Bab 9 Pasrah

Setiap orang menginginkan kenyamanan pun dimanapun berada, termasuk aku. Aku begitu menginginkan suatu kenyamanan di tempat bekerja, walau hanya bertugas sebagai tukang cuci piring dan bersih ayam. Namun sepertinya sebuah lingkaran senior dan yunior juga berlaku di tempat ku bekerja, rasa peluh dari dahi ku belum sempat ku hapus karena dari tadi banyaknya piring dan mangkuk yang harus ku cuci dan lap. Sudah datang perintah dari mbak Reni pada ku.

“Nanti mau datang freezer baru, sekarang kamu pindahkan lemari dan isi yang disana ke gudang belakang.” Titah Mbak Reni yang melihat aku berjalan dengan membuka celemek. Ia tahu betul jika saat ini adalah jam makan siang bagi ku, aku sudah seperti biasanya akan bergantian dengan salah satu bagian dapur yang bernama Hesti. Hari ini sepertinya kesempatan bagi Mbak Reni untuk memberikan semua pekerjaan kepada ku dengan alasan Hesti tidak masuk kerja.

Aku memejamkan kedua mata dengan sedikit tertunduk lesu, ingin meronta namun tak ada kuasa yang ada aku akan kembali mendapatkan beban kerja yang sengaja di berikan. Aku dengan patu memutar balik langkah kaki ke arah lemari kayu yang biasa menyimpan peralatan. Kini semua peralatan itu aku pindahkan kedalam lemari yang berada diatas tempat biasa mengiris sayur. Dengan tubuh yang kurus aku cukup kesusahan memindahkan lemari kayu yang cukup berat, ku geser perlahan lemari yang tampak mengeluarkan bubuk mungkin sudah berusia cukup tua. Saat tiba di ambang pintu dapur, aku betul-betul tak kuat lagi menahan lemari tersebut saat ia ku tarik.

Sreet!

“Braak!” Suara lemari itu jatuh menimpah tubuh ku.

Beberapa pelayan di dapur cepat membantu ku, Mbak Reni justru mendelik ke arah ku. Tampaknya amarahnya harus tertahan karena Uni Desi ikut hadir di dapur.

“Ada apa ini?” Tanya Uni Desi yang melongo melihat aku memegang kaki yang cukup terasa sakit karena tertimpa lemari.

“Ini Gendhis selalu ceroboh, apa-apa maunya serba cepat. Sudah dari tadi ku suruh dia malah sibuk melamun sekarang waktu mau makan siang dia baru serba cepat menyelesaikan pekerjaannya.” Gerutu Mbak Reni.

‘Ya Allah manusia ini beneran pengen aku lakban mulutnya yang suka bohong, minum saja aku ga sempat dari tadi.’ Aku protes dalam hati atas pernyataan Mbak Reni.

“Loh ini lemari kenapa bisa disini?” Tanya Uni Desi yang mendekat dan melihat lemari tersebut telah tergolek di ambang pintu dapur.

“Maaf Ni, saya tadi tidak kuat menahan lemari ini saat akan di tarik ke arah gudang.” Jawab ku khawatir akan mendapatkan amarah dari Uni Desi yang kalau marah sudah bisa di pastikan akan muncul ucapan khasnya dan cukup panjang durasi ocehan pemilik rumah makan padang ini.

Umi Desi melirik sinis ke arah Mbak Reni.

“Kau suruh Gendhis pindah lemari ko?” Tanya Uni Desi tampak kesal.

Mbak Reni menunduk dengan raut wajah takut.

“Maaf Ni,” Jawab Mbak Reni ketakutan.

“Saya tidak apa-apa Ni, memang saya yang teledor.” Ucap ku, aku paling tidak bisa mendengar orang berbicara dengan nada keras. Aku sudah gemetar mendengar intonasi Uni Desi yang marah pada Mbak Reni.

