bab 13

"Mas minta maaf, bener - bener minta maaf."

"Kamu dimana?"

"Mas kesana ya?"

"Binar..."

"Mas khawatir..."

"Maaf soal tadi, pulang ya?"

"Mas kesana ya? kasih tahu lokasi nya biar Mas temenin."

"Mas gak bakal minta kamu pulang, Mas cuma mau nemenin kamu di sana!"

"Bin?"

"Eh iya Kak?" Aku segera menutup ponselku.

"Coba bangunin Vio, ini jalannya ke arah mana? Belok kanan atau kiri, engga jelas map nya."

"Iya kak."

Aku mencoba membangunkan Vio berulang kali, namun tidak ada jawaban. Vio tidur dengan sangat pulas.

"Gak bangun-bangun Kak, Vio nya."

"Coba pake air aja, ini darurat, nanti kalo salah takutnya jalan buntu."

Aku mengangguk paham, ku keluarkan botol minumku dan mencipratkan ke muka Vio.

"Emm... aduh bocor apa ini?"

"Dek bangun lah, ini jalannya kemana? Kanan atau kiri?"

Vio yang setengah sadar menggosok-gosokkan mata dengan tangannya, "kiri..."

"Kiri nih bener?"

Ku lihat Vio sudah tertidur lagi. "Iya kali Kak, orangnya tidur lagi."

"Ya ampun, apa lah si Vio ini, di kira gua supirnya kali ya? Gak tahu lagi lokasinya di mana!"

Aku hanya terkekeh mendengar omelan Kak Fatur.

"Eh Bin, sini lah duduk depan, ajak gua ngobrol biar gak ngantuk juga."

Aku mengangguk, tidak ada salahnya kan? Kak Fatur mengentikan mobilnya di pinggir jalan agar aku bisa pindah tempat duduk di sampingnya.

"Yu Kak, udah."

Melihatku yang sudah duduk di depan, Kak Fatur kembali menjalankan mobilnya. Kini jalan yang kami tempuh cukup terjal untuk mobil, jalan setapak yang masih tanah merah. Mobil Kak Fatur pun beberapa kali selip gara-gara terjebak di lubang bekas hujan. Jalanan cukup licin juga, di tambah ada jurang di sebelah kiri kita.

"Aduh, ini bener jalannya engga sih? Kok gini banget?"

"Vio pernah cerita kak, kalo jalannya emang ada yang rusak kaya gini, tapi ko ini panjang banget ya rusaknya? Vio bilang sih cuma sekita beberapa meter aja."

"Duh, kalo salah susah puter baliknya nih, kalo mundur juga lebih susah soalnya tadi pas maju aja ampe selip kan? Semoga engga salah atau di depan ada lahan lebih luas deh, ini sampingnya jurang juga soalnya."

"Iya Kak."

"Bin, doa ya, gua punya feeling jelek."

"Hus... engga boleh gitu kak, harus husnudzon."

Aku mencoba menenangkan Kak Fatur walaupun aku sendiri cukup gemetar di sini, takut kalau-kalau salah jalan. Atau yang lebih parahnya ban mobil tergelincir ke jurang karna licin, astagfirullah jangan mikir gitu Binar.

Apa ini gara-gara engga minta izin dari Mas Gian? Ah, masa iya?

"Bin, Bin," seru Kak Fatur yang terdengar panik.

"Hah? Apa Kak kenapa?"

"Bangunin, bangunin Vio, suruh pindah posisi ke arah kiri, ini mobil bentar lagi kayanya jatoh Bin."

"Astagfirullah Kak, kenapa bisa gitu?"

"Gak bisa di rem tiba-tiba Bin, kemudi juga gak bisa di arahin, gak tahu kenapa, cepet bangunin Vio sebelum jatoh ke bawah Bin."

Aku mengangguk, benar-benar panik, "VIO, BANGUNN, VI BANGUNNN...."

"Em? Apa Bin?"

"Lo salah jalan kayanya Vi, kita mau jatoh, cepet bangun pindah ke jok sebelah kiri."

"Hah? Apa lo? ke kanan kan tadi kita?"

"Mampus Vi, Bin, kita jatoh bentar lagi!"

"Vi cepet loncat ke kiri, bawa tas buat lindungin badan, lo juga Bin, cepet kalian loncat!"

