Bab 5 Aku Terbiasa

Setiap orang ingin hidup bahagia, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini ingin hidup sengsara. Namun Allah adalah maha penentu untuk setiap takdir yang dijalani manusia itu sendiri, seperti diriku. Aku selama ini merasa menderita karena aku selalu mencari kebahagiaan. Aku mencari cara bagaimana bisa bebas dari penderitaan. Ternyata setelah kejadian kemarin sore, aku merasa seperti menemukan tujuan hidup ku yang baru. Aku merasa Allah begitu sayang pada ku, aku selama ini di latih untuk memiliki sifat sabar. Aku juga di latih untuk menjadi wanita mandiri dan kuat. Sungguh ujian hidup ku kemarin dan dulu adalah suatu ladang pahala. Bayangkan saja dengan aku merawat ibu ku, sudah meraih pahala karena salah satu wujud bakti ku pada ibu saat ini adalah merawatnya.

Ku pandang wajah cantik ibu, matanya sendu. Tak ada komunikasi diantara kami. Ibu hanya membuka mulutnya saat ku suapkan nasi uduk. Aku membeli dua bungkus nasi uduk untuk sarapan. Suap demi suap akhirnya ibu menghabiskannya, aku pagi ini mau tidak mau harus meninggalkan ibu di kamar. Ku cium dahi ibu cukup lama. Ibu hanya diam.

‘Maafkan Gendhis yang belum bisa berbakti pada ibu dengan baik. Ibu jadi harus sendiri setiap hari. Gendhis janji tidak akan meninggalkan ibu.’ Ucap ku dalam hati. Dengan berat hati aku menutup pintu kamar ibu. Beberapa botol aqua telah aku penuhi air minum, ku letakkan di sisi ibu. Beberapa roti tawar yang ku beli juga aku letakkan di kamar ibu. Khawatir aku akan terlambat. Aku akan mencari kontrakan baru, dan semalam Vya memberikan satu rumah untuk aku lihat saat makan siang nanti. Aku tiba di rumah makan masih sepi di dapur, ku ambil sapu dan beberapa alat kebersihan. Aku mencuci semua pekakas yang kotor. Dengan sedikit menarik baju ku untuk menutupi hidung, aku memungut sampah yang cukup menyengat baunya. Ku masukan dalam karung lalau ku ikat kencang. Aku menarik karung yang berisi sampah tersebut ke tempat pembuangan sampah dan akan diangkut oleh petugas kebersihan. Namun tiba-tiba aku melihat Uni Desi yang sedang muntah-muntah.

“Astaghfirullah… ada apa Uni?” Tanya ku saat aku berusaha memijat tengkuk bos ku yang terbungkus jilbab.

“Uek… uek…” tak ada jawaban justru Uni semakin memuntahkan isi perutnya. Aku memalingkan wajah walau bau muntahan itu terasa memualkan.

Setelah bos pemilik rumah makan padang itu tampak berdiri dan satu tangannya memegang tembok kamar mandi, ia berbalik dan menoleh ke arah ku.

“Uni bisa minta tolong sama kamu Ndis?” tanya Uni Desi pada ku dengan wajah pucat.

“Apa Uni? Kalau bisa nanti aku bantu.” Jawab ku.

“Ini yang kerja shift malam kurang ajar semua, tidak ada yang mau membersihkan kotorang di depan. Mumpung masih pagi, Uni takut ada pelanggan dan mereka akan jijik makan di tempat kita. Kurang ajar sekali ada yang BAB dan tampaknya sengaja melempar di depan rumah makan kita.” Ucap Uni Desi seraya menahan mulutnya. Ia tampak mual.

Aku pun menyanggupi membersihkan kotoran tersebut. Aku mengambil beberapa peralatan yang ku kira bisa membantu ku untuk membersihkan kotoran manusia itu. Aku ke arah depan tepat di dekat pintu masuk terlihat beberapa polesan dan gundukan kotoran manusia. Aku tidak menutup mulut dan hidung, entah bagi ku ini bukan hal menjijikan, lebih busuk bau kotoran ayam dan yang tadi ku buang tadi daripada kotoran yang saat ini ku ambil menggunakan tisu. Aku bahkan sering membersihkan kotoran ibu saat ibu sedang rewel. Apalagi akhir-akhir ini ibu sering tidak rutin minum obat yang biasa ku tebus di apotik berdasarkan resep dokter yang menangani ibu.

Setelah ku lihat tak ada lagi noda nya, aku membersihkan dengan sabun pewangi agar tak ada lagi aroma tersebut. Entah kenapa aku lebih memilih mengelap terakhir kali bagian kaca dan dinding yang tadi ada kotorannya dengan tisu basah. Aku justru baru merasakan mual, jika sebagian orang merasakan tisu basah itu wangi. Aku justru merasa mual. Hampir setiap ibu sedang rewel, maka aku menggunakan tisu basah untuk membersihkan tubuhnya yang terkena kotoran saat BAB dan aku tak dirumah. Bukan hal yang mudah membersihkan kotoran tersebut saat ia sudah mengering, belum lagi masuk kedalam sela-sela jadi kuku tangan ibu.

