Bab 13 Allah kembali menguji ku

Sembari mendengarkan lantunan ayat demi ayat yang dibacakan dari HP yang berasal dari dalam masjid dengan sambungan speaker, ku lihat beberapa lelaki sedang tertidur di dalam. Ada yang sibuk tengkurap seraya bermain ponsel, ada yang menutup wajah dengan jaket ada yang duduk bersandar dan terpejam. Ku lihat dari posisi ku yang sedang duduk bersandar pada tiang salah satu masjid yang menjadi tempat aku dan Arya memutuskan untuk berhenti sejenak dalam mencari ibu 15 menit lagi masuk waktu Dzuhur. Kini aku tahu kenapa Vya selalu menceritakan kekagumannya dengan teman satu kampung ku dulu, karena selain bertubuh tinggi, hidung mancung. Ia terlihat seperti lelaki yang sholehah.

Ada sesuatu yang menyusup kedalam bilik hati ku, aku khawatir jika Vya tahu bahwa satu hari ini aku dan Arya berjalan bersama bukan pacaran atau bergandeng tangan memang. Kami bahkan nyaris tak ada komunikasi selama mencari ibu, Arya bahkan tak menatap ku, ia berusaha mencuri pandang. Entah aku yang terlalu PD atau memang Arya menaruh rasa pada ku. Saat adzan telah di kumandangkan, aku pun bergegas mengambil wudhu lalu ikut masuk dan berdiri di barisan shaf beberapa perempuan yang terlihat membawa mukenah sendiri. Aku mengenakan satu mukenah yang di berikan oleh Vya sebagai hadiah ulang tahun ku tahun lalu, sebuah mukenah terusan. Aku dulu mengatakan padanya mukenah ini lebih mirip pocong. Untung warnanya bukan putih, dan itu membuat Vya terkekeh.

Saat selesai shalat dan bergegas membaca doa, aku kembali ke teras masjid. Bagi ku kini putaran waktu begitu berarti. Aku ingin satu detik pun tak terbuang untuk hanya duduk, aku ingin segera menemukan ibu, bahkan saaat selesai salam tadi aku hanya berdoa agar Allah mempertemukan aku dengan ibu. Aku yang terlalu fokus pada pikiran ku tidak sadar jika satu botol air mineral diserahkan Arya tepat di hadapan ku.

“Ndak baik ngelamun.” Ucap Arya.

Aku tersipu malu karena ia ternyata dari tadi menyerahkan botol tersebut, namun aku tak sadar. Pikiran ku tertuju pada ibu, sehingga mata dan otak ku tak merespon jika Arya menyerahkan minuman tersebut kepada ku.

“Kita coba berpencar saja bagaimana? Nanti kalau ketemu kita saling kontak. Dan nanti kita ketemuan dimana, biar lebih efisien.” Ucap Arya.

Aku pun mengangguk, ku lirik lelaki yang tengah menenggak minuman yang ia beli sama untuk nya. TErlihat jakunnya bergerak karena menenggak air mineral tersebut. Wajah yang cukup tampan dan teduh. Aku jadi ingat ketika dulu aku dan ibu dulu sering tidur di teras belakang rumah, dari balik tembok akan ada kantong kresek yang berisi air putih yang di isi di dalam botol mineral dan beberapa makanan. Pelakunya adalah Arya dan ibunya, mereka tetangga tepat di sebelah rumah ku dulu.

“Terima kasih untuk semua kebaikan kamu dan ibu kamu selama ini.” UCap ku polos. Kami berbicara tanpa saling tatap. Aku menghadap ke arah gerbang masjid yang cukup megah, Arya yang duduk di samping ku merespon ucapan ku.

“Tidak perlu berterima kasih, sudah tugas kita sesama manusia saling tolong menolong. Dulu aku sering sekali ingin mengajak mu sekedar bermain, tapi tampaknya masa kecil mu terlalu menyeramkan, ibu ku sering berpesan jangan pernah ajak kamu main, nanti kamu dimarah bunda mu dan mendapatkan hukuman. Kamu tahu, dulu aku sering naik bak mandi di kamar mandi ku untuk melihat apakah malam hari kamu dan ibu mu tidur di teras dapur.” Kenang Arya.

Ah, ternyata sedari kecil ia adalah teman bayangan. Ku pikir selama ini Bu Iin lah yang selalu berbaik hati, tapi nyatanya ia adalah yang berperan penting setiap air dan setiap makanan yang akan datang dari balik tembok dengan seutas tali rapiyah yang mengikat makanan dan minuman setiap aku tidur di teras dapur karena ibu bikin ulah.

