Aku terus mengelus perutku saat di dalam mobil. Mas Gian pun sama, sesekali mengelusnya.
Ya, kita sudah pamit pada Nenek dan cucunya, Mas Topan. Mas Topan juga menyimpan nomor Vio dengan dalih agar bisa menjalin silaturahmi. Padahal aku tahu betul kalau Vio tertarik dengannya.
"Mas, kita mampir ke apotek dulu buat beli test pack ya."
Mas Gian mengangguk. Mas Fatur dan Vio sudah kami antar sampai rumahnya. Kini tersisa aku dan Mas Gian.
"Mas gak nyangka bakal secepet ini kamu hamil sayang," ucap Mas Gian dengan senyum manisnya.
Dia terlihat sangat senang, akupun. Tapi aku masih ragu dengan kehamilanku ini. Aku takut kalai yang di ucapkan Nenek itu keliru.
Ah, tapi apapun hasilnya. Aku akan bersikap lapang.
Mas Gian berhenti tepat di depan apotek di daerah dekat rumah kami. Aku segera membuka pintu mobil namun lengan Mas Gian menahan ku.
"Mau kemana?"
"Beli test pack Mas, kemana lagi?"
Mas Gian menggeleng. "Mas yang beli, kamu tunggu di sini."
Aku tersenyum, ternyata sikapnya akan selembut ini. Entah apa yang akan terjadi di depan. Aku tidak tahu akankah Mas Gian menceraikanku atau tidak, tapi rasanya itu tidak mungkin mengingat kehamilanku.
Tak butuh waktu lama untuk Mas Gian membelinya. Dia memberikannya padaku. "Kata yang jualnya ini paling akurat sayang, bismillah ya?"
Aku mengangguk. Besar harapku pada hasilnya. Tapi, jika negatif akankah Mas Gian marah padaku?
"Mas," ucapku pada Mas Gian yang sedang fokus dengan jalanan.
"Hmm?"
"Kalau hasilnya negatif kamu bakal marah ga?" tanyaku penuh dengan keraguan.
Mas Gian menggeleng. Tangannya mengusap perut rataku dengan sangat lembut sedangkan matanya terus lurus menatap jalan. "Apapun hasilnya, Mas gak bakal marah. Kalau positif Mas akan sangat senang."
Benar. Tidak mungkin Mas Gian marah kalau aku negatif. Lagipula siapa aku? Aku tidak bisa menciptakan manusia, aku bukan Tuhan.
"Tidur aja kalo ngantuk ya?"
Aku mengangguk. "Iya Mas, aku juga cape banget rasanya."
~~~
"APA? HAMIL?"
Aku melirik ke arah Mas Gian, benar dugaan ku Sarah akan sangat marah.
"Jadi kamu udah ngelakuin itu sama dia Mas? Kamu bilang kamu bakal cerain dia setelah empat puluh hari Ayah kamu, dan nikahin aku secara negara Mas!"
Mas Gian memegang kedua pundak Sarah. "Maaf ya Sarah, ini juga baru mau di tes ko sama Binar, belum tahu positif atau engga."
"Besok aja Mas, aku belum siap liat hasilnya hari ini," sanggah ku. Rasanya memang tidak pantas mengganggu mereka, tapi di sini aku istri pertamanya. Harusnya yang merasa menjadi pengganggu adalah dia, Sarah.
Sarah terlihat sangat marah, wajahnya memerah.
"Mas, yang benar aja? Aku... terus aku gimana?"
"Kamu masih tetap istriku Sarah, Mas tidak akan menceraikan kamu."
Ada rasa sakit dan rasa tidak terima yang muncul tiba-tiba di hatiku. Ya, memang selamanya Mas Gian tidak akan menceraikan Sarah. Seharusnya aku sudah paham itu.
"Mas bener-bener berubah, Mas bohong ke aku, Mas udah jatuh cinta kan sama cewe itu?" Sarah menunjuk ke arahku.
"Sarah, Mas mohon jangan gitu. Dia masih istri Mas."
"Tapi janji kamu di awal engga gini Mas!"
"Udah udah, Binar kamu masuk aja ke kamar, Sarah biar sama Mas dulu."
Aku mengangguk. Lagipula aku juga sudah sangat cape, butuh istirahat.
Aku berjalan ke kamarku lalu menaruh test pack itu di nakas samping kasurku.
