Ku kepal test pack yang ada di tangan kananku dengan sangat erat. Mencoba menenangkan, juga menguatkan diriku untuk bertemu dengan mereka.
Perlahan ku buka pintu kamar mandi, benar saja. Mereka semua langsung menoleh ke arahku. Juga ... Sarah?
Cewek itu sudah bangun? Ah yang paling penting adalah hasil ini sekarang. Sangat menjengkelkan.
"Gimana hasilnya Binar?" tanya Vio begitu aku keluar dari kamar mandi. Vio segera memapah tubuhku yang masih lemas ini.
Perlahan ku perlihatkan test pack ini pada satu satu dari mereka. Ya, hasilnya ....
"Positif?" Sarah terlihat sangat terpuruk saat mengetahui aku positif. Begitu dengan Mas Gian. Mimik wajahnya tidak bisa ku tebak. Apa yang sedang dia pikirkan?
Vio memeluk tubuhku dengan sangat erat, aku membalas pelukannya. "Selamat ya Bin, selamat."
"Ini bukan sesuatu yang harus di syukuri Vi. Ini musibah buatku," ucapku. Apa yang baru saja ku katakan? Musibah? Tidak Binar. Jangan berkata seperti itu.
Vio melepaskan pelukannya, dia memegang kedua pundakku dan menatapku dengan tatapan seriusnya. Ah aku jadi tahu tatapan Vio akan seperti ini kalau dia sedang serius. "Ini bukan musibah Binar!"
Ah iya ... iya ... bukan musibah. Bukan musibah untukku tapi menjadi musibah untuk calon anakku ini.
"Binar."
Aku menolehkan pandanganku padanya, pada suara itu. "Apa Mas? Mau bilang apa? Maaf? Percuma, udah terlambat."
"Binar, maaf."
Aku tersenyum getir, berjalan dengan sedikit sempoyongan mendekatinya. "Mas, udah berapa kali aku bilang buat jangan sembarangan nyebut talak Mas. Kamu bohong, kamu bohong bilang kalo kamu sayang aku. Kamu bohong Mas!"
"Enggak Binar. Itu semua benar, Mas cuma gak terima kenapa Sarah sampe keguguran."
"Itu bukan aku Mas, bukan aku!"
"Kalo bukan kamu terus siapa lagi Binar? Gak ada orang lain selain kita bertiga di rumah ini. Aku? Aku gak mungkin nyelakain anak aku sendiri. Sarah? Sarah gak mungkin nyelakain anaknya. Kalau bukan kamu siapa lagi?"
Aku menggeleng. Dia memang benar. Hanya ada kita bertiga, lalu apa? Aku harus mengatakan iya untuk sesuatu yang tidak aku lakukan? "Demi Allah. Kalau sampai aku yang melakukan itu, detik ini juga aku sanggup untuk kehilangan anak aku Mas!"
"Binar!"
Aku menoleh ke arah Sarah. Suaranya cukup kencang untuk orang yang baru pulih dari sakitnya. "Cukup! Cukup Binar!"
"Cukup? Cukup apa Sar?"
"Cukup! Jangan berkata yang tidak-tidak, sudah."
Aku tidak bisa menahan tangisku lagi. Nelangsa rasanya. Di saat kehamilanku di ketahui kebenarannya, di saat itu juga Mas Gian sudah menalak ku. Talak tiga pula. Aku tidak bisa terus menanggung semua ini tanpa henti. Sampai kapan derita ini akan berakhir Tuhan?
Vio menghampiriku, memegangku karena tubuhku sudah tidak kuat. Bahkan untuk berdiri. "Terus sekarang apa? Apa yang harus aku lakukan Mas? Apa aku harus mengakui apa yang tidak aku perbuat? Apa aku harus tanggung jawab atas apa yang bukan kesalahanku? Iya Mas?"
Mas Gian terdiam sejenak. "Lalu kalau bukan kamu, siapa lagi Binar?"
"Mas!" seru Sarah dari belakang Mas Gian.
Mas Gian menghampiri Sarah yang juga keadaannya tidak jauh berbeda dariku. Mas Gian mengelus puncak kepala istrinya itu dengan lembut. Lalu aku siapa? Kenapa aku juga tidak dapat perhatian yang sama dari suamiku sendiri?
"Sudah Mas, kasihan Binar."
Mas Gian menggeleng. "Enggak sayang, dia harus tetap di hukum. Anak dia akan kita rawat setelah lahir."
"Apa-apaan Mas? Gak bisa gitu dong!" seruku. "Mas udah pergi dari hidupku terus aku juga harus kehilangan anakku Mas?"
