Aku duduk di kamarku dengan ponsel di tanganku. Hatiku berdebar-debar saat aku memutuskan untuk menelpon ayah. Aku membutuhkan bantuan keuangan untuk biaya pendaftaran kuliah jalur beasiswa. Dengan ragu, aku menekan nomor ayah dan menunggu panggilan diangkat.
"Halo, Ayah," sapaku dengan suara lembut.
"Halo,. Ada apa Ndis? Ayah sedang di jalan, ada perlu apa?" jawab ayahku dengan sedikit berteriak, tampak suara orang yang sedang berbicara dengan bahasa yang tak aku mengerti.
Aku menggigit bibirku, lalu dengan ragu, aku meminta bantuan.
"Ayah, maaf mengganggu. Apakah Ayah bisa membantu Gendhis dengan uang? Gendhis diterima untuk kuliah jalur beasiswa Yah, tapi untuk di awal harus bayar uang pendaftarannya separuh." Ucap ku pelan. Alih-alih senang mendengar anaknya mendapatkan beasiswa ayah justru menanyakan perihal beasiswa ku, lagi dan lagi aku mendapatkan perlakuan yang justru mematikan karakter ku untuk maju dan berkembang dari ayah.
“Beasiswa kok harus bayar di muka, kamu itu jangan terlalu polos nanti penipuan dan kamu habis uang terus kuliahnya bodong.” UCap Ayah dengan begitu entengnya, ia tak tahu perjuangan ku untuk mendapatkan kesempatan ini.
“Semuanya hanya sepuluh juta rupiah sampai wisuda Yah, sisa nya bisa di cicil sampai wisuda, tapi di awal harus bayar 5 juga. Gendhis malu kalau harus pinjam sama tempat yayasan Gendhis.” Jelas ku pada Ayah.
“Ya suruh kamu kuliah siapa, dari dulu ayah sudah bilang tidak usah kuliah. Kerja saja, terus ibu kamu itu ga usah kamu urus. Kamu bilang sudah di taruh di yayasan kenapa juga masih setiap bulan ayah harus bantu. Satu lagi ini ayah sudah urus surat cerai untuk ibu kamu. Nanti jika sudah ada dari pengadilan ayah minta kamu jangan persulit urusan ayah untuk berpisah dengan ibu kamu.
Dada ku bergemuruh, hati penuh dengan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan. Ayahku baru saja memberitahuku bahwa ia ingin bercerai dengan ibuku. Rasanya seperti dunia yang hancur di depan mataku. Aku tidak pernah menduga bahwa ayahku, orang yang selama ini aku anggap sebagai satu-satunya yang bisa menjadi bersandar justru kini juga akan pergi meninggalkan aku. Kembali Allah seakan ingin memberikan aku pelajaran bahwa bukan Ayah yang mencukupi kebutuhan ku tapi Allah, Ayah hanya perantara untuk rezeki aku dan ibu selama ini. Kini ayah memutuskan untuk meninggalkan ibuku. Aku merasa terkhianati, bukan hanya oleh ayahku, tetapi juga oleh perasaan kepercayaan dan keutuhan keluarga yang selama ini aku pegang erat.
Tidak, ibu adalah pilar kekuatan ku sejak aku masih kecil. Meskipun ibu memiliki keterbatasan sebagai orang dengan disabilitas, aku tak akan menyerah hanya karena kini aku harus kembali menerima kabar buruk. Setiap orang punya masadepan dan masalalu, dan aku saat ini sedang mengukir masalalu ku untuk masadepan, terlepas indah atau tidaknya masadepan ku. Sejak aku masih kecil, aku tahu bahwa ibu memiliki kebutuhan khusus. Namun, hal itu tidak pernah menjadi penghalang bagiku untuk mencintainya. Aku belajar untuk menjadi tangguh dan mandiri, membantu ibu dalam segala hal yang aku bisa. Aku merawatnya, menjaganya, dan memberikan dukungan yang tak tergoyahkan dalam hidup kami. Hingga kini aku sudah sampai di titik saat dimana aku memiliki kesempatan untuk satu langkah lebih dekat dengan impian ku, kuliah lalu mencari pekerjaan yang layak dan tentu menjadi orang yang mapan, itulah mimpi indah ku sedari dulu.
Aku menarik napas dalam sebelum mengulangi apa yang baru saja ayah ucapkan.
“Apakah ayah tidak memikirkan masadepan ku, berkali-kali ayah melukai aku dan ibu.” Ucap ku dengan suara penuh emosi.
Dengan nada yang terdengar sinis, ayah justru menjawab apa yang aku ucapkan dengan satu oktaf lebih tinggi dari nada bicaranya.
“Jangan berlagak seperti kamu tahu segalanya, Gendhis. Ibumu tidak pantas mendapatkan perlakuan lebih baik. Aku sudah cukup sabar selama ini.” Ucap ayah dengan entengnya.
Aku mulai merasa putus asa.
“Ayah, apakah ibu tak begitu berarti lagi hingga kini ayah mencampakkan ibu? Ibu seperti ini juga karena ayah bukan?” ucap ku penuh emosi.
“Kamu terlalu muda untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ayah tidak perlu nasihat mu!” Ucap ayah.
“Hiks… Ayah, aku hanya ingin kamu tahu betapa sulitnya bagi kami berdua, terutama ibu, untuk menerima keputusan ini. Aku harap kamu bisa memikirkan ulang dan mencoba mencari solusi yang lebih baik.” UCap ku dengan suara gemetar.
“Ini adalah solusi terbaik buat ayah, kamu dan ibu kamu. Titik!”
Tuuut…Tuuut…. Tuuttt.
