bab 17

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah. Perasaan aku tidak membuat masalah apa-apa. Atau lupa matiin kompor? Enggak juga.

Kenapa Mas Gian semarah itu padaku? Apa yang sudah aku lakukan sampai dia begitu marah?

Sesampainya kami di rumah. Aku sudah melihat Mas Gian berdiri di ambang pintu. Aku segera turun menghampirinya dengan diikuti oleh Vio dan Kak Fatur.

Plak ....

"Kita cerai! Aku talak kamu! Ini talak ku yang ke tiga!"

"M-mas! Apa masud kamu? Itu talak tiga Mas, jangan macem-macem sama itu! Kamu sembarangan banget!"

Sudah lama lima jari Mas Gian tidak bertemu dengan wajahku dengana kondisi seperti ini. Apa yang membuat Mas Gian bisa semarah ini padaku? Apa salahku? Atau memang ada?

"Mas, jangan nampar cewek dong!" seru kak Fatur tidak terima melihat aku di tampar oleh suamiku sendiri.

Air mataku luluh begitu saja. Mas Gian menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Tangannya mencengkram pergelangan tanganku, terasa kuku-kuku jarinya menusuk pada kulitku. Aku mengerang kesakitan.

"Mas jangan gitu lah!" ucap Vio yang syok begitu melihat aku di perlakukan seperti ini tepat di hadapannya.

Mas Gian tidak berbicara apa-apa. Tapi, sorot matanya sudah berbicara. Dia menarik tanganku hingga badanku terhujung ke depan hampir kehilangan keseimbangan.

"Mas sakit Mas ... "

"Mas tolong jangan ... sakit tanganku Mas ... "

Mas Gian tetap menarikku secara paksa menuju kamarnya. Dia sudah bukan seperti manusia lagi, mirip seperti orang kesetanan. Aku sangat takut. Tanganku sudah berdarah - darah akibat cengkraman nya yang sangat kuat.

Bruk ...

Aku di lempar ke sembarang arah di dalam kamarnya. Ku lihat sekeliling dengan air mata yang tidak berhenti. "Mas ... "

"Lihat! Lihat Sarah!"

Aku mengalihkan pandanganku pada Sarah yang terkapar di kasurnya. Juga dengan satu Dokter. Tunggu ... dokter? Untuk apa dan sedang apa dokter di sini?

"Ada apa Mas? Kenapa?" tanyaku bingung dengan situasinya.

"Binar!" Vio menghampiriku, dia memeluk tubuhku dengan sangat erat. Ku lihat kak Fatur juga menghampiriku dan berdiri tepat di samping sebelah kananku.

"Sarah keguguran!" Teriak Mas Gian dengan sangat keras. Mas Gian mengusap wajahnya gusar. "Ini semua gara-gara lo Binar! Baru aja ... baru aja gua mau punya anak dan lo ... lo udah rebut itu! Brengsek!"

Bugh ...

Bugh ...

Berulang kali ia memukul tembok dengan sangat keras hingga darah segar keluar dari tangannya. Aku segera menghampirinya, memeluk tubuh kekar suamiku berharap bisa memberinya ketenangan.

"Mas istighfar ... Mas ya ampun ... udah ... "

"Lepas!" Mas Gian melepaskan tubuhku dari tubuhnya dengan sangat mudah. Dia mendorongku ke lantai, sakit rasanya. Padahal aku hanya ingin menenangkannya, tapi ternyata aku ya penyebab dia bisa menjadi segila ini?

"Emang bener kata Sarah, harusnya gua cerain lo dari lama! Gua nyesel ... gua nyesel gak dengerin dia dan malah ngabisin waktu gua lebih lama sama lo."

"Mas maksudnya apa?"

"Binar ... sakit ya?" Vio menghampiriku, lagi-lagi dia memelukku dengan sangat erat sambil mengelus punggungku.

Ku lirik dokter yang berada di samping kasur tempat Sarah berada, dia mendekat ke arahku. "Sarah keguguran akibat memakan obat pencahar yang dosisnya sangat tinggi. Obat itu kemungkinan berasal dari bubur yang ia makan dua jam yang lalu. Kamu yang membuatnya?"

Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Aku memang membuat bubur itu tapi aku tidak memasukkan obat pencahar ke dalamnya. Kepikiran pun tidak, lagi pula untuk apa aku menyimpan obat itu? Aku bahkan baru tahu kalau Sarah hamil hari ini. Bagaimana bisa aku berbuat sekeji itu?