Saat selesai membersihkan kotoran manusia tadi, aku bergegas membersihkan tangan ku. Setekah ku pastikan tak ada warna, aroma ditangan ku. Aku pergi ke depan untuk mengepel lantai di bagian tempat para tamu biasa makan. Uni Desi tiba-tiba datang dan duduk di meja kasir.

“Kamu tidak jijik Gen?” Tanya Uni penasaran. Aku berhenti dari aktifitas mengepel dan menoleh ke arah Uni Desi.

“Tidak Ni,” Ucap ku singkat.

Entah apa yang Uni Desi pikirkan. Ia terus menatapku. Saat sore siang hari, aku akan pulang seperti biasa. Aku tak mengatakan pada Uni Desi jika ibu ku mengalami gangguan jiwa. Aku hanya mengatakan jika ibu tak bisa berjalan.

“Yin, nanti sore Gendhis porsinya dua ya. Mulai hari ini sore Gendhis bawa dua porsi nasi.” Titah Uni Desi pada Yiyin salah seorang pelayan di rumah makan padang milik Uni Desi.

“Ya Ni.” Jawab Yiyin seraya melirik tak suka pada ku.

“Ndak Usah Ni, ndak usah. Satu porsi saja. Saya siang hari boleh pulang saja sudah terima kasih.” Ucap ku sungkan.

“Sudah jangan menolak rezeki, ndak elok. Kamu itu sudah sebulan kerja disini. Kamu juga paling nurut dan rajin. Jangan menolak, ini perintah. Saya bukan kasih kamu, kasih ibu mu yang dirumah.” Ucap Uni Desi.

Aku mengangguk, seperti biasa aku pun pulang dengan mengayuh sepeda. Saat tiba dirumah ku buka pintu kamar ibu. Di dalam kamar ibu hanya ada satu kasur dan bantal. Saat pagi tadi aku berurusan dengan kotoran manusia, kali ini aku harus menghela napas dalam. Aku melirik jam tangan. Tak ada waktu untuk meluruskan pinggang sejenak. Tangan ibu, dinding kamar dan juga kasur sudah kotor oleh kotoran. Ibu BAB kemungkinan masih pagi sehingga kotoran tersebut sudah mengering. Aku cepat menyingsingkan baju dan membuka celana jeans ku. Sehingga hanya mengenakan celana pendek. Aku membersihkan kamar lalu membawa ibu ke kamar mandi. Aku bahkan terpaksa menggunakan lidi untuk membersihkan bagian dalam kuku ibu. Setelah selesai, aku pun memberikan satu bungkus nasi padang kepada ibu. Ku lihat ibu makan dengan lahap, entah kenapa ibu tak pernah bosan dengan nasi padang tersebut. Aku saja sudah mulai bosan.

“Pelan-pelan Bu…” Ucap ku seraya mengambil satu nasi di ujung bibir ibu. Ibu tak memperdulikan aku, ia terus saja menikmati nasi padang tersebut. Hingga daun pisang yang menjadi alasnya pun ia jilati sampai bersih. Aku hanya tersenyum, itu sudah menjadi kebiasaan ibu. Setidaknya ibu merasa kenyang, aku pun membuka satu obat yang biasa ibu konsumsi, ku berikan kepada ibu.

“Bu, duduk di kamar ya. Jangan marah atau berteriak. Gendhis kerja dulu.” Ucap ku pada ibu. Aku menutup pintu kamar ibu dan sedikit ku sandarkan dahi di pintu kamar ibu.

“Sabar Ndis… kuat… kuat… jangan menyerah. Maafkan Gendhis ya bu, bersabarlah. Maafkan aku ya Allah jika aku harus meninggalkan ibu sendiri… aku harus berjuang untuk masa depan yang lebih baik lagi.” Ucap ku getir. Aku merasa berdosa setiap kali meninggalkan ibu sendiri di rumah. Tetapi ini lebih manusiawi daripada aku tinggal satu atap dengan Bunda.

Dalam keadaan lelah aku masih mengayuh sepeda ku dengan sedikit cepat karena aku terlambat. Jika saja aku tak membersihkan kotoran di kamar dan tubuh ibu, mungkin aku tak terlambat. Baru saja tiba di pintu dapur. Sepasang mata menatap ku sinis.

“Enak ya, merasa jadi anak emas kamu!” Ucapnya seraya berkacak pinggang.

Terpopuler

Comments

fa _azzahra

fa _azzahra

masya allah anak solehah gendhis

2024-03-10

1

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

ujian akan selalu ad selama kita hambanya masih bernyawa.semangat terus dis.
lanjut

2024-01-31

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

ujian kamu memang berat Ndis, uda di rumah eh di tempat kerja juga ada yang sirik sama kamu, pdhl jadi kamu ga mudah karena membuang kotoran yang punya kita aja jijik apalagi punya orang😌😌

2023-10-30

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!