bab 18

"H-hamil?"

"Binar hamil dok?"

"Hasil test pack nya negatif dok."

"Binar benar-benar hamil?"

Samar-samar terdengar suara orang-orang yang menyebut namaku. Aku hamil? Ah tidak ini hanya mimpi. Lagi pula aku sangat nyaman dengan posisi ini. Kasur ini, ah iya aku mengingatnya. Ini terasa seperti kasurku.

Ini memang kasurku ya? Ya berarti apa yang aku alami tadi memang hanya mimpi. Mas Gian yang menamparku. Mas Gian yang menarik tubuhku. Mas Gian yang melukai tanganku. Mas Gian yang membanting tubuhku.

Terakhir, Mas Gian menalak ku. Tapi, itu tidak mungkin. Kan?

Benar. Biar ku ulangi, itu hanya mimpi.

Aku tidak ingin membuka mataku. Aku yakin itu hanya mimpi, jadi aku tidak perlu membuka mataku kan? Tapi, rasa perih di tanganku terasa nyata. Rasa nyeri di sekujur tubuhku juga sangat nyata.

Mungkin aku hanya kelelahan. Iya. Hanya kelelahan. Mana mungkin Mas Gian menamparku dan menyakitiku lagi kan? Apalagi sampai menceraikan ku. Aku ini sedang hamil, loh.

Hamil? Bukankah test pack ku negatif? Iya aku ingat. Aku tidak hamil, tapi Sarah yang hamil. Baik, mungkin kenapa tubuhku terasa nyeri karena aku kecapekan. Iya benar, aku terlalu keras berfikir kenapa aku tidak hamil. Aku sangat lelah.

Lebih baik aku tidur saja? Lagi pula, rasanya aku tidak bisa membuka mataku. Terasa sangat Berat.

"Jadi, Binar benar-benar hamil ya?"

H-hamil? S-siapa? Aku? Tidak. Sebenarnya ini mimpi atau bukan? Kenapa aku bisa mendengar suara mereka tapi aku tidak bisa membuka mataku? Sarah ... iya. Mungkin maksud mereka Sarah yang hamil. Mereka sedang membicarakan Sarah, bukan aku.

"Betul Pak, tidak salah lagi. Setelah Binar sadar mari kita tes menggunakan test pack yang saya bawa."

Apa yang baru saja ku dengar? Itu suara dokter yang menangani Sarah kan? Tunggu. Memangnya Sarah kenapa?

Ah, Sarah keguguran ya? Tapi memang bukan aku yang melakukannya. Aku tidak pernah berfikir keji bahkan sampai tega membunuh janinnya. Apa yang aku pikirkan sekarang ini? Lagi pula itu semua hanya mimpi.

Mas Gian yang kasar. Mas Gian yang menceraikanku. Sarah yang keguguran. Itu semua hanya mimpi. Sekali lagi, hanya mimpi. Dan aku berharap, test pack ku yang negatif juga hanya mimpi.

Kan?

Terasa jari-jari lembut menelusuri setiap hela rambutku. Membelai kengingku dengan lembut. Nyaman sekali rasanya. Tapi, ini bukan tangan Mas Gian. Lalu tangan siapa?

Perlahan ku paksa mataku untuk terbuka. Sebenarnya tidak ingin, tapi aku ingin tahu kebenarannya. Aku mimpi atau tidak? Lalu, tangan siapa ini?

Sorot lampu begitu menyilaukan pandanganku. Buram seketika. Aku mengerjapkn mataku berulang. "Binar ... hey ... lo udah bangun?"

Vio. Jadi tangan yang mengelus keningku barusan Vio ya? Aku mengangguk. "I-iya ... kamu lagi apa di sini?"

Aku tidak ingat.

"Kamu sudah sadar ya Binar. Bagaimana, masih terasa pusing? Atau ada yang terasa sakit di bagian tubuh lainnya?"

Aku mengangguk, sambil mencoba duduk. Vio membantuku. "Semua badanku nyeri dok, luka di tanganku juga perih, sedikit pusing sama mual."

"Maaf."

Semua yang ada di ruangan, aku, Vio, kak Fatur, bahkan dokter pun menoleh ke arah Mas Gian. Dia meminta maaf padaku? Berarti kejadian yang tadi bukan sekedar mimpi? Itu nyata ya? Mas Gian, kenapa bisa seperti ini?

"Maaf apa Mas? Aku tadi cuma mimpi kan ya? Vi, tadi aku mimpi buruk banget. Mas Gian nampar aku, tapi itu cuma mimpi doang ko Vi. Sumpah Vi, tapi aku gak bisa kalo itu ternyata bukan mimpi."

