Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan

Matahari menyapu seluruh permukaan bumi dengan sengatnya yang membuat wajah ku di penuhi keringat, Aku mempercepat Langkah ku. Karena pukul sudah menunjukkan jam 2 siang. Aku mengkhawatirkan ibu, karena hanya aku yang akan memberikan makan ibu, Bunda mana mau memberikan makan. Kalau itu terjadi bisa ku pastikan nasi nya pasti sisa atau kalau pun tidak sisa itu pasti hanya nasi putih. Jika aku pulang terlambat, ibu akan marah karena kelaparan dan kembali berakhir dengan ibu akan tidur di teras belakang rumah. Aku tak memperdulikan panggilan sahabat ku Vya.

“Ndis…. Gendhis… tunggu!” Panggil Vya.

Aku hanya menoleh tanpa menghentikan Langkah ku.

“Ada apa Vy? Aku harus cepat pulang. Kamu tahu sendiri jika nenek sihir itu akan kembali menghukum aku dan ibu ku jika ibu buat ulah, termasuk pulang terlambat.” Ucap ku.

Aku kembali focus pada jalan yang ada di depan ku, tiba-tiba tas ransel ku ditarik Vya. Aku pun terhenyak karena mendadak berhenti.

“Ini, pagi tadi ibu ku buat banyak. Ibu bilang ini kasih buat kamu.” Ucap Vya dengan napas tersengal-sengal. Ia membuka tas ransel ku tanpa menunggu persetujuan ku. Ku lirik itu seperti klecok. Sebuah makanan yang di bungkus daun pisang dan isinya yaitu ketan dan pisang diberi kelapa muda. Aku menarik sudut bibir ku.

“Terima kasih sampaikan pada ibu mu…” Ucap ku seraya mengangguk.

Satu tepukan pada Pundak ku membuat kami tertawa sebelum berpisah di perempat gang.

“Sana.. buruan. Ntar mak lampirnya berubah jadi gerandong… kamu bisa dimakan, hehehe..” Goda Vya.

Aku pun mengangguk, ingin sekali aku memeluk Vya sebagai ucapan terima kasih. Tapi aku sulit sekali untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan sayang ku pada orang lain. Mungkin karena sering diperlakukan kasar oleh Bunda. Aku jadi sangat sulit untuk menunjukkan rasa sayang pada sahabat ku itu. Vya adalah sahabat sedari kecil. Ia bisa tahu apa yang aku rasakan tanpa harus aku ceritakan. Kini aku sudah duduk di kelas 6. Aku tumbuh menjadi anak yang tertutup dan minder.

Saat Langkah ku kian dekat dengan rumah dimana aku di dilahirkan, aku memperlambat langkah ku seraya memandangi rumah itu.

‘Andai ibu tak ada, mungkin aku sudah meninggalkan rumah ini dari lama. Semua demi ibu, aku harus bertahan. Aku tak mungkin meninggalkan ibu seorang diri di neraka itu.’ Batin ku.

Baru saja aku tiba di depan teras suara rintihan dari ibu membuat aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam.

“Aduh,, sakit.. ampun… ampun…” Suara ibu dengan memelas.

“Kamu! Sudah bisa mencuri ya! Dasar orang gila! Sini, sini kamu tahu rasa kamu!” Teriak Bunda diiringi suara pukulan.

Mata ku merah, rahang ku mengeras. Aku tidak terima ibu ku diperlakukan semena-mena. Aku mendorong tubuh Bunda sekuat tenaga hingga ia terdorong ke arah kulkas. Kali ini aku tak ingin lagi diam, sudah cukup puluhan tahun aku bersabar. Selama ini semua perlakuannya aku terima karena setiap ancamannya jika aku melawan ia akan meracuni ayah dan ibu ku. Tapi hari ini, aku melihat ia memukul ibu ku! Aku tidak terima, jika selama ini ibu sering makan nasi sisa atau bahkan makan nasi tanpa lauk pauk hanya diberi cabe utuh, aku masih  hanya mampu menangis dalam diam, tapi kini tidak!

Aku menatap Bunda dengan tatapan nyalang, aku membusungkan dada.

“Anak Setan! Berani kamu melawan ya! Sudah bisa melawan kamu ya!” Teriak Bunda. Bahkan gagang sapu yang ia arahkan ke arah aku dan ibu ku tahan.

