Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar

Sebuah drama terjadi satu hari sebelum aku pulang. Ibu Vya dan Bu Sekar berebut ingin  membayar biaya selama aku di rawat di rumah sakit. Aku hanya diam membisu, aku khawatir justru salah bicara. Entahlah amat sulit bagi ku untuk mengemukakan pendapat ketika dihadapkan pada situasi dengan orang-orang baru. Siang ini Ziyah datang, tampaknya Vya begitu cepat akrab. Mereka bahkan terlihat membahas satu bab yang aku tak mengerti. Sepertinya Vya betul-betul menjelma menjadi perempuan Sholehah. Ia selalu mengenakan jilbab saat di luar rumah, belum lagi buku yang selalu ada di tasnya. Ia bilang ada banyak waktu yang terbuang jika tidak membawa buku. Ia sudah mengenakan kaca mata, maka satu alasannya lebih suka menggunakan buku sebagai media untuk memanfaatkan waktu senggangnya.

Bu Sekar sudah muncul dari balik pintu bersama ibu Vya. Terlihat dari tangannya terdapat sebuah amplop. Mungkin itu adalah hasil pemeriksaan ku beserta kwitansi pembayaran biaya selama aku di rawat di rumah sakit ini. Saat sudah hampir siang, ibu Vya undur diri begitu pun dengan Ziyah. Seorang anak bungsu dari Bu Sekar selalu datang hanya sekedar mengantar dan menjemput Ziyah atau ibunya. Seperti siang ini, ia datang hanya untuk menjemput Ziyah.

“Mak, Ziyah cari oleh-oleh dulu. Nanti biar langsung Ziyah kirim vya ekspedisi, jadi Mak dan Bapak ga repot untuk bawa oleh-olehnya.” Ucap perempuan yang begitu cantik walau ia selalu mengenakan baju kurung.

“Jangan banyak-banyak Nak, cukup berapa macam yang penting adil dan rata.” Ingat Bu Sekar pada putrinya. Selama 4 hari aku di sini, aku betul-betul iri pada keluarga kecil mereka. Ibu Sekar terlihat begitu lembut dan penyayang. Keluarga mereka penuh kehangatan, sedangkan aku sedari kecil tak menemukan apalagi mendapatkan hal itu di keluargaku. Aku bahkan tak diperlakukan selayaknya anak kecil saat aku berusia SD, semua pekerjaan berat yang harusnya dikerjakan bunda, semua aku yang kerjakan. Jika air PAM tak hidup, aku juga yang harus mengusung air tersebut menggunakan ember cat yang berisi 25 liter air, bahkan tangan ku terlihat urat-urat karena hampir sering melakukan hal itu sudah seperti orang angkat barbel. Ah, hanya ada kepedihan kala memori ke masa silam, nyaris taka da kenangan indah yang tertulis di masa kecil ku selain kepulangan ayah dari perusahaan karena aku pasti akan mendapatkan oleh-oleh coklat yang di dalamnnya ada kacang mete, belum lagi baju baru beberapa stel dan uang jajan yang cukup banyak. Namun itu hanya sesaat aku rasakan karena ayah selalu termakan hasutan bunda.

Lelaki yang harusnya aku rindukan, kini justru aku tak ingin menerima panggilan darinya. Ponsel ku berdering di nakas. Bu Sekar melirik layar yang menyala, ia meraih ponsel tersebut dan diberikannya pada ku. Namun aku justru menolak panggilan tersebut.

Kedua alis bu Sekar tertaut, ia mungkin menganggap aku tidak sopan karena mereject panggilan dari ayah. Aku tak perduli apa yang orang katakana, semua ini karena ayah. Jika ayah menyalahkan ibu yang begitu keras kepala karena dulu tak mau ikut ke lokasi perusahaan, sehingga karirnya terhambat. Aku bahkan selalu terngiang-ngiang kalimat ayah saat aku pernah minta untuk kuliah dan ayah tak setuju. Ia bahkan mengungkit masalalu nya.

“Kamu sama keras kepalanya dengan ibu mu, andai dulu ibu mu mau ikut ke lokasi perusahaan, ayah mungkin sekarang sudah jadi manager! Lihat sekarang teman-teman ayah sudah jadi orang kaya semua!” Bentak ayah penuh emosi kala itu.

