Bab 4

"Mas, gak bisa gitu dong, kamu nikah tanpa seizin aku loh? Aku juga engga tahu kapan kamu nikah sama dia?"

Cewek yang ternyata Sarah itu mendekat ke arahku. "Mbak, mohon tahu diri ya, kamu di nikahi bukan untuk di cintai, kamu cuma pembantu yang berkedok seorang istri."

"Setelah empat puluh hari meninggalnya Ayah suamiku, dia akan menceraikan mu dan aku akan menjadi istri satu-satunya Mas Gian, paham?" lanjutnya.

"Mas?" Aku meminta penjelasan dari Mas Gian, apa salahku sampai dia tega melakukan semua ini?

"Mas, tolong jelasin, kenapa? Apa salahku Mas? Apa yang bikin kamu ngerasa kurang saat di rumah?"

Aku merasa mimik wajah Mas Gian berubah, ada sebuah hal yang tidak bisa aku jelaskan karena aku saja tidak tahu maksud wajahnya saat ini apa. Kalau dia menyesal, rasanya itu tidak mungkin karena rasanya dia benci aku. Kalau dia kasihan? Mungkin saja.

"Ceraikan aku Mas!" Kata yang tidak pernah akan aku keluarkan sampai kapanpun akhirnya lolos juga.

Aku masih sanggup kalau setiap hari Mas Gian memarahiku, aku juga masih sanggup kalau Mas Gian menamparku. Tapi, ternyata aku engga sanggup melihat dia menikah lagi. Rasanya, rasanya kayak... aku engga pernah melakukan kesalahan apapun tapi kenapa balasannya seperti ini?

"Enggak, ingat ya Binar aku tidak akan menceraikan kamu sampai empat puluh hari kepergian Ayah," ucap Mas Gian.

"Berarti, tetap akan di ceraikan kan Mas? Ini kan yang kamu mau? Baik Mas."

Aku berlari menuju ke kamarku untuk membereskan semua barang-barang yang aku punya, aku tidak bisa membendung air mataku lagi karena rasanya ternyata sesakit ini. Saat orang yang sangat kita hormati justru dia yang membuat kita jatuh sejatuh-jatuhnya, mungkin ini jawaban Allah untuk semuanya. Mungkin ada jalan lain yang lebih indah daripada ini?

"Bi."

Aku menolehkan pandanganku ke arah pintu kamar, terlihat Mas Gian berdiri di ambang pintu. Tanpa pelakor itu ku lihat, Mas Gian hanya sendiri.

"Kamu layak dapat yang lebih dari aku," ucap Mas Gian yang membuatku benar - benar terkejut.

Tidak pernah ia berkata seperti ini, bahkan dengar nadanya. Itu sangat lembut terdengar di telingaku, hampir satu tahun menikah dengannya baru kali ini aku mendengar suara lembutnya.

"Aku enggak bisa nikah sama orang yang engga aku cinta, aku cukup tau diri selama ini dengan engga nyentuh kamu kan Bi?"

"Jadi, tolong biarin aku hidup bahagia sama Sarah, ya," lanjutnya.

"Selama ini aku nyoba buat benerin hubungan kita, aku selalu nyoba ngambil hati kamu Mas, aku engga marah saat kamu nampar aku, aku juga engga marah saat kamu selalu makan di luar padahal aku sudah masak—"

"—aku bahkan engga bilang apa apa saat kamu meludah di depan aku, aku bisa ngerti kalau kamu engga suka aku tapi memangnya harus melakukan semua ini ke aku? Memangnya harus se jahat ini?"

"Bi, maaf," kata Mas Gian, ini pertama kalinya aku mendengar kata maaf dari mulutnya. Aku kaget sampai aku tidak bisa berkata-kata lagi, ini yang di hadapanku benar Mas Gian?

Aku mengangguk paham, mungkin memang Mas Gian masih memiliki hati nurani. Dia juga tetap manusia walaupun selalu berperilaku buruk, aku mengerti kenapa dia meminta maaf. Mungkin, dia merasa kali ini kesalahannya sangat fatal. Aku paham, dia meminta maaf hanya karena dia masih punya hati, itu saja.

"Aku akan tidur di kamar belakang Mas, selamat bersenang-senang dengan istri yang kamu cintai."

Aku berlalu dari hadapan Mas Gian, ku lihat Sarah berjalan dari arah dapur menuju ke tempat suaminya, ya sebenarnya dia juga masih suamiku.

"Dapur ko gak ada makanan apa-apa, istri macam apa kamu ini?"

Aku tidak menanggapi ucapannya, toh dia tidak tahu saja kalau di rumah ini hanya aku yang makan. Mas Gian tidak pernah makan di rumah, bahkan menyentuhnyapun enggan.

