Sebuah drama terjadi satu hari sebelum aku pulang. Ibu Vya dan Bu Sekar berebut ingin membayar biaya selama aku di rawat di rumah sakit. Aku hanya diam membisu, aku khawatir justru salah bicara. Entahlah amat sulit bagi ku untuk mengemukakan pendapat ketika dihadapkan pada situasi dengan orang-orang baru. Siang ini Ziyah datang, tampaknya Vya begitu cepat akrab. Mereka bahkan terlihat membahas satu bab yang aku tak mengerti. Sepertinya Vya betul-betul menjelma menjadi perempuan Sholehah. Ia selalu mengenakan jilbab saat di luar rumah, belum lagi buku yang selalu ada di tasnya. Ia bilang ada banyak waktu yang terbuang jika tidak membawa buku. Ia sudah mengenakan kaca mata, maka satu alasannya lebih suka menggunakan buku sebagai media untuk memanfaatkan waktu senggangnya.
Bu Sekar sudah muncul dari balik pintu bersama ibu Vya. Terlihat dari tangannya terdapat sebuah amplop. Mungkin itu adalah hasil pemeriksaan ku beserta kwitansi pembayaran biaya selama aku di rawat di rumah sakit ini. Saat sudah hampir siang, ibu Vya undur diri begitu pun dengan Ziyah. Seorang anak bungsu dari Bu Sekar selalu datang hanya sekedar mengantar dan menjemput Ziyah atau ibunya. Seperti siang ini, ia datang hanya untuk menjemput Ziyah.
“Mak, Ziyah cari oleh-oleh dulu. Nanti biar langsung Ziyah kirim vya ekspedisi, jadi Mak dan Bapak ga repot untuk bawa oleh-olehnya.” Ucap perempuan yang begitu cantik walau ia selalu mengenakan baju kurung.
“Jangan banyak-banyak Nak, cukup berapa macam yang penting adil dan rata.” Ingat Bu Sekar pada putrinya. Selama 4 hari aku di sini, aku betul-betul iri pada keluarga kecil mereka. Ibu Sekar terlihat begitu lembut dan penyayang. Keluarga mereka penuh kehangatan, sedangkan aku sedari kecil tak menemukan apalagi mendapatkan hal itu di keluargaku. Aku bahkan tak diperlakukan selayaknya anak kecil saat aku berusia SD, semua pekerjaan berat yang harusnya dikerjakan bunda, semua aku yang kerjakan. Jika air PAM tak hidup, aku juga yang harus mengusung air tersebut menggunakan ember cat yang berisi 25 liter air, bahkan tangan ku terlihat urat-urat karena hampir sering melakukan hal itu sudah seperti orang angkat barbel. Ah, hanya ada kepedihan kala memori ke masa silam, nyaris taka da kenangan indah yang tertulis di masa kecil ku selain kepulangan ayah dari perusahaan karena aku pasti akan mendapatkan oleh-oleh coklat yang di dalamnnya ada kacang mete, belum lagi baju baru beberapa stel dan uang jajan yang cukup banyak. Namun itu hanya sesaat aku rasakan karena ayah selalu termakan hasutan bunda.
Lelaki yang harusnya aku rindukan, kini justru aku tak ingin menerima panggilan darinya. Ponsel ku berdering di nakas. Bu Sekar melirik layar yang menyala, ia meraih ponsel tersebut dan diberikannya pada ku. Namun aku justru menolak panggilan tersebut.
Kedua alis bu Sekar tertaut, ia mungkin menganggap aku tidak sopan karena mereject panggilan dari ayah. Aku tak perduli apa yang orang katakana, semua ini karena ayah. Jika ayah menyalahkan ibu yang begitu keras kepala karena dulu tak mau ikut ke lokasi perusahaan, sehingga karirnya terhambat. Aku bahkan selalu terngiang-ngiang kalimat ayah saat aku pernah minta untuk kuliah dan ayah tak setuju. Ia bahkan mengungkit masalalu nya.
“Kamu sama keras kepalanya dengan ibu mu, andai dulu ibu mu mau ikut ke lokasi perusahaan, ayah mungkin sekarang sudah jadi manager! Lihat sekarang teman-teman ayah sudah jadi orang kaya semua!” Bentak ayah penuh emosi kala itu.