Uni Desi menggelengkan kepalanya, ia berlalu meninggalkan dapur karena ada orang yang ingin membayar. Saat Uni Desi pergi, Mbak Reni mendelik dan gigi nya bergemertak seraya menatap ku. Aku cepat membuang pandangan, aku paling takut dan sedih di perlakukan seperti itu. Bahkan tubuh ku reflek menunduk dengan bulu kuduk merinding. Karena bayangan masa kecil biasa akan mendapatkan cubitan atau pukulan dengan mimik wajah yang baru saja di tunjukkan oleh Mbak Reni.

“Awas kamu ya!” dengusnya kesal.

“Kalian bantu pindahkan barang-barang ini!” Titah Mbak Reni kesal. Aku duduk dan melihat kaki ku, tampak nya terkilir walau tak ada luka. Aku sedikit berjinjit untuk berjalan. Aku pun berpamitan seraya mengambil satu bungkus nasi untuk Ibu.

“Saya pulang dulu mbak…” Pamit ku pelan.

“Awas kalau terlambat, kamu harus mengepel lantai sore ini!” Ucap Mbak Reni tanpa melihat kearah ku.

Aku hanya mengangguk, segera ku pacu sepeda milik ku ke arah rumah. Hanya butuh waktu 5 menit untuk tiba dirumah. Aku segera ke kamar ibu, ku lihat kamarnya sudah berantakan. Kertas yang ku beri untuk menemani ibu kini sudah sobek kecil-kecil. Biasanya ibu membuat mainan kertas, kali ini sepertinya moodnya sedang tak baik. Aku baru teringat jika besok adalah jadwal kontrol ibu. Saat aku membuka bungkus nasi tersebut, ibu tampak tak terlalu bersemangat menghabiskannya. Saat aku akan mengambil botol minuman agar kembali ku isi air minum, ibu berteriak dan menatap ku tajam.

“Jangan ambil punya ku! Letakkan kembali milikku! Itu milik ku!” Teriak ibu, lagi dan lagi tubuh ku seolah trauma akan setiap bentakan. Aku gemetar dan mengembalikan botol plastik tersebut ke sisi ibu. Namun seketika nasi yang tinggal separuh di makan ibu, dilempar ke muka ku.

“Plak!” Aku reflek membersihkan wajah dengan tangan ku, mata ku bahkan terasa pedih saat bumbu khas rendang terkena mata ku. Melihat ibu sudah berdiri dan akan menyerang aku, aku segera mundur dan menarik daun pintu. Ku tutup dan kunci pintu kamar ibu dari luar.

Aku duduk di depan pintu ibu, masih dengan tubuh gemetar aku mendengar ibu memaksa agar pintu tersebut di buka.

“Buka! Buka! Sini kamu! Saya mau keluar! Sini kalau kamu melawan!” Teriak ibu.

“Hiks…hiks… sabar ndis…” Gumam ku seraya bergegas membersihkan wajah dan mengambil wudhu. Aku cepat membuka pakaian ku dan hanya menggunakan kain sarung lalu menggunakan mukenah. Karena tak sempat mengganti pakaian, khawatir terlambat. Aku tak ingin kembali berurusan dengan Mbak Reni, tapi aku juga tak ingin meninggalkan shalat. Aku lebih khawatir lagi susah nanti di akhirat. BAgaiamana malang nya aku jika sudah susah di dunia akan susah juga di akhirat karena meninggalkan kewajiban ku. Setelah shalat, kembali dengan menahan rasa sakit pada tumit kanan aku bergegas ke rumah makan. Hari ini sepertinya aku memang diminta oleh Allah untuk bersabar.

“Ini orangnya. Ndis kamu ditunggu Uni Desi di ruangannya.” Ucap Mang Udin yang merupakan kasir juga kepala pelayan jika Uni Desi berhalangan hadir.

“Ada apa mang?” Tanya ku khawatir. Biasanya Uni Desi akan memanggil pekerja yang melakukan kesalahan atau yang akan diberhentikan ke ruang khusus dirinya beristirahat atau menerima tamu atau keluarga ketika di rumah makan tersebut.

“Buruan naik saja,” jawab Mang Udin, aku pun melangkah ke arah anak tangga, aku kembali menyerahkan semuanya pada Gusti Allah. Apapun yang terjadi, aku pasrah.