"Semoga hasilnya positif, aku sangat ingin memiliki anak dari Mas Gian."
Pagi yang cerah, aku segera bangun dan mengambil *test pack* ku itu. Lalu pergi ke kamar mandi, rasanya tidak sabar melihat hasilnya.
"N-negatif?"
Aku mengulangnya. Aku tidak percaya dengan hasilnya. Aku yakin betul kalau aku hamil, sudah telat tiga minggu dan akhir-akhir ini pun aku sering ngerasa pusing dan mual.
Engga mungkin kalau hasilnya negatif.
"Binar..."
Mas Gian. Dia ada di depan pintu kamar mandi ku, bagaimana bisa dia masuk sedangkan aku menguncinya dari dalam?
Aku segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri Mas Gian.
"Mas, negatif," ucapku lemah. Mas Gian sedikit terkejut namun satu detik kemudian dia tersenyum.
"Tidak apa-apa sayang, gak masalah buat Mas."
"Tapi, aku yakin kalau aku hamil Mas!"
"Sut. Ga apa-apa, Mas engga marah atau kecewa ko sama kamu."
Bohong. Mas Gian sangat berharap banyak padaku. Bahkan dia sangat senang kemarin. Tapi, aku mengecewakannya hari ini. Tunggu....
"Mas, Mas masuk ke kamar aku gimana caranya?"
Mas Gian terlihat bingung. "Ya masuk aja Bin, di buka pintunya."
"Gak ke kunci ya?"
Mas Gian menggeleng. "Enggak, kenapa emangnya?"
"Aku berarti lupa ngunci kamar Mas," jawabku.
"Maksudnya apa tu? Nuduh gua ngakalin test pack lu?"
Sarah tiba-tiba masuk dengan tangan yang di lipat di dada.
"Engga gitu ko Sar."
"Iya sayang, Binar engga ada niat nuduh kamu ko."
"Halah, udah ketauan. Nih, lihat pake mata lo," ucap Sarah sambil memperlihatkan satu barang kecil panjang dengan dua garis merah kepadaku dan Mas Gian secara bergantian.
"K-kamu hamil sayang?"
Sarah mengangguk. Mas Gian langsung memeluknya sama seperti dia memelukku kemarin.
Kenapa jadi seperti ini? Kenapa jadi Sarah yang hamil? Padahal, padahl aku yang sudah telat datang bulan, kenapa Sarah yang hamil?
"Dari kapan? Kenapa kamu engga cerita ke Mas sayang?"
Sarah melirik ke arahku dengan tatapan mengejek. "Sejak Mas pergi nyusul istri pertamamu itu, aku tadinya mau ngasih Mas kejutan eh malah aku yang di kejutin balik."
Mas Gian melepaskan pelukkannya. Dia mengusap dengan lembut perut Sarah.
"Ayo, kamu harus istirahat yang banyak. Hari ini engga masuk kantor sampe kamu melahirkan. Besok kita ke dokter ya?"
Mas Gian dan Sarah berlalu dari hadapanku, kenapa jadi seperti ini?
Aku terduduk lesu, kepalaku mulai terasa pusing dan mual lagi. Aku tidak tahu kenapa, aku negatif. Kalau alat itu keliru, rasanya tidak mungkin. Mas Gian bilang itu alat tes yang paling akurat, tidak mungkin ada kekeliruan dari alat itu. Aku memang tidak hamil ya? Jadi pusing dan mual yang aku alami sekarang memang sakit biasa ya?
Lalu datang bulan yang telat itu? Apa itu juga hormon? Entah...
"Halo Vi."
"*Halo, ada apa bumil*?"
"Gua gak hamil Vi, negatif."
Hening beberapa saat hingga Vio berkata. "*Ah gitu ya Bin. Gak apa-apa jangan sedih ya? Gua yakin pasti bakal di kasih pas waktunya Bin*."
"Iya Vi, besok anter gua ke rumah sakit ya? Gua takut sendiri. Kayanya gua sakit, mens gua juga telat tiga minggu."
"*Bukannya ada suami lo Bin*?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Sukliang
dak baca
2023-07-15
1
Widi Widurai
tespeknya dituker
2023-07-14
0
Amalia Gati Subagio
budak nafsu gratisannarsistis
2023-07-06
0