Waktu silih berganti, kini aku sudah duduk dibangku SMA. Tak terasa aku sudah menjelma menjadi seorang gadis yang manis, Vya sering memanggil ku dengan panggilan 'Gendhis manis, jangan menangis'. Tak terasa persahabatan kami sudah menginjak usia 11 tahun. Hari ini adalah pengumuman siswa-siswi yang bisa ikut jalur tes beasiswa siswa berprestasi di perguruan tinggi negeri.
Dengan langkah gontai aku perlahan menuju rumah, jika Vya merasa bahagia karena ia bisa ikut tes jalur beasiswa. Aku justru harus kembali merayu ayah agar diperbolehkan untuk ikut seleksinya. Karena harus datang ke lokasi yang sudah di tentukan, tepat berada di provinsi sebelah wilayah domisili ku. Malam hari saat ayah sedang duduk menonton televisi dengan adik ku, dengan sedikit keberanian ku sampaikan maksud tujuan ku untuk kuliah jalur beasiswa. Mumpung ayah sedang berada dirumah.
“Yah, kemarin wali kelas Gendhis memberikan undangan untuk tes beasiswa di Bandung. Boleh Gendhis ikut?” Tanya ku dengan takut-takut. Aku tak berani menatap ayah karena di sisinya ada Bunda.
“Gendhis, kalau kamu kuliah siapa yang rawat ibu mu. Kasihan Bunda kalau kamu kuliah di luar kota. Kondisi ekonomi keluarga kita juga sedang tidak stabil syukur ayah masih bekerja karena lagi ada pengurangan karyawan.” Tolak ayah ku.
“Kalau begitu Gendhis boleh kuliah di kota ini saja Yah?” Tanya ku.
“Kamu itu, kalau mimpi jangan tinggi-tinggi! Mikir, ayah kamu ini masih karyawan kontrak! Gajinya mana cukup buat kebutuhan sehari-hari kalau kamu mau kuliah juga! Kamu kerja saja sudah tamat SMA ini. Ibu mu itu setiap bulan saja obatnya mahal! Adik-adik mu juga masih sekolah, butuh biaya!" Bentak Bunda.
Ayah hanya diam, entah harus berapa kali Ayah lebih menuruti keinginan Bunda. Mungkin cinta ayah pada ibu dan aku sudah terkikis sehingga semua yang dikatakan Bunda menjadi sebuah keputusan di dalam rumah ini. Malam hari aku hanya memeluk ibu yang hanya menatap langit-langit kamar.
“Kapan ibu sembuh Bu… cepat sembuh biar kita bisa pergi dari rumah ini…” Gumam ku seraya menyisir rambut ibu. Aku pun malam ini hanya mampu menahan rasa kecewa pada Ayah. Andai ibu sehat mungkin aku sudah lama pergi dari rumah, tapi melihat ibu dengan kondisi sekarang tak mungkin membuat aku menjadi orang egois.
Hari-hari ku lalui dengan sabar, usai hari kelulusan. Aku sudah diterima bekerja di salah satu rumah makan padang. Aku bekerja di bagian cuci piring dan kadang bagian bersih-bersih ayam. Dari sekian lowongan pekerjaan aku lebih memilih bekerja di rumah makan ini. Karena banyak pertimbangan. Aku harus mencari lokasi bekerja yang dekat rumah, agar waktu makan siang aku bisa pulang sekedar melihat kondisi ibu dan memberi ibu makan siang lalu kembali bekerja. Bunda tak mungkin memberi makan ibu. Kalau pun iya aku tahu nasi apa yang diberikan, kadang sisa makan si Kembar yang diberikan pada ibu. Disamping itu aku bertekad mengumpulkan uang untuk mendaftar kuliah tahun depan. Tekad ku sudah kuat dan bulat, aku harus menjadi Wanita yang kuat. Aku harus kuliah, apapun caranya. Aku hanya tertuju pada kuliah bagaimana pun caranya. Karena bagi ku hanya kesuksesan ku adalah balas dendam terindah untuk ibu tiri ku.
Suatu sore aku tersenyum dengan mengayunkan langkah kaki untuk pulang kerumah. Angin berhembus cukup kencang karena hari mau hujan. Aku setengah berlari pulang. Aku ingin memeluk Ibu. Aku ingin menceritakan pada ibu bahwa aku diterima bekerja dan bisa pulang di siang hari. Seperti sore ini, aku boleh membawa pulang jatah makan siang ku. Menunya rendang sapi, satu menu yang mungkin amat jarang aku dan ibu ku makan. Hari ini adalah hari ulang tahun ibu. Aku akan membiarkan ibu menghabiskan satu bungkus nasi padang dengan rendang sapi ini untuk ibu. Saat tiba di dalam rumah, aku terkejut karena melihat ibu terikat di atas tempat tidur. Kaki dan tangannya terikat. Namun saat aku baru akan membuka ikatan tersebut Bunda muncul seraya melemparkan satu tas ke arah kami.
“Jangan kamu lepaskan ibu mu! Buang saja ibu mu di jalan! Dia baru saja menyerang Raka, untung warga cepat datang tadi jika tidak bisa mati aku dan anak-anak ku!” Bentak Bunda.