Sambungan telepon terputus. Aku merasa terjebak ditengah-tengah konflik ini. Saat aku sedang menangis dengan telepon yang aku letakkan di meja, Vya muncul di ambang pintu dengan tas ransel laptopnya. Aku memeluknya, pundak sahabat ku ini betul-betul menjadi pelipur lara. Aku menangis sesenggukan di pelukan Vya, ia tak berani bertanya apa gerangan terjadi, ketika puas air mata ku membasahi pipi hingga jilbab tosca miliknya, ia baru berani bertanya perihal apa yang membuat aku menangis sejadi-jadinya ditengah kabar bahwa aku harusnya bahagia. Aku menceritakan pada Vya apa yang baru saja terjadi. Kamu harus belajar menerima kenyataan, Gendhis. Ini adalah hidup, dan tidak semuanya berjalan sesuai keinginanmu. Cukup berhenti dengan drama ini.
“Kamu harus belajar menerima kenyataan, Gendhis. Ini adalah hidup, dan tidak semuanya berjalan sesuai keinginanmu. Cukup berhenti dengan drama ini.” Ucap Vya seraya mengenggam kedua tangan ku.
Aku tahu bahwa aku harus menjadi kuat untuk ibuku. Aku harus memberikan dukungan yang tak tergoyahkan dan keberanian untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti. Aku akan tetap menjadi anak yang berbakti pada ibuku, menjaganya, dan menciptakan kebahagiaan dalam hidup kami. Meskipun aku merasa terluka dan kecewa, aku tidak akan membiarkan perasaan itu menghancurkan diriku. Aku akan membangun kehidupan baru bersama ibuku, menghadapi tantangan dengan keberanian, dan menjaga keutuhan keluarga kami sekuat yang aku bisa. Dengan hati yang hancur dan pikiran yang kacau, Aku merasa putus asa. Setelah percakapan yang penuh konflik dengan ayah, aku merasa terjebak di dalam situasi yang tidak ada jalan keluar. Air mata mengalir di pipi saat aku duduk sendirian di kamarnya. Aku merasa kehilangan dan tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan selanjutnya. Aku merenung tentang bagaimana keluarga ku bisa berakhir seperti ini. Rasa marah dan kesedihan yang memenuhi hati ku, dan membuat aku merasa terjebak dalam keputusan dan perasaan yang bertentangan.
Dalam keputusasaannku, Vya adalah tempat lain yang selalu bisa memberiku semangat. Vya mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan dukungan dan pengertian. Dia menghibur ku, memberikan nasihat bijak, dan meyakinkan aku bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan ini.
"Dia mungkin tidak menyadari sejauh mana perbuatannya mempengaruhi kita, Gendhis," kata Vya dengan lembut. "Tetapi kita akan melewati ini bersama-sama. Kita akan mencari kekuatan dalam diri kita dan menemukan cara untuk menjalani hidup yang lebih baik. Kita pakai jalur pusat." Ucap Vya dengan menirukan logat Gus Idham, salah satu ustad Favorit untuk orang yang seperti aku ini. Lebih banyak merasa susahnya daripada senangnya. Aku tersenyum melihat gaya dan logat yang dibuat-buat oleh Vya. Ku cubit hidungnya. Mendengar kata-kata Vya, aku merasa sedikit lega. Vya adalah sumber cinta dan dukungan yang tak tergantikan bagiku. Aku merasa didengar dan dihargai oleh Vya, yang memberi ku harapan bahwa ada cahaya di ujung terowongan yang gelap ini.
Dalam keputusasaan ku, aku menyadari bahwa aku tidak sendirian. Aku memiliki Vya yang selalu ada untuk ku,ia sahabat dan kuanggap keluarga yang peduli, yang siap mendukung ku, entah bagaiamana aku membalas semua kebaikan sahabat ku ini. Meskipun situasinya sulit, aku tahu aku memiliki kekuatan untuk bangkit dan mencari solusi yang lebih baik.
Dengan tekad yang baru ditemukan, Aku berjanji pada diri ku sendiri bahwa aku tidak akan menyerah. Aku akan mencari cara untuk membawa perubahan positif dalam hidup ku, menciptakan kebahagiaan baru bagi diri ku dan orang-orang yang mencintaiku.
Dengan pikiran yang lebih tenang dan hati yang penuh harapan, Aku mengucapkan terima kasih pada Vya atas dukungan dan cinta yang tak tergantikan.
“TErimakasih Vy,” ucap ku, saat ia sibuk mengeluarkan laptopnya dari dalam tas ransel berwarna hitam.
“Berjanjilah untuk tetap kuat kita akan Bersama-sama melewati semua kesulitan yang ada.” Ucap Vya seraya mengerlingkan matanya.
Aku pun mengepalkan tangan berusaha untuk tetap menunjukkan senyum ku padahal hati ku hancur, aku tak ingin sahabat ku merasa sia-sia memberikan semangat jika aku masih bersedih. Aku mengambil berkas untuk di isi di data yang akan di kumpulkan besok ke Universitas tempat aku akan kuliah.
“Jika hari ini kita sahabat, besok kita akan tetap sahabat kan Vya. Kita akan bersahabat seperti kupu-kupu. Jika jadi kepompong kita bisa Bersama, nanti ketika sudah punya sayap yang indah kita akan tetap bersahabat kan?” Ucap ku pada Vya.
“Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat hingga dia bersinar lagi…” Ucap Vya seraya menggerak-gerakkan kepalanya mengikuti irama lagu yang ia mainkan dari laptop miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
sahabat dunia akhirat si vya
lanjut
2024-02-01
3
Sugiharti Rusli
aamiin, karena sahabat terbaik ada di saat kita susah dan tidak memiliki apa"🤲💞💞
2023-10-30
2
muthia
jgn ada cinta segi tiga di antara mereka 🙏
2023-08-12
0