"Enggak! Bukan aku Mas! Aku engga pernah masukin apapun ke dalam bubur buat Sarah. Gak pernah Mas!"

"Kemasi barang-barang lu, keluar dari rumah ini sebelum gua berubah pikiran buat laporin lo ke polisi!"

Wajah Mas Gian begitu menyeramkan. Tapi .... "Mas! Demi Allah bukan aku yang masukin itu ke makanan Sarah Mas!"

"Kalo bukan lo terus siapa lagi hah?"

Vio menatapku dengan tatapan sedu. "Vi ... lo percaya kan sama gua?"

Vio mengangguk. "Iya Bin ... "

"Bukan aku Mas! Bukan! Aku emang sedih. Aku juga awalnya enggak terima kenapa aku engga hamil terus tiba-tiba Sarah, maduku hamil. Aku gak terima emang awalnya Mas! Tapi aku gak pernah ngelakuin hal keji kaya gitu! Bukan aku Mas tolong percaya."

"Gua tanya ... " Mas Gian menarik tanganku hingga aku berubah posisi menjadi berdiri mengahap ke arahnya. Ku lihat dari ekor mataku kak Fatur sudah bersiap. Mungkin takut kalau aku di siksa lagi oleh suamiku sendiri.

"Kalo bukan lo, terus siapa hah? Setan? Di rumah ini cuma ada elo Binar! Lo yang bikin bubur buat Sarah tapi lo masih ngelak hah?"

Plak ...

Kak Fatur menarik tanganku hingga tubuhku berada di pelukkannya sekarang. Lagi-lagi Mas Gian menamparku.

"Lo siapa sih? Mau jadi pahlawan? Masih di bela cewek pembunuh ini?"

Aku menggeleng. "Gak Mas! Tolong percaya sama aku. Aku gak pernah kepikiran buat ngelakuin hal keji kaya gitu Mas!"

"KELUAR! KELUAR DARI RUMAH INI! GUA TALAK TIGA LO! HARAM!"

Talak tiga?

Mas Gian benar-benar mengeluarkan talak tiga untukku? Jadi ... sekarang aku sudah tidak bisa lagi rujuk dengannya? Tidak ada lagi kesempatanku untuk bisa terus bersamanya? Mas Gian ... bukan aku.

Badanku terasa sangat lemas. Pusing sekaligus mual jadi satu di tambah tamparan yang sangat keras dari Mas Gian. Tubuhku akan jatuh begitu saja kalau kak Fatur tidak memegangku.

Ku rasakan lengan kekar Mas Gian kembali menarikku. Aku seperti tambang rasanya.

Bruk ...

Tubuhku lagi-lagi di banting olehnya. Kini pada tembok. Kedua lengan Mas Gian mengunci pergerakan ku. "Jangan pernah tunjukkin wajah lo depan gua lagi! Pergi sekarang dari sini. Cih!"

Kakiku seakan lemas, aku tak kuat lagi menopang tubuhku sendiri bahkan. Apa ini? Baru saja aku merasakan sikap lembut Mas Gian kini aku sudah mendapatkan perlakuan buruknya lagi. Sebenarnya apa yang Tuhan inginkan dengan rumah tanggaku? Aku sudah berdiri sebisaku di sini. Aku sudah mempertahankan sesuatu yang mungkin bisa aku pertahankan. Tapi ternyata Tuhan maunya ini? Maunya aku berpisah dengan Mas Gian.

Apa ini? Pandanganku mulai buram. Ini seperti saat aku berada di mobil kak Fatur waktu itu. Kepalaku tiba-tiba terasa berat juga dengan rasa mual yang sangat besar.

Mas Gian menendang kakiku lumayan cukup keras. Aku sudah tidak tahan lagi. "Mas!" Teriak kak Fatur samar+samar.

Aku mulai tidak bisa mendengar suara yang lainnya. Tubuhku begitu lemas.

 ~~~

"H-hamil?"

"Binar hamil dok?"

"Hasil test pack nya negatif dok."

"Binar benar-benar hamil?"

Terpopuler

Comments

Adinda

Adinda

jadi cewek jangan bodoh apalagi udah di KDRT dihina dicaci maki

2023-12-12

0

Sukliang

Sukliang

TOLOL

2023-07-15

0

Amalia Gati Subagio

Amalia Gati Subagio

hebat perempuan narsistis jablai ini, menikmati dizalimi, di jdkan jangan cadangan gratis an, lacur cadangan

2023-07-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!