“Cukup! Cukup Bunda! Selama ini aku bersabar, sekarang bunda sudah keterlaluan!” Teriak ku seraya menghempaskan sapu yang tadi dipakai bunda untuk memukul ibu. Ku tarik ibu masuk ke kamar. Tampak dahi ibu ku berdarah, hidungnya juga berdarah. Ku usap darah tersebut dengan sapu tangan. Ku kecup kedua tangan ibu berkali-kali.

 

“Bu.. sabar ya bu… ibu yang sabar… Gendhis janji nanti setelah gendhis berhasil dan sukses. Kita akan pergi dari sini ya bu..” Ucap ku pada ibu.

Ibu tidak menangis justru dari bibirnya hanya kata lapar yang keluar. Hati ku selalu terasa perih saat pulang sekolah hanya mendengar suara lirih ibu menyenandungkan kata lapar. Ku buka tas ransel yang berisi klecok pemberian Vya. Ibu memakan dengan lahap. Aku bahkan menarik klecok tersebut dari tangan ibu. Karena ibu memakan dengan kulit pisangnya.

“Bu.. ini kulitnya. Jangan di makan…” Ucap ku seraya membuang daun pisang dengan cepat lalu di rebut ibu. Ibu tampak kelaparan sekali. Aku selalu merasa berdosa saat pulang terlambat, namun mau bagaiamana lagi. Ayah tak pernah dirumah, ayah berada kerja di Kalimantan dan akan pulang dua bulan sekali. Ayah tak pernah percaya ucapan ku. Seperti akhir bulan ini, saat ayah pulang Bunda mengadu pada Ayah jika aku pulang sekolah selalu mampir-mampir dulu. Aku bahkan di katakan selalu main, padahal aku berpacu dalam waktu setiap pulang, agar cepat tiba dirumah. Aku pun mendapatkan hukuman tak di beri uang jajan saat sekolah.

Tubuhku yang harusnya diberikan gizi yang cukup. Tampaknya menunjukkan sesuai apa yang aku makan. Sehari hanya makan dengan porsi sedikit juga kadang aku sering makan satu kali sehari karena melakukan kesalahan, aku selalu mengutamakan ibu. Entah kenapa aku lebih kuat merasa lapar daripada mendengar ibu berteriak lirih minta makan. Dengan tubuh kurus aku masih setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah. Menyapu, membersihkan halaman rumah, melipat pakaian. Tetapi anehnya bunda tak pernah memerintahkan aku masak. Sehingga aku tak tahu cara masak, sayur. Hanya memasak nasi dan menggoreng telur dan mie instan keahlian ku. Aku nyaris tidak pernah menyunggingkan senyum di luaran. Sulit untuk tersenyum, bahkan ketika berbicara pada orang lain aku tak berani menatap matanya. Setiap detik aku selalu di rundung rasa takut, malu dan rendah diri. Karena hampir setiap teman di sekolah suka menjaga jarak dari ku karena katanya aku anak orang gila. Aku bahkan duduk selalu memilih di bagian belakang, tapi lagi dan lagi Vya hadir sebagai sahabat ku. Hanya dengan nya aku berani menatap wajah dan tertawa. Walau kadang awalnya aku merasakan Vya berteman dengan aku karena aku selalu juara kelas. Namun ternyata tidak. Itu aku buktikan ketika aku akan naik ke jenjang SMP.

Saat aku mendapatkan hukuman, aku tak dapat uang jajan dan ongkos sekolah. Aku pun harus pulang pergi sekolah berjalan kaki. Kembali sahabat ku Vya menjadi penyelamat. Saat pergi sekolah ia selalu mengajak ku bersama, pulang sekolah teman ku itu ikut berjalan kaki. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh sekitar 2 kg.Ia selalu membawa bekal lebih, maka saat pulang sekolah perut ku terisi, maka porsi ku bisa ku berikan pada ibu jika dirumah. Vya tahu kondisi ku karena aku kadang menangis, ia juga sering bertanya kenapa rambut ku bau, atau baju ku kumal. Ia baru tahu jika aku mencuci sendiri, rambut ku tak pernah ku sampo pakai shampo tapi pakai sabun mandi. Tak pernah ada shampo. Di kamar mandi akan ada shampo jika ada ayah dirumah.

Saat pulang sekolah, Vya bertanya pada ku apakah rencana ku kedepan.

“Apa rencana mu Ndis? Kata Pak Alwi kamu menolak tawaran untuk ikut tes di SMA Negeri Nusa.” Tanya Vya seraya menatap ujung aspal yang cukup panas.

