Matahari menyapu seluruh permukaan bumi dengan sengatnya yang membuat wajah ku di penuhi keringat, Aku mempercepat Langkah ku. Karena pukul sudah menunjukkan jam 2 siang. Aku mengkhawatirkan ibu, karena hanya aku yang akan memberikan makan ibu, Bunda mana mau memberikan makan. Kalau itu terjadi bisa ku pastikan nasi nya pasti sisa atau kalau pun tidak sisa itu pasti hanya nasi putih. Jika aku pulang terlambat, ibu akan marah karena kelaparan dan kembali berakhir dengan ibu akan tidur di teras belakang rumah. Aku tak memperdulikan panggilan sahabat ku Vya.
“Ndis…. Gendhis… tunggu!” Panggil Vya.
Aku hanya menoleh tanpa menghentikan Langkah ku.
“Ada apa Vy? Aku harus cepat pulang. Kamu tahu sendiri jika nenek sihir itu akan kembali menghukum aku dan ibu ku jika ibu buat ulah, termasuk pulang terlambat.” Ucap ku.
Aku kembali focus pada jalan yang ada di depan ku, tiba-tiba tas ransel ku ditarik Vya. Aku pun terhenyak karena mendadak berhenti.
“Ini, pagi tadi ibu ku buat banyak. Ibu bilang ini kasih buat kamu.” Ucap Vya dengan napas tersengal-sengal. Ia membuka tas ransel ku tanpa menunggu persetujuan ku. Ku lirik itu seperti klecok. Sebuah makanan yang di bungkus daun pisang dan isinya yaitu ketan dan pisang diberi kelapa muda. Aku menarik sudut bibir ku.
“Terima kasih sampaikan pada ibu mu…” Ucap ku seraya mengangguk.
Satu tepukan pada Pundak ku membuat kami tertawa sebelum berpisah di perempat gang.
“Sana.. buruan. Ntar mak lampirnya berubah jadi gerandong… kamu bisa dimakan, hehehe..” Goda Vya.
Aku pun mengangguk, ingin sekali aku memeluk Vya sebagai ucapan terima kasih. Tapi aku sulit sekali untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan sayang ku pada orang lain. Mungkin karena sering diperlakukan kasar oleh Bunda. Aku jadi sangat sulit untuk menunjukkan rasa sayang pada sahabat ku itu. Vya adalah sahabat sedari kecil. Ia bisa tahu apa yang aku rasakan tanpa harus aku ceritakan. Kini aku sudah duduk di kelas 6. Aku tumbuh menjadi anak yang tertutup dan minder.
Saat Langkah ku kian dekat dengan rumah dimana aku di dilahirkan, aku memperlambat langkah ku seraya memandangi rumah itu.
‘Andai ibu tak ada, mungkin aku sudah meninggalkan rumah ini dari lama. Semua demi ibu, aku harus bertahan. Aku tak mungkin meninggalkan ibu seorang diri di neraka itu.’ Batin ku.
Baru saja aku tiba di depan teras suara rintihan dari ibu membuat aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam.
“Aduh,, sakit.. ampun… ampun…” Suara ibu dengan memelas.
“Kamu! Sudah bisa mencuri ya! Dasar orang gila! Sini, sini kamu tahu rasa kamu!” Teriak Bunda diiringi suara pukulan.
Mata ku merah, rahang ku mengeras. Aku tidak terima ibu ku diperlakukan semena-mena. Aku mendorong tubuh Bunda sekuat tenaga hingga ia terdorong ke arah kulkas. Kali ini aku tak ingin lagi diam, sudah cukup puluhan tahun aku bersabar. Selama ini semua perlakuannya aku terima karena setiap ancamannya jika aku melawan ia akan meracuni ayah dan ibu ku. Tapi hari ini, aku melihat ia memukul ibu ku! Aku tidak terima, jika selama ini ibu sering makan nasi sisa atau bahkan makan nasi tanpa lauk pauk hanya diberi cabe utuh, aku masih hanya mampu menangis dalam diam, tapi kini tidak!
Aku menatap Bunda dengan tatapan nyalang, aku membusungkan dada.
“Anak Setan! Berani kamu melawan ya! Sudah bisa melawan kamu ya!” Teriak Bunda. Bahkan gagang sapu yang ia arahkan ke arah aku dan ibu ku tahan.
