Raisya menangis mendengar semua pengakuan dari Dimas, ia sama sekali tidak perduli lagi dengan kata maaf yang dihibakan oleh sang suami.
Raisya menarik koper yang memang sudah ia persiapkan, ia menarik koper sambil menggendong anak nya.
Dimas terus berusaha menahan sang istri agar tidak pergi. Ketegangan itu membuat sang anak menangis histeris.
Saudara-saudara Dimas turut memohon kepada Raisya, dengan alasan anak.
Tapi hati Raisya sudah terlanjur sakit, Dimas sama sekali tidak pernah bercerita tentang Sandra. Memang dulu sewaktu mereka baru mengenal, Dimas pernah bercerita jika ia ditolak karena miskin.
Tapi hanya sekedar itu saja, mengenai kisah lainnya Dimas tidak pernah cerita.
Mungkin saja kalau Raisya tahu nama ataupun wajah perempuan yang disebut sebagai mantan bagi suaminya. Ia akan lebih waspada .
Raisya merasa ditipu mentah-mentah oleh Dimas.
" Sayang,,, tolong jangan tinggalkan aku sayang. Aku janji nggak akan melakukan kesalahan ini lagi. Setelah ini, aku janji nggak akan pernah menginjak kan kaki di kampung halaman ini lagi " Dimas tetap memohon meskipun Raisya sudah bersiap dibelakang kemudi.
Raisya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
" Mas, kau perlu ingat. Semua ini hancur bukan karena aku kaya dan kamu miskin, seperti apa yang kamu takut kan dulu sewaktu kita pacaran. Tapi semua ini terjadi karena kamu sudah banyak membohongi ku, kamu tidak jujur sama aku. Padahal aku sudah bilang sama kamu, masalah harta aku tidak perduli. Yang utama adalah kejujuran. Jadi seterusnya, entah kau akan menikah dengan siapa pun? Kalau kamu nggak jujur, semua akan kandas Mas "
Usai mengatakan hal itu, Raisya memutar kunci mobil. Anaknya yang duduk di kursi penumpang di sebelah nya hanya bisa terisak-isak.
" Sayang jangan tinggalin aku... sayang..." Dimas mengejar mobil istrinya, tapi lambat laun ia tidak bisa menyamai kecepatan mobil itu.
Kejadian ini menjadi tontonan gratis bagi masyarakat desa. Perselingkuhan Dimas dan Sandra langsung trending di seluruh kampung.
Wati yang turut menonton di depan rumah nya , hanya bisa mengelus dada.
" Kasian Mas Dimas ya Bu.. "Komentar Wati. Siti mengangguk setuju dengan anaknya.
Tiba-tiba Wati melihat seorang pria berpeci yang tersenyum kepada nya. Spontan Wati langsung tersenyum lebar, matanya berbinar-binar.
" Bu, Wati pergi dulu ya.. " Wati pamit dan langsung berlari menuju motor listriknya. Siti belum mengatakan apapun, anak gadisnya sudah pergi.
Malah Wati tidak menjawab saat Siti bertanya mau kemana?
Rupanya Wati pergi ke tepi sungai yang banyak sekali batu-batu besar. Air sungai disana sangat lah jernih. Karena berasal dari mata air di muara.
Wati semakin mempercepat langkahnya begitu melihat pria yang tadi tersenyum padanya.
Kedua pasangan muda mudi itu langsung saling berpelukan melepaskan rindu.
" Kakak kapan pulang dari pesantren??" Tanya Wati saat mereka duduk di atas bongkahan batu besar.
Iksan nama pria itu menjawab " Kemarin"
" Kok nggak langsung ketemu sama Wati?? Nggak kangen ya.. " Wati yang bertanya, Wati yang merasa sakit hati sendiri.
" Kalau nggak kangen, ngapain ketemu" Balas Iksan membuat Wati tersipu malu.
" Aku pulang karena ingin melamar mu "
Wati terkesiap kaget, detak jantungnya berdetak lebih cepat dari pada biasanya.
" Tapi, Abah sama Ummi tidak setuju"
Wajah Wati yang merona langsung layu seketika itu juga.
" Maafkan aku "
Wati tertunduk pilu, meskipun Iksan menggenggam tangan nya. Tapi itu tidak mampu mengobati kesedihannya.
" Abah sama Ummi adalah manusia biasa, dia ingin aku memiliki istri dari keluarga baik-baik"
Lanjutan kalimat yang diucapkan Iksan bagai air garam yang menaburi lukanya. Wati sudah tidak mampu menahan tangisannya. Ia sesenggukan hingga punggung nya bergetar.
