" Hallo, Assalamualaikum" Raisya langsung mengucapkan salam begitu talian tersambung.
" Wa' Alaikum salam " Suara lembut namun mendalam terdengar menjawab.
" Pak lek, Ini Sya.." Raisya memperkenalkan diri, karena Pamannya itu sudah sepuh dan buta.
" Iya Sya ada apa?"
" Pak lek, Sya sakit... Seluruh tubuh Saya ditumbuhi bisul. Sya nggak kuat Pak lek" Air mata menetes mengiringi pengaduan Raisya.
" Astaghfirullah, Sya dimana?"
" Di rumah suami Sya, Ibu mertua Sya sudah meninggal Pak lek"
" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Sya... Pak lek terlalu jauh untuk datang ke sana. Pak lek melihat ada seorang anak kecil yang bisa membantu Sya di sana"
Raisya mengernyit heran, anak kecil?? Siapa?
" Siapa yang Pak lek maksud kan?"
" Namanya Jamaluddin, ciri-cirinya kau bisa melihat dari tubuh nya terpancar warna kebiruan. Tapi kau tidak bisa melihat dengan mata telan jang "
Raisya diam berpikir.
" Bagaimana cara Sya bisa melihat cahaya dari tubuh nya Pak Lek?"
" Bacalah sholawat , usap kedua alismu menggunakan dua ibu jarimu. Yang mana kau letakkan Ibu jarimu di atas langit-langit mulut mu"
Raisya mengangguk mengerti.
" Dia selalu mengawasi mu Sya, karena dia tahu kau dalam bahaya "
Raisya semakin bingung, anak itu selalu mengawasi nya? Siapa??
" Ya sudah, kau bersabar lah dengan sakit yang Allah berikan kepada mu. Semua pasti ada hikmahnya "
" Baik Pak lek, assalamualaikum "
Raisya mematikan sambungan setelah Pak lek nya menjawab salam.
" Kemana Mas Dimas pergi?? Sudah sakit begini, dia tinggal kan aku begitu saja" Raisya mengeluh sendiri. Lagi-lagi Dimas pergi malam-malam tanpa membawa ponsel. Ini semakin membuat Raisya gedek.
Ia menahan sakit yang luar biasa di kakinya karena ingin tahu keberadaan Dimas yang sebenarnya.
Semakin dibiarkan, Dimas semakin seenaknya.
Raisya berjalan tertatih-tatih, ia mengambil kunci mobil dan berniat menyusul Dimas ke warung yang selalu menjadi alasan sang suami pergi malam-malam.
Dengan bermodalkan nekat, Raisya mengemudikan mobilnya menuju warung odong-odong di ujung desa.
Tapi setibanya di sana , warung itu tutup. Raisya mengira mungkin saja hanya di tutup luarnya saja. Ia pun menekan klakson mengikuti perasaan emosi nya.
" Woooi siapa itu!!!" Suara garang membentak keras dari dalam. Raisya sedikit gerun juga, tapi emosinya membuat ia masa bo doh dengan apapun.
Pintu yang terbuat dari bambu terbuka perlahan. Muncul lah seorang pria yang membungkus tubuhnya dengan sarung. Ia datang menghampiri Raisya yang masih duduk di belakang setir.
" Woi!! Ada apa bunyikan klakson kuat-kuat hah?? Untung cewek, kalau cowok sudah ku Han tam kau" Pria itu marah sekali karena merasa terganggu.
" Maaf, saya mencari suami saya" Jawab Raisya.
" Suami mu tidak ada disini" jawab pria itu tanpa bertanya siapa yang dimaksud.
" Emang Mas tahu siapa suami saya?" Raisya balik bertanya.
" Aku tidak perlu tahu, karena memang di dalam tidak ada siapa-siapa kecuali aku yang menjaga warung ini"
Raisya terkesiap kaget.
" Yang bener Mas"
" Lah iya, sejak kematian Bu Inan. Kami tidak berani buka sampai pagi. Jam sepuluh sudah tutup "
Raisya semakin yakin jika Dimas telah membohonginya.
" Mas, suami saya anak Bu Inan. Namanya Dimas, Mas kenal nggak?" Raisya ingin tahu semakin jauh.
" Kenal.." Pria itu menjawab singkat.
" Dia sering datang nggak kesini?"
"Nggak tuh, dia mah sudah kaya. Jadi gengsi lah datang ke warung kami"
Raisa mengernyitkan keningnya, ini sudah kelewatan. Dimas telah membohonginya habis-habisan.