“Kamu punya masalah dengan ayah mu Nak?” Tanya Bu Sekar yang membuyarkan lamunan ku. Aku menatap wajah penuh kelembutan itu. Aku cepat membuang pandangan ku, terlihat dari tempat ku jendela yang terbuka. Aku memandang langit biru yang menjelang sore, terlihat di langit tersebut dua buah layangan yang sedang berada di atas angin, tampaknya mereka sedang berlomba. Bu Sekar berjalan kea rah jendela kaca, ia tarik gorden yang hanya terbuka separuh. Ia berdiri di ambang jendela dan menatap layangan yang sedang terjadi tarik menarik.

“Nak Sekar, kira-kira layangan yang hijau atau merah ya yang akan menang? Tampaknya satu sama lain sedang berusaha memutuskan layangan lawannya.” Ucap Bu Sekar pada ku. Aku melihat layangan merah terbang lebih tinggi dari layangan hijau.

“Mungkin yang hijau bu, Karena akan mudah memutuskan benangnya jika lawan sedang diata.” Jawab ku.

Kedua netra ku mengikuti permainan layangan di atas udara, entah siapa yang bermain, mungkin anak-anak kecil karena tak jauh dari rumah sakit ini terdapat lapangan sepak bola milik kecamatan. Layangan merah memang terlihat semakin tinggi, dan sesekali ia turun namun layangan hijau justru selalu berusaha berada di bawah layangan merah. Sesekali layangan hijau bergesekan dengan layangan merah, namun layangan merah segera mengendurkan benangnya sehingga layangan hijau tak berhasil menggesek benang atau senar pada layangan merah.

“Bisa jadi merah bisa jadi hijau,” Ucap Bu Sekar. Ia tampak memegang jendela tersebut dan mengelap satu noda yang ada di jendela itu dengan menggunakan selembar tisu. Perempuan paruh baya ini betul-betul tak bisa diam, dari kemarin ia terlihat ada saja kegiatan, entah membaca buku, entah menyulam sehingga ia jarang kulihat tertidur ketika menemani aku. Namun hari ini aku betul-betul terpesona dengan perempuan paruh baya bernama Sekar Ayu Gumiwang ini. Ucapannya merasuk ke dalam sanubari ku, ia menasehati ku dengan cara yang begitu halus.

“Karena kita tidak tahu seberapa hebat yang memainkannya, tapi sehebat apapun pemain layangan tersebut. Ada Allah yang mantakdirkan layangan siapa yang akan putus. Seperti itu juga kehidupan kita nak Sekar, suka tidak suka kita dengan kondisi kita saat ini termasuk pada orang tua yang Allah pilihkan untuk kita bukan tentang orang tua kita yang tak baik, tapi lebih ke tentang Allah yang perintahkan kita untuk taat pada mereka.”Ucap Bu Sekar seraya mendekat dan duduk di sisi ku. Ia raih tangan ku dan menggenggammnya lembut.

“Ibu paham dari sorot mata mu, ibu paham dari kisah yang disampaikan oleh Ibu Vya kemarin. Perkara orang tua kita tidak bertanggungjawab sekalipun. Bahkan jika ia bukan muslim pun, kita harus patuh dan taat selagi tak bermaksiat pada Allah.” Jelas Bu Sekar.

Ia bahkan mengisahkan jika ada sebuah kisah bagaimana ada seorang perempuan yang begitu mulia hatinya.

“Ini bisa untuk memotivasi mu nak, ada seorang anak perempuan. Ketika ia dalam kandungan, ia akan di gugurkan karena ayah dan ibunya sama-sama tidak terikat dalam pernikahan. Dan karena Allah mentakdirkan janin itu lahir, ia pun tetap lahir walau tak dibesarkan oleh ayah dan ibu kandungnya. Bayangkan ketika masih janin ingin di gugurkan dan ketika lahir tak pernah di anggap anak juga tak pernah bertemu dengan ibunya, dan ketika dewasa, kedua orang tuanya di waktu yang sama membutuhkan dirinya, perempuan itu datang kepada kedua orang tuanya. Ia tetap berbakti dan memenuhi panggilan dari orang tuanya. Karena ia tahu bahwa Allah yang memerintahkan itu, kenapa Allah menjelaskan surga di bawah kaki ibu bukan redaksinya neraka jika tidak patuh pada ibu?” Tanya Bu Sekar di akhir penjelasannya tentang seorang anak yang tak mendapatkan hak nya dari kedua orang tua namun ia justru berbuat baik bukan karena ingin dianggap baik oleh manusia tapi karena ia tahu ilmunya, bahwa Allah memerintahkan taat pada orang tua.

