Bab 3 Aku Putus Asa

Waktu silih berganti, kini aku sudah duduk dibangku SMA. Tak terasa aku sudah menjelma menjadi seorang gadis yang manis, Vya sering memanggil ku dengan panggilan 'Gendhis manis, jangan menangis'. Tak terasa persahabatan kami sudah menginjak usia 11 tahun. Hari ini adalah pengumuman siswa-siswi yang bisa ikut jalur tes beasiswa siswa berprestasi di perguruan tinggi negeri.

Dengan langkah gontai aku perlahan menuju rumah, jika Vya merasa bahagia karena ia bisa ikut tes jalur beasiswa. Aku justru harus kembali merayu ayah agar diperbolehkan untuk ikut seleksinya. Karena harus datang ke lokasi yang sudah di tentukan, tepat berada di provinsi sebelah wilayah domisili ku. Malam hari saat ayah sedang duduk menonton televisi dengan adik ku, dengan sedikit keberanian ku sampaikan maksud tujuan ku untuk kuliah jalur beasiswa. Mumpung ayah sedang berada dirumah.

“Yah, kemarin wali kelas Gendhis memberikan undangan untuk tes beasiswa di Bandung. Boleh Gendhis ikut?” Tanya ku dengan takut-takut. Aku tak berani menatap ayah karena di sisinya ada Bunda.

“Gendhis, kalau kamu kuliah siapa yang rawat ibu mu. Kasihan Bunda kalau kamu kuliah di luar kota. Kondisi ekonomi keluarga kita juga sedang tidak stabil syukur ayah masih bekerja karena lagi ada pengurangan karyawan.” Tolak ayah ku.

“Kalau  begitu Gendhis boleh kuliah di kota ini saja Yah?” Tanya ku.

“Kamu itu, kalau mimpi jangan tinggi-tinggi! Mikir, ayah kamu ini masih karyawan kontrak! Gajinya mana cukup buat kebutuhan sehari-hari kalau kamu mau kuliah juga! Kamu kerja saja sudah tamat SMA ini. Ibu mu itu setiap bulan saja obatnya mahal! Adik-adik mu juga masih sekolah, butuh biaya!" Bentak Bunda.

Ayah hanya diam, entah harus berapa kali Ayah lebih menuruti keinginan Bunda. Mungkin cinta ayah pada ibu dan aku sudah terkikis sehingga semua yang dikatakan Bunda menjadi sebuah keputusan di dalam rumah ini. Malam hari aku hanya memeluk ibu yang hanya menatap langit-langit kamar.

“Kapan ibu sembuh Bu… cepat sembuh biar kita bisa pergi dari rumah ini…” Gumam ku seraya menyisir rambut ibu. Aku pun malam ini hanya mampu menahan rasa kecewa pada Ayah. Andai ibu sehat mungkin aku sudah lama pergi dari rumah, tapi melihat ibu dengan kondisi sekarang tak mungkin membuat aku menjadi orang egois.

 

Hari-hari ku lalui dengan sabar, usai hari kelulusan. Aku sudah diterima bekerja di salah satu rumah makan padang. Aku bekerja di bagian cuci piring dan kadang bagian bersih-bersih ayam. Dari sekian lowongan pekerjaan aku lebih memilih bekerja di rumah makan ini. Karena banyak pertimbangan. Aku harus mencari lokasi bekerja yang dekat rumah, agar waktu makan siang aku bisa pulang sekedar melihat kondisi ibu dan memberi ibu makan siang lalu kembali bekerja. Bunda tak mungkin memberi makan ibu. Kalau pun iya aku tahu nasi apa yang diberikan, kadang sisa makan si Kembar yang diberikan pada ibu. Disamping itu aku bertekad mengumpulkan uang untuk mendaftar kuliah tahun depan. Tekad ku sudah kuat dan bulat, aku harus menjadi Wanita yang kuat. Aku harus kuliah, apapun caranya. Aku hanya tertuju pada kuliah bagaimana pun caranya. Karena bagi ku hanya kesuksesan ku adalah balas dendam terindah untuk ibu tiri ku.

Suatu sore aku tersenyum dengan mengayunkan langkah kaki untuk pulang kerumah. Angin berhembus cukup kencang karena hari mau hujan. Aku setengah berlari pulang. Aku ingin memeluk Ibu. Aku ingin menceritakan pada ibu bahwa aku diterima bekerja dan bisa pulang di siang hari. Seperti sore ini, aku boleh membawa pulang jatah makan siang ku. Menunya rendang sapi, satu menu yang mungkin amat jarang aku dan ibu ku makan. Hari ini adalah hari ulang tahun ibu. Aku akan membiarkan ibu menghabiskan satu bungkus nasi padang dengan rendang sapi ini untuk ibu. Saat tiba di dalam rumah, aku terkejut karena melihat ibu terikat di atas tempat tidur. Kaki dan tangannya terikat. Namun saat aku baru akan membuka ikatan tersebut Bunda muncul seraya melemparkan satu  tas ke arah kami.

“Jangan kamu lepaskan ibu mu! Buang saja ibu mu di jalan! Dia baru saja menyerang  Raka, untung warga cepat datang tadi jika tidak bisa mati aku dan anak-anak ku!” Bentak Bunda.

