Makhluk penyusup itu melolong panjang, yang kemudian disahuti oleh anjing menyalak bersahut-sahutan.
Ia melompat-lompat sambil memegang kakinya yang kesakitan.
Udin tersenyum devil, ia berdiri dengan menjadi kan palu sebagai tongkat.
" Jadi kau pelakunya" Sergah makhluk itu sesaat setelah tenang, Udin mengangkat sebelah alisnya.
" Baiklah, kau ngajak gulat ya. Meskipun kamu seorang bayi, aku tidak akan segan lagi"
Makhluk itu mengeram, ia menghentakkan kakinya sehingga tercipta gempa berskala kecil.
Udin yang belum bisa berdiri dengan baik jadi limbung dan terduduk di lantai.
HAHAHAHAHAHAHAHAHA
Makhluk itu kegirangan kedua tangannya terpacak di pinggang. Ia angkat satu kaki nya tinggi-tinggi. Hatinya sudah tidak sabar untuk melenyapkan makhluk kecil pengganggu itu.
Kaki besar si Makhluk perlahan menghimpit tubuh Si Udin. Tapi tiba-tiba sesuatu yang menyakitkan berdenyut di bawah kakinya.
Makhluk itu mengangkat kakinya untuk memeriksa apa gerangan yang telah membuat nya merasakan kesakitan?
Rupa-rupanya sebuah paku menancap di telapak kakinya.
AAAAAAAKKKKKHHHHHHHHHHHHHH
Jeritan kedua kalinya menggema lantang, membuat anjing-anjing tidak berani untuk menyalak. Kawanan anjing itu memilih untuk meringkuk menutupi kepalanya.
HIHIHI
Udin tertawa senang, ia menganggap penampilan makhluk yang kesakitan itu seperti sesuatu yang lucu.
Api kemarahan semakin bergejolak, makhluk itu tidak bisa terima kekalahan nya. Ia menarik paku itu, lalu membuangnya sembarangan.
Dia duduk bersila, perut nya yang besar melenper ke lantai. Bola matanya memerah, wajahnya semakin menyeramkan saja.
Mulutnya yang dipenuhi luka berbau busuk komat Kamit membaca mantra.
Asap mengepul keluar dari tubuhnya, Makhluk itu menunjuk ke arah si Udin. Serta merta asap tebal itu bergerak cepat menutupi tubuh si Udin sampai tak terlihat.
TUUUUUUUUT
Terdengar bunyi aneh dari dalam gulungan asap yang membuat asap itu seperti lari berbalik menutupi tubuh makhluk tersebut.
UHUK UHUK UHUK UHUK
" Kur*Ng 4jar!! bau apa ini??" Teriak makhluk itu, ia berusaha menghindar dari gulungan asap buatan nya. Tapi ternyata bukan hal yang mudah, asap itu terus mengikuti. Di tambah dengan bau kentut si Udin. Semakin menambah pusing kepala.
Mau tidak mau makhluk itu harus cepat pergi kalau tidak ingin mati karena kesulitan bernafas.
Udin tertawa senang, akhirnya dia bisa menang dari pertarungan ini. Ia kembali naik ke atas kasur dan kembali ke tempat semula.
*
WUZZZZZ BRAK
Pintu yang terbuat dari anyaman bambu itu terbanting kuat disertai angin kencang menerpa.
Si nenek dukun menutupi wajahnya, karena angin yang datang cukup kuat.
GRRRRRRRRR
Suara erangan bersamaan dengan bau busuk menyengat, membuat si nenek sadar jika jin kiriman nya telah datang.
Ia mengeluarkan jurus agar pintu rumah nya kembali tertutup dan suasana menjadi tenang.
" Kau telah kembali, apakah tugas mu sudah selesai??" Seru si Nenek.
Bayangan hitam melangkah terseok-seok, lalu terhempas kuat di hadapan si nenek.
" Aku mau nulis keterangan tidak mampu" jawabnya dengan suara berat. Ia terlihat kelelahan.
" Kenapa?? Apa susahnya kau membuat wanita itu berbau busuk dan dipenuhi luka" tanggap si Nenek.
" Ini bukan masalah wanita itu, tapi anak kecil yang bersama wanita itu. Dia bukan orang biasa, anak itu masih lagi belum bisa berdiri sempurna. Tapi sudah bisa membuat ku kewalahan dan hampir mati kehabisan nafas "
Si nenek terdiam, apakah anak yang dimaksud adalah anak yang sama dengan anak yang sudah membuat pocong nya kehilangan kain kafan.
