Wati menghampiri STAN siaran, ia bertanya siapakah yang mencari nya? Karena Wati sama sekali tidak melihat adiknya si Udin.
" Assalamualaikum, Mbak.. Saya Wati dari asrama A 11, siapa saudara yang mencari saya Mbak ?"
" Oh itu dek, dia duduk di ruang pertemuan" Jawab santri yang menjaga STAN siaran.
Wati pun masuk ke ruang pertemuan, tungkai kaki Wati langsung lemas. Hampir saja dia ambruk, untung cepat ia menyender ke dinding ruangan tersebut.
Iksan bangun dari duduknya, ia mendorong kursi agar Wati bisa duduk. Wati pun duduk, wajahnya tertunduk.
" Aku datang kesini karena ingin minta maaf sama kamu " Iksan langsung mengatakan tujuannya memanggil Wati ke ruang pertemuan.
" Aku dijodohkan sama kedua orang tua ku "
PLAK!! sebuah tamparan membungkam mulut Iksan. Pria itu tersentap, meskipun tamparan itu tidak lah kuat. Tapi mampu melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
" Stop!! Jangan bohongi aku lagi Kak "
Iksan terdiam, ia jadi takut. Apakah Wati sudah tahu hal yang sebenarnya??.
" Syela sudah menceritakan semuanya" sambung Wati .
Iksan gelagapan, cerita seperti apa yang disampaikan oleh Syela??
" Jadi Syela sudah tahu ?" tanya Iksan.
Gelengan kepalanya Wati seperti angin segar bagi Iksan. Ia menghela nafas lega.
" Kau tahu Kak?? Aku memutuskan untuk mondok hanya karena aku ingin kita bisa direstui oleh orang tua mu "
Iksan tak mampu menahan senyumnya, sebuah senyuman yang mengejek tindakan Wati yang sangat kekanak-kanakan.
" Kau pikir, setelah orang tua ku tahu kau mondok disini, mereka akan berubah pikiran?? "
Wati meneguk saliva, tenggorokannya terasa kering seketika.
" Tidak, itu tidak akan terjadi. Meskipun kamu adalah seorang santri, itu tidak akan mengubah apapun Wati. Bapakmu tetap lah seorang preman, sampah masyarakat" Iksan membalas tamparan di wajahnya dengan makian yang mampu mencongkel hati si Wati.
" Kejam sekali mu lut mu Kak " bergetar suara Wati menahan luka di dalam hati nya.
Iksan tersenyum devil, ia merasa puas sekali.
" Aku akan memberi tahu Syela semua nya" Wati mengeluarkan ancaman yang berhasil membuat Iksan panik. Kedua mata pria itu menjeling Wati seakan-akan dia mau memakannya.
" Kau berani?? Kau tahu kan siapa Syela?? Jika kau berani merusak hubungan kami, yang akan kau hadapi adalah kedua orang tua kami. Abah tidak akan membiarkan begitu saja Keluarga mu hidup dengan tenang. Begitu juga sebaliknya, Bapaknya Syela yang merupakan kepala Desa pasti akan berbuat hal sama. Ingat Wati, sekali aparat desa bertindak. Warung bobrok mu itu bisa hangus terbakar, dan Bapakmu yang memang selalu membuat huru hara. Akan dengan mudah dijebloskan ke dalam penjara"
Iksan memukul mundur nyali Wati, gadis manis itu takut jika hal yang diucapkan oleh Iksan terjadi. Bagaimana nasib Ibunya kalau Bapaknya dipenjara?
" Jadi,,,, lebih baik kamu diam. Selagi aku masih baik sama kamu" imbuh Iksan.
Wati mengeraskan geraham nya, ia teringat kata-kata si Udin. Kenapa dia lupa jika Udin memiliki Indra ke enam yang sangat kuat? Kata-kata Udin tempo hari seperti sangat tidak setuju dengan keputusan nya yang ingin mengambil hati keluarga Pak Haji Kamil.
Benar kata pepatah, betis tidak berbuah di depan, tapi dibelakang. Penyesalan pasti akan datang terlambat.
Sejak pertemuan itu, Wati jadi pemurung. Ia juga menjaga jarak dari teman-teman sesama santri nya.
