" Oh disini kau rupanya Satrio" Seru salah satu dari tiga preman itu. Mereka masuk datang menghampiri Satrio dan anak-anaknya.
Wati memeluk erat Udin, sedang kan Rahul menangis histeris karena ketakutan.
" Bang, jangan Bang.. saya pasti akan membayar semua hutang-hutang saya. Saya janji, kasihani saya Bang... anak saya menangis nih Bang" Satrio memohon agar ia bisa dilepaskan , Kedua tangan nya menyatu di depan mukanya.
" Kau pikir kami perduli??"
Satu orang preman menarik kerah baju Satrio, ia melayangkan bogem mentah ke pipi suami Siti.
" Bapak!" Pekik Wati, tak terasa air matanya jatuh melihat sang Bapak menjadi bulan-bulanan para preman itu.
Udin yang menyaksikan Wati menangis, jadi tergerak hatinya untuk menolong.
Ia melepaskan diri dari pelukan Wati, lalu memanjat tubuh preman yang siap memukul Satrio lagi.
Udin memeluk leher si preman dari belakang, kemudian ia menggigit daun telinga si preman.
AAAAKKKKHHHHHHHHH
Si preman menjerit kesakitan, gerakan Udin sangat lah cepat, sehingga tak disadari oleh dua pria teman si preman.
Jeratan di leher Satrio terlepas, karena si preman berusaha melepaskan diri dari gigitan Udin.
Tapi meskipun sudah dibantu oleh antek-antek nya, mereka tetap tidak bisa terlepas dari gigitan si Udin.
" Woi tolong, sakiiiiiit"
Dua temannya membagi tugas, satu menarik Udin, satu lagi menarik si preman.
Tapi bukannya lepas, gigitan si Udin semakin kuat.
" AWWWWW telinga ku mau lepas!! Jangan di tarik Bo-doh!"
Keduanya pun serentak melepaskan cengkeramannya. Otomatis membuat si preman terpental berguling-guling bersama si Udin.
" Udin " Pekik Wati.
Siti yang mendengar nama Udin disebut, tidak perduli dengan apapun, ia langsung berlari masuk ke dalam.
Bos preman itu juga mengikuti Siti masuk.
Udin melepaskan gigitannya, ia meludah kan darah yang berada di mulut nya. Kemudian merangkak ke dalam pelukan si Wati kembali.
" Ada apa ini?" Seru si Bos preman, sedangkan Siti langsung berhambur memeluk anak-anaknya.
" Kalian tidak apa-apa?" Tanya Siti penuh kasih, Wati menggeleng.
" Tadi kenapa dengan si Udin?" sambung Siti, Wati tidak menjelaskan apa-apa. Tapi bola matanya bergulir ke arah preman yang terguling-guling menahan sakit di telinga nya.
" Kenapa dia?" Bos preman bertanya kepada ke dua anak buahnya yang lain. Yang ditanya hanya diam sambil saling melemparkan pandangan.
Mereka malu jika harus menceritakan bahwa itu ulah seorang bayi.
" Aku tanya, kenapa nggak ada yang berani jawab??!" bentak si Bos preman.
Dua anak buahnya menelan saliva, mereka takut bercampur malu.
Si Bos mulai kesal, ia membantu anak buahnya yang terguling-guling di lantai untuk bangun.
" Kamu kenapa??" tanyanya dengan nada menghardik.
" Sakit Bos" Si preman itu nampak basah sekali mukanya, mungkin dia menangis menahan sakit.
" Aku tahu kamu kesakitan, tapi kenapa?" Si Bos menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
" Kuping... kuping saya Bos" si preman menunjuk kan telinga nya yang ditutupi satu tangan.
Si Bos menarik tangan itu agar ia bisa melihat dengan jelas. Rupa-rupanya daun telinga anak buahnya sudah habis separuh.
" Siapa yang makan telinga mu??" Bentak si Bos, si preman tidak menyahut.
Wati melongo menatap Udin yang berada di dalam gendongannya. Si Udin tersenyum, ia mengulurkan tangannya kepada si Bos preman.
Tapi si Bos preman tidak menyadari nya, sehingga membuat Udin terpaksa mencolek lengan si Bos mafia.
" Apa sih??!" Si Bos tidak suka ada orang yang mencolek-colek dirinya. Tapi mendadak wajah murkanya berubah seputih kapas saat melihat bagian telinga anak buahnya ada ditangan anak kecil.