Aku menjawab pertanyaan Bu Sekar dengan gelengan kepala.

“Karena Allah berharap agar kita lebih berkeingan surga, bukan kah Sebagian manusia mematuhi perintah

dan menjalankan kewajiban selama di muka bumi ini karena mengharapkan surga? Walau redaksinya hanya ibu, tapi ayah tetap di sebut di urutan ke empat kala sahabat bertanya pada rasulullah siapa orang yang harus menerima kebaikan akhlak kita.” Ucap Bu Sekar.

“Hiks… Hiks… Lantas apakah Allah sayang pada ku, sedari kecil aku selalu susah bu… cobaan datang

tak henti, selalu silih berganti.” Tangis ku pun akhirnya tak mampu ku bendung. Mungkin karena usapan dan tatapan mata penuh kasih sayang nan tulus dari Bu Sekar. Sehingga aku yang merasa sulit untuk menuangkan isi hati pada orang asing justru bisa berani menangis dengan terisak di hadapannya. Ia belai rambutku. Ia tepuk-tepuk punggung tangan ku seraya memberikan aku motivasi untuk tetap semangat menjalani kehidupan ini.

“Allah sayang pada setiap hambanya, termasuk kamu. Coba kamu lihat, tubuh mu lengkap. Kemarin Allah kasih kamu cobaan bertemu orang jahat, bukan Allah benci atau ingin menyiksa mu. Mungkin ada sebab ada akibat.” Ucap Bu Sekar.

Aku menatap kedua netranya dalam.

“Allah membuat kami tersesat agar bertemu nak Gendhis. Sehingga anak saya Halim bisa membuat lelaki tersebut lari tunggang langgang. Allah itu Maha Penyayang tapi jangan kita lihat dari mat akita, karena sulit jika hati belum bersih, hati belum bisa tawadhu. Tapi semua bis ajika belajar dan di latih.” Ucap Bu Sekar. Ibu jarinya menyapu bagian bawah mata ku. Ia usap pelan dan lembut.

“Kamu tahu Nak, kenapa harga pisang goreng yang di jual di pinggir jalan dan pisang yang di jual di tempat mewah atau restoran bisa berbada jauh harganya? Bahkan dari pakaian orang yang memakan saja terlihat sekali perbedaan, kalau kata anak muda zaman sekarang keren-keren.” Canda Bu Sekar yang menarik sudut bibirnya. Kedua bibir ku menyunggingkan senyuman karena mendengar guyonan ibu dari dua anak ini.

“Pisang goreng di pinggir jalan, dari jauh aja orang udah bisa lihat itu bentuknya dan seberapa enaknya kira-kira rasa pisang goreng yang di jual di pinggir jalan. Tapi kalau di restoran, kita Cuma di lihatin menu atau gambarnya aja dulu, cocok sama harga dan lihat menunya, pesan baru makan. Begitu juga kita perempuan, kita kadang minta di hormati tapi kadang kita lupa menjaga kehormatan kita sendiri.” Ucap Bu Sekar seraya menarik handuk kecil yang menjadi alas leher ku, aku menggunakannya untuk mudah mengelap keringat. Ia menarik handuk itu sedikit ke atas.

“Kejadian kemarin, mungkin pakaian nak Gendhis yang menarik lelaki yang sulit mengendalikan hawa nafsunya Nak, maafkan ibu, bukan berarti anak ibu sudah baik karena berkerudung. Tetapi pakaian yang Gendhis kenakan kemarin memang cukup menarik mata untuk kau madam, anak ibu yang mondok dari SMP saja kemarin bisa ibu lihat betapa muka nya berbeda saat ibu minta dia bantu kamu untuk naik ke dalam mobil, karena kami hanya menemukan satu mobil dengan pak tua saat membawa nak Gendhis ke rumah sakit.” Ucap Bu Sekar hati-hati. Dari nada nya bicara, ia tampak hati-hati agar aku tak tersinggung.

Aku memang mengingat celana jeans favorit ku. Aku memang menyukai celana itu karena bahannya yang lembut dan Langkah ku juga lebih cepat daripada menggunakan rok. Mungkin karena ketatnya pakaian yang aku kenakan maka lelaki kemarin justru bertindak tidak senonoh pada ku. Aku terpekur merenungkan apa yang di ucapkan Bu Sekar barusan.