“Kamu perempuan hebat,” Ucap Arya tulus.

Aku menoleh, namun tanpa sengaja Arya pun menoleh ke arah ku. Jantung ku berdegup kencang. Aku melihat kedua netra Arya memuji ku dengan tulus. Ia cepat membuang wajah ke arah sepeda motor miliknya.

“Ayo, aku tidak mau berlama-lama. Kasihan ibu kalau terjadi apa-apa,” Ajak ku, kami pun berpisah di masjid Ar Rahman. Aku ke arah perumahan warga sedangkan Arya kembali ke arah pasar, tempat kemarin aku berkeliling. Kini pikiran justru bertambah pusing, bagaiamana jika betul Arya menaruh hati pada ku. Bagaiamana perasaan sahabat ku yang dalam diam mengagumi Arya.

‘Satu-satu Ndis, mana mungkin juga Arya suka sama kamu.Dia mungkin hanya kasihan karena kondisi kamu bukan suka seperti layaknya anak muda.’ Batin ku mencoba menolak logika yang sibuk dengan terkaan dari tatapan Arya tadi. Saat aku sudah berkeliling masuk keluar gang dan sesekali bertanya pada orang-orang yang aku jumpai, namun jawabannya masih sama. Tak ada yang melihat ibu. Tiba-tiba suara ponsel dari saku celana ku. Aku melihat di layar ponsel terdapat nomor ibu pemilik warung semalam yang sempat meminta dan bertukar nomor. Aku cepat mendial tombol hijau ke arah atas.

“Ya Bu,” Ucap ku.

“Nak Gendhis, ini ibu kamu ada. Saya tahan sama suami saya di rumah saya. Ini nanti biar ngomong langsung sama anak saya saja ya… biar dia yang bimbing nak Gendhis untuk menjemput ibu nak Gendhis.” Ucap Ibu yang tertulis di layar bernama ibu Halimah.

Hati ku langsung merasakan bahagia, walau aku belum melihat kondisi ibu. Aku sudah senang karena ibu berhasil ditemukan oleh orang baik. Aku menghubungi Arya namun nomornya sibuk. Aku pun mengirimkan sharelock yang di kirim oleh ibu Halimah ke pada Arya.

{Aku ke alamat ini, ada yang bilang ibu ketemu. Sekarang dirumahnya.}

Pesan ku masih contang 1 dan aku pun segera mencari ojek yang mangkal di dekat aku berdiri. Seorang lelaki ojek pangkalan pun segera memberikan satu helm ke padaku. Ku tunjukan alamat yang ingin aku tuju. Aku pun menghidupkan google map agar bisa mengikuti arah petunjuk alamat tersebut. Namun aku justru merasa aneh saat tukang ojek tersebut justru belok kiri padahal suara dari google mengatakan bahwa kami harusnya lurus saja.

“Kok belok bang?” Protes ku.

“Maaf mbak, ini saya ambil jalur cepat ke arah yang mbak tuju.” UCapnya.

Aku hanya manut karena aku sendiri tak paham lokasi disini. Aku hampir tak pernah berjalan-jalan. Untuk yang namanya bioskop saja aku belum pernah masuk kesana karena memang selain alasan uang, alasan waktu ku yang tak punya untuk hal-hal untuk menyenangkan diri ku sendiri. Hanya ibu, bekerja dan mencari cara agar bisa lanjut kuliah hanya tiga hal itu yang menjadi fokus ku. Namun menit berganti menit, aku melihat justru semakin menjauh dari tempat yang dituju. Aku juga merasa mentari mulai akan terbenam sehingga waktu cukup gelap dan yang membuat aku mulai merasa tak nyaman, lelaki yang mengenakan baju lengan pendek ini terus saja menggesek kan bo kongnya ke arah kedua paha ku. Aku pun mendorong dan memukul punggungnya.

Bugh!

Bugh!

“Apa-apan sih Bang! Mau mesum ya!” TEriak dan bentak ku yang tak nyaman saat aku merasakan ia sengaja melakukan itu. Ku pikir ia hanya membenarkan posisi duduknya namun ketika untuk kedua kalinya ia melakukan hal itu. Aku sudah tidak bisa mentolerir. Ia justru tertawa dan semakin mempercepat kendaraannya.

“Berhenti!” TEriak ku.

Seketika rasa takut menyeruak kedalam hati ku.

