bab 20

"Engga Mas! Aku sedih, aku juga engga terima sama ini. Aku juga mau anakku baik-baik aja. Aku juga mau orang yang ngebunuh anak kita tanggung jawab atas perlakuannya. Aku juga mau Mas!"

"Terus apa Sar? Kenapa kamu gak dukung aku? Binar harus di hukum!"

"Aku yang bikin diriku keguguran. Aku yang ngebunuh anak ini Mas!"

Aku melongo mendengar penuturan Sarah. Begitupun Mas Gian, bahkan semua orang yang ada di sini. Apa maksud ucapan Sarah barusan? Itu tidak mungkin. Tidak mungkin sama sekali.

"M-maksud kamu apa Sar?" tanya Mas Gian. Lelaki itu memegang kedua pundak Sarah meminta kejelasan. "Apa? Apa maksudnya? Gak mungkin kamu kaya gitu Sar. Aku udah kenal kamu bertahun-tahun, mustahil apa yang kamu bilang itu benar. Kamu enggak kaya gitu."

"Bener Mas! Memang aku yang membunuh anak ini."

"Bohong! Jelasin, jelasin ke aku gimana cara kamu ngelakuinnya? Kamu minum obat pencaharnya hah? Kenapa?"

Sarah menggeleng. Air matanya luluh berderai tiada henti. Mulutnya bungkam. Akupun tidak percaya Sarah melakukan itu. Tidak mungkin, aku sangat mempercayai Sarah walaupun dia sudah merebut suamiku. Tapi, Sarah memang orang baik. Dia tidak jahat juga padaku. Karena inginnya hanya Mas Gian.

Sarah berjalan ke arah dapur, diikuti oleh Mas Gian. Akupun ikut karena penasaran apa yang akan di lakukan nya. Vio dan Kak Fatur menuntunku sampai dapur.

"Ini Mas," ucap Sarah sambil menunjukkan satu toples garam. "Ini kan yang lo pake buat bikin bubur Bin?" tanya Sarah padaku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.

Lama Sarah memandangi toples itu dengan tangisnya. Aku tidak tahu maksud dia apa. Tidak mengerti sama sekali.

"Jelasin Sarah! Apa maksudnya? Ada apa sama garam ini? Aku gak paham maksudmu apa. Gak mungkin seorang Ibu ngebunuh anaknya sendiri. Itu engga mungkin!"

Sarah mengangguk dengan air mata juga mulutnya yang tetap bungkam. "Iya, Mas bener. Enggak mungkin aku ngebunuh anakku sendiri apalagi aku belum pernah melihatnya sama sekali.  Aku enggak mungkin dengan sengaja biarin dia meninggal. Aku juga engga tega Mas!"

"Terus apa? Apa maksud omongan kamu tadi? Itu semua bohong kan? Bohong kan Sar?"

Sarah menggeleng. "Enggak! Itu bener Mas. Aku yang ngebunuh anak ini."

Mas Gian mengusap wajahnya gusar. "Iya terus apa? Terus gimana cara kamu ngebunuh dia? Gimana cara seorang Ibu tega ngebunuh anaknya hah?" Nada Mas Gian terdengar lebih tinggi dari biasanya. Dia sangat terpukul sepertinya dengan apa yang baru saja Sarah katakan.

"Binar .... "

Aku menoleh ke arah Sarah yang memanggilku. "Maaf Binar."

Lagi-lagi aku tidak paham dengan situasunya. Aku tidak tahu apa maksud Sarah. Kenapa lama sekali dia mengatakan kebenarannya? Dia takut untuk berkata jujur? "Kenapa minta maaf Sarah?" tanyaku.

"Malam itu, saat kamu tidur aku nuker test pack kamu dengan alat punyaku yang rusak. Aku belum sanggup kalo sampe kamu hamil Binar. Aku belum sanggup karena aku juga hamil. Gak mau punya saingan karena aku gak mau Mas Gian berpaling dari aku," jelasnya.

Kedua mataku membulat. Vio sampai menutup mulutnya saking kaget. Mas Gian? Dia lemas mendengar penuturan dari Sarah. Berulang kali Mas Gian mengusap wajahnya.

Pantas saja, pantas hasilnya negatif dan sekarang positif. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan keadaan ini. Mau marah tapi itu hal sepele. Mungkin tidak apa-apa.

"Kenapa? Kenapa harus kamu lakuin itu Sarah?" Mas Gian kembali memegang kedua pundak istrinya itu. Ia goyang-goyang meminta kejelasan. "Kamu raguin perasaan aku ke kamu? Kalaupun saat itu Binar hamil dan kamu enggak, aku gak akan pernah ngurangin perhatian dan rasa sayang aku ke kamu!"

