Bab 5

"Dia bawa istri barunya ke rumah kalian Bi? Dia nikah tanpa sepengetahuan kamu?" cerocos Vio saat aku menceritakan apa yang baru saja terjadi padaku akhir-akhir ini.

Disinilah aku sekarang, cafe dekat rumah Vio. Sekarang aku sudah tidak perlu lagi pulang cepat, tidak perlu lagi takut di marahi gara - gara tidak izin. Bukan aku melepaskan tanggung jawabku sebagai istri, hanya saja rasanya aku sudah tidak di butuhkan di rumah itu.

"Iya... gitu Vi, ya aku kaget aja pas dia bilang udah nikah sama Sarah."

"Ko santai gitu si?" tanya Vio heran yang melihatku seakan baik-baik saja.

"Kamu gak tahu aja kemaren, aku udah puas nangis Vi... masa sekarang mau nangis-nangis lagi, udah capek," jawabku yang mendapat gelengan pelan dari Vio.

"Aku ada kenalan cowok, dia udah mapan, cuma duda Bi anaknya satu, cewe,"

Aku terkekeh mendengar tawaran dari Vio. "Apa sih Vi? Kenapa engga kamu aja yang sama dia? Gini-gini aku masih jadi istri orang tahu!"

"Ya abisan aku heran sama rumah tangga kalian, ini sebenernya jenis hubungan kaya gimana si Bi? Aku bingung sekaligus iba, ya maksudku kalau memang sudah tidak bisa bersama kenapa engga di sudahi aja?"

Aku juga sebenarnya bingung, selama ini aku mempertahankan hubungan rumah tanggaku hanya karena dua alasan. Pertama, karena Allah tidak menyukai perceraian. Kedua, karena ini amanat Ayah kami.

Tapi, dengan Mas Gian terang-terangan sudah tidak membutuhkanku karena dia sekarang menikah dengan Sarah—istri pujaannya—ya aku rasa lebih baik kali ini aku mundur atau tetap jadi istri sahnya namun hanya sebatas titlle saja.

"Kamu aja yang denger aku curhat bingung ya Vi, apalagi aku yang ngejalaninnya," ucapku sambil menghela nafas, ku minum kopi yang ku pesan tadi agar menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba muncul karena mengingat perilaku Mas Gian.

"Ya, sekarang aku cuma ngikutin alur Mas Gian aja Vi, kalau dia tidak menceraikan aku ya sudah. Kalau dia menceraikan aku juga ya gapapa, aku sudah tidak akan memaksa, atau usaha lebih untuk hubungan kita, toh sudah ada Sarah," lanjutku.

"Kamu bener juga, sih, Bi."

"Paling sekarang aku mau nyari kegiatan lain aja, apa ya tapi?"

"Kamu engga mau lanjutin kuliah kamu lagi Bi?" tanya Vio. Vio tahun ini akan lulus kuliah memang.

"Ah engga Vi, kayanya engga bakal keurus, aku mau nyoba usaha buka cafe aja, mau join gak?"

Vio mengangguk antusias, dia memang sangat menyukai kopi. Mendengar aku mengajaknya membuka cafe, tentu dia akan senang.

"Nanti aku kirim file-file nya ya Vi buat di pelajarin,"

"Okay sahabatku tercinta."

Aku turun dari motor ojek online yang ku pesan tadi di cafe, sebenarnya Vio sudah menawarkan untuk mengantarkanku pulang tapi aku menolak.

Aku memiliki firasat buruk kalau Vio mengantarkanku, nanti bisa-bisa dia juga kena marah Mas Gian gara-gara main denganku. Kan, Mas Gian paling enggak suka kalau aku punya teman.

"Dari mana saja?"

Kan, baru saja di obrolin. Mas Gian sudah menungguku di depan pintu utama rumahnya, aku tidak menjawab dan memilih berlalu melewati Mas Gian.

"Aku tanya, kamu dari mana?"

Aku menghela nafas, menghentikan langkah kakiku tepat di ambang pintu. Aku melihat seisi rumah tapi tidak menemukan Sarah, dimana cewe murahan itu?

"Kenapa Mas?"

"Kenapa apanya Bi? Aku nanya kamu dari mana?"

Aku membalikkan badanku ke arah Mas Gian, wajahnya sudah memerah, dia pasti marah. "Abis ketemu temen."

"Siapa?"

"Kamu enggak perlu tahu!"

