Setiap orang menginginkan kenyamanan pun dimanapun berada, termasuk aku. Aku begitu menginginkan suatu kenyamanan di tempat bekerja, walau hanya bertugas sebagai tukang cuci piring dan bersih ayam. Namun sepertinya sebuah lingkaran senior dan yunior juga berlaku di tempat ku bekerja, rasa peluh dari dahi ku belum sempat ku hapus karena dari tadi banyaknya piring dan mangkuk yang harus ku cuci dan lap. Sudah datang perintah dari mbak Reni pada ku.
“Nanti mau datang freezer baru, sekarang kamu pindahkan lemari dan isi yang disana ke gudang belakang.” Titah Mbak Reni yang melihat aku berjalan dengan membuka celemek. Ia tahu betul jika saat ini adalah jam makan siang bagi ku, aku sudah seperti biasanya akan bergantian dengan salah satu bagian dapur yang bernama Hesti. Hari ini sepertinya kesempatan bagi Mbak Reni untuk memberikan semua pekerjaan kepada ku dengan alasan Hesti tidak masuk kerja.
Aku memejamkan kedua mata dengan sedikit tertunduk lesu, ingin meronta namun tak ada kuasa yang ada aku akan kembali mendapatkan beban kerja yang sengaja di berikan. Aku dengan patu memutar balik langkah kaki ke arah lemari kayu yang biasa menyimpan peralatan. Kini semua peralatan itu aku pindahkan kedalam lemari yang berada diatas tempat biasa mengiris sayur. Dengan tubuh yang kurus aku cukup kesusahan memindahkan lemari kayu yang cukup berat, ku geser perlahan lemari yang tampak mengeluarkan bubuk mungkin sudah berusia cukup tua. Saat tiba di ambang pintu dapur, aku betul-betul tak kuat lagi menahan lemari tersebut saat ia ku tarik.
Sreet!
“Braak!” Suara lemari itu jatuh menimpah tubuh ku.
Beberapa pelayan di dapur cepat membantu ku, Mbak Reni justru mendelik ke arah ku. Tampaknya amarahnya harus tertahan karena Uni Desi ikut hadir di dapur.
“Ada apa ini?” Tanya Uni Desi yang melongo melihat aku memegang kaki yang cukup terasa sakit karena tertimpa lemari.
“Ini Gendhis selalu ceroboh, apa-apa maunya serba cepat. Sudah dari tadi ku suruh dia malah sibuk melamun sekarang waktu mau makan siang dia baru serba cepat menyelesaikan pekerjaannya.” Gerutu Mbak Reni.
‘Ya Allah manusia ini beneran pengen aku lakban mulutnya yang suka bohong, minum saja aku ga sempat dari tadi.’ Aku protes dalam hati atas pernyataan Mbak Reni.
“Loh ini lemari kenapa bisa disini?” Tanya Uni Desi yang mendekat dan melihat lemari tersebut telah tergolek di ambang pintu dapur.
“Maaf Ni, saya tadi tidak kuat menahan lemari ini saat akan di tarik ke arah gudang.” Jawab ku khawatir akan mendapatkan amarah dari Uni Desi yang kalau marah sudah bisa di pastikan akan muncul ucapan khasnya dan cukup panjang durasi ocehan pemilik rumah makan padang ini.
Umi Desi melirik sinis ke arah Mbak Reni.
“Kau suruh Gendhis pindah lemari ko?” Tanya Uni Desi tampak kesal.
Mbak Reni menunduk dengan raut wajah takut.
“Maaf Ni,” Jawab Mbak Reni ketakutan.
“Saya tidak apa-apa Ni, memang saya yang teledor.” Ucap ku, aku paling tidak bisa mendengar orang berbicara dengan nada keras. Aku sudah gemetar mendengar intonasi Uni Desi yang marah pada Mbak Reni.
Uni Desi menggelengkan kepalanya, ia berlalu meninggalkan dapur karena ada orang yang ingin membayar. Saat Uni Desi pergi, Mbak Reni mendelik dan gigi nya bergemertak seraya menatap ku. Aku cepat membuang pandangan, aku paling takut dan sedih di perlakukan seperti itu. Bahkan tubuh ku reflek menunduk dengan bulu kuduk merinding. Karena bayangan masa kecil biasa akan mendapatkan cubitan atau pukulan dengan mimik wajah yang baru saja di tunjukkan oleh Mbak Reni.
“Awas kamu ya!” dengusnya kesal.
“Kalian bantu pindahkan barang-barang ini!” Titah Mbak Reni kesal. Aku duduk dan melihat kaki ku, tampak nya terkilir walau tak ada luka. Aku sedikit berjinjit untuk berjalan. Aku pun berpamitan seraya mengambil satu bungkus nasi untuk Ibu.
“Saya pulang dulu mbak…” Pamit ku pelan.
