bab 16

"Halo Vi."

"Halo, ada apa bumil?"

"Gua gak hamil Vi, negatif."

Hening beberapa saat hingga Vio berkata. "Ah gitu ya Bin. Gak apa-apa jangan sedih ya? Gua yakin pasti bakal di kasih pas waktunya Bin."

"Iya Vi, besok anter gua ke rumah sakit ya? Gua takut sendiri. Kayanya gua sakit, mens gua juga telat tiga minggu."

"Bukannya ada suami lo Bin?"

"Gua gak mau ganggu kebahagiaan dia Vi."

"Kebahagiaan apa?"

"Sarah hamil ternyata, dia tahu kalau dia hamil pas Mas Gian nyamperin gua kemaren."

"Bentar Bin, lo negatif terus tiba-tiba madu lo positif? Maksudnya gimana? Lo gak ada curiga dia nuker test pack nya?"

"Gak bisa di tuker lah oon, lo kira pake test pack sama kaya tes lab? Engga lah."

Ku dengar Vio terkekeh. "Iya juga ya Bin."

"Binar," seru Mas Gian dari arah luar kamarku.

"Iya Mas?"

"Eh Vi nanti lagi ya di lanjut."

Aku mematikan sambungan telfon ku dengan Vio. "Ada apa Mas?"

"Sarah mau bubur, tapi katanya pengen bubur bikinan kamu. Boleh?"

Aku menghela nafasku. Yang seharusnya hamil itu adalah aku. Tapi sekarang malah aku yang harus meladeni maduku yang hamil.

Aku mengangguk dengan terpaksa. "Iya bisa Mas, nanti aku anterin ke kamar kalo udah jadi."

"Makasih banyak ya Binar."

Mas Gian kembali lagi ke kamarnya. Rasanya sakit sekali. Aku seperti kehilangan dua orang sekaligus padahal aku tidak pernah mengandung. Aku seperti kehilangan anak dan suamiku secara bersamaan. Sakit sekali.

Segera ku siapkan bahan-bahan untuk membuat bubur. Aku tidak terlalu mahir dalam membuatnya karena hampir tidak pernah, hanya saja dulu Ibu sering membuatkan aku bubur waktu aku sakit. Jadi, sedikit banyaknya aku mengerti.

"Em ... airnya harus lebih banyak lagi nih."

Aku menambahkan air lagi ke dalam beras yang sudah ku cuci. Kemudian memasukkan sejumput garam juga dengan penyedap rasanya.

Ku aduk-aduk hingga air menyusut. Di rasa sudah matang, aku segera mengantarkannya ke kamar Sarah.

Tok ...

Tok ...

Tok ...

"Sar ... Mas ... ini buburnya."

Tak lama dari itu pintu terbuka. Terlihat Sarah dengan senyum sumringahnya. "Makasih ya Mbak, aku makan dulu."

Aku mengangguk. "Sama-sama. Mas, aku mau ketemu Vio dulu."

Mas Gian hanya mengangguk. Tidak menjawab apapun, dia sedang fokus menyuapi Sarah. Memang benar, aku tidak pantas mendapatkan perlakuan baik Mas Gian untuk kemarin-kemarin. Bahkan aku tidak hamil.