Mas Gian mengepal tangan kananku dengan sangat keras, terasa perih karena luka yang waktu itu juga belum sembuh. Aku mengerang karena kesakitan, tak ku sangka saat aku mengaduh suamiku melepaskan tangannya dari tanganku.

Biasanya tidak akan, biasanya dia akan semakin mempererat sampai dia puas. Kenapa sekarang malah melepaskannya?

"Maaf,"

Maaf? Kata maaf lolos dari mulut Mas Gian untukku? Sejak kapan dia seperti ini, aku bahkan tidak tahu kalau suamiku bisa bersikap demikian.

"Kenapa? Kenapa di lepas Mas? Udah puas emang?"

"Bi, aku cuma mau tahu istriku dari mana, kenapa enggak ngasih tahu aku kamu keluar?"

"Bukannya kamu yang bilang sendiri Mas kalau aku keluar tanpa izin dari kamu, kamu bakal nalak aku kan? Talak aku sekarang Mas!"

Entah sejak kapan aku jadi berani melawannya, tidak memiliki rasa takut sedikitpun. Aku seperti mendapat kekuatan lebih untuk sekedar melawannya dalam ucapan.

"Kenapa kamu jadi berani gini sama aku Bi?"

"Kamu masih nanya kenapa aku kaya gini Mas? Setelah semua yang kamu lakuin ke aku, kamu masih nanya kenapa?" Aku menggeleng sudah tidak paham lagi jalan pikir suamiku ini.

Aku tinggalkan dia sendiri di depan pintu, aku tidak peduli kalau memang aku harus melawan suamiku sendiri. Entah kenapa, saat mengingat Mas Gian membawa Sarah untuk pertama kalinya rasanya aku hanya ingin berteriak di hadapan Mas Gian.

Saat akan masuk ke dalam kamar, aku lihat Sarah ada di dalam kamarku. Dia sedang duduk saja tanpa melakukan apa - apa, aku mendekat ke arahnya.

"Ngapain di sini?"

Sarah yang melihatku masuk begitu sumringah, dia berdiri sambil memegang pundakku.

"Mbak, tolong cuciin bajuku sama baju Mas Gian ya, tuh bajunya," ucap Sarah sambil menunjuk ke keranjang biru yang ada di samping ranjang. Entah dari kapan itu bisa ada di sana, mungkin Sarah yang membawanya waktu masuk ke kamarku.

Aku tertawa. "Nyuci ini?" tanyaku sambil menunjuk ke keranjang biru itu.

"Maaf ya istri kesayangan Mas Gian, aku engga ada kewajiban untuk mengurus keperluan kamu, apalagi mencuci pakaian kotor punya orang kotor pula," lanjutku membuatnya tampak geram.

"Apa? Kamu enggak terima?" tanyaku lagi.

"Mbak, kamu bener-bener ya, liat aja aku bakal nyuruh Mas Gian buat bikin kamu nyuci semua pakaian ini."

Sarah meninggalkanku dengan cuciannya, kesal rasanya. Ku keluarkan baju kotor itu dari kamarku dan langsung mengunci pintu, tidak akan ku biarkan siapapun masuk termasuk Mas Gian. Kalau sampai lelaki itu menyuruhku mencucinya, akan ku buang baju itu. Lihat saja.

"Ah.... kesel banget, kalau aku bisa kabur dari rumah ini rasanya aku mau lakuin itu aja."

"Loh, ko di luar sih baju aku?"

Pasti itu suara Sarah, aku mendengarnya dari dalam kamar.

"Ya udah ke belakangin aja sayang, kamu belajar nyuci."

Dan itu suara Mas Gian.

"Aduh Mas, kamu kan tahu kalau aku gak pernah nyuci seumur hidupku? Kenapa engga Mbak Binar aja sih yang nyuci?"

"Kan ini baju kamu sayang, masa orang lain yang nyuci?"

"Mas, kalo gitu simpen art satu di rumah buat beresin rumah sama cuci pakaianku."

Aku geram rasanya, mendengar perdebatan kecil di depan kamarku sendiri?

"Bisa diem gak? Kalian kalo mau debat tolong jangan di depan kamar orang!" teriakku dari dalam kamar. Aku geram sekali rasanya.

Terpopuler

Comments

Sulfia Nuriawati

Sulfia Nuriawati

kan biar dpt surga binar y gpp kali jd babu laki sm madunya, dasar bego si binar

2023-07-21

0

Sukliang

Sukliang

ini pelakor dak waras, suruh istri sah cuci in baju kotirnya
bakarin aja

2023-07-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!