KREEETTTEEEKK
Bunyi daun pintu di dorong dari luar mengalihkan pembicaraan sepasang suami istri itu.
" Sandra.. " Dimas berdiri, kekhawatiran nya semakin bertambah melihat mantan pacar nya tiba-tiba datang dan masuk ke kamar nya.
Wanita cantik itu tersenyum, ia menutup rapat pintu di belakang punggung nya.
" Ngapain kamu kesini??"
Raisya menatap kedua nya secara bergantian.
" Siapa dia Mas?" Tanyanya.
" Emmmm Dia... "
" Aku Sandra, kekasih nya" Sandra memotong kegugupan Dimas dalam menjawab.
" San, kamu jangan gitu. Hargai Raisya sebagai istri ku"
" Dia harus tahu" Ujar Sandra dengan santainya.
" Kalian berdua memang baji Ngan!!!" Pekik Raisya kuat.
Sandra bergerak cepat menutup mulut Raisya, ia takut jika teriakan istri Dimas itu didengar oleh para tetangga.
Untung dua saudara Dimas yang lain tidak tidur serumah. Mereka memilih untuk tidur di rumah paman atau Bibik mereka yang tidak seberapa jauh letak rumah nya.
Jadi, kesimpulannya hanya Dimas dan Raisya beserta anaknya yang tidur di rumah Bu Inan.
" Eeemmhhh Emmmhhh " Raisya berontak, tapi kekuatan Sandra melebihi kekuatan seorang pria. Ia menekan urat leher Raisya, sehingga menyebabkan istri Dimas itu pingsan.
" San, apa yang kamu lakukan??" Dimas panik melihat istrinya tidak sadarkan diri.
" Aku hanya membuat nya pingsan, kau tidak perlu khawatir ok!"
Sandra melingkarkan tangannya ke leher Dimas, ia hendak menyaplok bibir pria itu. Tapi Dimas mengelak.
" Jangan disini San, ada anak dan istri ku"
" Mereka tidak akan tahu, anakmu tidur, istri mu pingsan" Sandra tetap menginginkan Dimas saat itu juga.
" Jangan, aku capek. Bukankah kita baru saja melakukan nya" Dimas tetap menolak, ia merasa ini sangat keterlaluan.
" Aku kurang, " Sandra merengek manja. Ia tidak perduli dengan apapun, yang ia inginkan hanyalah Dimas. Pria yang sangat ia cintai selama ini.
Sandra mendorong tubuh Dimas hingga menyandar ke dinding. Ia siap menaikkan hasrat pria itu sehingga tidak akan mampu menolak dirinya.
Posisi yang sangat sensitif adalah bagian leher, disanalah Sandra mencium Dimas. Sehingga penolakan hatinya kalah oleh nafsu yang menggebu.
" Hey!!! Sst SST"
Sandra menghentikan kegiatan nya , ia mendengar suara seseorang. Kepalanya berputar mencari suara misterius itu.
Dan ternyata ada bocil yang lagi melihat nya dari jendela. Sandra heran, kenapa dia bisa membuka jendela yang terkunci dari dalam?
" Hey mau apa kamu?!" Seru Sandra murka.
" Seharusnya aku yang tanya, ngapain situ di rumah orang?? hah??" Balas Udin menggertak.
" Dasar anak kurang a jar!! Pergi kau !!" Sandra mengibas kan tangan nya hingga mengeluarkan angin yang kuat mendorong jendela. Udin melompat menaiki jendela, dengan santainya ia menahan daun jendela menggunakan sebelah tangan nya.
Mata Sandra membulat, ia pun melompat ke atas kasur seperti seekor kodok. Dimas hanya diam berdiri di tempat, Tatapan nya kosong seperti orang kurang siuman.
Sandra mendorong Udin agar Keluar dari kamar itu, namun Udin menarik tangan Sandra hingga turut keluar melalui Jendela.
Keduanya jatuh ke tanah, Sandra menggulingkan tubuhnya dan membuat posisi duduk berjongkok dengan satu kaki ditekuk mencium tanah.
Sedangkan Udin menutup jendela kembali, lalu mengunci nya dengan doa.
" Kau bocil memang tidak tahu sopan santun, selama ini aku mendiamkan mu karena aku tidak tertarik melawan anak kecil. Tapi bukannya takut, justru kau semakin meremehkan ku. Sekarang,,,, aku tidak akan segan lagi untuk membunuh mu"
Tatapan Sandra berubah sangar, kedua matanya melotot ke atas.
Udin melipat tangan nya di dada, ia tersenyum tipis seolah-olah ini bukan masalah besar.
