"Terus? Ah kamu pasti udah begituan kan sama dia? Jangan Mas, kamu janji sama aku bakal ninggalin dia kan?"
"Iya sayang, engga ko, aku gak bakal ngecewain kamu, tenang aja."
Bagai sudah jatuh, tertiban tangga pula. Itu yang aku rasakan sekarang, Mas Gian bilang kalau dia tidak akan menyakiti pihak manapun lagi kan?
Ya, seharusnya aku tidak boleh percaya dengannya, dengan ucapannya. Dia tetap dia, Mas Gian tetap Mas Gian, yang tidak menginginkan aku. Tidak pernah.
Hanya Sarah yang dia inginkan sejak awal, pada akhirnya aku akan tetap pergi dari rumah ini. Malam itu, Mas Gian benar-benar seperti layaknya suami yang sangat menyayangi istrinya. Tapi, apa yang aku dengar saat ini adalah kebenarannya.
Dia tidak pernah bersungguh-sungguh melakukan itu.
Aku kembali ke kamarku, bahkan aku belum pindah dari kamar ini. Aku tidak akan pindah, aku akan tetap tidur di sini. Anggap hari kemarin adalah tidak ada, tidak pernah ada hari kemarin dan sikap manis Mas Gian. Iya, benar.
Aku harus melupakan kejadian kemarin, anggap itu tidak pernah terjadi, anggap tidak ada.
"Mas Gian, kalau memang tidak bisa jadi apa yang kamu katakan kemarin, seenggaknya engga perlu ngasih aku banyak bayangan tentang kisah indah kita Mas, hiks..."
Ting...
Ku lihat ke arah ponselku yang tergeletak begitu saja di sampingku, tertera di layar Viola's calling.
Aku segera menyeka air mataku dan mencoba menetralkan suaraku, tidak ingin Vio mengetahui kalau aku sedang menangis.
"Hallo Vi, ada apa?"
"Jadi engga lusa ikut gua?"
Oh iya, Vio mengajakku untuk survei tempat penelitiannya. Aku sampai lupa dengan itu, apa aku ikut dia aja?
"Ikut Vi, bawa apa aja?"
"Baju aja Bin, cukupin buat tiga hari, lumayan jauh jadi lama di jalannya."
"Oke deh, jam berapa gua ke rumah lo nya?"
"Pagi, jam 8 an aja, gak usah ke rumah gua Vi, gua jemput aja ke sana gimana? Sekalian izin suamimu."
"Enggak ah, aku gak bakal izin ke dia buat ikut kamu, mau kabur aja."
Terdengar kekehan pelan dari sebrang sana. "Kabur apaan sih Binar? Gak lucu ah, emang ada masalah apa lagi sih?"
"Banyak, udah ah, pokonya nanti gua ke rumah lo sebelum jam delapan ya?"
"Ya udah terserah deh, udah dulu ya lanjut nanti lagi, assalamm'alaikum Binarku yang cantik nan baik hati."
Vio mematikan teleponnya, benar. Lebih baik aku ikut dengannya, daripada berada di tengah-tengah orang yang hanya akan memberiku sakit saja.
Ku baringkan tubuhku, rasa kantuk mulai menyerang seiring berjalannya waktu. Hingga aku menyadari diriku sudah terlelap.
~~~
"Bin... Bin... bangun Bin..."
Aku mengerjapkan mataku kala tangan kekar menyentuh pipi kananku dengan lembut, ah aku ketiduran ya?
"Mas Gian?"
"Kok kamu tidur?"
"Ah iya? Tidur ya aku Mas?"
"Iya, Mas liat ke dapur tadi masih ada bahan - bahan buat bikin pancake, ko kamu malah tidur?"
Oh iya, tadi aku sedang membuat pancake untukku dan Mas Gian namun terhenti saat mendengar suara Sarah. Ternyata itu bukan mimpi ya? Yah, padahal aku sudah berharap kalau itu hanya mimpi.
"Eh... iya ya Mas, aku malah ketiduran di sini. Terus Sarah mana?"
"Emm? Kamu tahu Sarah udah pulang?"
Aku mengangguk, sepertinya Mas Gian tidak tahu saat aku menguping pembicaraan mereka. Biarlah, aku jadi akan tahu apa yang di lakukan Mas Gian dan Sarah selanjutnya.