“Kamu punya masalah dengan ayah mu Nak?” Tanya Bu Sekar yang membuyarkan lamunan ku. Aku menatap wajah penuh kelembutan itu. Aku cepat membuang pandangan ku, terlihat dari tempat ku jendela yang terbuka. Aku memandang langit biru yang menjelang sore, terlihat di langit tersebut dua buah layangan yang sedang berada di atas angin, tampaknya mereka sedang berlomba. Bu Sekar berjalan kea rah jendela kaca, ia tarik gorden yang hanya terbuka separuh. Ia berdiri di ambang jendela dan menatap layangan yang sedang terjadi tarik menarik.
“Nak Sekar, kira-kira layangan yang hijau atau merah ya yang akan menang? Tampaknya satu sama lain sedang berusaha memutuskan layangan lawannya.” Ucap Bu Sekar pada ku. Aku melihat layangan merah terbang lebih tinggi dari layangan hijau.
“Mungkin yang hijau bu, Karena akan mudah memutuskan benangnya jika lawan sedang diata.” Jawab ku.
Kedua netra ku mengikuti permainan layangan di atas udara, entah siapa yang bermain, mungkin anak-anak kecil karena tak jauh dari rumah sakit ini terdapat lapangan sepak bola milik kecamatan. Layangan merah memang terlihat semakin tinggi, dan sesekali ia turun namun layangan hijau justru selalu berusaha berada di bawah layangan merah. Sesekali layangan hijau bergesekan dengan layangan merah, namun layangan merah segera mengendurkan benangnya sehingga layangan hijau tak berhasil menggesek benang atau senar pada layangan merah.
“Bisa jadi merah bisa jadi hijau,” Ucap Bu Sekar. Ia tampak memegang jendela tersebut dan mengelap satu noda yang ada di jendela itu dengan menggunakan selembar tisu. Perempuan paruh baya ini betul-betul tak bisa diam, dari kemarin ia terlihat ada saja kegiatan, entah membaca buku, entah menyulam sehingga ia jarang kulihat tertidur ketika menemani aku. Namun hari ini aku betul-betul terpesona dengan perempuan paruh baya bernama Sekar Ayu Gumiwang ini. Ucapannya merasuk ke dalam sanubari ku, ia menasehati ku dengan cara yang begitu halus.
“Karena kita tidak tahu seberapa hebat yang memainkannya, tapi sehebat apapun pemain layangan tersebut. Ada Allah yang mantakdirkan layangan siapa yang akan putus. Seperti itu juga kehidupan kita nak Sekar, suka tidak suka kita dengan kondisi kita saat ini termasuk pada orang tua yang Allah pilihkan untuk kita bukan tentang orang tua kita yang tak baik, tapi lebih ke tentang Allah yang perintahkan kita untuk taat pada mereka.”Ucap Bu Sekar seraya mendekat dan duduk di sisi ku. Ia raih tangan ku dan menggenggammnya lembut.
“Ibu paham dari sorot mata mu, ibu paham dari kisah yang disampaikan oleh Ibu Vya kemarin. Perkara orang tua kita tidak bertanggungjawab sekalipun. Bahkan jika ia bukan muslim pun, kita harus patuh dan taat selagi tak bermaksiat pada Allah.” Jelas Bu Sekar.
Ia bahkan mengisahkan jika ada sebuah kisah bagaimana ada seorang perempuan yang begitu mulia hatinya.
“Ini bisa untuk memotivasi mu nak, ada seorang anak perempuan. Ketika ia dalam kandungan, ia akan di gugurkan karena ayah dan ibunya sama-sama tidak terikat dalam pernikahan. Dan karena Allah mentakdirkan janin itu lahir, ia pun tetap lahir walau tak dibesarkan oleh ayah dan ibu kandungnya. Bayangkan ketika masih janin ingin di gugurkan dan ketika lahir tak pernah di anggap anak juga tak pernah bertemu dengan ibunya, dan ketika dewasa, kedua orang tuanya di waktu yang sama membutuhkan dirinya, perempuan itu datang kepada kedua orang tuanya. Ia tetap berbakti dan memenuhi panggilan dari orang tuanya. Karena ia tahu bahwa Allah yang memerintahkan itu, kenapa Allah menjelaskan surga di bawah kaki ibu bukan redaksinya neraka jika tidak patuh pada ibu?” Tanya Bu Sekar di akhir penjelasannya tentang seorang anak yang tak mendapatkan hak nya dari kedua orang tua namun ia justru berbuat baik bukan karena ingin dianggap baik oleh manusia tapi karena ia tahu ilmunya, bahwa Allah memerintahkan taat pada orang tua.
