Bab 9

Mas Gian memelukku atas kesadarannya sendiri.

"Apa aku salah kalau aku sayang kamu Bi? Tapi aku juga enggak bisa ninggalin Sarah gitu aja, Bi, tolong aku, tolong suami bodohmu ini."

Aku memeluknya balik, memberi ketenangan dengan mengusap lembut punggung kekarnya itu.

"Mas, kamu enggak perlu ninggalin Sarah buat aku, Sarah orang yang selalu kamu inginkan bahkan saat kamu sudah jadi suamiku,"

"Aku akan tetap jadi istri kamu selama kamu engga menceraikanku, aku ikhlas di madu Mas," lanjutku.

Mas Gian terdiam, dia melepaskan pelukannya dan beralih menatapku. Tatapan yang selalu aku ingin kan sejak dulu, tatapan teduh itu. Ah, Mas Gian. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Kamu... kamu yakin Bin?"

Aku mengangguk yakin. "Aku yakin Mas."

"Terimakasih, sayang."

Senyumku mengembang kala Mas Gian memanggilku dengan panggilan sayang untuk pertama kalinya. Sadar atau tidak, aku memang benar-benar menyayangi suamiku ini, sampai kapanpun.

Sial, akankah Sarah menyukai ini atau tidak?

 ~~~

Aku sibuk menata bajuku, melipatnya dan memasukkan ke dalam lemari baju di kamar baruku.

Terdengar ketukan pintu yang membuatku menghentikan aktivitas yang sedang aku lakukan menuju pintu kamar yang tidak aku kunci. "Mas Gian?"

Mas Gian masuk ke kamarku tanpa mengatakan apapun, dia sibuk melihat-lihat isi kamar baruku yang baru aku tempati tiga hari ini.

"Besok pindah kamar ya?"

Aku mendekat ke arahnya. "Kemana Mas?" Aku bingung, pasalnya kamar di rumah ini hanya empat.

Satu kamar yang di tempati Mas Gian dan Sarah, dua kamar tamu yang satunya aku tempati sekarang, dan kamar yang tidak pernah Mas Gian izinkan aku ke sana. Itu kamar milik Ibunya.

"Kamar Ibu."

"Itu kan kamar bekas Ibu, kamu ga pernah ngizinin aku masuk ke kamar itu loh."

"Gak apa-apa, kamar itu lebih besar dan lebih layak buat kamu di banding kamar tamu yang sempit ini."

Wajaku memerah, aku tahu Mas Gian sangat peduli padaku sekarang. Dia benar-benar atas ucapannya tadi pagi, ah Mas Gian, andai tidak pernah ada Sarah di kisah kita mungkin kita... tidak, mungkin lebih tepatnya aku akan lebih bahagia dari pada ini.

"Boleh emang?" Tanyaku memastikan.

"Istri aku enggak boleh tidur di tempat yang kecil, dia harus tidur di tempat yang seharusnya."

Aku berhambur ke pelukannya. "Mas, makasih."

Ku rasakan lengan kekar menyisir setiap helai rambutku, tak pernah terbayangkan sebelumnya akan seperti ini. Tak pernah aku berfikir jika Mas Gian, jika Mas Gian akan mencintaiku seperti aku mencintainya.

Mungkin, aku tidak akan merasakan hal ini jika Mas Gian tidak mendatangkan Sarah ke sini. Tapi, kedatangan Sarah bukan keinginanku meski pada akhirnya Mas Gian menyayangiku, tidak sama sekali.

Di dalam sana ada rasa benci yang teramat kepada Sarah, tapi aku masih memiliki pikiran rasional ketika suamiku menikah lagi.

"Mas, pulangnya hari ini agak larut ya? Capek? Mau makan apa?"

"Iya, ada banyak kerjaan tadi, biar besok enggak usah ke kantor," jawabnya.

"Kenapa emang Mas?"

"Besok kita jalan-jalan ya?"

"Mas serius?"

Itu pertama kalinya selama menikah Mas Gian mengajakku keluar untuk jalan-jalan, dulu, Mas Gian selalu malu jika aku ajak jalan-jalan. Tapi, sekarang justru dia yang mengajakku keluar.

"Iya dong, emm... tidur denganku ya Bin?"

Aku mengulum senyumku, tidak bisa lagi menahan senang yang teramat, wajahku pun sudah mirip kepiting rebus saking senangnya.

"Iya Mas," jawabku segera, aku semakin mempererat pelukanku padanya.

"Mas belum mandi loh sayang,"

"Emangnya kenapa?"

"Ya, bau kan?"

Aku menggeleng, Mas Gian terkekeh. Aku seperti anak kecil yang baru saja mendapat apa yang dia inginkan, mau gimana lagi. Habisnya, aku memang betulan senang sekali.

"Mas mandi dulu, kamu siapin makan malam ya, kita makan bareng, abis itu mau nonton film kesukaanmu?"

Aku melepas pelukanku padanya, mengangguk dengan semangat, Mas Gian mengelus kepalaku dengan gemas.

"Dasar, bocil."

"Ish Mas Gian," aku memanyunkan bibirku beberapa centi ke depan.

Cup.

Kaget, aku membelalakan kedua mataku. Rasanya... hangat. Mas Gian mencium bibirku dengan lembut, semakin lama semakin memberikan rasa nyaman di tubuhku.

Entah kenapa, rasanya badanku memanas mendapat ciuman pertama yang sangat lembut dari suamiku.

Ku rasakan tangan kekarnya menyusuri setiap centi punggung mulus ku, semakin agresif, aku memejamkan mataku menikmati tiap sentuhan yang ia buat. Ia menyusuri setiap bagian dari rongga mulutku, aku hanya diam, menikmatinya.