“Sabar mbak, setelah ini aku akan mengajak mbak menikmati surga dunia. Jangan sombong deh Mbak, nanti saya bayar deh. Cukup deh buat beli skincare…hehehe.” UCapnya seraya kembali melakukan hal yang tak senonoh kepada ku. Aku tak pikir panjang, ku gigit pundaknya dan ku dorong ia. Kami pun terjatuh di tepi jalan, kami berdua tertimpa sepeda motornya. Sialnya kaki kanan ku terkena knalpot. Rasanya perih dan sakit. Lelaki yang merupakan tukang ojek tadi justru terlihat biasa saja seraya memegang bekas gigitan ku tadi.

“Mau main gigit-gigitan ya mbak, baik. Saya ajarin cara gigit yang benar… Tapi jangan disini.”Ucapnya.

Seketika aku semakin takur, aku berteriak sekeras mungkin untuk meminta pertolongan.

“Tolooong! Tolooong! Tolong saya mau diper ko sa!” TEriak ku.

Apalah daya, aku terlalu bodoh. Aku yang tak paham lokasi. Tukang Ojek gila ini sudah merencanakan dari awal sepertinya sehingga ia membawa ku ke arah sini. Ia mengikat kedua tangan ku dengan ikat pinggangnya. Ia juga menutup mulut dan mata ku rapat dengan selendangnya, bau keringat busuknya membuat aku ingin muntah rasanya. Entah kemana ia menarik ku, namun dari kaki ku, aku merasakan jika aku dibawah ketempat yang tak ada orang. Karena aku dapat merasakan jika banyak rerumputan atau ranting mengenai kaki yang terkena knalpot tadi.

‘Ya Allah… cobaan apalagi yang akan aku terima kali ini. Selamatkan aku dari lelaki ini ya Allah. Bagaimana nasib ibu jika aku kenapa-kenapa.’ Ucap ku, kain yang berbau busuk yang kini menutup mata ku telah basah karena air mataku. Terdengar suara seperti sebuah papan yang dipijak.

“Tolong… jangan apa-apakan saya…” pinta ku pada lelaki yang sedang dirasuki iblis untuk memuaskan nafsunya. Aku bahkan merasakan kini kedua tangannya sedang membuka celana jeans ku.

“Hiks… Hiks…. Tolong jangan lakukan itu pada ku… tolong… tolong, aku berjanji akan melakukan apapun asal aku tidak dinodai.” Bodohnya aku masih meminta sesuatu yang mustahil di kabulkan.

Aku meronta sekuat tenaga, satu tendangan aku lakukan tampaknya berhasil membuat lelaki itu tersungkur. NAmun malang tak dapat di elak. Aku justru di pukul menggunakan benda yang cukup keras di bagian kepala.

“Kurang ajar!”

Bugh!

Perih sekali rasanya di bagian kepala dan pelipis ku. Aku bisa merasakan ada cairan yang mengalir dari dahi ku. Aku hanya kembali bermunajat pada Allah di detik-detik aku masih bisa merasakan aliran da rah tersebut membasahi pipi hingga menetes ke bibir ku.

‘Terserah Engkau Rabb… mau seperti apalagi takdir setelah ini yang akan Kau berikan padaku, jika belum cukup memiliki ibu sakit, kini harus menjadi wanita yang tak suci… aku… aku…”

(Sabar mak, emak. Untuk menjadi pedang yang Tajam. Ia harus berkali-kali di panaskan dan di hantam oleh palu😍😍😍 Otw jadi pedang yang kuat dalan kehidupan ini ya Ndis)

Terpopuler

Comments

karissa 🧘🧘😑ditama

karissa 🧘🧘😑ditama

kalo part ini yah thor,kdang sngat2 wjar jika suatu hamba jdi merasa tak adil akn jlan hdup yg allah kehendaki,,bgmna mgkn krang sbar nya gendhis,sdah lelah mncri ibu ny ehh ktmu ojek kyk gtu pula bkankah stiap yg trjdi atas izin dan khndak yg kuasa,lalu knpa msih saja truuuusss diuji,,nnti kalo smpe gendhis diperkosa trus hamil ya elahh bner2 hidup kyak robot yg remot kontrol ny orang lain yg pegang,sdah psti hdup sprti itu bnar2 mmbuat suatu hamba berputus asa malah mati itu lbh mmbhgiakan dripda trus mnjlani hdup tpi sprti itu bntuk ny

2024-04-05

2

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

kayak gk berani buat baca lanjutane

2024-02-01

1

Dinda Indah

Dinda Indah

ya allah😭😭

2024-01-13

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!