Aku menjawab pertanyaan Bu Sekar dengan gelengan kepala.
“Karena Allah berharap agar kita lebih berkeingan surga, bukan kah Sebagian manusia mematuhi perintah
dan menjalankan kewajiban selama di muka bumi ini karena mengharapkan surga? Walau redaksinya hanya ibu, tapi ayah tetap di sebut di urutan ke empat kala sahabat bertanya pada rasulullah siapa orang yang harus menerima kebaikan akhlak kita.” Ucap Bu Sekar.
“Hiks… Hiks… Lantas apakah Allah sayang pada ku, sedari kecil aku selalu susah bu… cobaan datang
tak henti, selalu silih berganti.” Tangis ku pun akhirnya tak mampu ku bendung. Mungkin karena usapan dan tatapan mata penuh kasih sayang nan tulus dari Bu Sekar. Sehingga aku yang merasa sulit untuk menuangkan isi hati pada orang asing justru bisa berani menangis dengan terisak di hadapannya. Ia belai rambutku. Ia tepuk-tepuk punggung tangan ku seraya memberikan aku motivasi untuk tetap semangat menjalani kehidupan ini.
“Allah sayang pada setiap hambanya, termasuk kamu. Coba kamu lihat, tubuh mu lengkap. Kemarin Allah kasih kamu cobaan bertemu orang jahat, bukan Allah benci atau ingin menyiksa mu. Mungkin ada sebab ada akibat.” Ucap Bu Sekar.
Aku menatap kedua netranya dalam.
“Allah membuat kami tersesat agar bertemu nak Gendhis. Sehingga anak saya Halim bisa membuat lelaki tersebut lari tunggang langgang. Allah itu Maha Penyayang tapi jangan kita lihat dari mat akita, karena sulit jika hati belum bersih, hati belum bisa tawadhu. Tapi semua bis ajika belajar dan di latih.” Ucap Bu Sekar. Ibu jarinya menyapu bagian bawah mata ku. Ia usap pelan dan lembut.
“Kamu tahu Nak, kenapa harga pisang goreng yang di jual di pinggir jalan dan pisang yang di jual di tempat mewah atau restoran bisa berbada jauh harganya? Bahkan dari pakaian orang yang memakan saja terlihat sekali perbedaan, kalau kata anak muda zaman sekarang keren-keren.” Canda Bu Sekar yang menarik sudut bibirnya. Kedua bibir ku menyunggingkan senyuman karena mendengar guyonan ibu dari dua anak ini.
“Pisang goreng di pinggir jalan, dari jauh aja orang udah bisa lihat itu bentuknya dan seberapa enaknya kira-kira rasa pisang goreng yang di jual di pinggir jalan. Tapi kalau di restoran, kita Cuma di lihatin menu atau gambarnya aja dulu, cocok sama harga dan lihat menunya, pesan baru makan. Begitu juga kita perempuan, kita kadang minta di hormati tapi kadang kita lupa menjaga kehormatan kita sendiri.” Ucap Bu Sekar seraya menarik handuk kecil yang menjadi alas leher ku, aku menggunakannya untuk mudah mengelap keringat. Ia menarik handuk itu sedikit ke atas.
“Kejadian kemarin, mungkin pakaian nak Gendhis yang menarik lelaki yang sulit mengendalikan hawa nafsunya Nak, maafkan ibu, bukan berarti anak ibu sudah baik karena berkerudung. Tetapi pakaian yang Gendhis kenakan kemarin memang cukup menarik mata untuk kau madam, anak ibu yang mondok dari SMP saja kemarin bisa ibu lihat betapa muka nya berbeda saat ibu minta dia bantu kamu untuk naik ke dalam mobil, karena kami hanya menemukan satu mobil dengan pak tua saat membawa nak Gendhis ke rumah sakit.” Ucap Bu Sekar hati-hati. Dari nada nya bicara, ia tampak hati-hati agar aku tak tersinggung.