"Setimpal atas apa yang sudah kamu lakukan pada Sarah, Binar!"
"Gila kamu!"
"Maaf Mas, Mbak, saya permisi dulu ya. Tidak enak, kalau ada apa-apa hubungi lagi saja," ucap dokter itu sambil beranjak dari hadapan kami.
Apa Mas Gian tidak malu dengan itu?
"Vi, kita pergi dari sini sekarang," ucapku pada Vio yang diikuti anggukan darinya.
Kak Fatur membantuku untuk mengemasi barang-barang ku yang berada di kamar ini. "Tunggu, kamu gak bisa keluar dari rumah ini sebelum tanda tangan surat perjanjian."
"Perjanjian apa Mas?"
"Perjanjian kalau anak kamu lahir, aku yang akan mengurusnya dengan Sarah."
"Enggak!" Aku menghampiri dan mencoba memukul tubuh Mas Gian. Lelaki itu hanya diam saja. "Kamu gila Mas! Gila!"
Plak....
Aku langsung terdiam, mematung. Tamparan lagi? Apa itu yang hanya bisa di lakukan oleh lelaki gila ini? Kenapa Ayah sampai tega membiarkan aku menikah dengannya? Apa Ayah tidak sayang aku? Membiarkan anak semata wayangnya di pukuli habis-habisan oleh suaminya sendiri. Mas Gian benar-benar sudah gila.
Bugh...
Bugh...
Bugh....
"Kalo berani hajar gua aja lo anjing! Itu istri lo, kenapa lo tega nyiksa dia kaya gitu? Lo banci? Gila lo!"
Aku semakin mematung kala kak Fatur menghajar Mas Gian dengan pukulan tak hentinya. "Kak,"
Vio sudah memelukku lagi. Dia menangis. Aku bahkan tidak bisa lagi menangis. menatap lurus ke arah Mas Gian, tapi pikiranku entah kemana. Ini sakit. Sakit sekali.
Kak Fatur sedikit berlari ke arahku, melihat kedua wajahku yang sudah sangat memerah. Tamparan Mas Gian bukan tamparan biasa, Mas Gian menamparku dengan seluruh tenaganya.
"Kalo lo gak bisa jaga istri lo, bahkan lo gak bisa bahagiain dia. Biar gua aja Mas. Biar gua nikahin istri lo! Banci!"
"Kak Fatur ... " gumamku.
Apa yang baru saja Kak Fatur katakan? Dia tidak sedang bercanda? Atau memang serius dengan perkataannya? Ah, mana mungkin kalau serius.
"Tau apa lo soal ngebahagiain orang hah? Bahkan lo sendiri belum pernah menikah. Lo tahu apa soal pernikahan yang lo sendiri gak mau ada di dalamnya?" Mas Gian. Kalimatnya benar-benar menusukku.
"Kalo dari awal lo gak suka sama dia, kenapa gak lo cerain saat itu juga?"
"Gua ngehormatin wasiat orang tua gua."
"Lo ngehormatin wasiat orang tua lo? Terus apa kabar sama orang tua dia? Lo mikir dong kalo punya otak. Minimal kalo lo gak suka sama dia jangan lo siksa. Binatang!"
"Mas udah Mas!" Teriak Sarah. "Udah!"
"Udah apa sayang? Ini gak adil buat kamu. Gak adil juga buat Mas. Kita baru aja ngerasa seneng sama kehadiran dia, tapi kita harus kehilangannya di saat itu juga. Gak adil buat kita Sar!" jelas Mas Gian.
Tidak adil untuknya? Tidak adil untuk mereka? Cih! Bahkan dia tidak pantas berbicara keadilan di depanku.
"Engga Mas! Aku sedih, aku juga engga terima sama ini. Aku juga mau anakku baik-baik aja. Aku juga mau orang yang ngebunuh anak kita tanggung jawab atas perlakuannya. Aku juga mau Mas!"
"Terus apa Sar? Kenapa kamu gak dukung aku? Binar harus di hukum!"
"Aku yang bikin diriku keguguran. Aku yang ngebunuh anak ini Mas!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Chaning
aku haca ni novel kok bingung sendiri
2023-07-15
0
Amalia Gati Subagio
hmmmm binal jalang cadangan gratisan halnya paling depan!! Narsistis!! pengen slalu jd pusat dunia, ibral diri jd lacur halal j
2023-07-06
0
Amalia Gati Subagio
fix, si binar ODGJ!! Hamba sahaya sindrom ☹️
2023-07-06
0