bab 14

"Gimana keadaan lo Bin?" Tanya Kak Fatur padaku, padahal di sini yang paling parah dia, harusnya aku yang menanyakan perihal bagaimana kabarnya.

"Aku gak apa-apa Kak, Kakak sendiri gimana? Masih kerasa sakit gak?"

"Engga Bin, lo gimana Dek? Ada yang sakit gak?"

"Gua si paling kuat di antara kalian-kalian ini," jawab Vio penuh percaya diri.

"Ya udah, Nek, makasih banyak ya udah nolongin kita semua, semoga kebaikan Nenek di balas secepatnya, kita mau lanjut perjalanan pulang Nek, takut keburu malem juga, nanti tidak ada bis," ucap Kak Fatur pada Nenek yang menolong kita.

"Apa engga sebaiknya kalian menginap saja di sini Cu? Kasihan itu yang sedang mengandung, gak baik kalo keluar di waktu magrib."

"Assalamualaikum," seru seorang laki-laki dari arah luar.

"Waalaikumsalam Cu," jawab Nenek sedikit berteriak. "Itu kayanya Topan, cucu Nenek."

Aku mengangguk, diikuti oleh Kak Fatur dan Vio.

"Nek, mana orang-orang yang tadi? Apa masih di sini?" tanya seorang lelaki yang di panggil Topan itu.

"Iya masih ada Cu, sini masuk dulu, mereka ada di sini bareng Nenek."

Tidak lama dari itu, orang yang di panggil Topan masuk ke dalam rumah.

"Alhamdulilah masih pada di sini, Mas, Mbak, ada yang nyariin kalian," ujar Topan.

"Siapa Mas?" tanya Vio.

"Silahkan Mas masuk," ucap Topan mempersilahkan seseorang masuk ke dalam.

Betapa terkejutnya aku ketika mendapati Mas Gian yang ternyata mencari kami, aku memang sempat mengirimnya lokasi tepat sebelum kita belok ke arah kiri.

Entah dari mana Mas Gian tahu posisi aku sekarang, tapi ternyata dia benar-benar mengkhawatirkan ku. Pasalanya, Mas Gian sampai di hadapanku.

"Mas?"

"Suami kamu Bin," ucap Vio, aku mengangguk.

Mas Gian segera menghampiri ku lalu memelukku dengan sangat erat. "Ya ampun sayang, Mas bener-bener lemes pas liat mobil kalian udah ada di jurang. Mas kita kalian jatoh, Mas udah gak tahu lagi harus apa kalau itu sampe kejadian."

"Mas bener-bener khawatir sama kamu Binar, Mas takut pas lihat mobil kalian jatuh ke bawah. Mas pikir kalian semua jatuh, Mas gak bisa ngebayangin kalau itu semua terjadi sama kamu sayang," ucap Mas Gian dengan tangisnya.

Aku tertegun kala mendengar ucapannya, terdengar sangat tulus dan menyayat hati. Mas Gian benar-benar mengkhawatirkan ku kali ini.

"Saat Mas udah lemas dan kacau, Mas Topan datang. Dia mengajak Mas bicara dan bilang kalau kalian ada di rumahnya, Mas bener-bener bersyukur kamu engga kenapa-napa Binar," lanjutnya.

Mas Gian menangis, iya, menangis di pelukanku. Ini adalah pertama kalinya dia memelukku dengan tangisnya, sangat terasa olehku kalau saat ini dia benar-benar mengkhawatirkan ku.

"Mas, Binar enggak kenapa-kenapa ko, maaf engga izin sama kamu ya?"

Mas Gian melepaskan pelukannya, dia melihat ke arah Vio. "Vio, Binar boleh pulang denganku sekarang dan tidak ikut kalian melanjutkan perjalanan?"

Ku lihat Vio mengangguk, dia paham dengan kondisinya.

"Iya Mas, gak apa, aku juga mau pulang bareng Kak Fatur."

"Kalo gitu, kalian bareng aja naik mobilku, gimana? Biar engga usah repot-repot naik bis. Mobil kalian kita urus besok saja ya?" Tanya Mas Gian kepada Vio dan Kak Fatur.

Kak Fatur terlihat mengangguk menyetujui. "Kalau gitu kami berhutang Mas, makasih banyak."

