Raisya terus menunggu kepulangan Dimas dengan perasaan gusar. Lambat laun ia pun mengantuk dan tanpa sadar sudah larut dalam mimpi.
Bangun-bangun ia menemukan tubuhnya dipeluk erat oleh sang suami. Raisya bingkas bangun.
" Mas,,, Mas,,, " Raisya menggoyang-goyangkan tubuh Dimas.
" Emhhh apa sayang? Aku masih ngantuk" Dimas melenguh tanpa membuka matanya.
" Kamu semalam dari mana saja?" Tanya Raisya menahan kesal.
" Aku ke warung di ujung jalan itu" Jawab Dimas tetap dengan mata terpejam.
" Ngapain?"
" Ya ngapain lagi, mainlah dikit-dikit"
" Jangan bohong kamu Mas" Raisya tidak semudah itu percaya.
Saat itu lah Dimas mulai membuka matanya.
" Bohong apa sayang? Aku udah jujur kok.. Kalau nggak kesana terus kemana lagi, aku udah lama nggak main"
" Terus kenapa hp nya nggak dibawa?" Raisya terus saja menyelidiki.
" Sayang, itu hp mahal, bisa beli sapi dua ekor, kalau aku bawa yang ada dicuri orang" Dimas memberikan jawaban yang menohok. Dan berhasil menutup penyelidikan sang istri.
" Awas kamu ya Mas kalau macem-macem" Raisya turun dari atas kasur dengan Tatapan mengancam.
Dimas acuh, ia kembali memeluk bantal untuk melanjutkan tidur nya.
*
Malam selanjutnya adalah malam pertama untuk tahlilan, banyak para lelaki datang untuk ikut tahlilan termasuk Udin.
Ia sengaja tidak mengikuti Satrio ke warung hanya untuk melihat sang kembang desa, Sandra.
Saat acara tahlilan selesai, seperti biasa, Tuan rumah akan menyuguhkan makanan kecil.
Kali ini semua jamaah disuguhkan bubur ayam.
Udin menghidu bubur itu yang langsung ditegur oleh guru ngaji di kampung itu.
" Din, nggak baik makanan dicium begitu" Pak ustadz sengaja berbisik kepada si Udin.
Udin tersenyum, tapi ia langsung cepat mencegah sang guru ngaji yang akan menyantap bubur tersebut.
" Pak Ustad,,,"
Pak Ustad tertegun, sikap Udin termasuk kategori tidak sopan kepada orang yang lebih tua.
" Din, mungkin kamu sama orang tua mu tidak diajarkan sopan santun. Tapi kali ini, aku akan memberi tahu mu. Jika apa yang kamu lakukan, menyetop orang yang akan makan. Itu tidak sopan " Pak Ustadz berusaha menegur Udin dengan lemah lembut.
" Maafkan Udin Pak Ustadz, Bapak dan Ibu saya memang bukan orang baik. Pak Ustadz pasti tahu itu, tapi saya tahu jika saya membiarkan ustadz memakan bubur itu akan membahayakan Pak Ustadz " Udin menjawab dengan nada suara yang sengaja direndahkan.
Pak Ustad mengernyitkan keningnya, ia menangkap hal aneh dengan penyampaian si Udin.
" Pejamkan mata Pak Ustad, lalu bacalah sholawat tujuh kali dengan sekali tarikan nafas. Maka dengan ijin Allah, Pak Ustadz akan mengerti dengan maksud saya"
Setelah berkata seperti itu, Udin bangkit lalu pergi.
Pak Ustad masih bingung, ia terus memandangi punggung si Udin yang akhirnya menghilang dalam kegelapan.
Meskipun sedikit ragu, tapi Pak Ustadz melakukan apa yang disarankan oleh Udin.
Setelah membaca sholawat tujuh kali, ia melihat bubur ayam di mangkok nya berubah menjadi air comberan yang berwarna hitam.
" Astaghfirullah" Pak Ustadz kaget sampai bubur nya lepas dari pegangan.
Kejadian itu memancing perhatian semua orang, apalagi itu terjadi kepada orang yang dihormati di desa ini.
" Pak Ustad, apa perlu saya ganti dengan bubur lain" Tanya satu orang yang bertugas melayani para jamaah.
" Ah tidak perlu, terimakasih... Saya mau pulang dulu"
Pak Ustad segera pamit kepada Tuan rumahnya yang diwakili oleh Dimas. Karena hanya dia anak laki-laki Bu Inan.
