Bab 6

Aku terbangun dari tidurku kala aku mendengar suara berisik dari dapur. Ku langkahkan kakiku menuju dapur dengan rasa malas yang sangat besar, ah ternyata itu Sarah.

"Ngapain sih?" tanyaku pada cewek itu.

"Mbak ini gimana si cara make kompor? Mas Gian pengen nasi goreng, aku gabisa," jawabnya membuatku terkekeh.

Ku ambil alih peralatan masak yang ada di tangan Sarah, aku mulai menyiapkan bumbu dapur untuk nasi goreng.

"Nih liat, cantik-cantik ko gak bisa masak, sih,"

Sarah hanya memanyunkan bibirnya, entah kenapa melihat tingkah Sarah sekarang terlihat lucu saja. Di dirinya aku bisa melihat diriku yang dulu saat belum bisa memasak, lalu Ibu mengajariku. Ah, Bu, aku rindu.

Aku tidak merasakan kesal sama sekali hari ini atas kehadiran Sarah, apa aku sudah rela berbagi suami dengannya? Entah lah, rasa sakit itu memang masih ada. Tapi, aku tidak bisa membenci orang dalam jangka waktu yang lama. Bukan tipe orang pendendam, sih.

Aku mulai mengiris cabe rawit dan bawang merah, Mas Gian tidak suka bawang putih, jadi aku tidak menggunakannya. Ku tumis cabe dan bawang yang sudah di iris, lalu menambahkan telur yang aku hancurkan. Kemudian aku tambahkan nasi putih tiga porsi, tidak lupa dengan penyedap rasa dan kecap secukupnya.

Setelah merasa cukup, rasanya juga pas, aku menyuruh Sarah untuk mencobanya.

"Em ... enak banget Mbak, tapi Mas Gian suka enggak nih?"

Aku mengangguk. "Ini emang kesukaan dia."

Ku simpan nasi goreng itu di tiga piring dan membawanya ke meja makan berdua dengan Sarah. Mas Gian keluar dari kamarnya, dia sudah rapih, mungkin baju yang ia pakai sekarang Sarah yang menyiapkan, batinku.

Entah kenapa ada perasaan lega melihat Sarah bisa mengurus Mas Gian, walaupun di satu sisi hatiku teriris. Saat bersamaku, Mas Gian tidak pernah menghargai apa yang aku lakukan untuknya.

"Mas ayo makan, aku udah masak nasi goreng loh," ucap Sarah kepada Mas Gian.

Aku hanya menahan senyumku, biarlah, aku tidak masalah dengan Sarah mengaku kalau itu adalah masakannya. Toh, Mas Gian tahu kalau Sarah tidak bisa masak.

Mas Gian duduk di kursi nya tanpa sepatah katapun, dia melahap nasi goreng yang ada di piringnya itu. Aku tidak menyangka kalau Mas Gian mau memakannya, aku yakin kalau dia tahu nasi goreng itu aku yang memasak dia tidak akan memakannya.

"Enak, makasih ya Sarah," ucap Mas Gian.

Ah iya, mana mungkin Mas Gian mau memakan makanan yang aku masak, bahkan biasanya melihatnya saja dia enggan apalagi memakannya.

Aku segera menghabiskan makananku, setelah ini aku sudah ada janji dengan Vio untuk membahas soal cafe yang akan kita dirikan.

"Enak kan? Gimana? Kamu percaya kan kalau ini aku yang masak Mas?" Sarah seperti anak kecil yang sangat menginginkan validasi dari orang-orang sekitarnya.

Ku lihat Mas Gian meneguk air di gelasnya sampai habis, bahkan hampir satu tahun pernikahan kita baru kali ini aku melihat Mas Gian makan dan minum. Rasanya senang bisa makan satu meja dengannya, walaupun karena kehadiran Sarah.

"Ini Binar kan yang masak?"

uhuk... uhuk...

Aku tersedak, segera ku raih gelas ku dan meneguknya sampai habis. Dia tahu? Bagaimana mungkin dia memakan makanan yang aku buat? Bukankah dia sudah bersumpah tidak akan memakannya barang satu suap pun?

"Ih Mas Gian, itu Sarah yang masak ko," elak Sarah.

Mas Gian terkekeh, ku lihat dari ekor mataku dia mengelus puncak kepala Sarah. Dia tidak pernah melakukan itu padaku, memegangku saja dia lakukan saat dia ingin menyakitiku.

Aku cemburu melihat Sarah bisa mendapatkan cinta Mas Gian, bagaimana pun suamiku memang sangat mencintai Sarah. Yang bisa aku lakukan hanya mengalah, dan membiarkan mereka bahagia. Memang harusnya seperti itu, mungkin.

"Iya... iya... mana mau Mas makan masakan Binar."

Huft, aku tahu itu. Mana mungkin Mas Gian mau makan kalau tahu itu masakanku, setelah menghabiskan makanan di piring milikku aku langsung bergegas ke dapur untuk mencucinya.

