Setiap orang ingin hidup bahagia, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini ingin hidup sengsara. Namun Allah adalah maha penentu untuk setiap takdir yang dijalani manusia itu sendiri, seperti diriku. Aku selama ini merasa menderita karena aku selalu mencari kebahagiaan. Aku mencari cara bagaimana bisa bebas dari penderitaan. Ternyata setelah kejadian kemarin sore, aku merasa seperti menemukan tujuan hidup ku yang baru. Aku merasa Allah begitu sayang pada ku, aku selama ini di latih untuk memiliki sifat sabar. Aku juga di latih untuk menjadi wanita mandiri dan kuat. Sungguh ujian hidup ku kemarin dan dulu adalah suatu ladang pahala. Bayangkan saja dengan aku merawat ibu ku, sudah meraih pahala karena salah satu wujud bakti ku pada ibu saat ini adalah merawatnya.
Ku pandang wajah cantik ibu, matanya sendu. Tak ada komunikasi diantara kami. Ibu hanya membuka mulutnya saat ku suapkan nasi uduk. Aku membeli dua bungkus nasi uduk untuk sarapan. Suap demi suap akhirnya ibu menghabiskannya, aku pagi ini mau tidak mau harus meninggalkan ibu di kamar. Ku cium dahi ibu cukup lama. Ibu hanya diam.
‘Maafkan Gendhis yang belum bisa berbakti pada ibu dengan baik. Ibu jadi harus sendiri setiap hari. Gendhis janji tidak akan meninggalkan ibu.’ Ucap ku dalam hati. Dengan berat hati aku menutup pintu kamar ibu. Beberapa botol aqua telah aku penuhi air minum, ku letakkan di sisi ibu. Beberapa roti tawar yang ku beli juga aku letakkan di kamar ibu. Khawatir aku akan terlambat. Aku akan mencari kontrakan baru, dan semalam Vya memberikan satu rumah untuk aku lihat saat makan siang nanti. Aku tiba di rumah makan masih sepi di dapur, ku ambil sapu dan beberapa alat kebersihan. Aku mencuci semua pekakas yang kotor. Dengan sedikit menarik baju ku untuk menutupi hidung, aku memungut sampah yang cukup menyengat baunya. Ku masukan dalam karung lalau ku ikat kencang. Aku menarik karung yang berisi sampah tersebut ke tempat pembuangan sampah dan akan diangkut oleh petugas kebersihan. Namun tiba-tiba aku melihat Uni Desi yang sedang muntah-muntah.
“Astaghfirullah… ada apa Uni?” Tanya ku saat aku berusaha memijat tengkuk bos ku yang terbungkus jilbab.
“Uek… uek…” tak ada jawaban justru Uni semakin memuntahkan isi perutnya. Aku memalingkan wajah walau bau muntahan itu terasa memualkan.
Setelah bos pemilik rumah makan padang itu tampak berdiri dan satu tangannya memegang tembok kamar mandi, ia berbalik dan menoleh ke arah ku.
“Uni bisa minta tolong sama kamu Ndis?” tanya Uni Desi pada ku dengan wajah pucat.
“Apa Uni? Kalau bisa nanti aku bantu.” Jawab ku.
“Ini yang kerja shift malam kurang ajar semua, tidak ada yang mau membersihkan kotorang di depan. Mumpung masih pagi, Uni takut ada pelanggan dan mereka akan jijik makan di tempat kita. Kurang ajar sekali ada yang BAB dan tampaknya sengaja melempar di depan rumah makan kita.” Ucap Uni Desi seraya menahan mulutnya. Ia tampak mual.
Aku pun menyanggupi membersihkan kotoran tersebut. Aku mengambil beberapa peralatan yang ku kira bisa membantu ku untuk membersihkan kotoran manusia itu. Aku ke arah depan tepat di dekat pintu masuk terlihat beberapa polesan dan gundukan kotoran manusia. Aku tidak menutup mulut dan hidung, entah bagi ku ini bukan hal menjijikan, lebih busuk bau kotoran ayam dan yang tadi ku buang tadi daripada kotoran yang saat ini ku ambil menggunakan tisu. Aku bahkan sering membersihkan kotoran ibu saat ibu sedang rewel. Apalagi akhir-akhir ini ibu sering tidak rutin minum obat yang biasa ku tebus di apotik berdasarkan resep dokter yang menangani ibu.
Setelah ku lihat tak ada lagi noda nya, aku membersihkan dengan sabun pewangi agar tak ada lagi aroma tersebut. Entah kenapa aku lebih memilih mengelap terakhir kali bagian kaca dan dinding yang tadi ada kotorannya dengan tisu basah. Aku justru baru merasakan mual, jika sebagian orang merasakan tisu basah itu wangi. Aku justru merasa mual. Hampir setiap ibu sedang rewel, maka aku menggunakan tisu basah untuk membersihkan tubuhnya yang terkena kotoran saat BAB dan aku tak dirumah. Bukan hal yang mudah membersihkan kotoran tersebut saat ia sudah mengering, belum lagi masuk kedalam sela-sela jadi kuku tangan ibu.