‘Ya Allah… pasrah deh… mau masalah apa, mau diapain lagi… aku manut.’ Batin ku. Aku masih pusing memikirkan uang kontrol ibu besok yang sudah jelas akan kurang, kini sepertinya sudah ada satu masalah untuk diriku. Apalagi ketika ku ketuk pintu ruang Uni Desi, suara Uni Desi tampak begitu melengking.

“Kau karajonyo mam pa du toi urang sajo!” Bahasa daerah Uni Desi keluar, aku menelan Saliva ku. Dari nada dan intonasi Uni Desi, tampaknya kali ini ada masalah lagi dan aku ikut dilibatkan oleh Mbak Reni, entah kenapa Mbak Reni dan Yiyin selalu saja menjelek-jelekkan aku.

{Kamu kerjanya membohongi orang saja}

“Tok.Tok.Tok.”

“Masuk Gen.” Perintah Uni Desi yang melihat aku, pintu yang tak tertutup rapat membuat Uni Desi tahu jika aku yang mengetuk pintu.

‘Bismilah… tolong aku ya Allah… .’ doa ku saat sudah berdiri tepat disisi Mbak Reni dan juga Yiyin

Terpopuler

Comments

sitimusthoharoh

sitimusthoharoh

semoga uni desi tau kelakuan mbak reni dan yiyin yg semena2 m gendhis
lanjut

2024-01-31

3

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

semoga Allah mudahka yah Ndis🤲

2023-10-30

2

ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ

ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ

kebahagiaan apa yg kelak kamu dapatkan gendhis,...melihat banyaknya cobaanmu,sepertinya Allah telah menyiapkan hadiah terindah untukmu kelak

