," Hey Satrio..." Seru Bos preman menyambut kedatangan suami Siti.
" Eh Bos, gimana keadaan Pardi?" Satrio bertanya tentang keadaan preman yang dilukai oleh Udin.
" Masih di rumah sakit" jawab si Bos preman.
" Kamu mau main lagi?" sambung nya.
" Iya Bos" jawab Satrio, ia terlihat sumringah sekali.
Berbeda dengan Gank preman itu, mereka menjaga jarak karena takut dengan Udin.
" Kenapa kamu bawa anak kecil Yo? nanti kita diserbu badan perlindungan anak loh" Tegur si Bos preman.
" Santai Bos, yuk kita main" Ajak Satrio untuk masuk ke dalam warung.
Tiga preman itu hanya saling berpandangan satu sama lain. Satrio melangkah masuk mendahului. Ia duduk di salah satu kursi kosong untuk memilih antara bulat, kotak dan segitiga. Dengan pilihan tiga warna, biru, kuning dan merah.
" Eh Yo, anak siapa itu?" Seru salah satu teman Satrio.
" Anakku lah" Satrio menjawab dengan santai.
" Kau sudah edan Yo, anak umur berapa kau bawa main judi?"
" Ah kalian tenang saja, ayo cepat main"
Mereka tidak bisa berkata lebih banyak lagi, Satrio yang memang sangat keras kepala tidak bisa diberi tahu.
" Din.. Ayo pilih yang mana, bola, kotak, apa gunung?" Satrio meminta agar Udin memilih.
Udin yang duduk di pangkuan Satrio sangat teliti memperhatikan.
" Unung" Jawab Udin dengan gaya bibir manyun.
" Ok , bagus.. Terus warna apa?" Sambung Satrio semakin bersemangat.
" Biru, kuning apa merah?"
" Ah" jawab Udin.
" Siaaaappp... Gunung merah" Satrio meletakkan uang dua puluh ribu di gambar segitiga warna merah.
Teman-teman Satrio merasa heran dengan cara bermainnya yang tidak biasa. Tapi mereka cuek saja, toh Satrio akan tetap kalah.
Bola digelindingkan setelah semua peserta memasang taruhan. Bola yang sudah dimodifikasi untuk mengalahkan para pemain, tiba-tiba bergulir tidak seperti biasanya.
Gerakannya gesit, dan tak diduga bola berhenti di gambar segitiga warna merah.
" Yeeeeeee" Satrio bersorak gembira. Begitu pula dengan si Udin, Bocil yang baru berusia satu tahun itu bertepuk tangan dengan riangnya.
Permainan kedua tidak jauh berbeda, lagi-lagi Satrio menang.
Bos preman yang melihat kejadian itu, jadi gusar. Bisa-bisa dia Bangkrut kalau terus-terusan di menangkan oleh Satrio.
Akhirnya dia memberikan perintah kepada salah satu pemain yang merupakan anak buahnya agar mengikuti taruhan Satrio.
Saat Satrio meletakkan uang taruhan di bola kuning, semua mengikuti nya. Satrio mulai tak enak, tapi dia sudah tidak bisa berpindah taruhan lagi karena itu peraturan nya.
Bola digulirkan, eh ternyata berhenti di gunung biru. Dan disana hanya ada satu lembar uang lima puluh ribu.
" Eh siapa punya taruhan ini?" seru bandar.
Tak ada yang menjawab, karena tidak ada yang merasa meletakkan taruhan disana. Semua meletakkan taruhan di tempat Satrio. Tak diduga, Udin mengangkat tangan nya. Seraya mengambil uang tersebut. Semua terbelalak kaget, kapan anak itu meletakkan taruhan?? Satrio aja tidak bisa percaya itu.
" Itu kamu yang naruh Din?" Tanya Satrio, Udin mengangguk.
HAHAHAHAHAHAHAHAHA
Satrio ngakak kegirangan, ia langsung meminta uang atas kemenangan nya. Lima ratus ribu rupiah diterimanya secara cuma-cuma berkat si Udin.
" Sudah sudah.. Bubar bubar" Bos preman murka, ia seperti dipermainkan oleh anak kecil untuk kesekian kalinya.
" Eh kok gitu Bos, kan aku baru ngerasain menang nih" Ujar Satrio.
" Sudah bubar, warungnya mau ditutup. Cepat pulang!!" Tegas si Bos.