" Apa ini?" tangannya gemetar, ia mengambil telinga itu dengan gugup untuk memastikan.
Begitu penglihatannya sudah jelas, refleks tangan nya melemparkan potongan telinga anak buahnya itu.
HIIIIII
Ia merinding ketakutan, begitu juga dengan dua anak buahnya yang tidak diserang oleh Udin.
" Wi Nana!!" Tandas Udin dengan menunjuk ke arah pintu.
" Hah?? Dia bilang apa?" tanya si Bos semakin ketakutan.
" Sepertinya dia menyuruh kita pergi Bos" Jawab salah satu anak buahnya yang bersembunyi di belakang punggung nya.
" Kok kamu tahu?" si bos memutar kepalanya ke belakang. Ia ingin memastikan apa yang diartikan itu benar.
" Anak saya seumuran mungkin dengan bocil ini, dan ucapan nya hampir mirip " si anak buah menjelaskan.
" Ohhhh" Bos preman mengangguk mengerti" Jadi cerita nya kita di usir nih sama si Bocah?"
" I-iya Bos"
Si Bos masih tidak percaya, ia menatap secara bergilir orang-orang yang berada di kamar itu.
" Wi Nana " Sekali lagi suara Udin menyentak para gerombolan preman. Mereka mundur selangkah karena diserang ketakutan.
" Baiklah, kami akan pergi. Tapi urusan kami dengan Satrio belum selesai. Ingat ya Yo!! Kalau besok kamu belum bayar hutang mu, akan ku buat kau hanya tinggal nama" Si Bos preman mengeluarkan ancaman, Satrio bersembunyi di balik tubuh Wati tanpa berkomentar.
Si Bos preman mengajak anak buahnya untuk pergi dari tempat itu saat ini juga.
Siti beserta suami dan anaknya menghela nafas lega. Tapi rasa lega itu hanya sementara, mereka secara serentak meletakkan UDin di kasur lalu mengelilingi nya.
" Kamu Nemu anak ini dimana Bu?" Tanya Satrio.
" Dia ada di dalam angkot Pak, terus tiba-tiba ikut aku" jawab Siti.
" Udin hebat loh Bu, kecil-kecil bisa melawan preman itu sendirian" puji Wati.
" Apa karena itu Rahul jadi anteng kalau sama Udin?" Siti mulai menyadari perubahan Rahul.
" Bisa jadi... Ternyata dia anak pembawa berkah Bu" Satrio kegirangan karena ia bisa selamat dari para preman itu akibat si Udin. Siti mengangguk setuju, ia belai lembut pucuk kepala si Udin.
" Nanti malam aku bawa dia ke warung odong-odong ya Bu" sambung Satrio penuh semangat.
" Ih Bapak, kok malah kesitu mikirnya" Sergah Siti tidak terima.
" Jangan Pak, biar Udin ikut Ibu jual ikan. Dagangan Ibu laris manis kalau Udin ikut " Wati menimpali.
" Alah, berapa sih untungnya jualan. Kalau Udin bapak bawa ke warung odong-odong, kita bisa cepat kaya karena menang terus" SATRIO tetap bersikeras untuk membawa Udin ke tempat perjudian nya.
" Emang bapak yakin bakal menang?? Kalau ternyata kalah gimana??" Wati dengan bijak memberikan perandaian.
" Emmm emmm Bapak yakin menang" Satrio menjawab ragu.
" Tidak usah!! Udin ikut Ibu saja ke pasar, Aku dan Rahul juga akan ikut. Kalau Bapak mau bawa Udin juga, tunggu kami pulang jualan" Wati mengaskan diri meskipun ia sadar bahwa hal itu sangat tidak pantas dilakukan.
Satrio membuang nafas kesal, ia tidak memiliki jalan lain kecuali sepakat dengan keputusan sang anak sulung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
neng ade
Semoga aja ga akan pernah busa baws Udin ke tempat judi
2024-10-21
0
neng ade
su Satriyo dasar ga punya hati udah diselamatkan dari para preman malah mau di manfaatkan utk berjudi..
2024-10-21
0
neng ade
haha .. rasakan itu .. andai bos nya lihat sendiri pasti lah dia syok
2024-10-21
0