Aku hanya akan menunggu sampai empat puluh hari, setelah itu aku akan resmi jadi janda. Ah menyebalkan, umurku baru dua puluh dua tahun, sudah jadi janda? Bisa jadi bahan tertawaan musuhku pas SMA kalo gini.
"Sarah sekarang lagi ke kantor, ada kerjaan yang harus dia urus, Mas udah larang tapi dia ngotot buat nyelesain itu hari ini. Ya, udah mau gimana lagi kan?"
Jadi benalu itu tidak ada di rumah, baguslah. Aku mengubah posisiku dari yang tiduran ke duduk menghadap Mas Gian.
"Jadi makan pancake nya?"
Mas Gian mengangguk. "Iya lah, aku mau nyobain pancake buatan kamu."
Aku berjalan ke arah dapur, diikuti Mas Gian dari belakang. Aku tidak tahu kenapa dia malah mengikutiku sampai ke dapur.
"Ngapain ikut ke dapur Mas? Kamu duduk aja tunggu aku di depan, cepet ko tinggal di masak aja, adonannya udah siap soalnya," ucapku pada Mas Gian.
"Enggak, aku mau liat istriku masak."
"Halah, omong kosong doang!" Batinku.
"Sayang..."
Mas Gian memelukku dari belakang, dia terus mengusap-usap perut rataku. Entah apa yang sedang dia lakukan tapi ini terasa nikmat, seperti ada suatu sensasi lain dari sentuhannya.
"Mas ngapain?"
"Mau gini aja, seterusnya."
Entah, aku benar-benar bingung di buat olehnya. Dia sebenarnya sedang bersandiwara dengan siapa? Aku atau Sarah?
Di depanku seolah dia mencintaiku, di depan Sarah bahkan sebaliknya. Kenapa? Jika alasannya karena ingin membuat keduanya merasa aman dan nyaman, tidak seperti ini caranya. Aku enggak ngerasa aman atau nyaman soalnya.
"Mas?"
"Kamu enggak suka?"
"Bukan enggak suka Mas, tapi aku kan lagi masak ini?"
"Ah, aku maunya gini, kamu masak aja Binar gak akan aku ganggu ko."
"Gak ganggu gimana sih Mas? Dengan kamu meluk aku aja itu udah ganggu aku yang lagi masak," sindir ku padanya, Mas Gian hanya terkekeh tanpa melepaskan pelukkannya sama sekali.
Aku tidak sedang bercanda, pikir saja, mungkin menurut kalian ini adegan romantis. Tapi tidak untukku, susah tau masak sambil di gelendotin kaya gini.
"Mas mau sayang..."
"Iya sabar, kan ini lagi aku bikin Mas, dua kali lagi udah nih," ucapku pada Mas Gian. "Ini udah ada yang mateng kalo mau makan aja duluan Mas."
"Ishh... bukan itu sayang... Mas mau ini," Mas Gian menyentuh leher jenjangku yang membuatku sedikit kegelian.
"Apa Mas? Bahaya loh, bentar satu lagi."
Aku segera menyelesaikan masakanku, pancake terakhir yang ku masak sudah matang. Aku simpan di piring tempat di mana yang lainnya tersimpan.
"Apa? Mas mau apa hmm?"
"Mau sayang..."
"Ah... mmhhh..." racauku ketika tangan Mas Gian sudah sampai di dadaku.
"Ya sayang? Yuk?"
"Emmph..."
Mas Gian menyiumiku dengan sangat agresif, kini ciumannya terasa sedikit kasar. Namun ini lebih menantang rasanya, ku rasakan lidahnya menyusuri tiap centi dari ruang mulutku.
Aku hanya pasrah mengikuti permainannya, perasaan resah sebelumnya hilang begitu saja. Rasanya, aku sudah tidak apa-apa pada siapapun Mas Gian bersandiwara.
Padaku atau pada Sarah aku tidak peduli, yang aku pedulikan sekarang adalah sikap Mas Gian saat bersamaku. Perihal nantinya, aku tidak peduli. Aku hanya akan menghargai tiap detik yang di berikan Mas Gian padaku tanpa berfikir apa yang akan terjadi esok hari.
"Sayang... beri aku anak..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Arkan_fadhila
kayakx Sarah itu gak bisa hamil makanya dia mau anak sama binar
2023-07-17
0
Sukliang
tolol
2023-07-15
0
Amalia Gati Subagio
perempuan jablai alay absurd narsistis akut hm
2023-07-06
0