“Awas kalau terlambat, kamu harus mengepel lantai sore ini!” Ucap Mbak Reni tanpa melihat kearah ku.
Aku hanya mengangguk, segera ku pacu sepeda milik ku ke arah rumah. Hanya butuh waktu 5 menit untuk tiba dirumah. Aku segera ke kamar ibu, ku lihat kamarnya sudah berantakan. Kertas yang ku beri untuk menemani ibu kini sudah sobek kecil-kecil. Biasanya ibu membuat mainan kertas, kali ini sepertinya moodnya sedang tak baik. Aku baru teringat jika besok adalah jadwal kontrol ibu. Saat aku membuka bungkus nasi tersebut, ibu tampak tak terlalu bersemangat menghabiskannya. Saat aku akan mengambil botol minuman agar kembali ku isi air minum, ibu berteriak dan menatap ku tajam.
“Jangan ambil punya ku! Letakkan kembali milikku! Itu milik ku!” Teriak ibu, lagi dan lagi tubuh ku seolah trauma akan setiap bentakan. Aku gemetar dan mengembalikan botol plastik tersebut ke sisi ibu. Namun seketika nasi yang tinggal separuh di makan ibu, dilempar ke muka ku.
“Plak!” Aku reflek membersihkan wajah dengan tangan ku, mata ku bahkan terasa pedih saat bumbu khas rendang terkena mata ku. Melihat ibu sudah berdiri dan akan menyerang aku, aku segera mundur dan menarik daun pintu. Ku tutup dan kunci pintu kamar ibu dari luar.
Aku duduk di depan pintu ibu, masih dengan tubuh gemetar aku mendengar ibu memaksa agar pintu tersebut di buka.
“Buka! Buka! Sini kamu! Saya mau keluar! Sini kalau kamu melawan!” Teriak ibu.
“Hiks…hiks… sabar ndis…” Gumam ku seraya bergegas membersihkan wajah dan mengambil wudhu. Aku cepat membuka pakaian ku dan hanya menggunakan kain sarung lalu menggunakan mukenah. Karena tak sempat mengganti pakaian, khawatir terlambat. Aku tak ingin kembali berurusan dengan Mbak Reni, tapi aku juga tak ingin meninggalkan shalat. Aku lebih khawatir lagi susah nanti di akhirat. BAgaiamana malang nya aku jika sudah susah di dunia akan susah juga di akhirat karena meninggalkan kewajiban ku. Setelah shalat, kembali dengan menahan rasa sakit pada tumit kanan aku bergegas ke rumah makan. Hari ini sepertinya aku memang diminta oleh Allah untuk bersabar.
“Ini orangnya. Ndis kamu ditunggu Uni Desi di ruangannya.” Ucap Mang Udin yang merupakan kasir juga kepala pelayan jika Uni Desi berhalangan hadir.
“Ada apa mang?” Tanya ku khawatir. Biasanya Uni Desi akan memanggil pekerja yang melakukan kesalahan atau yang akan diberhentikan ke ruang khusus dirinya beristirahat atau menerima tamu atau keluarga ketika di rumah makan tersebut.
“Buruan naik saja,” jawab Mang Udin, aku pun melangkah ke arah anak tangga, aku kembali menyerahkan semuanya pada Gusti Allah. Apapun yang terjadi, aku pasrah.
‘Ya Allah… pasrah deh… mau masalah apa, mau diapain lagi… aku manut.’ Batin ku. Aku masih pusing memikirkan uang kontrol ibu besok yang sudah jelas akan kurang, kini sepertinya sudah ada satu masalah untuk diriku. Apalagi ketika ku ketuk pintu ruang Uni Desi, suara Uni Desi tampak begitu melengking.
“Kau karajonyo mam pa du toi urang sajo!” Bahasa daerah Uni Desi keluar, aku menelan Saliva ku. Dari nada dan intonasi Uni Desi, tampaknya kali ini ada masalah lagi dan aku ikut dilibatkan oleh Mbak Reni, entah kenapa Mbak Reni dan Yiyin selalu saja menjelek-jelekkan aku.
{Kamu kerjanya membohongi orang saja}
“Tok.Tok.Tok.”
“Masuk Gen.” Perintah Uni Desi yang melihat aku, pintu yang tak tertutup rapat membuat Uni Desi tahu jika aku yang mengetuk pintu.
‘Bismilah… tolong aku ya Allah… .’ doa ku saat sudah berdiri tepat disisi Mbak Reni dan juga Yiyin
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
sitimusthoharoh
semoga uni desi tau kelakuan mbak reni dan yiyin yg semena2 m gendhis
lanjut
2024-01-31
3
Sugiharti Rusli
semoga Allah mudahka yah Ndis🤲
2023-10-30
2
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kebahagiaan apa yg kelak kamu dapatkan gendhis,...melihat banyaknya cobaanmu,sepertinya Allah telah menyiapkan hadiah terindah untukmu kelak
2023-07-06
1