Aku memang mengingat celana jeans favorit ku. Aku memang menyukai celana itu karena bahannya yang lembut dan Langkah ku juga lebih cepat daripada menggunakan rok. Mungkin karena ketatnya pakaian yang aku kenakan maka lelaki kemarin justru bertindak tidak senonoh pada ku. Aku terpekur merenungkan apa yang di ucapkan Bu Sekar barusan.
“Bu, tapi akhlak saya belum baik. Saya justru lebih khawatir jika saya berkerudung malah menjelekkan perempuan berkerudung lainnya karena akhlak saya yang belum bak.” Elak ku karena sadar bahwa Bu Sekar berharap aku bisa menutup aurat.
“ibu rasa, ibu belum menemukan redaksi jika menutup aurat itu khusus mereka yang berakhlak baik. kewajiban itu tidak lantas hilang dan gugur. Bahkan Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûmiddîn mengemukakan keadaan dimana bisa kita renungkan sebagai seorang Muslimah yang masih ragu-ragu untuk menutup aurat karena merasa masih suka bermaksiat. 'Jika seorang pemuda memperkosa wanita berhijab, kemudian wanita itu membuka hijabnya, lalu oleh si pemuda ditegur dan disuruh kenakan lagi. Lantas, bagaimanakah dengan hukum teguran si pemuda ini?' Beliau menjawab, 'Terkadang kebenaran itu terasa buruk oleh tabiat dan kebatilan terasa baik bagi watak. Hukum pemuda tadi menegur Muslimah tersebut adalah wajib. Karena membuka aurat di depan pemuda yang tidak halal melihatnya adalah maksiat, sementara mencegah orang lain bermaksiat adalah sebuah kebenaran.'." Ucap Bu Sekar, tampaknya ia bisa melihat bahwa aku sedang merasa butuh siraman rohani, Bu Sekar kembali melanjutkan pencerahannya tentang jilbab atau kerudung.
"Lihat dari kisah tadi ada seorang pemuda yang sedang bermaksiat dengan memperkosa wanita berhijab,ia tetap memiliki kewajiban untuk melarang korbannya membuka aurat karena itu adalah tindakan maksiat. Jadi bermaksiat sama sekali tidak menjadi alasan untuk tidak melaksanakan sebuah kewajiban. Karena itu jangan berpikiran jika dirini ini masih suka bermaksiat, seperti nyinyirin orang, dan lain sebagainya dijadikan alasan agar kita tidak ingin atau malu untuk menjalani kewajiban menutup aurat dan berhijab.Sama seperti shalat, walau sakit pun tetap harus shalat." Kalimat terakhir ibu Sekar kembali menohok hati ku, aku selama di rumah sakit tak shalat, ilmu ku terlalu cetek untuk urusan agama, aku belum tahu caranya shalat dengan tangan ada selang infus. Sungguh sebuah musibah ada hikmahnya, inilah hikmah kejadian kemarin. Aku akhirnya bisa memantapkan diri setelah hampir satu minggu bersama keluar bu Sekar. Perempuan paruh baya itu tampaknya begitu lembut dan begitu sabar, ia adalah seorang yang membuat aku mantap untuk menjadi lebih baik, saat aku keluar dari rumah sakit, aku pun mengenakan hijab dan baju yang di hadiahkan oleh Bu Sekar, satu orang yang pertama melihat ku dengan penampilan baru tentu sahabat ku, Vya.
"Masyaallah... kamu cantik dengan penampilan baru mu Ndis, semangat untuk menjadi lebih baik. Selama ini sampai berbuih aku mengajak mu berhijab, tak berhasil. Seminggu di rumah sakit kamu justru hijrah..." Pekik bahagia Vya seraya memeluk tubuh ku.
"Aku tidak ke Madinah, aku masih di Indonesia Vy..." Canda ku karena tak ingin ikut meneteskan air mata, sahabat ku itu selalu mampu membuat aku melupakan sejenak rasa di hati, rasa rindu pada ibu,
'Ibu.. pagi ini Gendhis akan bertemu ibu, Gendhis rindu ibu, kangen ibu.' rindu begitu menyeruak dalam hati ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
alhamdulilah pasti ad sebuah pelajaran/pembelajaran untuk merubah diri ke arah yg lebih baik setelah ad musibah
lanjut
2024-02-01
3
sitimusthoharoh
lagi nyeritain ziyah ni mak sekar
2024-02-01
2
Kustri
justru kita berhijab memacu u/ jd lbh baik, selain menutup aurat
2023-12-12
2