" Haduuuh bagaimana bisa bayi yang lebih muda dari Rahul bisa menjaga Rahul?? Kamu tahu sendiri adik mu itu Wati? Kalau tidak bapak rantai kakinya sudah kelayapan kemana-mana?" Bantah Satriyo makin geram.
Disini Rahul adalah anak bungsu nya yang menderita autis, pergerakannya susah di kontrol. Sehingga terpaksa diikat dengan rantai di dapur.
" Kan bisa buat teman main Pak, Wati capek kalau harus nemenin Dek Rahul terus" Wati tetap bertahan dengan pendapat nya.
" Kamu jangan ngadi-ngadi, bayi nemenin bayi, mau jadi apa ??" Satrio meninggikan suaranya.
" Sudah Pak sudah, jangan berdebat sama anak sendiri. Apa yang Wati katakan itu ada benarnya?? Itung-itung lah ngurangin beban dia menjaga Rahul" Siti membela Wati.
" Alaaaah cuma jaga Rahul aja apa susahnya, lagian juga anak itu di rantai" cetus Satrio.
" Ya udah Bapak aja yang jaga" Dengan berani Wati menyahut.
" Kau" Satriyo bangkit sambil mengangkat tangan nya ingin menampar Wati, Siti cepat bertindak menghalangi sambil kerepotan menggendong Jamal.
" Pak jangan Pak jangan..."
Wati merunduk melindungi wajah nya.
" Jangan kur*Ng Ajar kamu sama orang tua ya!!"
Wati berlari menjauh.
" Kalau kamu tidak mau membantu menjaga adikmu, lebih baik kamu pergi saja dari rumah ini !! Biar tahu rasa gimana kalau jadi gelandangan yang tidak punya rumah??" Satrio masih murka meskipun sudah diredakan oleh sang istri.
" Pak, istighfar... Wati mungkin hanya kecapean menjaga Rahul. Jangan diambil hati ucapan nya" Siti tetap saja membela putrinya itu.
" Kau tetap saja selalu membelanya, Dasar!!! Ibu dan anak sama saja" Satriyo sangat kesal, tapi ia tidak bisa memukul sang istri. Karena jika sampai Siti sakit, dia juga yang akan kesusahan.
Tak ada cara lain untuk meredam amarah nya selain pergi ngopi di warung dangdut langganan nya. Satrio pun keluar rumah tanpa pamit.
Setelah suaminya pergi, Siti memanggil Wati agar mendekat. Ia memeluk putrinya dengan satu tangan sembari Mencium pucuk rambutnya.
" Kamu suka sama dia?" Tanya Siti bertanya mengenai Bayi Jamal, Wati mengiyakan.
" Baiklah, kita rawat dia dan akan menjadi teman si Rahul " Imbuh Siti, Wati tersenyum senang.
Dua ibu dan anak itu masuk ke dapur, mereka ingin mempertemukan Jamal dengan Rahul. Anak autis yang berumur sekitar tiga tahun itu menatap kosong bayi Jamal yang di dudukan di samping nya.
" Rahul, ini teman baru mu Nak" sapa Siti mesrah.
" Namanya siapa Bu?" tanya Wati.
" Ohya, Ibu lupa jika belum memberikan nama kepada nya" Siti menepuk jidatnya sendiri.
" Tapi Bu, apa Ibu yakin anak ini tidak akan mendatangkan masalah??" Tanya Wati, ia khawatir nanti Ibunya kenapa-napa.
Siti diam menatap Jamal, bayi itu tersenyum manis membalas tatapan lembut dari Siti.
" Ibu yakin Nak" Jawabnya kemudian, entahlah,, Wanita itu seperti menemukan jawaban dari sinar mata bayi Jamal.
" Kalau Ibu yakin, mari kita beri dia nama Bu" Usul Wati.
" Emmm kamu saja yang beri dia nama" Jawab Siti sambil membelai rambut pendek si Wati.
" Bagaimana kalau Udin Bu?" Wati terpikir dengan lagu Wali Band kesukaan nya.
" Boleh juga" Siti langsung setuju, Wati kegirangan. Ia bertepuk tangan yang ditiru oleh Jamal.
" Waaahh dia suka dengan nama yang kamu berikan Nak" seru Siti begitu melihat reaksi bayi Jamal.
" Iya Bu" Sahut Wati semakin senang.