“Cukup! Cukup Bunda! Selama ini aku bersabar, sekarang bunda sudah keterlaluan!” Teriak ku seraya menghempaskan sapu yang tadi dipakai bunda untuk memukul ibu. Ku tarik ibu masuk ke kamar. Tampak dahi ibu ku berdarah, hidungnya juga berdarah. Ku usap darah tersebut dengan sapu tangan. Ku kecup kedua tangan ibu berkali-kali.
“Bu.. sabar ya bu… ibu yang sabar… Gendhis janji nanti setelah gendhis berhasil dan sukses. Kita akan pergi dari sini ya bu..” Ucap ku pada ibu.
Ibu tidak menangis justru dari bibirnya hanya kata lapar yang keluar. Hati ku selalu terasa perih saat pulang sekolah hanya mendengar suara lirih ibu menyenandungkan kata lapar. Ku buka tas ransel yang berisi klecok pemberian Vya. Ibu memakan dengan lahap. Aku bahkan menarik klecok tersebut dari tangan ibu. Karena ibu memakan dengan kulit pisangnya.
“Bu.. ini kulitnya. Jangan di makan…” Ucap ku seraya membuang daun pisang dengan cepat lalu di rebut ibu. Ibu tampak kelaparan sekali. Aku selalu merasa berdosa saat pulang terlambat, namun mau bagaiamana lagi. Ayah tak pernah dirumah, ayah berada kerja di Kalimantan dan akan pulang dua bulan sekali. Ayah tak pernah percaya ucapan ku. Seperti akhir bulan ini, saat ayah pulang Bunda mengadu pada Ayah jika aku pulang sekolah selalu mampir-mampir dulu. Aku bahkan di katakan selalu main, padahal aku berpacu dalam waktu setiap pulang, agar cepat tiba dirumah. Aku pun mendapatkan hukuman tak di beri uang jajan saat sekolah.
Tubuhku yang harusnya diberikan gizi yang cukup. Tampaknya menunjukkan sesuai apa yang aku makan. Sehari hanya makan dengan porsi sedikit juga kadang aku sering makan satu kali sehari karena melakukan kesalahan, aku selalu mengutamakan ibu. Entah kenapa aku lebih kuat merasa lapar daripada mendengar ibu berteriak lirih minta makan. Dengan tubuh kurus aku masih setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah. Menyapu, membersihkan halaman rumah, melipat pakaian. Tetapi anehnya bunda tak pernah memerintahkan aku masak. Sehingga aku tak tahu cara masak, sayur. Hanya memasak nasi dan menggoreng telur dan mie instan keahlian ku. Aku nyaris tidak pernah menyunggingkan senyum di luaran. Sulit untuk tersenyum, bahkan ketika berbicara pada orang lain aku tak berani menatap matanya. Setiap detik aku selalu di rundung rasa takut, malu dan rendah diri. Karena hampir setiap teman di sekolah suka menjaga jarak dari ku karena katanya aku anak orang gila. Aku bahkan duduk selalu memilih di bagian belakang, tapi lagi dan lagi Vya hadir sebagai sahabat ku. Hanya dengan nya aku berani menatap wajah dan tertawa. Walau kadang awalnya aku merasakan Vya berteman dengan aku karena aku selalu juara kelas. Namun ternyata tidak. Itu aku buktikan ketika aku akan naik ke jenjang SMP.
Saat aku mendapatkan hukuman, aku tak dapat uang jajan dan ongkos sekolah. Aku pun harus pulang pergi sekolah berjalan kaki. Kembali sahabat ku Vya menjadi penyelamat. Saat pergi sekolah ia selalu mengajak ku bersama, pulang sekolah teman ku itu ikut berjalan kaki. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh sekitar 2 kg.Ia selalu membawa bekal lebih, maka saat pulang sekolah perut ku terisi, maka porsi ku bisa ku berikan pada ibu jika dirumah. Vya tahu kondisi ku karena aku kadang menangis, ia juga sering bertanya kenapa rambut ku bau, atau baju ku kumal. Ia baru tahu jika aku mencuci sendiri, rambut ku tak pernah ku sampo pakai shampo tapi pakai sabun mandi. Tak pernah ada shampo. Di kamar mandi akan ada shampo jika ada ayah dirumah.
Saat pulang sekolah, Vya bertanya pada ku apakah rencana ku kedepan.