Sandra menyentuh tanah, ia merapal kan mantra. Tiba-tiba tanah yang dipijak oleh Udin merekah.
Namun siapa sangka Udin dengan santainya menyatukan kembali tanah itu dengan tarikan kedua kakinya.
Sandra membeliak lebar, ia kembali menekan tanah. Tapi lagi-lagi tanah yang ia buat merekah agar bisa menelan tubuh Udin justru menyatu kembali.
Sandra kesal, ia bangkit lalu mengambil selendang dari balik pakaian nya. Selendang berwarna kuning itu ia gulung di telapak tangannya. Lalu ia luncurkan ke tubuh si Udin, sehingga melilit tubuh Udin hingga sebatas leher.
Udin terjebak di dalam gulungan selendang, sehingga tubuhnya tidak bisa bergerak. Sandra menyeringai, ia senang melihat lawan nya bisa ia kendalikan.
" Sayang sekali, masih kecil kau sudah akan menghadapi maut" Ujar Sandra begitu percaya diri.
" Ohya??"
Udin menarik nafas sebanyak mungkin hingga kedua pipinya mengembung. Lalu dengan sekali hembusan nafas, selendang itu terlepas berkecai menjadi potongan-potongan kecil.
Sandra terperangah, kini selendang di tangan nya berubah menjadi kain yang tidak berguna.
" Sadar lah, kau sudah melakukan hal diluar batasan" Suara Udin tiba-tiba berubah.
" Jangan sok menggurui ku" Sandra merasa terluka harga dirinya karena diceramahi oleh anak kecil.
" Semua nya belum terlambat, aku bisa melepaskan mu asal kamu mau bertobat"
Sandra menarik sebelah bibirnya, ia tidak akan pernah mau melepaskan apa yang ia dapatkan dengan susah payah.
" Rupanya, kau tidak bisa diajak bicara baik-baik"Sambung Udin.
" Aku lebih baik hidup berkalang tanah, dari pada melepaskan semua nya. Karena aku bahagia bisa begini, Dimas bisa kembali ku dapatkan tanpa halangan "
Udin manggut-manggut, meskipun ia tidak bisa menafsirkan seberapa besar ambisi Sandra. Tapi yang ia tahu, jika perempuan ini tidak bisa ia toleransi lagi.
" Baiklah jika itu yang kamu mau " Udin melerai tangan nya yang terlipat. Ia membuka kedua telapak tangan seperti orang yang tengah berdoa.
Dua cahaya keluar dari satu persatu daun telinga nya. Cahaya itu melayang di atas telapak tangan Udin.
Sandra melotot, sebagai orang yang sudah masuk ke dalam dunia mistis. Ia sangat mengenal dua cahaya itu.
Kedua kakinya teratur mundur, jika ia masih ingin hidup. Dia harus pergi dari tempat ini sekarang juga.
Dua cahaya itu berputar seperti rotasi bumi. Udin menambahkan energi api biru dari dalam tubuhnya. Menciptakan putaran api menyala biru yang sangat panas.
Sandra terus melangkah mundur, hingga tanpa sengaja ia tersandung dan jatuh ke tanah.
" Kau yang membuat pilihan untuk mati bukan?" ujar Udin.
Sandra masih berusaha menyeret tubuhnya, kepalanya menggeleng pelan melihat Udin melangkah mendekat.
" Aku tidak mau mati, aku masih ingin hidup " suara Sandra bergetar ketakutan. Tapi sudah kepalang tanggung, Udin tidak bisa lagi menarik api yang ia keluarkan dari dalam tubuhnya.
Ia mendorong dua putaran cahaya itu hingga melesat cepat. Sandra bergerak cepat bangun dan lari. Tapi ia masih kalah cepat oleh dua cahaya yang akhirnya menghantam tubuhnya.
Api biru menyulut seluruh tubuh Sandra hingga terbakar. Sandra menjerit, melolong minta ampun.
Sosok wanita berkebaya keluar dari tubuh Sandra. Ia memecahkan diri agar tidak turut terbakar oleh api itu.
Wanita itu menjeling tajam ke arah Udin, tapi Udin hanya tersenyum saja.
Lambat laun wanita itu menghilang tanpa jejak. Meninggalkan sekutu nya yang terpontang panting karena tubuhnya terbakar habis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Bunda Fariz
subhanalloh udin luarrr biasa
2025-02-17
0
neng ade
Sandra nekat hanya karena ingin mendapatkan Dimas dia bersekutu dngn iblis .. tapi sayang nya Udin udah bertindak utk menghancurkan iblis itu
2024-10-21
0
Arwin Atune
twrbakar
2024-08-08
0