“Bu, tapi akhlak saya belum baik. Saya justru lebih khawatir jika saya berkerudung malah menjelekkan perempuan berkerudung lainnya karena akhlak saya yang belum bak.” Elak ku karena sadar bahwa Bu Sekar berharap aku bisa menutup aurat.

“ibu rasa, ibu belum menemukan redaksi jika menutup aurat itu khusus mereka yang berakhlak baik. kewajiban itu tidak lantas hilang dan gugur. Bahkan Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûmiddîn mengemukakan keadaan dimana bisa kita renungkan sebagai seorang Muslimah yang masih ragu-ragu untuk menutup aurat karena merasa masih suka bermaksiat. 'Jika seorang pemuda memperkosa wanita berhijab, kemudian wanita itu membuka hijabnya, lalu oleh si pemuda ditegur dan disuruh kenakan lagi. Lantas, bagaimanakah dengan hukum teguran si pemuda ini?' Beliau menjawab, 'Terkadang kebenaran itu terasa buruk oleh tabiat dan kebatilan terasa baik bagi watak. Hukum pemuda tadi menegur Muslimah tersebut adalah wajib. Karena membuka aurat di depan pemuda yang tidak halal melihatnya adalah maksiat, sementara mencegah orang lain bermaksiat adalah sebuah kebenaran.'." Ucap Bu Sekar, tampaknya ia bisa melihat bahwa aku sedang merasa butuh siraman rohani, Bu Sekar kembali melanjutkan pencerahannya tentang jilbab atau kerudung.

"Lihat dari kisah tadi ada seorang pemuda yang sedang bermaksiat dengan memperkosa wanita berhijab,ia tetap memiliki kewajiban untuk melarang korbannya membuka aurat karena itu adalah tindakan maksiat. Jadi bermaksiat sama sekali tidak menjadi alasan untuk tidak melaksanakan sebuah kewajiban. Karena itu jangan berpikiran jika  dirini ini masih suka bermaksiat, seperti nyinyirin orang, dan lain sebagainya dijadikan alasan agar kita tidak ingin atau malu untuk menjalani kewajiban menutup aurat dan berhijab.Sama seperti shalat, walau sakit pun tetap harus shalat." Kalimat terakhir ibu Sekar kembali menohok hati ku, aku selama di rumah sakit tak shalat, ilmu ku terlalu cetek untuk urusan agama, aku belum tahu caranya shalat dengan tangan ada selang infus. Sungguh sebuah musibah ada hikmahnya, inilah hikmah kejadian kemarin. Aku akhirnya bisa memantapkan diri setelah hampir satu minggu bersama keluar bu Sekar. Perempuan paruh baya itu tampaknya begitu lembut dan begitu sabar, ia adalah seorang yang membuat aku mantap untuk menjadi lebih baik, saat aku keluar dari rumah sakit, aku pun mengenakan hijab dan baju yang di hadiahkan oleh Bu Sekar, satu orang yang pertama melihat ku dengan penampilan baru tentu sahabat ku, Vya.

"Masyaallah... kamu cantik dengan penampilan baru mu Ndis, semangat untuk menjadi lebih baik. Selama ini sampai berbuih aku mengajak mu berhijab, tak berhasil. Seminggu di rumah sakit kamu justru hijrah..." Pekik bahagia Vya seraya memeluk tubuh ku.

"Aku tidak ke Madinah, aku masih di Indonesia Vy..." Canda ku karena tak ingin ikut meneteskan air mata, sahabat ku itu selalu mampu membuat aku melupakan sejenak rasa di hati, rasa rindu pada ibu,

'Ibu.. pagi ini Gendhis akan bertemu ibu, Gendhis rindu ibu, kangen ibu.' rindu begitu menyeruak dalam hati ku.

Terpopuler

Comments

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

alhamdulilah pasti ad sebuah pelajaran/pembelajaran untuk merubah diri ke arah yg lebih baik setelah ad musibah
lanjut

2024-02-01

3

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

lagi nyeritain ziyah ni mak sekar

2024-02-01

2

Kustri

Kustri

justru kita berhijab memacu u/ jd lbh baik, selain menutup aurat

2023-12-12

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!