Sebuah mobil mewah lewat di depan warung odong-odong, karena kebetulan posisi warung itu ada di tepi jalan masuk desa.
" Siapa Tuh??" Tanya Niman salah satu preman yang sekarang menjadi pengikutnya Satrio.
Tiga temannya yang lain memperhatikan mobil yang melaju pelan, begitu juga dengan Satrio.
" Mobil nya terasa asing , mungkin orang baru" tukas Satrio.
Semua mengangguk setuju, tapi tidak dengan Udin yang sejak tadi bermain mobil-mobilan bersama Rahul.
Ia memperhatikan mobil itu sampai hilang di tikungan jalan.
" Din.." Seru Satrio memanggil anak andalannya. Udin menoleh,
" Lihatin apa kamu?" Satrio memang sudah tahu jika Udin bisa melihat makhluk tak kasat mata. Jadi kalau tatapan Udin sudah lain, berarti memang ada yang tidak beres.
" Pak..."
Belum sempat Udin menjawab, suara teriakan sang Kakak mengalihkan perhatian semua orang yang berada di warung.
Wati datang menaiki sepeda listrik menghampiri sang Bapak.
" Pak, kalau bawa hp jangan dimatiin lah" Wati merungut kesal.
" Hpnya bapak Cas, dimainin adikmu sampai lowbat " Satrio memberikan alasan" Ada apa kamu nyusul Bapak?"
" Bu Inan meninggal "
Hah?? Semua turut kaget mendengar kabar duka itu.
" Ayo cepet pulang Pak" Sambung si Wati .
" Aduh, warung baru buka nih" Satrio merasa malas sekali untuk membantu.
" Ayo Pak, biar nanti warungnya Udin bakar " Udin menyahut santai.
" Eh kok mau di bakar, iya iya Bapak pergi. Ayo Man, Juk , kita datang melayat " Mau tidak mau Satrio pun berangkat bersama kedua anak buahnya.
Sementara Udin dan Rahul ikut Wati naik motor listrik.
Mobil mewah yang baru saja melewati warung ternyata milik keluarga Bu Inan. Wati dan kedua adiknya ikut berbaur membantu acara pemakaman di rumah Bu Inan yang memang hanya berjarak dua rumah dengan rumah Wati.
Anak-anak Bu Inan terlihat meratapi kepergian sang Ibu. Kematian Bu Inan bisa terbilang tiba-tiba, karena Bu Inan tidak sakit. Hanya mengeluh sakit kepala pagi-pagi tadi, siangnya langsung ditemukan sudah tidak bernyawa.
Kata Dokter, Bu Inan terkena angin duduk. Sejenis penyakit jantung yang berbahaya.
Udin yang setia menemani dan menjaga sang Kakak Rahul, duduk diam di atas tanah. Ia tertarik untuk memperhatikan seorang gadis diantara para pelayat.
" Din, kamu liatin apa?" Wati mencolek sang adik, ia merasa takut dengan cara Udin menenung seseorang.
" Dia siapa Mbak?" Udin menunjuk gadis itu.
" Oh itu Mbak Sandra, cantik ya" jawab Wati.
" Aku kok nggak pernah liat, dia orang kampung sini juga?" Tanya Udin tanpa memperdulikan komentar Wati.
" Iya, dia baru datang dari luar kota. Katanya sih dia kerja" Wati menjelaskan, Udin manggut-manggut tanda mengerti.
" Dia kembang desa disini Din, banyak pria yang datang melamar nya. Sampai dia akhirnya menikah dengan anak juragan kelapa di desa sebelah. Tapi sayang, dia bercerai di hari pernikahan nya" Wati menceritakan tentang kisah Sandra sang kembang desa.
" Kenapa Mbak?" Tanya Udin semakin penasaran.
" Waktu itu seingat Mbak, dia ditampar oleh suaminya di depan orang banyak. Mereka membuat game romantis, terus si cowok kalah dan langsung di tampar Mbak Sandra nya"
Udin lagi-lagi manggut-manggut tanda mengerti.
Tiba-tiba Rahul menyela minta rokok, meskipun umurnya masih sepuluh tahun. Rahul sudah dibiasakan merokok sama Satrio.
Udin pun merogoh kantong bajunya, mengambil kan rokok untuk Rahul.
" Terus, hubungannya sama keluarga Mbah Inan apa Mbak?" lanjut Udin ingin tahu. Wati terpegun mendapatkan pertanyaan itu.