“Aku belum tahu Vy, sepertinya ayah lebih percaya Bunda. Aku tak diizinkan untuk sekolah jauh dari rumah, alasannya biaya dan ibu. Jika aku ikut sekolah yang jauh, ibu ku sama siapa? Aku tidak mungkin pulang sore hari, andai nenek masih hidup mungkin aku bisa menitipkan pada nenek.” Ucap ku sedih.

“Jangan sedih, kamu anak yang berprestasi di sekolah. Ikut yang jalur beasiswa, tapi yaitu tesnya terpaksa di luar kota.” Ucap Vya memberi ku semangat. Aku memang selalu juara kelas, tetapi kembali biaya dan ibu menjadi alasan ku. Rasanya tak mungkin meninggalkan ibu hanya di rawat oleh Bunda. Saat ada aku saja Bunda jelas-jelas kadang berlaku kasar dan tidak manusiawi pada ibu. Kini aku juga tahu kenapa ayah tak menceraikan ibu, karena susah mengurus nya. Belum lagi jika ketauan beristri dua, ayah akan diberhentikan. Maka selama ini aku dan ibu hanya dijadikan alat agar gaji ayah utuh dan tidak berhenti bekerja.

Satu alasan yang tak bisa aku ikut masuk ke sekolah Favorit dan bagus lewat jalur beasiswa,ibu ku. Aku tak mungkin membiarkan ibu sendiri di rumah rasa neraka itu. Aku tinggal sedikit lagi berjuang lalu bebas dari rumah yang selama ini bak tahanan bagi ibu.

“Aku mungkin sementara akan fokus pada sekolah dan ibu, siapa tahu ayah mengizinkan aku kuliah nanti ketika SMA.” Ucap ku seraya menghela napas panjang.

“Aku akan selalu berdoa untuk mu, tetap semangat ya Ndis. Akan ada Pelangi setelah hujan lebat.” Ucap Vya seraya mengepalkan tangannya. Ku paksakan untuk melengkungkan sudut bibir, karena aku tak ingin Vya juga ikut sedih jika ia tahu bahwa aku begitu ingin sekolah di SMA favorit. Apalagi pak Alwi mengatakan jika aku pasti masuk karena dapat jalur prestasi. Paradigma ku jika harus sukses aku harus kuliah. Maka satu harapan ku nanti ketika besar, aku akan kuliah. Kami berpisah di persimpangan, ku lambaikan tangan ku. Sesuatu pasti sedang menanti ku dirumah. Betul saja, karena pulang terlambat, ada demo di depan kantor bupati tadi membuat aku harus mencari jalan pintas bersama Vya.

Saat tiba dirumah aku tak menemukan ibu ku. Saat ku dengar suara tawa ibu di belakang rumah, ternyata ibu ada di belakang rumah. Ibu sedang memakan ubi mentah, tangan dan mulutnya penuh tanah. Aku berlari menuju ibu, ku rebut ubi mentah di tangan ibu lalu ku buang ke sembarang arah. Ku dekap ibu seraya menangis tersedu-sedu diiringi suara pintu yang di banting oleh Bunda, aku yakin malam ini aku dan ibu kembali  harus tidur di teras belakang rumah lagi, tanpa selimut tanpa Kasur atau bantal hanya beralasan lantai keramik.

“Malam ini kamu tidur di luar,Ibu mu memecahkan kaca tadi! Bikin susah saja kenapa kalian tidak mati saja!” Teriak Bunda dari balik pintu.

“Braakkk!”

“Ibu…. Ibu… Hiks… Ibu… Gendhis sayang Ibu… Gendhis tak akan meninggalkan Ibu… hiks.. hiks…” tangis ku pecah dalam pelukan ibu, aku memeluk erat tubuh ibu karena ia masih ingin meraih ubi mentah yang tinggal separuh di sebelah ku.

‘Ya Allah… kapan semua ini berakhir… beri aku kesempatan untuk merubah takdir ku… kuatkan hamba ya Allah….’ Cicit Gendhis dalam hatinya.

Terpopuler

Comments

💗vanilla💗🎶

💗vanilla💗🎶

tdk bs berkata2 .. duh gendis

2024-06-27

0

💤

💤

parah banget

2024-02-15

2

Lia Pave

Lia Pave

/Sob//Sob//Sob/segitu kejamnya ibu tiri kasian gendis

2024-02-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!