Vio menggelengkan kepalanya dengan tangisnya yang tertahan. "Loh, kenapa Vi?" tanyaku heran.

"Maaf Binar."

"Ma-maaf untuk apa Mas? Itu cuma mimpi kok. Iya kan Mas?"

"Binar, kalau sudah bisa berdiri tolong cek pake test pack ini ya? Kamu hamil, hanya untuk membuktikan itu kepada orang yang ada di sini, kamu harus tes pake alat ini," ucap dokter itu sambil memberikan satu test pack kepadaku.

Ini test pack yang sama dengan yang di beli Mas Gian dengaku malam itu. Bagaimana bisa? Dia bilang aku hamil? Lelucon macam apa? Tadi pagi saja aku sudah mengeceknya dan hasilnya negatif, kok.

Aku bingung, menerima barang itu dengan kebingungan. Ku tatap Vio dan kak Fatur secara bergantian. Keduanya mengangguk, aku tidak paham apa maksudnya. Untuk apa mereka mengangguk?

Ah banyak sekali hal yang membingungkan dan pertanyaan-pertanyaan dari kepalaku. Kalau tahu akan seperti ini lebih baik tadi aku tetap tidur, tidak bangun lagi pun tak apa.

"Aku harus tes lagi dok?" tanyaku penuh kebingungan.

"Iya Binar, untuk membuktikan kepada suamimu."

Membuktikan pada Mas Gian, maksudnya? Apa yang perlu di buktikan? Mas Gian sudah tahu kalau aku tidak hamil. Sarah yang hamil. Terus untuk apa? Lagi pula yang tadi hanya mimpi. Atau ... tidak?

Baik. Sepertinya kenyataan yang sudah terjadi di sini adalah apa yang sudah aku anggap hanya sebatas mimpi belaka. Jika memang aku sampai hamil, bagaimana dengan anak ini? Dia akan lahir dengan keadaan aku dan Mas Gian sudah bercerai. Rujuk pun tak bisa. Mas Gian menalak ku dengan talak tiga nya.

Apa lagi kejutan Tuhan kali ini? Ini semua benar-benar tidak bisa di tebak dan alur yang cukup membingungkan. Setidaknya, untukku.

Aku menatap dokter itu dengan lekat lalu mengangguk. Sudahlah, apapun yang terjadi mungkin memang sudah takdir yang harus aku jalani. Apapun aku terima. Iya benar, seperti itu saja Binar. Aku berjalan ke arah kamar mandi di tuntun oleh Vio. Vio menungguku di depan pintu kamar mandi yang berada di kamarku.

"Kalau memang hasilnya akan positif, ada apa dengan test pack yang Mas Gian beli tempo hari? Merk nya sama, bentuk nya pun sama," gumamku pada diri sendiri.

Ada banyak pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Semua di luar nalar ku. Biarlah. Aku sudah pasrah dengan apapun hasilnya. Hanya, aku sangat berharap aku tidak hamil kali ini. Kasihan anakku nanti, akan tanpa sosok ayah.

Setelah mengeluarkan urine ku, segera ku taruh test pack itu di sana beberapa menit. Kalau sampai hasilnya positif, mungkin alat yang sebelumnya rusak? Tapi bagaimana bisa rusak, padahal itu barang baru. Atau saat di sananya sudah rusak? Tidak mungkin. Tidak mungkin sesimpel itu. Iya kan?

Aku terkejut dengan hasilnya. Tidak, ini tidak mungkin. Apa maksudnya? Siapa sebenarnya yang sedang mempermainkan ku? Aku menutup mulutku dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang alat yang di berikan dokter itu.

Ku kepal test pack yang ada di tangan kananku dengan sangat erat. Mencoba menenangkan, juga menguatkan diriku untuk bertemu dengan mereka.

Perlahan ku buka pintu kamar mandi, benar saja. Mereka semua langsung menoleh ke arahku. Juga ... Sarah?

Cewek itu sudah bangun? Ah yang paling penting adalah hasil ini sekarang. Sangat menjengkelkan.

"Gimana hasilnya Binar?"

Terpopuler

Comments

Mak Nab

Mak Nab

biar mampus dgn bodoh

2024-02-01

0

Sukliang

Sukliang

sebellll

2023-07-18

0

itin

itin

bab ini sungguh membuat jengkel. apa terlalu keras pukulan gian ke benar ya sampai oleng begitu si binar 😅

2023-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!