" Sudahlah, aku pensiun saja sekarang. Aku malu, masak Jin profesional seperti aku harus kalah dengan anak kecil. Kalau sampai teman-temanku tahu? bisa hilang harga diriku sebagai jin senior " sambung makhluk itu.
" Jangan gitu dong, aku masih butuh kamu. Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku jamin kejadian ini tidak akan di dengar oleh teman-temanmu yang lain" Sahut si Nenek.
Makhluk itu menghela nafas panjang berbau busuk. Ia pun bangkit dengan susah payah lalu lenyap menjadi sekumpulan asap.
" Aku harus mencari tahu siapa sebenarnya anak ini?" Gumam si Nenek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satrio bangun dari tidurnya, ia merasa sangat pusing sekali. Matahari sudah sepenggalah, bau aroma masakan sang istri terendus oleh indra penciuman nya.
Satrio meringsek turun, ia keluar dari kamar dan menemukan Wati tengah bermain dengan dua bocil di ruang tengah yang merangkap menjadi tempat makan.
" Eh sudah bangun Pak?" tanya Siti yang baru datang dari arah dapur dengan membawa lauk pauk. Ia meletakkan lauk tersebut di atas meja berbentuk kotak.
" Kamu bawa Rahul kemarin ?" Satrio sama sekali tidak menjawab pertanyaan istrinya.
" Oh iya pak, saya bawa dia ke pasar. Tapi anaknya enteng loh dia kayaknya suka sama Udin" Siti menjelaskan dengan sangat bahagia.
Satrio mengernyitkan keningnya, ia lirik tiga anak itu yang masih asik bermain di lantai.
" Jadi nama anak itu Udin?" tanyanya.
" Iya Pak, Wati yang kasih nama"
" Terserah deh, asal jangan merepotkan aku" cetus Satrio, Siti mengangguk. Ia lega akhirnya sang suami bisa menerima kehadiran Udin.
TOK TOK TOK TOK
SATRIO!!! SATRIO!!!
Semua orang yang berada di ruang tengah serta merta menoleh ke arah luar. Mereka juga seperti saling berpandangan satu sama lain.
" Siapa Bu?" tanya Wati, iya sedikit takut karena suara itu terdengar sangat kasar.
" Nggak tahu, Wat cepat bawa adik-adik mu masuk ke kamar" Siti memberikan perintah, Wati mengangguk patuh. Ia menuntun Rahul dan menggendong Udin.
" Cepat buka pintunya Bu" Satrio turut masuk ke dalam kamar sang anak. Ia sepertinya ketakutan juga.
Siti sebenarnya gerun , tapi ia lebih tidak berani untuk melawan perintah suami nya.
KRETEK
Daun pintu dibuka pelan dari dalam, tapi orang yang berada di luar rumah tidak sabar sehingga menendang pintu itu.
BRAK
Membuat tubuh Siti terjejer ke belakang beberapa langkah.
" Lambat amat cuma buka pintu doang" Gertak seorang pria, ia masuk diikuti beberapa teman nya yang berpenampilan seperti seorang preman.
"Mana Satrio!!" sambung nya dengan nada kasar.
"Emmm ng-ng-nggak ada" Siti gemetar ketakutan.
"Ang eng ang eng, Kamu pikir aku percaya?! Cepat panggil dia!! Atau ku seret dia keluar secara paksa" ancam nya.
Siti diam mematung, ia tidak berani bergerak.
" Bos, dia tidak mendengarkan perintah mu" ucap salah satu pengikut pria itu.
Pria yang disebut Bos menjeling tajam, ia pun memberi kode agar masuk ke dalam mencari Satrio.
Tiga pria masuk dan membuka secara kasar pintu kamar pertama. Di sana mereka tidak menemukan siapa-siapa.
Dan disaat mereka mendobrak pintu kamar kedua, barulah mereka menemukan Satrio yang bersembunyi di balik tubuh Wati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Ricka Monika
lawak coy🤪🤸
2024-11-27
0
Inyoman Raka
laki laki pengecut bisanya cuman mabuk doang
2024-09-03
0
Arwin Atune
semnunyi
2024-08-07
0