Iksan merengkuh bahu itu, ia juga sakit hati karena penolakan orang tua nya.
" Kak, Wati pulang dulu ya" Wati sudah tidak kuasa untuk bertahan disisi Iksan.
" Mau kemana? Aku masih kangen loh "
" Maaf.."
Wati melompat turun lalu pergi tanpa dapat dicegah. Iksan terdiam mengamati gadis itu.
Siti yang baru saja menyuapi Rahul makan, terkejut tiba-tiba Wati datang tanpa salam membanting pintu kamar nya.
Ia saling bertatap dengan dua anak Lanang nya yang sama-sama bingung.
" Ibu ke mbak mu dulu ya.. " Pamit Siti, Udin dan Rahul mengangguk setuju.
Tok tok tok tok
" Watiiiii... Buka pintunya!! Kamu kenapa??" Tanya Siti yang baru mengetahui jika pintu nya terkunci dari dalam.
" Watiiiii " Sekali lagi Siti memanggil.
" Jangan ganggu Wati Bu, Wati ingin sendiri"
Suara Wati sangat lantang dan mengandung kekesalan. Sebagai seorang Ibu, Hati Siti sedikit tersentuh.
" Wati, jangan gitu dong. Ayo buka pintunya! Kalau ada masalah cerita sama Ibu " Siti berusaha membujuk dengan lembut.
Bersamaan dengan itu, Satrio datang. Ia menautkan kedua alisnya melihat sang istri menempel di pintu sambil diketuk-ketuk.
" Ada apa? "
" Wati Pak, sepertinya dia lagi sedih" Jawab Siti.
" Sedih?? Sedih kenapa? Paling dia cuma mau duit jajan aja ditambahin" Cetus Satrio enteng.
Wati yang mendengar suara sang Bapak mulai terpancing emosi. Ia bangkit lalu membuka pintu.
" Ini semua gara-gara Bapak " Gertaknya. Siti terperangah melihat wajah sembab sang anak.
" Wati, kamu menangis? " Siti mengelap wajah anaknya dengan penuh kasih.
" Keluar keluar langsung marah-marah, kamu kesurupan?" Balas Satrio.
" Iya!! Lama-lama Wati bisa gila karena kelakuan Bapak "
Satrio bingung, tidak ada angin tidak ada hujan anak sulungnya marah-marah.
" Jangan ngomong gitu sama Bapak mu Wati " Siti berusaha menenangkan sang anak.
" Wati sakit hati Bu, Pak haji Kamil dan istrinya tidak mau bermenantukan aku Bu. Karena keluarga kita dipandang sebelah mata, semua itu disebabkan kelakuan Bapak" Wati kembali menangis dengan pengakuan tentang apa yang terjadi.
" Ya kalau dipandang sebelah mata gampang, tinggal culek mata nya yang sebelah lagi. Biar sekalian nggak bisa ngeliat " Celutuk Udin.
" Betul " Satrio mendukung jawaban si Udin.
" DIAM KAU! masih kecil udah ikut-ikutan. Tahu apa kamu tentang perasaan Mbak? " Wati jadi semakin bertambah kesal.
" Kamu sama Bapak sama Aja!! Padahal cuma anak pungut "
Siti terbelalak kaget.
" Wati!!! Jaga bicaramu " Wanita yang sejak semula berusaha meredam emosi sang anak, jadi tersinggung dengan ucapan anaknya sendiri.
" Lama-lama ku tampar kau " Satrio pun turut kesal .
" Tampar saja Pak! Tampar!" Wati bukan nya takut, malah menyodorkan wajah nya.
Tapi Satrio hanya diam dengan tangan mengepal.
" Pokoknya besok Wati mau masuk pesantren, Wati mau mengubah cara pandang orang-orang terhadap Wati. Terutama keluarga Pak Haji Kamil" Cetusan Wati semakin membingungkan seisi rumah.
Gadis manis itu kembali masuk ke dalam kamar, membiarkan kedua orang tuanya saling berpandangan satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
neng ade
Ya bagus lah itu kalau km memilih masuk pesantren dari pada kamu menuntut ilmu hitam
2024-10-21
0
Ibrahim Rusli
genre horor apa bukan sih ini thor
2024-09-03
0
V3
hhmm ... untung nya Wati emosi nya mnta ke pesantren ,, cb klu ngabur nya aneh-aneh ,, berabe nich urusan nya 🤣🤦🤦
2024-06-05
0