" Hadeeeehhhh..." Satrio mengeluh kesal, baru menang dua juta udah di usir. Ia pun bangkit dengan menggendong si Udin.
Saat di gendong dan dibawa keluar oleh Satrio, Udin menjulurkan lidahnya kepada si Bos preman. Ia juga menunjuk kan sejumlah uang yang digenggamnya.
Si Bos preman mengerutkan keningnya, ia tidak berpikir jika Udin menggenggam uang milik nya. Yang nyantol di otaknya itu adalah uang hasil kemenangan Satrio.
Tapi saat warung sudah di tutup, dan Bos preman menghitung penghasilan hari ini. Ia kaget mengetahui uangnya hanya sisa delapan puluh ribu saja.
" Mana hasil hari ini? Masak cuma segini" Tukasnya panik.
Si Bandar pun bingung, padahal dia tadi yakin uang yang ada di laci lebih dari Lima juta.
" Tadi banyak kok Bos"
" Ma ta mu Bu ta!!" Si Bos memukul pet topi si Bandar.
" Lihat ini!! Cuma delapan puluh ribu kau bilang banyak? Beli rokok ku saja tidak cukup"
Si Bandar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung, apa dia salah hitung??
" Kalau begini terus aku bisa gulung tikar nih" sambung si Bos.
*
Sesampainya di rumah, Wati baru saja selesai mencuci baju dan mandi. Sedangkan Siti baru selesai masak untuk makan malam.
" Loh Pak.... Sudah pulang" Tanya Siti. Satrio mengangguk lesuh.
" Kenapa Pak?? Nggak seperti biasanya" sambung Wati.
" Mereka curang, saat aku lagi hoki, malah ditutup warungnya" Jawab Satrio seraya duduk di kursi untuk makan.
" Emang menang berapa Pak?" Tanya Siti pun duduk berhadapan dengan sang suami.
" Nih... coba hitung" Satrio mengeluarkan semua uang yang baru saja dia dapat dari berjudi.
Siti pun menghitungnya di bantu oleh Wati.
" Wah, dapat tiga juta Pak" Siti sangat takjub, ini adalah kesan pertama baginya melihat uang sebanyak itu.
" Gimana? Kalian percaya kan?? Udin ini anak ajaib" Satrio sangat bersemangat sekali, Ia Mengangkat tubuh Udin tinggi-tinggi.
Wati mengerutkan keningnya melihat buntalan kecil digenggam erat oleh si Udin.
" Apa ini??" Wati mengambil buntalan itu, dan betapa kagetnya ia setelah tahu jika buntalan itu adalah uang.
" Bu.. Pak..."
Siti dan Satrio membulat kan matanya, mereka sama-sama bergulir menatap Udin penuh dengan tanda tanya.
" Kok Udin pegang uang Pak?" Tanya Siti, sang suami menggeleng bingung.
" Dek , kamu dapat dari mana ini?" Wati mencoba untuk bertanya kepada Udin.
" Nana" Udin menunjuk ke arah luar.
Semua kaget berjamaah, mereka mungkin sepemikiran jika Udin sudah mengambil uang si Bandar.
" Cepat simpan Bu" Seru Satrio, dengan patuhnya Siti mengangguk. Ia meraup semua uang itu lalu dibawa nya ke kamar.
" Kamu kok pinter banget si Din" Puji Satrio kegirangan. Udin hanya tersenyum polos.
Begitu lah hari-hari si Udin bersama keluarga Satrio dan Siti. Tidak jauh dari perjudian dan pertikaian sampai Udin beranjak menjadi seorang kanak-kanak berumur tujuh tahun.
Wati pun kini sudah menjadi gadis belia yang cantik. Tapi dia hanya lulusan SMP saja, karena ia ingin membantu sang Ibu berjualan ikan di pasar pesisir.
Satrio juga sudah beralih profesi menjadi Bos preman di kampung itu. Dengan menjadi kan Udin sebagai pengawal pribadi nya, Dan Rahul yang hanya ngikut Udin kemana pun dia pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
neng ade
kehidupan mereka udah berubah menjadi lebih baik sekarang dan Udin udah berusia kanak2
2024-10-21
0
Arwin Atune
pengawal
2024-08-07
0
V3
Udin dr umur 1 tahun sdh di kenalin dg judi 🤣🤣
2024-06-04
0