Aku ingin bertemu dengan Vio.

 ~~~

Begitu sampai di halaman rumah Vio, aku di suguhkan dengan pemandangan Kak Fatur yang sedang mencuci motornya.

"Sendiri Bin kesini nya? Suami lo mana?" tanya Kak Fatur kala aku sampai di hadapannya.

"Sendiri Kak. Mas Gian lagi pacaran sama istri keduanya."

"Buset. Sarkas banget. Jadi suami lo udah nikah lagi? Enak banget ya jadi suami lo, punya istri dua," ucap Kak Fatur di akhiri dengan kekehan.

Memang benar, enak punya istri dua. Untuk Mas Gian, tidK untukku.

"Ah, udah deh. Vio ada?"

"Ada, emang gak janjian? Masuk aja Bin."

Aku mengangguk. "Masuk dulu ya Kak."

"Iya ... iya."

Aku tidak melihat ada Vio di ruang tamu. Pasti ada di kamarnya, aku segera menuju kamarnya.

"Nah bener kan, ya ampun drakor mulu Vi."

Vio menoleh ke arahku. "Eh ... dari kapan lo di sini?"

"Barusan."

"Ada apa Bin?"

Aku menggeleng. Aku hanya butuh bertemu orang lain selain mereka berdua.

"Kalau gua cerai sama Mas Gian apa gua bakal sendiri Vi?"

"Aduh. Nanya apa si lo Bin? Emang selama lo nikah sama suami lo itu siapa yang lo hubungi pas lo sedih hah?"

Benar juga. Vio satu-satunya orang yang selalu ada untukku. Mas Gian tidak lebih dari orang asing itu sendiri. Ada apa denganku? Kenapa rasanya takut sekali berpisah dengan Mas Gian?

"I-iya si. Maaf Vi," ucapku tak enak.

"Gak apa-apa. Lagian wajar ko. Tenang aja, lo gak bakal di cere in ko. Waktu itu gua liat suami lo sayang sama lo."

"Iya juga ya Vi?"

"Iya lah. Ya udah diem dulu, gua mau lanjut nonton. Lo mau ikutan nonton ga?"

Aku menggeleng. Tidak suka drakor. Ku buka ponselku berniat untuk melihat-lihat laporan bisnis peninggalan ayah. Bagaimanapun aku harus melanjutkannya.

"Binar! Pulang sekarang!"

"Kamu di mana hah?"

"P"

"P"

"Binar! Balik!"

"Apa maksudnya ini?"

"Dimana?"

"P"

Aku mengerutkan dahi ku kala mendapati banyak pesan dari Mas Gian yang menyuruhku pulang. Baru beberapa jam aku keluar dari rumah sudah di suruh pulang lagi? Kan ada Sarah.

"Ada apa Mas? Aku baru sampe, tadi macet," balasku.

Tertera di layar ponsel Mas Gian's calling aku segera mengangkatnya.

"Dimana kamu?"

"Di rumah Vio Mas."

Vio yang mendengar ku sedang mengobrol dengan Mas Gian dia langsung menaikkan satu alisnya bertanya tanpa suara. Aku menggeleng tidak tahu apa-apa.

"Pulang sekarang! Tindakan kamu sekarang benar-benar salah Binar!"

"Tindakan apa Mas? Lagipula aku baru sampe di sini."

"Pulang sekarang atau aku talak kamu!"

"Mas!"

Tut ... tut ... tut ...

"Ada apa?" tanya Vio dengan wajah khawatirnya.

"Gak tahu. Mas Gian tiba-tiba marah gitu aja. Dia bilang kalo gua gak pulang sekarang dia bakal nalak gua Vi."

"Hah? Apa deh maksudnya, ya udah kita ke rumah lo sekarang."

"Jangan Vi, gua aja. Gua takut lu nanti bakal kena marah Maa Gian. Lagian gua gak enak kalo lu harus lihat gua di marahin sama dia."

Vio menggeleng. "Enggak. Justru gua khawatir sama lo, kita ke sana sekarang."

Aku pasrah. Di samping itu aku juga takut dengan nada bicara Mas Gian barusan. Dia seperti waktu sering memarahiku dulu.

"Apa ya Vi?"

Vio menarik tanganku untuk keluar dari rumah. "Eh kak mau kemana?" Tanya Vio pada kak Fatur.

"Nyari angin."

"Ko pake mobil?"

"Motor kakak abis di cuci, biasanya kalo abis di cuci bakal ujan. Jadi pake mobil biar gak keujanan. Ada apa?"

Vio berlari ke arah mobil lalu masuk dengan mengajakku. "Ayo kak, ke rumah Binar."

"Ngapain? Gak tahu juga rumahnya dimana."

"Udah jalan aja, nanti gua kasih tau. Penting banget soalnya."

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah. Perasaan aku tidak membuat masalah apa-apa. Atau lupa matiin kompor? Enggak juga.

Kenapa Mas Gian semarah itu padaku? Apa yang sudah aku lakukan sampai dia begitu marah?

Sesampainya kami di rumah. Aku sudah melihat Mas Gian berdiri di ambang pintu. Aku segera turun menghampirinya dengan diikuti oleh Vio dan Kak Fatur.

Plak ....

"Kita cerai! Aku talak kamu! Ini talakku yang ke tiga!"

Terpopuler

Comments

mbok Darmi

mbok Darmi

dasar suami lucknut dikadalin sarah aja percaya tak sumpahin sarah ngga bakalan bisa hamil biar loe tau rasa dan untuk binar segera cerai aja percuma punya suami ngga jelas gitu dikit2 main tangan

2023-06-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!