"Bohong! Kamu bohong, sorot mata kamu pas natap Binar udah beda Mas. Enggak ada lagi rasa benci di diri kamu buat dia. Kamu mulai suka sama Binar Mas! Apa yang terjadi kalo Binar hamil? Kamu akan makin sayang sama dia sedangkan aku? Kamu pasti bakal jauhin aku."

Sarah menundukkan pandangannya. Menatap putihnya lantai dapur. "Kalau Binar sampai hamil, kamu enggak akan menceraikan dia kan Mas?" tanyanya dengan nada lebih rendah.

Mas Gian melepaskan kedua tangannya. Tangan kirinya memegang kening, tangan kanannya mengepal lalu di luncurkannya pukul yang keras pada tembok.

"Arghhhhh ... "

"Mas," ucapku terkejut melihat Mas Gian memukul tembok dengan sangat keras. Tangannya mulai bercucuran lagi oleh darah segar. "Jangan Mas!"

Mas Gian menatapku dengan tatapan sedu. Entah apa. Aku baru saja merasakan hangatnya diri Mas Gian. Mungkin untuknya pun sama. Baru saja aku akan memulai semuanya dengan suamiku ini. Tapi, kita harus berpisah. Mungkin yang di rasa Mas Gian pun sama.

"Terus apa Sar yang bikin kamu keguguran?" tanya Maa Gian dengan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi. Sorot mata Mas Gian memancarkan kekecewaan.

"Aku naro serbuk obat pencahar di sini karena Binar suka masak. Aku berharap dia makan masakan yang di pakein garam dari sini supaya dia keguguran. Aku berharap Binar enggak hamil, kalopun dia hamil aku harap dia keguguran."

Hening. Tidak ada yang bersuara sedikitpun. Jadi maksudnya ini senjata makan tuan? Dia bermaksud untuk membuatku keguguran tapi pada akhirnya dia juga yang memakan garam itu?

"Saat mau bubur, aku lupa dengan obat pencahar yang ada di dalam garam itu. Ternyata kandunganku lemah, obat pencahar itu juga dosisnya besar. Binar juga seharusnya keguguran karena pasti menyicipi masakanku, tapi dia enggak. Mungkin Binar hanya memakannya sedikit sedangkan aku satu mangkuk."

Hening.

Tangisku pecah kala mendengar kejujuran dari Sarah. Sebegitu bencinya dia padaku sampai tega melakukan ini? Tuhan masih melindungiku. Melindungi anakku. Tapi, semuanya juga tidak ada artinya karena Mas Gian pun sudah menalakku. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus seperti ini?

Mas Gian tertawa. Aku tidak mengerti kenapa dia tertawa. "Sarah ... Sarah ... ternyata gua salah ya nilai lo selama ini? Ternyata lo bisa ngelakuin hal keji kaya gini? Gua gak pernah nyangka sama sekali."

Mas Gian menggeleng. Lagi-lagi mengusap wajahnya gusar. Dia mendekat ke arahku. Memelukku dengan sangat erat. "Maaf Binar. Maaf."

"Mas gak tahu lagi harus gimana, Mas nyesel Binar! Maaf. Maaf."

"KALAU AKU GAK BUAT BINAR KEGUGURAN SELAMANYA AKU GAK BISA DAPETIN KAMU MAS! CEWEK SIALAN ITU UDAH NGEREBUT KAMU DARI AKU! AKU GAK TERIMA!"

Teriakan Sarah cukup membuatku lagi-lagi terkejut. Aku tidak pernah berfikir untuk merebut Mas Gian darinya. Dari awal pernikahan aku tidak tahu kalau Mas Gian memiliki seorang kekasih. Aku tidak tahu sama sekali kejelasan itu.

Mas Gian melepaskan pelukannya dariku. "Jangan bicara apapun lagi. Gua gak mau lihat muka lo. Sampah!"

Terpopuler

Comments

Chaning

Chaning

biasanya si lakor g akn ngakuin kesalahannya,

2023-07-15

0

itin

itin

jarang loh ada pelaku yang mengakui perbuatannya. bisa saja sarah bungkam selamanya. atau dia takut ketika gian bawa kasus ini ke polisi akan membuka kedoknya? sarah takut justru dia yang dipenjara? sangat langka ada yang jujur sama kejahatannya

2023-07-11

0

Amalia Gati Subagio

Amalia Gati Subagio

fix binal jalang gratis an ODGJ, budak romusha vs jagal

2023-07-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!