"Gak apa-apa, terimakasih udah ngejaga istri saya dengan baik ya? Itu lebih dari apapun buat saya."

Aku begitu terharu melihat Mas Gian seperti ini, aku belum pernah melihat suamiku sendiri bersikap dewasa dan seperti lelaki sejati.

Dia begitu lembut padaku kali ini, setelah dia menamparku tadi pagi, rasanya itu tidak ada apa-apanya dengan sikap lembutnya sekarang.

"Nek, makasih banyak ya? Saya mau lanjut pulang saja, ini ada sedikit rejeki buat Nenek dan Topan, mohon di terima," ucap Mas Gian sambil memberi amplop coklat kepada Nenek.

"Cu, terimakasih banyak, tapi apa engga lebih baik kalian menginap saja dulu? Istri kamu sedang hamil, tidak baik saat magrib sedang di luar."

Aku terkejut, niatnya aku ingin merahasiakan ini dari Mas Gian. Aku takut, takut kalau Sarah mengetahui ini. Dia akan sangat tidak suka nantinya.

Ku lihat Mas Gian berbalik menatapku, sangat tajam. "Sejak kapan kamu hamil? Kenapa kamu engga bilang sama Mas? Kenapa merahasiakan kabar gembira ini Binar? Kalau tahu kamu hamil Mas gak akan izin kamu buat keluar tanpa Mas."

Mas Gian memelukku lagi, kini pelukannya terasa sangat lebih kuat tapi hangat. Aku nyaman berada di dalam pelukannya, Vio tampak senang melihatku berada di pelukan Mas Gian.

"Aku engga tahu Mas, Nenek yang memberitahuku barusan kalau aku hamil. Tadi sebelum jatuh, aku sempet pingsan, tapi Kak Fatur dorong aku keluar dari mobil jadi aku selamat Mas, aku sama sekali engga tahu kalau aku hamil."

Mas Gian melepaskan pelukannya, dia memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya, tatapannya begitu teduh dan menenangkan.

"Binar, jaga baik-baik kandungan itu ya, jaga baik baik anak kita. Tolong, jangan pergi selain dengan Mas, tolong, Mas mohon!"

Air mataku luluh begitu saja mendengar ucapannya, semua yang berada di sini pun terharu melihatku dengan Mas Gian.

Aku mengangguk. "Iya Mas, aku akan menjaga kandungan kita."

Ku lihat semua orang yang ada di sini ikut terharu melihat aku dan Mas Gian, apalagi Vio. Dia terlihat sangat senang, aku tahu perasaan senang seperti apa yang sedang dia rasakan.

"Nek, kalau gitu, kami ingin merepotkan Nenek untuk lebih lama, kami akan menginap di sini dulu Nek," ucap Mas Gian pada Nenek.

"Nenek sangat senang, silahkan, tidak merasa di repotkan."

Topan masuk ke dalam kamarnya, namun beberapa saat kemudian kembali lagi. Rupanya dia mengambil kasur lantai dan beberapa samak untuk kita.

"Silahkan Mas, ini untuk tidurnya, maaf tidak ada kamar lagi, jadi kita tidur sama-sama di tengah rumah."

"Tidak apa-apa Mas, ini tidak lebih dari cukup, mari saya bantu," ucap Mas Gian.

Topan, Mas Gian, dan Kak Fatur sibuk mempersiapkan tempat tidur untuk kita. Sedangkan Nenek, aku dan Vio pergi ke arah dapur untuk membuat cemilan dan makan malam.

"Terimakasih banyak ya Nek, kami sangat berhutang," ucapku kala kita sampai di dapur milik Nenek.

"Sama-sama Cu, oh iya, menurut Nenek anakmu ini laki-laki Cu, kabari Nenek kalau sudah melahirkan ya?"

Aku tersipu, Vio pun sama, dia mengelus perutku yang masih rata. "Ya ampun, gua mau punya keponakan Bin, seneng banget deh."

Terpopuler

Comments

Sukliang

Sukliang

sebellll dg thor buat binar segitu tolol

2023-07-15

0

sarinah najwa

sarinah najwa

gemes deh sama binar plin plan😤

2023-07-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!