Aku tidak menghiraukan mereka yang belum selesai dengan makannya, yang ingin aku lakukan sekarang hanya berbenah dan bertemu Vio.

"Kamu mau kemana hari ini?"

Aku melirik ke arah sumber suara, itu Mas Gian dengan dua piring bekas makan tadi di tangannya. Mungkin Sarah sedang berganti pakaian, dia kan satu kantor dengan Mas Gian, pikirku.

"Ketemu temenku," jawabku. Aku mengambil piring kotor yang ada di tangan Mas Gian dan mencucinya dengan piring punyaku.

"Akhir-akhir ini sering keluar mulu ya? Ketemu temen yang mana?"

"Temen kuliah dulu, kenapa?"

"Aku tahu kamu yang masak, puas belum lihat aku makan masakan mu?"

Aku menyimpan piring terakhir yang sudah ku cuci ke rak piring di samping wastafel, ku cuci tanganku lalu mengeringkannya dengan celemek yang tergantung di samping ku.

"Ya, aku engga niat masakin kamu. Sarah minta bantuan aku buat masak nasi goreng, katanya kamu yang minta," jelasku. Aku tidak ingin kena omel atau adu mulut dengan Mas Gian, energi ku tidak boleh terkuras hanya untuk meladeni laki-laki hidung belang ini.

Rasa hormatku padanya hilang seketika saat pertama kali dia membawa wanita lain ke rumah ini, tidak ada dua ratu dalam satu rumah. Tidak akan pernah ada, dan tidak akan pernah bisa.

"Binar, kenapa sekarang kamu lebih banyak melawan? Kenapa sekarang kamu se berani itu?"

"Sekarang aku tanya, siapa yang terus nguras sabar aku? Siapa yang terus nguras kebaikan aku? Sekarang aku gini, kamu nanya aku kenapa?"

Mas Gian tampak geram dengan jawabanku, dia memang bertanya padaku dengan nada yang santai. Aku yang menjawabnya dengan nada tinggi, ah aku tidak tahu kenapa.

"Aku nanya baik-baik Bi, jangan sampe aku kasar lagi sama kamu ya!"

"Pukul aja aku Mas, kamu enggak pengen aku hidup kan? Lakuin itu Mas, lakuin supaya aku enggak hidup di dunia ini."

"BINAR!"

Mas Gian mencengkram pergelangan tangan kananku, lagi. Ah tangan itu masih terasa sakit. Belum juga sembuh, sekarang sudah ia cengkram dengan kuat.

Darah segar mengalir dari sana, Mas Gian mungkin tidak sadar dengan itu karena matanya menatapku bagai singa menatap rusa. Ingin memakannya dengan lahap, aku mengaduh berulang kali tapi tidak ia perdulikan.

"Mas lepas Mas, sakit."

"Masih berani hah? Masih berani melawan?" Mas Gian mengangkat tangan yang ia cengkram menggunakan kuku-kukunya ke atas.

Ia menyadari darah yang keluar dari tanganku semakin banyak, ia melempar tanganku, melepaskan dari genggamannya.

Ku lihat Mas Gian terpatung melihat darah yang mengalir di tanganku, ia juga melihat tangannya yang sudah berlumur darahku.

"Maaf Mas, maaf darahku kena tanganmu," ucapku sambil berlari menuju kamar sambil menahan sakit yang teramat sangat.

Bukan hanya pergelangan tanganku yang akhirnya mengeluarkan darah setelah sering di cengkram oleh Mas Gian, tapi hatiku juga. Sakit rasanya, memangnya apa yang aku lakukan sampai-sampai aku harus menanggung ini?

Ketukan pintu terdengar berulang dari luar, ku kunci pintu kamarku agar Mas Gian tidak bisa masuk.

"Bi, ayo kita ke dokter, obatin lukamu itu," seru Mas Gian dari luar.

Aku sibuk membalut lukaku dengan kain kasa sisa kemarin, Vio yang memberiku ini. Lengkap dengan kapas dan obat merahnya, mungkin sahabatku itu bisa tahu apa yang akan terjadi denganku ya? Sampai menyiapkan semua ini.

"Aku enggak perlu ke dokter Mas, luka di tanganku enggak seberapa, tapi hatiku," seruku juga, aku tidak bisa menahan tangis kali ini.

Aku tahu lelaki itu memiliki hati nurani, tapi bukan untukku. Aku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan darinya, sikap lembutnya, bahasa tubuhnya yang menenangkan, tidak pernah. Apa aku seburuk itu untuk mendapatkan sekedar sikap baik dari suamiku sendiri?

"Aku... aku minta maaf Bi, sakit ya? Aku panggilin dokter ke rumah ya?"

"Enggak perlu, aku gak bakal ganggu hidup kamu lagi Mas! Aku mohon pergi!"

Terpopuler

Comments

Sukliang

Sukliang

jgn buat binar terlslu tolol thor
jd malas baca kok ada wanita segitu tolo
diperlakukan segitu bukan lari aja

2023-07-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!