Aku berdiri dan menatap tajam Bunda, sudah ingin aku tarik rambut perempuan itu. Persetan dengan semua apa yang akan ia lakukan. Sudah cukup ibu disakiti hanya alasan jika ibu menyakiti dia. Andai ibu diberikan obat rutin ibu tak akan mengamuk. Akan tetapi sudah setengah tahun ini biaya untuk obat ibu dikurangi alasannya aku sudah bekerja, padahal aku sedang mengumpulkan uang untuk kuliah. Baru aku akan menarik rambut Bunda, namun pintu di kunci dari luar. Hari ini menjadi hari di mulai untuk aku menjadi perempuan kuat. Ayah pulang dan memberikan kabar bahagia bagi dirinya. Ia naik pangkat dan menjadi karyawan tetap dengan semua fasilitas mewah. Ia harus ke Kalimantan bersama Bunda dan dua adik kembar ku. Aku yang sudah terlanjur mendaftar di salah satu kampus harus berjuang agar tetap di kota ini.

“Aku tidak mau pindah dari sini,” Tolak ku.

“Gendhis. Kenapa kamu selalu keras kepala!” Teriak ayah.

Aku sudah tak takut lagi, kini aku sudah dewasa. Aku akan mencoba keluar dari zona nyaman dan aman. Demi ibu, demi masa depan ku.

“Aku mau daftar kuliah yang jadwalnya sabtu dan minggu. Aku akan bayar kuliah sendiri. Aku tidak mau pergi dari sini. Jika memang pindah, ayah harus izinkan aku kuliah.” Ucap ku tegas. Aku sudah yakin Ayah dan Bunda lebih memilih aku tinggal disini daripada ikut mereka ke Kalimantan. Itu kenapa aku bersikeras, bagi ku ini kesempatan berpisah dengan monster yang bernama Bunda. Entah kenapa Bunda tak sedikit pun menganggap ku anak. Ada Malika teman SMA ku yang sering bercerita jika ibu sambungnya baik sekali. Tetapi aku, memang sudah takdir ku bertemu ibu sambung seperti Bunda.

Ayah menggebrak meja, mukanya merah. Ia menatap aku dengan tatapan tak suka.

“Kamu, susah diatur. Dari dulu kamu dan ibu mu itu sama. Sama-sama keras dan susah diatur! Terserah, ayah akan tetap pindah. Kamu akan tinggal sendiri jika tetap ingin disini. Kamu cari rumah lebih kecil. Ayah tak sanggup beri biaya jika tetap mengontrak disini.

Aku pun mencari kontrakan yang dekat dengan tempat kerja dan kampus. Akhirnya aku menemukan satu tempat yang cukup murah dan strategis. Masalah tampaknya terus saja datang menghampiri, pagi buta rumah ku kedatangan beberapa warga. Ku pikir ada apa.

“Maaf mbak, jujur selama satu minggu mbak tinggal disini, kami terganggu. Ibu mbak sering berteriak dan bernyanyi di malam hari. Kami terganggu untuk istirahat.” Ucap salah seorang ketua RT yang mewakili warga yang tampak emosi.

“Anak saya harus terjaga terus setiap malam semenjak mbak tinggal disini. Ibu mbak mengganggu!” Teriak lelaki berambut gondrong.

Dengan susah payah aku harus mencari tempat baru. Namun sore hari aku melihat rumah ku sudah ramai. Hati ku tak karuan, ternyata saat aku tiba di dalam rumah. Ibu ku diikat di terali. Ibu ternyata keluar rumah dan menyerang warga. Aku marah dan mengusir warga yang ada di rumah ku dengan wajah merah padam.

“Pergi! Pergi kalian semua! Saya akan pergi dari sini! Kurang ajar kalian! Dia ibu ku!” Teriak ku. Aku memukul pintu yang kini aku tutup paksa. Dada ku sesak sekali, bahkan saat aku membuka tali yang mengikat ibu. Ibu beberapa kali memukul tubuhku.Sekuat tenaga aku menahan ibu dan kembali ku ikat ibu. Aku berlari ke kamar, aku mencari obat yang tinggal satu butir. Berharap ibu segera sadar.

Ku buka semua laci bahkan isinya ku tumpahkan ke lantai untuk mencari pil tersebut, namun tak ku temukan. Hingga saat ku raba-raba atas lemari aku menemukan satu pil yang terbungkus. Aku cepat membuka dan membuka pintu kamar, ibu kembali menyerang ku, beruntung tubuh ku cukup besar. Ku dekap ibu dan aku paksa dari posisi belakang ibu agar ibu bisa menelan pil tersebut. Ketika berhasil, aku kembali mengurung diri di kamar. Aku hampir satu jam berada di kamar. Setelah tak terdengar suara ibu membanting barang. Aku keluar, kulihat ibu terkapar di lantai. Tangannya telah luka karena memukul sembarang benda, kakinya juga terluka karena menginjak serpihan kaca. Aku memeluk ibu dan ku bersihkan luka di tubuhnya, mungkin obat penenang itu baru bereaksi.

“Hiks… Hiks… Dia ibu ku… aku tidak akan membiarkan ibu sendiri. Tunggulah Gendhis bisa sukses bu, Gendhis akan berikan ibu perawatan medis. Ya Tuhan.. apakah mati adalah pilihan?” Gumam ku menatap seutas tali dan mendongak ke arah langit-langit kamar.

'Aku sudah tidak kuat lagi ya Allah menjalani hidup ini...'

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

💤

💤

berat banget sihh

2024-02-15

2

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

yg sabar y dhis.aq bacane pake nangis lo thor.😭😭😭😭😭
lanjut

2024-01-31

2

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

apa yang ibunya Ghendis alami memang pernah ada di lingkungan sekitar kita yah, istilahnya kalo obatnya habis pasti akan jadi agresif orangnya😔😔😔

2023-10-30

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!