" Kok kamu bertanya seperti itu?" Wati balik bertanya.
" Ya pengen tau aja" jawab Udin simpel.
" Emmm setahu Mbak sih dulu Mbak Sandra pacaran sama Mas Dimas, anak bungsu Bu Inan. Itu yang punya mobil merah" Wati menunjuk mobil Mercedes merah mengkilap terparkir di depan.
" Terus?" Udin ingin Wati melanjutkan ceritanya.
" Tapi nggak direstui sama keluarga Mbak Sandra, karena Mas Dimas orang miskin dulunya. Sekarang dia sudah kaya raya, punya istri dan anak. Mereka tinggal di Kota hidup bahagia "
" Lalu Mbak Sandra belum menikah lagi?" Timpal Udin.
" Nggak tahu aku Din, Mbak Sandra kan sudah lama nggak pulang-pulang. Baru sekarang aku melihat nya lagi, pas acara kematian Bu Inan " jawab Wati.
Udin tidak bertanya lagi, ia sudah cukup puas dengan cerita yang disampaikan oleh Wati.
*
*
Malam semakin larut, dan keadaan malam ini agak berbeda dengan malam-malam sebelumnya.
Raisya terjaga dari tidurnya, ia merasa kantong kemih nya penuh dan perlu dikuras habis.
Melihat Chiko sang anak yang masih belum berumur satu tahun itu tertidur dengan pulas, Raisya merasa tidak apa-apa jika ia tinggalkan dulu sebentar untuk pergi ke kamar mandi.
Sesudah menuntaskan hajatnya, Raisya kembali ke kamar. Di sini dia baru menyadari jika suaminya tidak ada di kamar.
Padahal tadi Dimas justru tidur lebih awal.
" Kemana Mas Dimas?" Raisya berucap kepada dirinya sendiri. Ia mencari sang suami ke seluruh bagian rumah, tapi tidak ada.
Sampai Raisya terpaksa mencari Keluar, mungkin saja sang Suami ada disana. Tapi tetap tidak ada.
KLETEK TEK TEK TEK
Bunyi batu kerikil yang dilemparkan ke atap rumah terdengar begitu jelas. Karena suasana sangat sunyi mencekam.
Suara burung hantu bersahutan, diselingi suara teriakan burung gagak.
Raisya merasa bulu kuduk nya berdiri, darah menyeriap hangat. Ia cepat-cepat menutup pintu rumah.
Di Saat ia hampir menutup pintu, sekelibat wajah perempuan berambut panjang terlihat berdiri di belakang mobil nya yang terparkir.
Raisya membuka pintu kembali, ia ingin melihat dengan jelas sosok yang tertangkap oleh matanya.
Tapi tidak ada siapa-siapa di belakang mobilnya. Raisya menggeleng ragu, apa mungkin dia hanya salah lihat.
Raisya cepat kembali ke kamarnya, ia berinisiatif untuk menelfon sang suami.
Tapi mendadak niatnya tertahan, karena ternyata ponselnya ada di balik bantal.
" Mas Dimas kemana sih? Ponsel ditinggal lagi" Gerutu Raisya.
KREEEEEEEKKKKKKKKKK
Raisa terkejut, ia mendengar suara kuku yang di garukkan ke dinding tepat di kamarnya.
Raisya cepat membuka jendela, ia ingin tahu siapa yang iseng mengganggu nya.
Kosong... Tidak ada siapa-siapa di luar kamar nya.
Raisya menutup kembali jendela lalu mengunci nya. Perasaan nya tiba-tiba tidak enak, apalagi suaminya pergi entah kemana? Tanpa bawa hp lagi. Hal ini salah satu yang bisa membuat Raisya marah. Untuk apa punya hp kalau ditinggal begitu saja.
Kita beli hp bukan cuma untuk gaya-gayaan saja, tapi kalau ada emergency bisa diandalkan. Tidak perlu dicari kemana-mana, tinggal tekan dan pesan penting pun tersampaikan.
" Lama-lama ku jual nih hp" Umpat Raisya kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
neng ade
mungkin aja Dimas lupa bawa hp nya karena terburu buru.. tapi .. jangan2 itu teror dari Sandra yg mengganggu keluarga Dimas karena sakit hati
2024-10-21
0
Inyoman Raka
loh apa hubungan nya
2024-09-03
0
Arwin Atune
hp
2024-08-07
0