"T-tapi kakak gimana?" tanyaku khawatir akan Kak Fatur.

"Jangan peduliin gua, kalau umur gua masih ada gua yakin gua bakal selamat, kalo engga yang penting kalian, CEPET!"

"Kak tolong jangan mati," ucap Vio, dia meloncat lebih dulu dari jok belakang ke arah kiri.

"Lo cepet loncat Bin!"

"Kak! Tolong loncat juga!"

"Gua bakal loncat setelah lo, cepet!"

Tiba-tiba tatapanku buram, merasa pusing seketika itu juga mual. Hingga aku tidak bisa melihat apa-apa padahal belum loncat dari mobil.

"Mas... Gian..."

 ~~~

"Sudah dua minggu perkiraan Mbok Cu, kamu loh tak kirain sudah menikah ternyata itu Kakakmu."

"Iya Mbok, tapi Kak Fatur gak apa-apa kan ya? Terus kondisi kandungan teman saya gimana Mbok kira-kira?"

"Iya Kakakmu baik-baik saja cuma syok sama luka kecil, buat kandungannya untuk kuat Cu, jadi tidak apa-apa."

Aku mendengar samar-samar suara dua- orang yang sedang berbincang, ku buka perlahan kedua mataku. Dinding dari anyaman bambu pertama terlihat oleh pandanganku, ku edarkan ke sekeliling sampai mataku bertemu dengan Vio.

"Vi," ucapku sambil mencoba bangun, "aduh..." tiba-tiba terasa nyeri di bagian perutku, mungkin akibat tadi.

Sebentar, seingat ku tadi aku masih di mobil Kak Fatur, tapi sekarang sudah ada di sini? Di mana Kak Fatur?

"Kak Fatur dimana Vi? Dia selamat kan? Ini kita di mana?"

"Tenang Cu, temanmu itu baik-baik saja," sanggah Nenek - nenek tua berumur sekisaran delapan puluh tahunan.

"Iya Bin, Kak Fatur tadi dorong lo dari mobil, pas gua samperin lo udah pingsan. Terus, untungnya Kak Fatur sempet loncat sebelum mobil kita jatoh, kalau sampe telat udah gak tahu lagi gimana nasib dia," jelas Vio.

Aku akhirnya bisa bernafas lega mengetahui kita bertiga selamat, walaupun mobilnya tidak. Tapi, mobil bisa beli lagi, nyawa orang?

"Oh iya, Nenek yang nyelamatin kita ya? Terimakasih banyak ya Nek?"

"Sama-sama, tadi cucu Nenek yang nemuin kalian, terus di bawa ke rumah ini."

"Cucu Nenek?"

"Iya Bin, namanya Mas Topan, dia nemuin kita pas gua teriak-teriak minta tolong, dia lagi ngambil kayu di kebunnya. Kalian pingsan berdua, gua gak tahu lagi tadi kalo gak ada Mas Topan."

"Ya ampun, makasih banyak ya Nek, salamin sama cucu Nenek."

"Iya Cu, oh iya ini di minum ramuan buat Ibu hamil, biar makin kuat kandungannya."

"Hamil?" Aku bingung kala mendengar pernyataan Nenek ini, siapa pula yang hamil?

Tunggu... jangan-jangan?

"Selamat ya Bin, lo ko ga cerita ke gua kalo lagi hamil?"

"Bentar, jadi saya hamil Nek? Sejak kapan?"

"Kalau penglihatan Nenek sih satu minggu, kamu baru tahu?"

Aku menoleh ke adah Vio sambil mengangguk. "I-iya Nek, masyaallah, padahal saya mau cerai Nek, ko hamil ya?"

"Cerai?" tanya Vio dan Nenek itu bersamaan.

"Serius mau cerai Bin?"

Aku mengangguk.

"Kenapa cerai Cu? Allah paling enggak suka loh sama orang yang berpisah setelah menikah..."

Aku tertunduk lesu, tiba-tiba pandanganku buram lagi dan sedikit mual.

"Tidurin aja lagi Bin, pusing ya?"

Aku mengangguk, lalu menurut untuk tiduran di samak milik Nenek ini.

"Kalau masih bisa di pertahankan, pertahankan saja Cu, kasihan anaknya kalau tidak punya bapak."

Terpopuler

Comments

Sukliang

Sukliang

hamil pula
gimana mau cerai

2023-07-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!