POK
Rahul memukul wajah bayi Jamal dengan tangan nya. Sehingga kesenangan itu langsung berakhir seketika itu juga.
Tapi Rahul justru menangis sejadi-jadinya, kedua kakinya dihentak-hentakkan.
" Cup cup cup sayang, cup yah... Nggak, nggak apa-apa, adek Udin nggak nangis kok" Siti berusaha meredam tangisan sang anak.
Dan itu berhasil, Rahul berhenti menangis. Ia menengok bayi Jamal yang menatapnya dengan polos.
Tangan nya terangkat lagi, tapi kali ini Wati bergerak cepat menggendong bayi Jamal.
" Wati bawa Udin keluar Bu, Rahul akan terus memukul nya kalau tidak dibawa menjauh" ucap gadis kecil itu bijak.
" Ya udah, sekalian mandikan dia dan suapi makanan" Siti pun setuju, tapi tidak dengan Rahul. Anak itu kembali menangis sambil memukul tubuhnya sendiri.
Bayi Jamal tidak tinggal diam meskipun ia dibawa menjauh oleh Wati. Diam-diam dia meletakkan jari di bibir nya. Dan ajaib, Rahul langsung diam dan tertidur.
Siti sempat bingung, dari nangis kejer dan tiba-tiba berhenti terus tidur??
" Kok ??" mungkin kebiasaan baru muncul, itulah yang ditangkap oleh otak si Siti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya mendadak merasakan sesuatu hal yang aneh. Dia terus kepikiran dengan putra semata wayangnya.
Keinginan untuk menemui Jamaluddin sangat kuat. Tapi semua tertahan karena khawatir ini hanyalah bujuk rayu sang iblis agar dapat menelan jiwa putranya itu.
" Sayang.... ikan bakarnya sudah siap" Pangeran As'ad datang dengan membawa beberapa tusuk ikan bakar yang baru saja ia masak.
Tapi melihat reaksi sang istri, wajahnya yang ceria langsung berubah.
" Ada apa sayang??"
" Perasaan ku nggak enak, aku takut terjadi apa-apa dengan Jamaluddin " jawab Cahaya.
" Kita sholat yuk, hanya Allah yang bisa melindungi anak kita sekarang " ajak Pangeran As'ad . Cahaya mengangguk setuju, selama ini jika dia bersusah hati. Dia akan memanjatkan banyak doa untuk Jamaluddin. Agar anak itu senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
*
*
Siang hari suasana di dalam rumah nampak sepi, Siti dan Wati tengah istirahat siang. Sedangkan Satrio belum juga pulang.
Bayi Jamal merangkak menuju dapur, disana Rahul tengah bermain ranting kecil yang di patahkan lalu disusun ke dalam truk mainannya.
Menyadari kedatangan Jamal, Rahul memeluk mainan nya seraya duduk membelakangi Jamal.
Bayi Jamal merangkak memutar agar Rahul bisa berhadapan dengan nya. Tapi lagi-lagi Rahul berputar memunggungi.
Kesal juga si Jamal, ia pun menarik rantai yang mengikat kaki Rahul membuat anak itu mendekati Jamal.
Rahul menolak, ia meronta menarik rantai nya kembali. Tapi dia bukanlah si Jamal, yang mampu menahan pintu dengan satu kaki.
Bayi Jamal tersenyum, dan dengan santainya ia mengambil truk mainan milik Rahul.
Refleks, Rahul langsung menangis.
POK!
Bayi Jamal justru menabok wajah Rahul.
" Yam!!" cetus Bayi Jamal dengan bahasa nya. Kedua matanya melotot membuat nyali si Rahul ciut. Ia menunduk patuh dan takut untuk menangis lagi.
Bayi Jamal begitu senang bermain truk mainan si Rahul. Sedangkan Rahul hanya menonton saja tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sekitar jam dua siang, Siti bangun. Ia harus segera ke pasar ikan untuk menjual ikan. Ikan dagangan nya ia dapat dari nelayan di pasar itu juga. Karena pasar ikan tempat nya berjualan letaknya tepat di pesisir pantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Fuad Sutanto
dengan terbakarnya panti asuhan, maka riwayatnya selesai dan diserahkan kpada bank oleh arsyad
2025-01-05
0
neng ade
jualan ikan .. kenapa harus Siti sendiri .. si Satriyosebagai suami nya kemana .
2024-10-21
0
Arwin Atune
jual ikan
2024-08-06
0