Aku berdiri dan menatap tajam Bunda, sudah ingin aku tarik rambut perempuan itu. Persetan dengan semua apa yang akan ia lakukan. Sudah cukup ibu disakiti hanya alasan jika ibu menyakiti dia. Andai ibu diberikan obat rutin ibu tak akan mengamuk. Akan tetapi sudah setengah tahun ini biaya untuk obat ibu dikurangi alasannya aku sudah bekerja, padahal aku sedang mengumpulkan uang untuk kuliah. Baru aku akan menarik rambut Bunda, namun pintu di kunci dari luar. Hari ini menjadi hari di mulai untuk aku menjadi perempuan kuat. Ayah pulang dan memberikan kabar bahagia bagi dirinya. Ia naik pangkat dan menjadi karyawan tetap dengan semua fasilitas mewah. Ia harus ke Kalimantan bersama Bunda dan dua adik kembar ku. Aku yang sudah terlanjur mendaftar di salah satu kampus harus berjuang agar tetap di kota ini.
“Aku tidak mau pindah dari sini,” Tolak ku.
“Gendhis. Kenapa kamu selalu keras kepala!” Teriak ayah.
Aku sudah tak takut lagi, kini aku sudah dewasa. Aku akan mencoba keluar dari zona nyaman dan aman. Demi ibu, demi masa depan ku.
“Aku mau daftar kuliah yang jadwalnya sabtu dan minggu. Aku akan bayar kuliah sendiri. Aku tidak mau pergi dari sini. Jika memang pindah, ayah harus izinkan aku kuliah.” Ucap ku tegas. Aku sudah yakin Ayah dan Bunda lebih memilih aku tinggal disini daripada ikut mereka ke Kalimantan. Itu kenapa aku bersikeras, bagi ku ini kesempatan berpisah dengan monster yang bernama Bunda. Entah kenapa Bunda tak sedikit pun menganggap ku anak. Ada Malika teman SMA ku yang sering bercerita jika ibu sambungnya baik sekali. Tetapi aku, memang sudah takdir ku bertemu ibu sambung seperti Bunda.
Ayah menggebrak meja, mukanya merah. Ia menatap aku dengan tatapan tak suka.
“Kamu, susah diatur. Dari dulu kamu dan ibu mu itu sama. Sama-sama keras dan susah diatur! Terserah, ayah akan tetap pindah. Kamu akan tinggal sendiri jika tetap ingin disini. Kamu cari rumah lebih kecil. Ayah tak sanggup beri biaya jika tetap mengontrak disini.
Aku pun mencari kontrakan yang dekat dengan tempat kerja dan kampus. Akhirnya aku menemukan satu tempat yang cukup murah dan strategis. Masalah tampaknya terus saja datang menghampiri, pagi buta rumah ku kedatangan beberapa warga. Ku pikir ada apa.
“Maaf mbak, jujur selama satu minggu mbak tinggal disini, kami terganggu. Ibu mbak sering berteriak dan bernyanyi di malam hari. Kami terganggu untuk istirahat.” Ucap salah seorang ketua RT yang mewakili warga yang tampak emosi.
“Anak saya harus terjaga terus setiap malam semenjak mbak tinggal disini. Ibu mbak mengganggu!” Teriak lelaki berambut gondrong.
Dengan susah payah aku harus mencari tempat baru. Namun sore hari aku melihat rumah ku sudah ramai. Hati ku tak karuan, ternyata saat aku tiba di dalam rumah. Ibu ku diikat di terali. Ibu ternyata keluar rumah dan menyerang warga. Aku marah dan mengusir warga yang ada di rumah ku dengan wajah merah padam.
“Pergi! Pergi kalian semua! Saya akan pergi dari sini! Kurang ajar kalian! Dia ibu ku!” Teriak ku. Aku memukul pintu yang kini aku tutup paksa. Dada ku sesak sekali, bahkan saat aku membuka tali yang mengikat ibu. Ibu beberapa kali memukul tubuhku.Sekuat tenaga aku menahan ibu dan kembali ku ikat ibu. Aku berlari ke kamar, aku mencari obat yang tinggal satu butir. Berharap ibu segera sadar.
Ku buka semua laci bahkan isinya ku tumpahkan ke lantai untuk mencari pil tersebut, namun tak ku temukan. Hingga saat ku raba-raba atas lemari aku menemukan satu pil yang terbungkus. Aku cepat membuka dan membuka pintu kamar, ibu kembali menyerang ku, beruntung tubuh ku cukup besar. Ku dekap ibu dan aku paksa dari posisi belakang ibu agar ibu bisa menelan pil tersebut. Ketika berhasil, aku kembali mengurung diri di kamar. Aku hampir satu jam berada di kamar. Setelah tak terdengar suara ibu membanting barang. Aku keluar, kulihat ibu terkapar di lantai. Tangannya telah luka karena memukul sembarang benda, kakinya juga terluka karena menginjak serpihan kaca. Aku memeluk ibu dan ku bersihkan luka di tubuhnya, mungkin obat penenang itu baru bereaksi.
“Hiks… Hiks… Dia ibu ku… aku tidak akan membiarkan ibu sendiri. Tunggulah Gendhis bisa sukses bu, Gendhis akan berikan ibu perawatan medis. Ya Tuhan.. apakah mati adalah pilihan?” Gumam ku menatap seutas tali dan mendongak ke arah langit-langit kamar.
'Aku sudah tidak kuat lagi ya Allah menjalani hidup ini...'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
💤
berat banget sihh
2024-02-15
2
sitimusthoharoh
yg sabar y dhis.aq bacane pake nangis lo thor.😭😭😭😭😭
lanjut
2024-01-31
2
Sugiharti Rusli
apa yang ibunya Ghendis alami memang pernah ada di lingkungan sekitar kita yah, istilahnya kalo obatnya habis pasti akan jadi agresif orangnya😔😔😔
2023-10-30
3