Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya

“Betul sekali, Gendhis. Terkadang, ada hal-hal dalam hidup kita yang tidak bisa kita kendalikan atau ubah. Terkadang, takdir telah menentukan jalan yang harus kita tempuh. Dalam situasi seperti ini, kekuatan dan ketabahan menjadi penting.” Ucap Vya seraya mengetik beberapa biodata yang aku sudah siapkan.

Menerima takdir bukan berarti kita harus menyerah begitu saja. Tetapi, itu berarti kita harus memiliki kekuatan untuk menghadapinya dengan sikap yang positif dan berusaha menjalani hidup dengan penuh keberanian. Ketika kita menghadapi situasi yang sulit, kekuatan datang dari dalam diri kita. Kita harus menggali kekuatan itu dan yakin bahwa kita mampu melewati segala rintangan. Kita harus memiliki keyakinan bahwa kita bisa bangkit dari kejatuhan dan melanjutkan perjalanan hidup dengan tegar. Ketika kita menghadapi perubahan yang tak terduga, kita harus belajar untuk beradaptasi dan menghadapinya dengan kepala tegak. Kita harus mengambil hikmah dari setiap pengalaman yang kita hadapi dan menggunakan itu sebagai batu loncatan untuk tumbuh dan berkembang. Dalam proses menjadi kuat, kita juga harus melibatkan orang-orang terdekat kita. Berbagi beban dengan mereka, mencari dukungan dan bimbingan mereka. Kadang-kadang, kekuatan kita akan ditemukan dalam kebersamaan dan dukungan dari orang-orang yang peduli dengan kita. Seperti saat ini, aku berbagi dengan sahabat ku, Vya.

“Jadi kesimpulannya apa Ustadzah Vya?” Goda ku pada Vya.

“Aamiin… Qobul Rabb. Hehehe… Jadi, Gendhis, meskipun segalanya mungkin terasa sulit dan tak terduga, ingatlah bahwa kamu memiliki kekuatan di dalam dirimu. Kamu bisa melewati ini dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Teruslah berjuang dan jangan pernah kehilangan harapan.” Ucap Vya dengan menurunkan kacamatanya dan menatapku di balik kacamat yang ia turunkan ke batang hidungnya. Aku gemas sekali dengan tingkahnya. Ku pencet hidung jambunya.

“Aduh… kamu suka sekali memencet hidung ku. Nanti kalau patah kasihan suami ku nanti Ndis…” Keluhnya seraya mengusap hidungnya.

“Hihi… cie, cie… suami. Suami apa Arya.” Ucap ku.

Aku yang duduk di sisi Vya dengan tumpukan dokumen di hadapanku. Kami berdua sedang mempersiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran kuliah jalur beasiswa. Aku sibuk menulis surat motivasi dan menyiapkan transkrip nilai, sertifikat, dan berbagai dokumen lainnya. Sedangkan Vya mengisi formulir yang berupa PDF di laptopnya.

Sambil mengecek berkasku, Aku melirik ke arah Vya yang terlihat sedikit cemas.

"Ada yang mengganggu pikiranmu, Vya? Kamu terlihat sedikit khawatir."

Vya menggigit bibirnya sejenak sebelum akhirnya mengakui, "Sebenarnya, Ndhis, aku sedang merasa bimbang tentang perasaanku pada Arya." Ucapnya dengan ujung hidung dan pipi yang merona.

Mendengar pengakuan Vya, Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang perasaan sahabat ku itu. Dengan penuh perhatian.

Aku bertanya, "Kamu menyukai Arya, Vy?"

Vya menggigit bibirnya, tampaknya ia ragu untuk mengakui perasaannya. Namun, dia merasa nyaman berbicara dengan ku. Akhirnya, dia mengangguk pelan dan menjawab, "Iya, Gendhis. Aku menyukai Arya. Tapi aku takut jika perasaanku merusak persahabatan kita."

“Kita? Memangnya kenapa?” Tanya ku yang bingung dengan maksud kalimat Vya barusan.

Aku tersenyum dan merangkul Vya dengan hangat.

Setelah Vya mengungkapkan perasaannya, kami berdua duduk berhadapan, saling berbagi cerita. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Vya bercerita tentang betapa Arya membuat hatinya berdebar-debar setiap kali mereka bertemu. Aku mengerti betapa sulitnya memendam perasaan tersebut. Karena dulu aku sempat merasakan hal itu ketika SMA, ada satu lelaki yang selalu membuat jantung ku berdebar kala SMA, namun ku simpan rapat karena aku hanyalah sebutir debu jika harus mengungkapkan perasaan ku padanya, dan ternyata the power of minder dulu menyelematkan aku dari fatamorgana cinta yang berstatus hubungan pacaran. Hingga detik ini aku bahkan belum pernah merasakan bagaiamana menjalin hubungan dengan lelaki manapun, dan begitu pula dengan Vya.

