bab 12

Aku menggosok-gosok mata dengan tanganku, ternyata ini sudah pagi. Hari ini aku berencana untuk pergi bersama Vio, mengantar ke tempat penelitiannya. Tidak peduli Mas Gian mengizinkannya atau tidak, aku akan tetap berangkat. Ah, lagi pula aku tidak akan izin.

Ku masukkan beberapa pasang baju untukku di sana, tidak lupa memasukkan charger dan power bank kalau-kalau habis batre di perjalanan.

Tok... tok... tok...

"Bin?"

"Suara Mas Gian?" gumamku.

"Iya Mas sebentar," seruku dari dalam, aku berjalan ke arah pintu dan membukanya.

"Ada apa Mas?"

"Ikut Mas ya hari ini, ke kantor Bin."

"Ngapain? Kan biasanya juga engga pernah, lagian aku gak bisa sekarang Mas, lagi sibuk!"

"Ayo lah Bin, Sarah udah berangkat lebih dulu mau nyiapin tempat meeting soalnya," pinta Mas Gian.

"Loh, terus fungsi aku ikut sama kamu apa Mas?"

"Ya ikut aja, kamu gak pernah lihat kantorku kan?"

Iya, memang dari dulu aku sangat ingin mengunjungi kantornya untuk sekedar mengirimnya makan siang. Tapi Mas Gian selalu melarang dan memarahiku kalau aku sampai menginjakkan kaki di sana.

Mungkin karena ada Sarah, nah sekarang Sarah sudah jadi maduku. Tidak akan ada hak yang di tutup-tutupi lagi untukku.

"Engga ah Mas, aku ada urusan hari ini."

"Mau kemana sih emang?" tanya Mas Gian, dia menerobos masuk ke dalam kamarku.

"Loh ini tas apa Bin? Kamu mau kemana hah?"

"Nganter Vio, mau penelitian tiga hari Mas. Ah udah, sana berangkat aku mau siap-siap udah telat banget ini."

Mas Gian menggenggam kedua tanganku, tatapannya sangat tajam. "Emang Mas izinin? Enggak kan? Kenapa mau berangkat tanpa izin dulu?"

"Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau setiap langkah kamu itu harus ada izin dari suami?"

Aku bengong mendengar semua pertanyaannya, sejak kapan dia paham akan itu? Selama ini dia melarang ku keluar hanya agar memuaskan hasrat nya. Kalau dia puas, dia akan senang.

"Oke," ucapku sambil melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

"Sekarang aku izin, aku mau nemenin Vio, kasian dia mau penelitian masa sendiri?"

"Gak aku izinin, gimana kalau di sana kamu bertemu dengan laki-laki lain? Gimana kalau kamu jatuh cinta sama dia? Gimana hah?"

"Ya tinggal nikah aja aku sama dia, toh kita akan cerai kan?"

Plakkkk....

Aku termenung kala Mas Gian menamparku lagi, apa yang salah dari ucapan ku?

"Mas?"

Mas Gian tampak membeku, dia sepertinya baru menyadari apa yang baru saja dia lakukan.

"Mas nampar aku? Lagi, Mas?"

"Bin... Bin sorry aku ga maksud kaya gitu Bin," ucap Mas Gian terbata-bata.

Tidak ku sangka dia masih kasar kepadaku, setelah semua yang dia lakukan tadi malam? Apa dia lupa dengan ucapan-ucapan manisnya itu? Sudah ku bilang, Mas Gian hanya lelaki yang mengikuti hasratnya kalau bersama ku. Dia akan menjadi apa yang dia mau asal dia senang, ya itu semua kalau bersamaku.

Berbeda jika dengan Sarah, dia akan berubah lembut bahkan sangat lembut melebihi kapas. Kalau denganku? Dia akan menjadi bringas.

"Mas barusan nampar aku loh, Mas kenapa kalau sama aku selalu kaya gini sih?"

"Mas kenapa selalu kasar sama aku? Kenapa ke Sarah engga Mas?"

"Bin... maaf... aku... aku engga sengaja Bin!"

"Engga sengaja kamu bilang? Terus kenapa selalu engga sengaja sama aku sedangkan ke Sarah? Bicara dengan nada tinggi pun tidak pernah Mas! Terus ke aku? Kamu berani melakukan semuanya, semua kasar kamu aku tahu Mas!"

Mas Gian mencoba memelukku tapi aku mendorong tubuhnya dengan sangat kuat, tidak ingin di sentuh olehnya.

Ternyata, Mas Gian tetap saja Mas Gian, tidak ada yang berubah darinya.