 ~~~

"Jadi, mau horor, action, atau romance?" Tanya Mas Gian kala aku menghampirinya dengan dua gelas coklat panas.

"Em... Mas suka yang mana?"

Iya, Mas Gian sudah mandi dan kita juga sudah makan malam. Di sini kita sekarang, ruang keluarga. Hanya ada aku, dan Mas Gian, hanya kita berdua. Ini yang selalu aku inginkan, selalu.

"Malah nanya balik ya kamu tu," Mas Gian mencubit pipiku dengan gemas.

"Ish Mas, ini ambil dulu minumnya nanti tumpah loh," ucapku sambil memberikan dua gelas coklat itu pada suamiku, Mas Gian menerimanya lalu menyimpan di meja yang berada tepat di depan kita.

Aku duduk di samping Mas Gian, ku senderkan kepalaku padanya. Tubuh kekar Mas Gian membuatku sangat tenang, hangat rasanya.

Dia mengelus kepalaku dengan lembut, sesekali mengecup puncak kepalaku menambah rasa hangat pada tubuhku.

"Kita nonton romance aja ya?"

Aku mengangguk, aku tidak peduli film apa yang akan di putar. Aku hanya menginginkan Mas Gian denganku, itu saja. Bukan filmnya.

"Binar, kenapa aku engga sadar sejak awal kita nikah kalau kamu secantik ini?"

Aku melirikkan mataku padanya, tanpa menggerakkan kepalaku dari dadanya sedikit pun.

"Emang aku cantik?"

Dia berdehem.

Film Lady Chatterley's Lover mulai terputar, entah dari mana Mas Gian mengetahui film ini. Menceritakan bangsawan dengan pernikahan yang tak bahagia, memulai perselingkuhan panas—dan jatuh cinta amat dalam—dengan pengawas hewan di lahan perdesaan suaminya.

Aku menikmati setiap menit yang sudah terputar, ku lirik Mas Gian dengan ekor mataku. Posisiku masih sama, menyenderkan kepalaku di dada bidangnya dengan tangan Mas Gian yang masih mengelus rambut panjangku.

"Mas suka?"

"Lebih suka kalau kita praktekan."

Aku menelan saliva ku dengan susah payah, pasalnya adegan di film ini adalah adegan yang tidak pernah aku lakukan dengan Mas Gian sebelumnya. Ciuman tadi, ciuman pertama ku dengan Mas Gian. Itu saja cukup membuatku sesak nafas dan gugup setengah mati, apalagi ini?

Mas Gian terkekeh, mungkin dia mendengar ku saat sedang menelan saliva. Ah, sial. Aku malu.

"Kenapa sayang?"

Mas Gian terus mengelus rambutku sambil sesekali menyentuh daun telingaku yang membuat badanku seketika panas. Ah, sensasi ini, aku sangat menikmatinya.

Terpopuler

Comments

MOMMY

MOMMY

sama

2023-11-05

0

Aris Ais

Aris Ais

binarnya bodoh minta ampun jadi malas baca ny

2023-08-09

1

Sukliang

Sukliang

ku skip aja
malas baca si bibar tololnya minta ampun

2023-07-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!