Dalam kehangatan persahabatan kami, Aku juga merasa nyaman untuk berbagi rahasia. Vya terkejut ketika aku menggodany, "Tapi, Vya, apakah kamu tahu bahwa Arya bukanlah satu-satunya yang membuat jantungmu berdetak kencang?"

Sahabat ku itu menautkan alisnya.

“Kala kamu pulang malam saat ikut organisasi bukankah jantung mu juga akan berdebar tak karuan… hehehe..” Goda ku.

Vya menjitak kepala ku, kami tertawa bersama. Hanya dengan Vya aku bisa tertawa atau menggoda. Dengan orang lain aku hanya lebih baik diam dan tak berani menatap mata lawan bicara ku, tapi bersama Vya aku begitu suka sekali mengobrol dan bercerita. Maka jangan heran jika di tempat kerja dan yayasan pun aku sering dibilang orang dengan tipe tertutup. Ah, andai mereka tahu bagaiamana aku sulit untuk percaya dengan orang lain, bagaimana aku menata hati untuk berbicara pada orang baru karena aku memiliki rasa trauma akan respon orang lain terhadap aku.

Perjalanan persahabatan aku dan Vya terus berlanjut, semakin kuat dan kokoh. Kami saling mendukung dalam perjuangan masing-masing, termasuk dalam cinta terpendam Vya yang rumit. Meskipun memiliki perasaan yang berbeda terhadap orang lain, kami tetap menjaga persahabatan kami sebagai prioritas utama. Dan juga saling menyimpan rahasia masing-masing. Aku belajar bahwa persahabatan sejati adalah tentang saling mendengarkan, mengerti, dan tetap ada di saat-saat bahagia maupun sulit. Dalam perjalanan kami, aku menemukan kekuatan dan kebahagiaan dalam memiliki sahabat yang selalu ada di samping ku. Melalui perjalanan ini, Aku belajar tentang pentingnya menghargai dan memelihara persahabatan yang tulus. Aku menyadari bahwa cinta bisa hadir dalam berbagai bentuk, dan yang terpenting adalah menjaga kepercayaan dan kesetiaan satu sama lain. Persahabatan kami menjadi landasan yang kuat dalam menghadapi segala tantangan dan kebahagiaan dalam hidup.

“Gendhis, pernahkah kamu jatuh cinta?” pertanyaan Vya membuat tiba-tiba air minum yang aku minum tersedak dan menyembur keluar dari mulutku.

“Pruufftt….”

“Wah! Apa yang terjadi, Ndis?” tanya Vya kaget. Aku tampak tercengang dan mencoba membersihkan air minum yang menyembur.

“Maaf, maaf! Air minum tadi tersedak dan keluar begitu saja.” Ucap ku malu.

“Hehehe… Tidak apa-apa, Vya. Itu cukup mengejutkan. Apakah kamu baik-baik saja?”

Vya mengusap air minum yang menempel di wajahnya.

“Tidak masalah, Ndis. Kita bisa tertawa bersama tentang kejadian ini. Jangan khawatir, tidak ada yang terluka, yang penting hati ga rungkad. Hehe…” ucap Vya seraya tertawa.

Aku tidak menyangka air minum bisa tersedak begitu hebat.

“Terima kasih ya Vy. Kamu selalu bisa membuat situasi canggung menjadi lebih ringan. Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu.” Ucap ku tulus.

“Sama-sama, Vya. Kita saling melengkapi dan menemani dalam segala situasi, termasuk saat air minum tersedak. Tidak ada yang bisa mengganggu hubungan kita.” Ucap Vya seraya mengulas senyum.

Tampaknya Vya masih penasaran akan isi hati ku perihal cinta. Ia kembali bertanya.

“Siapa Ndis cinta pertama mu?” Tanya Vya cepat, aku cepat mengalihkan wajah ku. Karena terasa hangat di pipi.

“Ah sudahlah Cuma cinta monyet dan terpendam.” Ucapku pada Vya.

“Ihik…ihik… cinta terpendam… apa dendam terpendam… ga masih dendam kan sama orangnya?” tanya Vya yang seolah paham lelaki yang pernah membuat aku salah tingkah di hari pertama masuk sekolah.

“Ih. Apaan sih vy… “ kilah ku.

Lelaki itu memang sempat membuat jantung ku berdebar, tetapi ibarat punguk merindukan rembulan aku pun tak pernah berani bermimpi bisa menaruh hati lebih pada lelaki yang biasa di panggil Kak Gaffi di sekolah.

'Wes fokus sama masadepan Ndis, cinta mah biar urusan nanti. Pantaskan diri aja dulu buat jodoh mu....' aku bermonolog dengan diri ku sendiri.

Terpopuler

Comments

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

lanjut

2024-02-01

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

betul, jangan kalian nanti terputus gegara laki", hubungan persahabatan kalian lebih mahal,,,

2023-10-30

1

Lilis Lilis Lisna

Lilis Lilis Lisna

lanjuut lagi dhis .

2023-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!