"Keluar! Aku minta kamu keluar dari kamarku!"

"Bin jangan pergi aku mohon!"

"Kamu siapa? Kamu bukan siapa-siapaku lagi mulai hari ini Mas! Pergi!" Teriakku sambil mendorong tubuh kekarnya keluar dari kamarku.

Aku segera menutup pintu dan menguncinya, tidak peduli dengan teriakan-teriakan Mas Gian yang sangat kencang meminta maaf padaku.

"Ko lama banget Bin?" Tanya Vio begitu aku sampai ke halaman rumahnya.

Vio sudah siap dengan segala peralatannya, juga dengan kakak laki-lakinya. Ah iya, namanya Fatur.

"Iya maaf ya Vi, biasa lah ada drama dulu di rumah," jawabku.

"Ya udah, udah semua kan? Ayo berangkat."

Kak Fatur duduk di depan menjadi supir kami, aku dan Vio duduk di jok kedua, dan jok ketiga penuh dengan barang-barang Vio, bagasinya juga penuh.

"Ngapain sih bawa barang banyak-banyak Vi? Orang cuma tiga harian lagi."

"Itu makanan semua Bin isinya, rakus emang," sanggah Kak Fatur diikuti kekehan pelan.

"Serius Vi? Makanan semua itu isinya?"

"Yeu apa si kak Fatur, engga lah Bin, ada baju juga, ya walopun tujuh puluh persennya makanan sih."

"Sama aja oon!"

Kak Fatur tertawa mendengar pembicaraan kita. "Eh ini gak ada yang di depan, gua berasa kaya supir ya?"

"Jadi supir kak sehari mah," ucapku menimpali pertanyaannya.

"Enak lo Bin."

Ku lihat vio memperhatikanku dengan sangat teliti, seperti sedang melihat suatu objek untuk di teliti.

"Apa sih Vi? Lagi liatin apa?"

"Ko pipi sebelah kanan merah Bin? AH JANGAN JANGAN ABIS DI TAMPAR LAGI YA SAMA SUAMI GILA LO ITU?!"

Aku tersenyum getir, Vio akan selalu tahu apa yang aku alami. Dia dia akan selalu memperhatikan hal-hal kecil yang ada di tubuhku. Bahkan dia akan tahu kalau aku mengganti side faundation ku. Se-detail itu.

"Udah Vi, ga sakit ko ini."

"Lu di tampar gara-gara ikut sama gua ya Bin? Kan, apa gua bilang, engga usah ikut."

"Gimana sih Vi, temennya ampe di gituin gara gara elo tuh," seru Kak Fatur dari arah depan.

"Engga-engga, bukan. Ini aku di sini ya karena mau aja Vi, dia mau ngizinin atau aku ga peduli sih," ucapku diakhiri dengan kekehan.

"Ah Binar, yang bener aja loh kalo milih suami."

"Iya, lagian kenapa bisa apes gitu sih Bin? Lu cakep ko dapet cowo yang kaya gitu?"

"Cie, berarti intinya aku cakep gitu kak?"

"Vi, ini temen lo bego banget si, malah cakepnya yang di garis bawahi."

Aku tertawa mendengar kalimat yang di ucapkan Kak Fatur. "Bego gimana?"

"Aduh Binar, bener lagi kata kakak gua, lu bego. Garis bawahi yang kenapa lu bisa dapet cowo kaya gitu."

"Tanya aja coba ama bokap gua, tapi kalian ga bakal bisa nanya juga sih."

"Di mana emang bokap lu?" Tanya Kak Fatur.

Kak Fatur memang tidak mengetahui kalau Ayah dan Ibuku sudah meninggal, mungkin Vio tidak cerita tentang itu.

"Di bawah tanah kak, jadi ubi."

"Buset Binar omongan lu," timpal Vio yang di ikuti tertawa olehku dan kak Fatur.

Terpopuler

Comments

Siti Sutikmi

Siti Sutikmi

ceritanya ini si binar jgn sampe nyerahin kesucianya sampai bercerai kok...eh ini malah di serahin sukarela hanya karena cuma perhatian kcl sdh tau pasti di ceraiin....bingung jadinya qu bacanya thor...

2023-07-19

0

Sukliang

Sukliang

pake tanya dg sarah dak pernsh kasar
dasar tolol

2023-07-15

0

Amalia Gati Subagio

Amalia Gati Subagio

fungsi... jangan lacur murahan pemuas nafsu kala senggang kala jedah!! lacur cadangan, gratisan hm

2023-07-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!