Saat selesai membersihkan kotoran manusia tadi, aku bergegas membersihkan tangan ku. Setekah ku pastikan tak ada warna, aroma ditangan ku. Aku pergi ke depan untuk mengepel lantai di bagian tempat para tamu biasa makan. Uni Desi tiba-tiba datang dan duduk di meja kasir.
“Kamu tidak jijik Gen?” Tanya Uni penasaran. Aku berhenti dari aktifitas mengepel dan menoleh ke arah Uni Desi.
“Tidak Ni,” Ucap ku singkat.
Entah apa yang Uni Desi pikirkan. Ia terus menatapku. Saat sore siang hari, aku akan pulang seperti biasa. Aku tak mengatakan pada Uni Desi jika ibu ku mengalami gangguan jiwa. Aku hanya mengatakan jika ibu tak bisa berjalan.
“Yin, nanti sore Gendhis porsinya dua ya. Mulai hari ini sore Gendhis bawa dua porsi nasi.” Titah Uni Desi pada Yiyin salah seorang pelayan di rumah makan padang milik Uni Desi.
“Ya Ni.” Jawab Yiyin seraya melirik tak suka pada ku.
“Ndak Usah Ni, ndak usah. Satu porsi saja. Saya siang hari boleh pulang saja sudah terima kasih.” Ucap ku sungkan.
“Sudah jangan menolak rezeki, ndak elok. Kamu itu sudah sebulan kerja disini. Kamu juga paling nurut dan rajin. Jangan menolak, ini perintah. Saya bukan kasih kamu, kasih ibu mu yang dirumah.” Ucap Uni Desi.
Aku mengangguk, seperti biasa aku pun pulang dengan mengayuh sepeda. Saat tiba dirumah ku buka pintu kamar ibu. Di dalam kamar ibu hanya ada satu kasur dan bantal. Saat pagi tadi aku berurusan dengan kotoran manusia, kali ini aku harus menghela napas dalam. Aku melirik jam tangan. Tak ada waktu untuk meluruskan pinggang sejenak. Tangan ibu, dinding kamar dan juga kasur sudah kotor oleh kotoran. Ibu BAB kemungkinan masih pagi sehingga kotoran tersebut sudah mengering. Aku cepat menyingsingkan baju dan membuka celana jeans ku. Sehingga hanya mengenakan celana pendek. Aku membersihkan kamar lalu membawa ibu ke kamar mandi. Aku bahkan terpaksa menggunakan lidi untuk membersihkan bagian dalam kuku ibu. Setelah selesai, aku pun memberikan satu bungkus nasi padang kepada ibu. Ku lihat ibu makan dengan lahap, entah kenapa ibu tak pernah bosan dengan nasi padang tersebut. Aku saja sudah mulai bosan.
“Pelan-pelan Bu…” Ucap ku seraya mengambil satu nasi di ujung bibir ibu. Ibu tak memperdulikan aku, ia terus saja menikmati nasi padang tersebut. Hingga daun pisang yang menjadi alasnya pun ia jilati sampai bersih. Aku hanya tersenyum, itu sudah menjadi kebiasaan ibu. Setidaknya ibu merasa kenyang, aku pun membuka satu obat yang biasa ibu konsumsi, ku berikan kepada ibu.
“Bu, duduk di kamar ya. Jangan marah atau berteriak. Gendhis kerja dulu.” Ucap ku pada ibu. Aku menutup pintu kamar ibu dan sedikit ku sandarkan dahi di pintu kamar ibu.
“Sabar Ndis… kuat… kuat… jangan menyerah. Maafkan Gendhis ya bu, bersabarlah. Maafkan aku ya Allah jika aku harus meninggalkan ibu sendiri… aku harus berjuang untuk masa depan yang lebih baik lagi.” Ucap ku getir. Aku merasa berdosa setiap kali meninggalkan ibu sendiri di rumah. Tetapi ini lebih manusiawi daripada aku tinggal satu atap dengan Bunda.
Dalam keadaan lelah aku masih mengayuh sepeda ku dengan sedikit cepat karena aku terlambat. Jika saja aku tak membersihkan kotoran di kamar dan tubuh ibu, mungkin aku tak terlambat. Baru saja tiba di pintu dapur. Sepasang mata menatap ku sinis.
“Enak ya, merasa jadi anak emas kamu!” Ucapnya seraya berkacak pinggang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
fa _azzahra
masya allah anak solehah gendhis
2024-03-10
1
sitimusthoharoh
ujian akan selalu ad selama kita hambanya masih bernyawa.semangat terus dis.
lanjut
2024-01-31
1
Sugiharti Rusli
ujian kamu memang berat Ndis, uda di rumah eh di tempat kerja juga ada yang sirik sama kamu, pdhl jadi kamu ga mudah karena membuang kotoran yang punya kita aja jijik apalagi punya orang😌😌
2023-10-30
2