" Ya udah Mas, makasih ya.. Maaf sudah mengganggu "
Pria itu mengangguk, Raisya gegas tancap gas pulang kembali ke rumah. Ini sudah tidak bisa di toleransi lagi. Raisya berniat pulang malam itu juga ke kota. Tidak perduli ia diijinkan oleh Dimas atau tidak.
Masalah penyakitnya, ia akan pergi menemui Pak lek nya sendiri ke rumah.
Tapi setibanya di rumah, Raisya justru melihat Dimas baru saja melepaskan sandal untuk naik ke teras. Menyadari ada cahaya lampu sebuah mobil, Dimas menoleh. Ia langsung turun kembali menyambut sang istri yang baru saja datang.
" Sayang... Kamu dari mana saja?" Tanya Dimas begitu Raisya membuka pintu mobil. Ia membantu Raisya untuk berdiri.
" Seharusnya aku yang tanya sama kamu Mas, dari mana saja kamu?" hardik Raisya, dadanya sudah kembang kempis menahan emosi yang bergejolak.
" Aku..."
" Jangan bilang kamu dari warung di ujung desa itu" Cepat sekali Raisya memotong kalimat sang suami.
" Emmhh Sayang, kamu lagi sakit, yuk masuk ke dalam"
" Justru karena aku lagi sakit Mas, kamu tega ninggalin aku sendirian" Bentak Raisya tak terkendali.
" Sayang, jangan bentak-bentak disini. Ini sudah malam, ganggu orang lagi istirahat" Dimas dengan sabar nya berusaha menenangkan hati sang istri.
" Udahlah Mas, nggak usah mengalihkan pembicaraan. Aku mau pulang!!" Tegas Raisya.
" Pulang kemana sayang?"
" Ke rumah ku, aku nggak bisa tinggal dengan suami yang sama sekali tidak perduli dengan istrinya dan tukang bohong "
Raisya mendorong Dimas agar tidak menghalangi jalannya. Tapi Dimas bersikeras menahan sang istri.
" Sayang jangan gitu dong, aku minta maaf "
Raisya sudah terlanjur sakit, ia sama sekali tidak perduli dengan rayuan Dimas.
Meskipun menahan sakit yang luar biasa di kakinya, dengan mantap Raisya masuk ke kamar untuk merapikan kopernya.
Sakit di kaki nya tidak lah seberapa, dibandingkan dengan sakit hati karena dibohongi.
" Sayang, jangan pergi.. Ini masih hari berduka " Dimas tetap menghalangi niat istri nya.
Raisya tak menjawab, ia terus saja merapikan semua barang-barang nya yang tidak seberapa banyak.
Tapi tiba-tiba saat Dimas menahan tangan nya, tanpa sengaja ia melihat tanda merah di leher sang suami. Bukan hanya satu, tapi dua.
" Apa ini ?" Raisya menunjuk tanda tersebut. Dimas cepat menutupi nya dengan tangan.
" Apa itu Mas??" Emosi Raisya kembali terpancing.
" Apa sih Sayang?" Dimas berusaha mengelak, meskipun raut wajahnya yang memucat tidak bisa ditutupi nya.
" Kau selingkuh Mas?? Dengan siapa?? Hah??"
" Siapa yang bilang aku selingkuh sayang??" Dimas tetap mengelak.
" Terus tanda apa itu??? jangan Kamu pikir aku bodoh Mas, tidak bisa membedakan ****** dengan gigitan nyamuk "
Dimas terdiam, ia seperti disudutkan dan tidak bisa bergerak.
" Ohhh jadi seperti itu rupanya, siapa perempuan itu Mas??" Nada bicara Raisya merendah tapi justru semakin mengerikan.
Nafasnya tak beraturan, Hujaman demi Hujaman belati semakin menyakitkan.
" Tega kamu ya Mas.."
Dimas meluruh kan tubuhnya ke lantai, ia bersimpuh di hadapan Raisya.
" Maafkan aku sayang "
Kata Maaf yang diucapkan bagai air garam yang disiram ke atas luka yang menganga di sanubarinya. Raisya terduduk lemas di bibir kasur, hatinya sakit dan semakin sakit.
" Siapa perempuan itu Mas??"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
neng ade
mungkin itu perempuan persembahan nya Dimas yang membuat nya menjadi kaya ??
2024-10-21
0
Arwin Atune
selingkuh
2024-08-08
0
V3
" Siapa perempuan itu Mas ??" jawabannya adalah SANDRA
2024-06-05
0