“Betul sekali, Gendhis. Terkadang, ada hal-hal dalam hidup kita yang tidak bisa kita kendalikan atau ubah. Terkadang, takdir telah menentukan jalan yang harus kita tempuh. Dalam situasi seperti ini, kekuatan dan ketabahan menjadi penting.” Ucap Vya seraya mengetik beberapa biodata yang aku sudah siapkan.
Menerima takdir bukan berarti kita harus menyerah begitu saja. Tetapi, itu berarti kita harus memiliki kekuatan untuk menghadapinya dengan sikap yang positif dan berusaha menjalani hidup dengan penuh keberanian. Ketika kita menghadapi situasi yang sulit, kekuatan datang dari dalam diri kita. Kita harus menggali kekuatan itu dan yakin bahwa kita mampu melewati segala rintangan. Kita harus memiliki keyakinan bahwa kita bisa bangkit dari kejatuhan dan melanjutkan perjalanan hidup dengan tegar. Ketika kita menghadapi perubahan yang tak terduga, kita harus belajar untuk beradaptasi dan menghadapinya dengan kepala tegak. Kita harus mengambil hikmah dari setiap pengalaman yang kita hadapi dan menggunakan itu sebagai batu loncatan untuk tumbuh dan berkembang. Dalam proses menjadi kuat, kita juga harus melibatkan orang-orang terdekat kita. Berbagi beban dengan mereka, mencari dukungan dan bimbingan mereka. Kadang-kadang, kekuatan kita akan ditemukan dalam kebersamaan dan dukungan dari orang-orang yang peduli dengan kita. Seperti saat ini, aku berbagi dengan sahabat ku, Vya.
“Jadi kesimpulannya apa Ustadzah Vya?” Goda ku pada Vya.
“Aamiin… Qobul Rabb. Hehehe… Jadi, Gendhis, meskipun segalanya mungkin terasa sulit dan tak terduga, ingatlah bahwa kamu memiliki kekuatan di dalam dirimu. Kamu bisa melewati ini dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Teruslah berjuang dan jangan pernah kehilangan harapan.” Ucap Vya dengan menurunkan kacamatanya dan menatapku di balik kacamat yang ia turunkan ke batang hidungnya. Aku gemas sekali dengan tingkahnya. Ku pencet hidung jambunya.
“Aduh… kamu suka sekali memencet hidung ku. Nanti kalau patah kasihan suami ku nanti Ndis…” Keluhnya seraya mengusap hidungnya.
“Hihi… cie, cie… suami. Suami apa Arya.” Ucap ku.
Aku yang duduk di sisi Vya dengan tumpukan dokumen di hadapanku. Kami berdua sedang mempersiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran kuliah jalur beasiswa. Aku sibuk menulis surat motivasi dan menyiapkan transkrip nilai, sertifikat, dan berbagai dokumen lainnya. Sedangkan Vya mengisi formulir yang berupa PDF di laptopnya.
Sambil mengecek berkasku, Aku melirik ke arah Vya yang terlihat sedikit cemas.
"Ada yang mengganggu pikiranmu, Vya? Kamu terlihat sedikit khawatir."
Vya menggigit bibirnya sejenak sebelum akhirnya mengakui, "Sebenarnya, Ndhis, aku sedang merasa bimbang tentang perasaanku pada Arya." Ucapnya dengan ujung hidung dan pipi yang merona.
Mendengar pengakuan Vya, Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang perasaan sahabat ku itu. Dengan penuh perhatian.
Aku bertanya, "Kamu menyukai Arya, Vy?"
Vya menggigit bibirnya, tampaknya ia ragu untuk mengakui perasaannya. Namun, dia merasa nyaman berbicara dengan ku. Akhirnya, dia mengangguk pelan dan menjawab, "Iya, Gendhis. Aku menyukai Arya. Tapi aku takut jika perasaanku merusak persahabatan kita."
“Kita? Memangnya kenapa?” Tanya ku yang bingung dengan maksud kalimat Vya barusan.
Aku tersenyum dan merangkul Vya dengan hangat.
Setelah Vya mengungkapkan perasaannya, kami berdua duduk berhadapan, saling berbagi cerita. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Vya bercerita tentang betapa Arya membuat hatinya berdebar-debar setiap kali mereka bertemu. Aku mengerti betapa sulitnya memendam perasaan tersebut. Karena dulu aku sempat merasakan hal itu ketika SMA, ada satu lelaki yang selalu membuat jantung ku berdebar kala SMA, namun ku simpan rapat karena aku hanyalah sebutir debu jika harus mengungkapkan perasaan ku padanya, dan ternyata the power of minder dulu menyelematkan aku dari fatamorgana cinta yang berstatus hubungan pacaran. Hingga detik ini aku bahkan belum pernah merasakan bagaiamana menjalin hubungan dengan lelaki manapun, dan begitu pula dengan Vya.