Sang guru ngaji buru-buru tancap gas. Hingga ia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikan nya dengan cahaya merah menyala.
Baru dua kilo perjalanan, tiba-tiba motor yang dinaiki Pak Ustad macet. Ia berulang kali menekan tombol starter, dan melakukan secara manual. Tetap saja motornya tidak menyala.
Mana suasana sangat sunyi senyap, padahal ini baru lepas adzan Isya.
" Kenapa lah ni Motor? Padahal selalu servis rutin, oli nggak pernah telat" Gerutu Pak Ustadz. Ia celingukan kesana-kemari, mungkin saja ada orang yang mau bersedia membantu mendorong sepeda motor nya.
Tapi hanya kegelapan yang dijumpai, lampu jalan pun mati semua.
" Bisa saya bantu Pak Ustadz" suara seorang wanita menyapa, Pak Ustadz menoleh ke belakang.
Nampak seorang wanita berdiri dengan memakai kebaya lengkap dengan konde di kepalanya.
" Maaf Dek, terimakasih atas tawaran nya" Tolak Pak ustadz, ia khawatir akan menjadi fitnah jika ia menerima pertolongan sang wanita yang bukan muhrim nya.
" Beneran Pak Ustadz, aku ikhlas loh Pak" tukas wanita itu.
Pak Ustad menautkan kedua alisnya, ia merasa kenal dengan suara wanita tersebut. Tapi siapa?? Rasanya tidak asing.
Wanita itu mendekat, wajahnya belum jelas karena suasana yang gelap gulita.
" Kenapa Pak Ustadz tadi menumpahkan bubur buatan ku?"
Pertanyaan yang mengerikan, membuat Pak ustadz menarik mundur langkahnya.
Tangan wanita itu terulur, Pak ustad melihat kuku-kuku panjang milik si wanita. Ia semakin ketakutan.
Tapi tiba-tiba sesuatu menarik tubuh wanita itu dengan kuat hingga terpelanting ke belakang.
Pak Ustad terkesiap kaget, karena saking kuatnya tarikan itu. Sehingga terdengar bunyi lengkingan kesakitan yang luar biasa.
" Pak Ustad nggak apa-apa?"
Sang guru ngaji memutar tubuhnya ke belakang, ia terkejut karena ada Udin disana.
" Udin... Kamu ngapain disini?"
" Nyusul Pak Ustadz, ayo Pak cepat pergi" Ajak si Udin.
" Tapi motor ku macet" jawab Pak ustadz.
" Nggak, insyaallah nggak macet lagi. Ayo Pak cepat"
Udin mendahului naik ke atas sepeda motor Pak Ustad di bagian jok belakang.
Meskipun ragu, untuk kesekian kalinya Pak ustadz mengikuti saran si Udin.
Dan benar saja, motornya langsung hidup dan baik-baik saja.
Saat Motor sudah melaju kembali, si Udin menoleh ke belakang. Ia melihat wanita itu beringsut bangun dengan susah payah.
Udin menepuk udara kosong dengan kedua tangannya.
AAAAAAAA
Wanita itu terhempas ke pohon besar dengan sangat kuat sekali.
Pak Ustad yang mendengar jeritan itu jadi bergidik ngeri . Ia semakin menambah kecepatan motor nya agar bisa cepat sampai ke rumah.
HUFFFFFF
Pak Ustad baru bisa bernafas lega saat ia sudah masuk pekarangan rumah nya.
" Pak Ustad saya pulang dulu" Udin langsung berpamitan.
" Loh, emang kamu mau kemana Din? kok ikut aku?" Pak Ustad belum menyadari jika sebenarnya Udin telah menolong nya.
" Nggak mau kemana-mana Ustadz, cuma iseng aja. Ya udah, saya pulang dulu ya Pak Ustad. Assalamualaikum " Udin mengangkat tangan nya seperti pamitan kepada teman sebayanya saja.
" Wa'alaikum salam" Jawab Pak ustad, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah si Udin yang menurut nya sedikit urakan.
Tapi ia tahu, jika sebenarnya Udin adalah anak yang baik. Hanya saja lingkungan tempat dia tinggal yang mengakibatkan anak itu sedikit kurang sopan kepada orang tua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Bunda Fariz
lah pak ustadz kok gk tau
2025-02-17
0
neng ade
ustadz ga sadar ya klo Udin tuh udh nolong ustadz tadi ..
2024-10-21
0
Arwin Atune
uztat
2024-08-07
0