2023-07-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Aku Teraniaya
2 Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3 Bab 3 Aku Putus Asa
4 Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5 Bab 5 Aku Terbiasa
6 Bab 6 Riyadhoh
7 Bab 7 Tak Kasat Mata
8 Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9 Bab 9 Pasrah
10 Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11 Bab 11 Ibu Ku
12 Bab 12 Mencari Ibu
13 Bab 13 Allah kembali menguji ku
14 Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15 Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16 Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17 Bab 17 Berbuah manis
18 Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19 Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20 Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21 Bab 21 Nama Yang Berbeda
22 Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23 Bab 23 Pekerjaan Baru
24 Bab 24 Sawang Sinawang
25 Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26 Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27 Bab 27 Riyadhoh Ku
28 Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29 Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30 Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31 Bab 31 Flashback
32 Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33 Bab 33 Setan
34 Bab 34 Harapan Ku
35 Bab 35 Terlambat
36 Bab 36 Siapa Dia.
37 Bab 37 Jantung ku Kenapa
38 Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39 Bab 39 Magang
40 Bab 40 Bertemu Mas Halim
41 Bab 41 Klien Ku
42 Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43 Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44 Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45 Bab 45 Nomor Baru
46 Bab 46 Rahasia Klien ku
47 Bab 47 Kesalahpahaman
48 Bab 48 Air mata dan Doa
49 Bab 49 Sahabat Sejati
50 Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51 Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52 Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53 Bab 53 Bahagia ku
54 Bab 54 Kehadiran Ibu
55 Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56 Bab 56 Permohonan Talita
57 Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58 Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59 Bab 59 Melamar kerja
60 Bab 60 Kabar Bahagia
61 Bab 61 Aku Sayang Ibu
62 Bab 62. Membesuk Vya
63 Bab 63 Orang Dalam
64 Bab 64 Hantu Perasaan
65 Bab 65 Kejelasan
66 Bab 66 Pertemuan
67 Bab 67 Pertemuan ke 2
68 Bab 68 Maaf
69 Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70 Bab 70 Mas Halim
71 Bab 71 Cinta Mas Halim
72 Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73 Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74 74 Rasa Kesal ku
75 Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76 Bab 76 Jawaban Telak
77 Bab 77 Pernikahanku
78 Bab 78 Gara-gara Pelakor
79 Bab 79 Sama-sama Bening
80 Bab 80 Pesan Mak
81 NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82 Bab 82 Rencana Ku
83 Bab 83 Kejutan
84 Bab 84 Prasangka Kita
85 NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Aku Teraniaya
2
Bab 2 Demi Ibu, Aku Bertahan
3
Bab 3 Aku Putus Asa
4
Bab 4 "Allah sayang kamu, Ndis" Ucap Vya
5
Bab 5 Aku Terbiasa
6
Bab 6 Riyadhoh
7
Bab 7 Tak Kasat Mata
8
Bab 8 Rencana Allah untuk Ku
9
Bab 9 Pasrah
10
Bab 10 Kepercayaan dari Uni Desi
11
Bab 11 Ibu Ku
12
Bab 12 Mencari Ibu
13
Bab 13 Allah kembali menguji ku
14
Bab 14 Bertemu keluarga Bu Sekar
15
Bab 15 Kelembutan hati Bu Sekar
16
Bab 16 Meninggalkan indahnya Dunia
17
Bab 17 Berbuah manis
18
Bab 18 Bagai Kepompong, Aku harus Kuat
19
Bab 19 Kebersamaan Aku dan Vya
20
Bab 20 Bertemu Kak Gaffi
21
Bab 21 Nama Yang Berbeda
22
Bab 22 Siapa Perempuan bercadar itu?
23
Bab 23 Pekerjaan Baru
24
Bab 24 Sawang Sinawang
25
Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita
26
Bab 26 Ibu Kak Gaffi
27
Bab 27 Riyadhoh Ku
28
Bab 28 Perjalanan Umroh Ku
29
Bab 29 Petuah Menantu Bramantyo
30
Bab 30 Kepulangan Kami ke Indonesia
31
Bab 31 Flashback
32
Bab 32 Kabar Buruk dari Cika
33
Bab 33 Setan
34
Bab 34 Harapan Ku
35
Bab 35 Terlambat
36
Bab 36 Siapa Dia.
37
Bab 37 Jantung ku Kenapa
38
Bab 38 Zia dan Ksk Gaffi
39
Bab 39 Magang
40
Bab 40 Bertemu Mas Halim
41
Bab 41 Klien Ku
42
Bab 42 anxiety disorder atau PTSD?
43
Bab 43 Sesi ke 2 Mbak Zia
44
Bab 44 Apa Hubungannya dengan Aku
45
Bab 45 Nomor Baru
46
Bab 46 Rahasia Klien ku
47
Bab 47 Kesalahpahaman
48
Bab 48 Air mata dan Doa
49
Bab 49 Sahabat Sejati
50
Bab 50 Banyak Alasan dan Satu Cinta
51
Bab 51 Lidah Tak Bertulang
52
Bab 52 Satu Rindu untuk Satu Nama
53
Bab 53 Bahagia ku
54
Bab 54 Kehadiran Ibu
55
Bab 55 Kenangan Seorang Ibu
56
Bab 56 Permohonan Talita
57
Bab 57 Bertemu Mas Halim dan Keluarga
58
Bab 58 Cinta mu Tak Direstui
59
Bab 59 Melamar kerja
60
Bab 60 Kabar Bahagia
61
Bab 61 Aku Sayang Ibu
62
Bab 62. Membesuk Vya
63
Bab 63 Orang Dalam
64
Bab 64 Hantu Perasaan
65
Bab 65 Kejelasan
66
Bab 66 Pertemuan
67
Bab 67 Pertemuan ke 2
68
Bab 68 Maaf
69
Bab 69 Kedatangan Tamu Uni Desi
70
Bab 70 Mas Halim
71
Bab 71 Cinta Mas Halim
72
Bab 72 Sejarah Buku Siklus Haid Mak E
73
Bab 73 Kesempurnaan Cinta.
74
74 Rasa Kesal ku
75
Bab 75 Keluarga Luar Biasa
76
Bab 76 Jawaban Telak
77
Bab 77 Pernikahanku
78
Bab 78 Gara-gara Pelakor
79
Bab 79 Sama-sama Bening
80
Bab 80 Pesan Mak
81
NOVEL BARU 2024 (CUCU AYRA, GENRE FIKSI MODERN)
82
Bab 82 Rencana Ku
83
Bab 83 Kejutan
84
Bab 84 Prasangka Kita
85
NOVEL BARU "RUBIYATI" (SEBUTIR DEBU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!