Dalam kehangatan persahabatan kami, Aku juga merasa nyaman untuk berbagi rahasia. Vya terkejut ketika aku menggodany, "Tapi, Vya, apakah kamu tahu bahwa Arya bukanlah satu-satunya yang membuat jantungmu berdetak kencang?"
Sahabat ku itu menautkan alisnya.
“Kala kamu pulang malam saat ikut organisasi bukankah jantung mu juga akan berdebar tak karuan… hehehe..” Goda ku.
Vya menjitak kepala ku, kami tertawa bersama. Hanya dengan Vya aku bisa tertawa atau menggoda. Dengan orang lain aku hanya lebih baik diam dan tak berani menatap mata lawan bicara ku, tapi bersama Vya aku begitu suka sekali mengobrol dan bercerita. Maka jangan heran jika di tempat kerja dan yayasan pun aku sering dibilang orang dengan tipe tertutup. Ah, andai mereka tahu bagaiamana aku sulit untuk percaya dengan orang lain, bagaimana aku menata hati untuk berbicara pada orang baru karena aku memiliki rasa trauma akan respon orang lain terhadap aku.
Perjalanan persahabatan aku dan Vya terus berlanjut, semakin kuat dan kokoh. Kami saling mendukung dalam perjuangan masing-masing, termasuk dalam cinta terpendam Vya yang rumit. Meskipun memiliki perasaan yang berbeda terhadap orang lain, kami tetap menjaga persahabatan kami sebagai prioritas utama. Dan juga saling menyimpan rahasia masing-masing. Aku belajar bahwa persahabatan sejati adalah tentang saling mendengarkan, mengerti, dan tetap ada di saat-saat bahagia maupun sulit. Dalam perjalanan kami, aku menemukan kekuatan dan kebahagiaan dalam memiliki sahabat yang selalu ada di samping ku. Melalui perjalanan ini, Aku belajar tentang pentingnya menghargai dan memelihara persahabatan yang tulus. Aku menyadari bahwa cinta bisa hadir dalam berbagai bentuk, dan yang terpenting adalah menjaga kepercayaan dan kesetiaan satu sama lain. Persahabatan kami menjadi landasan yang kuat dalam menghadapi segala tantangan dan kebahagiaan dalam hidup.
“Gendhis, pernahkah kamu jatuh cinta?” pertanyaan Vya membuat tiba-tiba air minum yang aku minum tersedak dan menyembur keluar dari mulutku.
“Pruufftt….”
“Wah! Apa yang terjadi, Ndis?” tanya Vya kaget. Aku tampak tercengang dan mencoba membersihkan air minum yang menyembur.
“Maaf, maaf! Air minum tadi tersedak dan keluar begitu saja.” Ucap ku malu.
“Hehehe… Tidak apa-apa, Vya. Itu cukup mengejutkan. Apakah kamu baik-baik saja?”
Vya mengusap air minum yang menempel di wajahnya.
“Tidak masalah, Ndis. Kita bisa tertawa bersama tentang kejadian ini. Jangan khawatir, tidak ada yang terluka, yang penting hati ga rungkad. Hehe…” ucap Vya seraya tertawa.
Aku tidak menyangka air minum bisa tersedak begitu hebat.
“Terima kasih ya Vy. Kamu selalu bisa membuat situasi canggung menjadi lebih ringan. Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu.” Ucap ku tulus.
“Sama-sama, Vya. Kita saling melengkapi dan menemani dalam segala situasi, termasuk saat air minum tersedak. Tidak ada yang bisa mengganggu hubungan kita.” Ucap Vya seraya mengulas senyum.
Tampaknya Vya masih penasaran akan isi hati ku perihal cinta. Ia kembali bertanya.
“Siapa Ndis cinta pertama mu?” Tanya Vya cepat, aku cepat mengalihkan wajah ku. Karena terasa hangat di pipi.
“Ah sudahlah Cuma cinta monyet dan terpendam.” Ucapku pada Vya.
“Ihik…ihik… cinta terpendam… apa dendam terpendam… ga masih dendam kan sama orangnya?” tanya Vya yang seolah paham lelaki yang pernah membuat aku salah tingkah di hari pertama masuk sekolah.
“Ih. Apaan sih vy… “ kilah ku.
Lelaki itu memang sempat membuat jantung ku berdebar, tetapi ibarat punguk merindukan rembulan aku pun tak pernah berani bermimpi bisa menaruh hati lebih pada lelaki yang biasa di panggil Kak Gaffi di sekolah.
'Wes fokus sama masadepan Ndis, cinta mah biar urusan nanti. Pantaskan diri aja dulu buat jodoh mu....' aku bermonolog dengan diri ku sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
lanjut
2024-02-01
2
Sugiharti Rusli
betul, jangan kalian nanti terputus gegara laki", hubungan persahabatan kalian lebih mahal,,,
2023-10-30
1
Lilis Lilis Lisna
lanjuut lagi dhis .
2023-07-30
0