Syela sudah berusaha untuk menghibur Wati, dan membuat Wati kembali seperti sebelumnya. Tapi semua tidak berhasil.
Hingga suatu hari, Syela mendapatkan panggilan bahwa ia ada saudara yang ingin bertemu.
Syela sudah tahu jika itu pasti adalah Iksan. Sebelum pergi si gadis cantik memakai wangi-wangian yang mampu tercium dari jarak satu kilometer.
Wati yang duduk di sudut ruangan, menyaksikan bagaimana Syela sangat bahagia saat itu.
Syela langsung menuju ruang pertemuan, karena Iksan sudah menunggu nya disana.
" Cantik sekali, milik siapa nih ?" Goda Iksan yang berhasil membuat Syela tersipu malu.
" Kakak bisa aja.. "
" Ohya, Minggu kemarin aku liat baju yang aku kasih ke kamu di pakai temanmu yah " Iksan memancing pembicaraan.
" Ohya Kak, Maaf dia kan nggak tau itu baju spesial nya Syela. Syela mau ngomong, tapi takut dia kecewa. Nggak apa-apa ya, toh bukan setiap hari dia pinjam baju sama Syela " Syela berharap Iksan tidak kecewa padanya.
Pria itu tersenyum tipis,
" Iya nggak apa-apa, cuma hati ku sedikit terluka" Iksan hanya ingin tahu apakah Syela tahu siapa Wati.
" Kak, maafin Syela.. " Syela yang masih terlalu Na'if jadi sedih mendengar kekasih hatinya terluka karena dirinya.
" Nggak apa-apa, Syela tahu nggak teman Syela itu siapa? "
Syela menggeleng,
" Syela kenal disini Kak, katanya dia satu kampung sama Kakak "
" Iya bener, Namanya Wati kan?"
Syela membenarkan.
" Dia anak preman dikampung, yang terkenal suka huru hara. Bapaknya bandar judi, kalau ada yang pinjam uang buat judi sama Bapaknya? Itu akan beranak Pinak "
Syela mengatup mulutnya, kedua bola matanya melebar tak percaya.
" Sungguh?? Tapi, Wati nggak pernah cerita Kak "
" Ya iyalah, dia pasti malu . Karena dia masuk ke pondok pesantren untuk membersihkan namanya, agar tidak dipandang rendah sama orang "
" Astaghfirullah" Syela merasa sedikit kecewa dengan Wati. Kenapa dia tidak pernah cerita?
" Sekarang kamu udah tahu kan Siapa temanmu itu ? pilih-pilih lah kalau mau berteman, jangan berteman sama orang yang nggak jelas . Nanti bisa berakibat sama nama baikmu dan juga nama baik keluarga besarmu "
Syela mulai terpengaruh oleh ucapan Iksan, membuat pria itu tersenyum licik.
Sejak saat itu, Syela pun menjauhi Wati. Ia juga memprovokasi teman-teman yang lain agar jangan berteman dengan Wati.
Alhasil, Wati kini tidak punya teman. Ia dikucilkan, di pandang dengan sangat jijik sekali.
Jika ingin mandi, ia akan menunggu kamar mandi sepi . Karena ia akan diusir oleh teman-temannya. Mereka bilang tidak mau mandi bareng dengan anak seorang preman.
Bisa-bisa mereka akan di foto dan diperas untuk menghasilkan uang.
Bila Wati beli sesuatu, barang belanjaannya akan dilemparkan. Mereka jijik harus bersentuhan dengan seorang pendosa.
" Meskipun dia mandi pakai sabun termahal, dosanya akan tetap melekat di tubuhnya. Wong yang dimakan itu uang haram" Itulah sindiran Yang Wati dapatkan.
Wati hanya diam saja, ia akan menangis di tempat sepi sembari meraung-raung memanggil Ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Fano Jawakonora
di pesabtren koq kelauan santri seperti org yg tdk berilmu moralna tdk ada
2025-01-18
0
neng ade
si Ikhsan jahat juga itu .. ga pantas juga orang kaya gitu mondok di pesantren
2024-10-21
0
V3
si Ikhsan benar-benar jahat bgt mulut nya ,, melebihi mulut perempuan 🤦🤦🤬😡
2024-06-05
0