah. Aku pun mengiyakan untuk menempati rumah kost yang hanya terdiri dari dua 3 ruangan. Setidaknya aku bisa tidur di ruang tamu jika ibu sedang marah. Karena ibu kadang akan menyerang siapa saja jika sedang marah, entah apa yang ibu pikirkan. Tangan ku bahkan banyak bekas luka gigitan atau kepala ku bahkan pernah di jahit karena di pukul ibu pakai tabung gas kosong. Saat akan pulang Vya memberikan satu amplop.
“Apa ini Vy?” Tanya ku.
“Titipan ayah dan ibu. Buat bantu di kontrakan baru.” Ucap Vya.
“Vya… aku selalu merepotkan kamu…” Ucap ku kembali merasa malu, entah berapa kali Vya membantu ku perkara ekonomi.
“Besok pagi saja kalau mau pindah Ndis,” Ucap Vya.
“Iya aku libur besok.” Ucap ku cepat.
Kami berpisah saat Vya berada di simpang, aku belok ke kiri sedangkan Vya akan belok ke kanan. Tiba dirumah aku cepat menuju kamar ibu, botol-botol yang biasa ku tinggal untuk minum ibu sudah habis dan kini sudah penyet, kemungkinan di remukan oleh ibu. Aku memang menggunakan botol bekas air mineral agar tak membahayakan ibu saat ku tinggal. Ku lihat pampers yang tadi siang dikenakan ibu kini sudah tercabik-cabik. Perlak yang di gunakan untuk tidur pun sudah dilipat. Maka kasur, bantal sudah basah. Kamar ibu bau khas air kencing orang dewasa. Tubuh ku sebenarnya sangat lelah, namun tak mungkin membiarkan kamar ibu masih dalam keadaan seperti saat ini. Aku pun menarik kasur busa yang sudah basah dan bau pesing. Malam ini aku terpaksa tidur di karpet karena ibu tak mungkin tidur di karpet.
“Besok saja apa ya cuci kasurnya…” Gumam ku. Namun tak mungkin mencuci kasur bekas ompol ibu besok. Besok pagi aku jelas menyewa angkot atau mobil bak terbuka untuk bisa membawa ibu pindah ke tempat baru. Aku pun mencuci kasur tersebut saat adzan maghrib berkumandang, ku lihat ibu masih menikmati nasi bungkus yang ku bawa tadi. Sungguh keterlaluan Yiyin. Dua bungkus nasi hanya berisikan kua rendang tanpa ada daging atau sayur seperti biasanya.
“Hidup di dunia ini kalau jadi orang susah begini, orang semena-mena… apakah aku punya kesempatan untuk menjadi orang mulia?” Tanya ku pada pemilik alam semesta seraya menyikat kasur ompol ibu dan sesekali menatap langit.
Saat selesai, aku pun membersihkan diri. Aku ingat pesan Vya untuk tidak meninggalkan shalat. Ku lirik satu buku yang ia berikan kepada ku. Sebuah buku yang berjudul Riyadhoh Jalur Langit karya Ning Nisaul Kamilah. Ku baca satu dua lembar dari buku itu. Aku baru tahu dari buku ini bahwa selama ini aku belum melakukan Riyadhoh atau membersihkan jiwa ku dari segala sesuatu yang tak pantas ada dalam jiwa yang bersih. Aku juga tidak mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wata’ala Jika orang lain melakukan riyadhoh atau amalan sesuatu untuk suatu hajat, saat ini aku hanya ingin diberikan kesempatan agar Allah berkenan memberikan rasa suka, rasa bahagia untuk beribadaha. Karena selama ini aku begitu berat melakukan shalat lima waktu, ternyata itu musibah bagi seorang hamba, aku tak lagi peduli tentang bahagia kah aku esok, sukseskah aku esok. Untuk saat ini aku hanya ingin Allah mencintai aku dan mengampuni dosa ku di masa lalu. Aku sekarang justru takut mati karena sadar bahwa tak ada amal yang bisa kubanggakan saat nanti pulang ke alam kubur, ke akhirat. Aku menutup buku itu dan bergegas membersihkan diri untuk melaksanakan ibadah shalat maghrib.
“Ya Allah ampuni aku, jauhkan aku dari sikap hubbud dun-ya…. “ Ucap ku lirih di akhir doa. Ada rasa tenang, plong dan bahagia saat aku selesai mengerjakan ibadah shalat maghrib. Aku sebenarnya mengaji saat SD dan SMP tapi entah kenapa karena dirumah tak ada kegiatan yang namanya shalat maka aku pun terbiasa begitu enteng untuk tidak melakukannya. Kini aku mulai sadar bahwa apa yang Vya katakan benar bahwa sekuat apapun aku berusaha untuk sukses jika Allah tak berkehendak, maka itu tak akan terjadi. Kini hati ku lebih tenang. Aku pun tak pusing saat kembali ku buka ponsel ku berharap Ayah membaca pesan ku, perihal uang kiriman yang terus berkurang.
{Yah, kenapa ayah sudah berapa bulan tak menelpon. Uang kiriman dari ayah juga berkurang terus?}
Pesan tersebut masih contang satu belum berganti warna.
Untuk pertama kalinya aku tidur dalam keadaan pulas. Aku bahkan terbangun karena ibu memencet hidung ku. Ku dengar satu suara dari luar rumah.
"Ndis... Gendhis.... Kamu masih tidur?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
asiah puteri mulyana
Jazakillah khair..thor dikasi referensi buku nya seneng bgt jd bisa belajar smga ilmunya bermanfaat dan jd amal jariah buat author aamiin bismillah smga sy juga bisa lebih baik Ya Allah aamiin
2024-04-20
1
sitimusthoharoh
banyak gendhis2 diluaran sana yg bernasib sepertimu malah ad yg lebih buruk walopun ad juga yg lebih baik.yg penting jangan sampai kita melupakan/meninggalkan yg menciptakan dan memberikan kita nikmat(ALLAH)
lanjut
2024-01-31
2
Sugiharti Rusli
membaca cerita ini dan mungkin kisah" di luaran yang lebih miris jadi berkaca, walo sedang susah harus bersangka baik sama Allah, semoga dikasih jalan dari setiap permasalahan,,,aamiin🤲🤲🤲
2023-10-30
5