"Denger gak sih?" Sarah mendorong pundak kiri ku dengan keras membuat aku sedikit terdorong karena tidak ada keseimbangan di kakiku.

Mas Gian dengan sigap menangkap tubuh mungilku ke dalam dekapannya, aku langsung berdiri dan menjaga jarak darinya.

Tidak pernah Mas Gian menyentuhku seperti tadi, aku sangat ingin mendapat perlakukan lembut itu tapi engga di waktu yang seperti sekarang. Kenapa sifat suamiku berubah setelah dia membawa Sarah ke rumah? Apa untungnya?

"Kamu tu kenapa sih Sar? Dia ada bikin salah ke kamu?"

Sarah mungkin tidak terima dengan perilaku Mas Gian barusan, dia melipat kedua tangannya di depan dada. "Kenapa jadi nyalahin aku? Selama ini kamu selalu cerita kalau kamu benci sama dia kan Mas? Kenapa sekarang malah nolongin dan bela dia?"

Pusing rasanya, aku sudah tidak ada tenaga lagi mendengarkan orang bertengkar. Ku tinggalkan mereka berdua menuju kamar tamu yang ada di rumah ini, kamar ini dulunya sering di tempati oleh tamu-tamu Mas Gian.

Kalimat terakhir yang aku dengar dari Mas Gian sebelum aku masuk ke kamar baru ku adalah. "Iya memang, aku benci dia karena aku engga jadi nikah sama kamu, tapi kamu engga ada hak untuk nyakitin Binar, paham?"

Ya terserah lah, aku tidak peduli apapun yang di katakan Mas Gian. Aku terlalu sakit hati untuk mencerna apa yang ia katakan, mungkin saat ini aku akan fokus dengan diriku sendiri tanpa memperdulikan lelaki itu lagi.

Pakaiannya, makanannya, dia sudah memiliki istri yang sangat ia cintai. Aku sudah tidak perlu lagi mengurus urusannya, aku hanya akan mengurus keperluan ku saja.

Badanku terasa remuk, ku baringkan di kasur yang baru saja aku bersihkan. Hingga aku tidak sadar kalau aku sudah terlelap.

Tok... tok... tok...

"Bi?"

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu membuatku membuka mata, ku lihat jam pada ponselku ternyata ini sudah jam tujuh pagi. Aku langsung bangun dan ingat kalau aku belum menyiapkan pakaian Mas Gian, aku bisa kena marah habis habisan kalau gini.

Aku membuka pintu kamar dan mendapati Mas Gian yang sudah rapih dengan jasnya. "Ko Mas udah pake baju rapih? Aku belum nyiapin baju kamu, aku kesiangan Mas," ucapku penuh penyesalan.

"Sarah yang nyiapin," katanya.

Astaga, aku sampai lupa kalau Mas Gian sudah menikah lagi dan membawa istri barunya ke rumah ini. Aku kira itu hanya mimpi buruk ku saja, tapi ternyata memang kenyataannya seperti itu.

"Terus kamu kenapa kesini?"

"Kamu engga keluar kamar dari sore kemarin, ya udah aku berangkat dulu."

Mas Gian khawatir? Apa barusan dia khawatir denganku?

"Mas,"

Mas Gian menghentikan langkahnya, "apa?"

"Kamu khawatir?"

"Aku cuma heran, engga biasanya kamu selalu di kamar."

"MAS AYO, KITA TELAT LOH," seru Sarah dari luar rumah.

Aku hanya diam, ku lihat Mas Gian berjalan mendekat ke arahku, dan, cup. Aku membulatkan mataku, baru saja Mas Gian mengecup keningku? Kenapa?

"Kenapa Mas?"

"Aku cuma ngikutin apa kemauanku saja," jawabnya.

Mengikuti apa kemauannya saja? Aku tidak senang, aku ingin marah. Tapi, dia masih suamiku. Kenapa? Kenapa harus bersikap manis saat dia bahkan membawa perempuan lain ke dalam hubungan ini?

Mas Gian pergi setelah mengucapkan kalimat yang tidak aku suka itu, aku langsung masuk kembali ke kamar untuk menjernihkan pikiranku dan mencerna apa yang baru saja terjadi.

Terpopuler

Comments

Sulfia Nuriawati

Sulfia Nuriawati

pelakor kpn pun dmn pun klakuannya sm aja, g ada rs ber slh nya udah ngambil jatah org lain

2023-07-21

0

Sukliang

Sukliang

dak abis pikir tu binar , msh bertahan

2023-07-15

0

S

S

Ini namanya pasangan geblek yg d zolimi somplak yg menzolimi gendeng dan yg jelas sarah yg waras wajar dong pelakor kelakuan minim.

2023-07-08

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!