“Apa rencana mu Ndis? Kata Pak Alwi kamu menolak tawaran untuk ikut tes di SMA Negeri Nusa.” Tanya Vya seraya menatap ujung aspal yang cukup panas.
“Aku belum tahu Vy, sepertinya ayah lebih percaya Bunda. Aku tak diizinkan untuk sekolah jauh dari rumah, alasannya biaya dan ibu. Jika aku ikut sekolah yang jauh, ibu ku sama siapa? Aku tidak mungkin pulang sore hari, andai nenek masih hidup mungkin aku bisa menitipkan pada nenek.” Ucap ku sedih.
“Jangan sedih, kamu anak yang berprestasi di sekolah. Ikut yang jalur beasiswa, tapi yaitu tesnya terpaksa di luar kota.” Ucap Vya memberi ku semangat. Aku memang selalu juara kelas, tetapi kembali biaya dan ibu menjadi alasan ku. Rasanya tak mungkin meninggalkan ibu hanya di rawat oleh Bunda. Saat ada aku saja Bunda jelas-jelas kadang berlaku kasar dan tidak manusiawi pada ibu. Kini aku juga tahu kenapa ayah tak menceraikan ibu, karena susah mengurus nya. Belum lagi jika ketauan beristri dua, ayah akan diberhentikan. Maka selama ini aku dan ibu hanya dijadikan alat agar gaji ayah utuh dan tidak berhenti bekerja.
Satu alasan yang tak bisa aku ikut masuk ke sekolah Favorit dan bagus lewat jalur beasiswa,ibu ku. Aku tak mungkin membiarkan ibu sendiri di rumah rasa neraka itu. Aku tinggal sedikit lagi berjuang lalu bebas dari rumah yang selama ini bak tahanan bagi ibu.
“Aku mungkin sementara akan fokus pada sekolah dan ibu, siapa tahu ayah mengizinkan aku kuliah nanti ketika SMA.” Ucap ku seraya menghela napas panjang.
“Aku akan selalu berdoa untuk mu, tetap semangat ya Ndis. Akan ada Pelangi setelah hujan lebat.” Ucap Vya seraya mengepalkan tangannya. Ku paksakan untuk melengkungkan sudut bibir, karena aku tak ingin Vya juga ikut sedih jika ia tahu bahwa aku begitu ingin sekolah di SMA favorit. Apalagi pak Alwi mengatakan jika aku pasti masuk karena dapat jalur prestasi. Paradigma ku jika harus sukses aku harus kuliah. Maka satu harapan ku nanti ketika besar, aku akan kuliah. Kami berpisah di persimpangan, ku lambaikan tangan ku. Sesuatu pasti sedang menanti ku dirumah. Betul saja, karena pulang terlambat, ada demo di depan kantor bupati tadi membuat aku harus mencari jalan pintas bersama Vya.
Saat tiba dirumah aku tak menemukan ibu ku. Saat ku dengar suara tawa ibu di belakang rumah, ternyata ibu ada di belakang rumah. Ibu sedang memakan ubi mentah, tangan dan mulutnya penuh tanah. Aku berlari menuju ibu, ku rebut ubi mentah di tangan ibu lalu ku buang ke sembarang arah. Ku dekap ibu seraya menangis tersedu-sedu diiringi suara pintu yang di banting oleh Bunda, aku yakin malam ini aku dan ibu kembali harus tidur di teras belakang rumah lagi, tanpa selimut tanpa Kasur atau bantal hanya beralasan lantai keramik.
“Malam ini kamu tidur di luar,Ibu mu memecahkan kaca tadi! Bikin susah saja kenapa kalian tidak mati saja!” Teriak Bunda dari balik pintu.
“Braakkk!”
“Ibu…. Ibu… Hiks… Ibu… Gendhis sayang Ibu… Gendhis tak akan meninggalkan Ibu… hiks.. hiks…” tangis ku pecah dalam pelukan ibu, aku memeluk erat tubuh ibu karena ia masih ingin meraih ubi mentah yang tinggal separuh di sebelah ku.
‘Ya Allah… kapan semua ini berakhir… beri aku kesempatan untuk merubah takdir ku… kuatkan hamba ya Allah….’ Cicit Gendhis dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
💗vanilla💗🎶
tdk bs berkata2 .. duh gendis
2024-06-27
0
💤
parah banget
2024-02-15
2
Lia Pave
/Sob//Sob//Sob/segitu kejamnya ibu tiri kasian gendis
2024-02-07
1